
Anindira menghela nafas berkali-kali, dia mengerutkan keningnya.
Tok, tok, tok,
"Masuk,"
"Maaf bu, boleh saya bicara sama ibu?"
"Silahkan, duduklah,"
Orang itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Anindra
"Katakan,"
"Bu, saya mau minta maaf atas kelalaian saya dalam bekerja, karna saya Pak Dean celaka sebagai gantinya ibu tidak perlu membayar saya, saya akan bekerja tanpa di gaji."
"Saya sudah memaafkan kamu, tapi lain kali kamu harus lebih berhati-hati lagi dalam bekerja, pekerjaan kamu itu beresiko kamu harus mengutamakan keselamatan."
"Baik bu, saya janji tidak akan ada yang celaka lagi karna kelalaian saya, saya juga akan meminta maaf secara pribadi kepada Pak Dean."
"Bagus, karna kamu mengakui kesalahanmu dan sudah meminta maaf saya tidak akan menuntut apapun, gajimu juga akan tetap aman."
"Terimakasih atas kemurahan hati ibu."
"Sama-sama."
"Kalau begitu saya pamit permisi dulu bu,"
"Silahkan,"
"Hai Dira,"
"Hai Clair,"
"Mau apa pegawai itu kesini?"
"Dia kesini untuk meminta maaf atas kejadian yang menimpa Dean."
"Ya, itu memang seharusnya, untung dia pegawai yang baik."
"Heemh, bukannya kamu ada kepentingan mendadak?"
"Iya,"
"Aku kira kamu gak bakalan ke kantor hari ini."
"Cuma bentar doang kok, gak penting."
"Ada apa?"
"Kamu ingat, aku pernah cerita kalau orangtuaku mengatur kencan buta untukku, dan ini sudah yan kesekian kalinya."
"Lalu?"
"Apa lagi, tidak ada satupun dari mereka yang cocok denganku."
"Aku bisa mengerti jika aku ada di posisimu, maaf, aku tidak bisa membantumu."
"Tidak apa Dira, i am ok, aku bisa menangani ini."
Anindira tersenyum pahit, "Jika saja dia bisa bilang kalau dia mencintai Dean kepada orangtuanya, mungkin orangtuanya tidak akan memaksanya melakukan kencan buta." Ucap Anindira dalam hati.
"Dira, Dira,"
"Ah ya,"
"Kenapa kamu melamun?"
"Clair, kenapa kamu tidak bilang saja kalau kamu sudah mempunyai seseorang dalam hatimu."
"Apa, maksudmu Dean?"
Anindira menatap Claira dengan rasa bersalah.
"Dira, aku sudah bilang kan, aku memutuskan untuk berhenti menyukainya."
__ADS_1
"Kenapa begitu? itu pasti sangat berat untukmu kan."
"Iya itu memang berat, tapi tidak seberat itu, lagipula aku tidak mau cinta yang bertepuk sebelah tangan, aku ingin mencintai dan di cintai supaya aku bisa bahagia."
Anindira terdiam.
"Dira, Dean sangat mencintaimu, bisakah kamu membuat ruang di hatimu untuknya?"
"Aku.. dari mana kamu tau kalau Dean mempunyai perasaan seperti itu padaku?"
"Aku bisa melihatnya, dia hanya mencintaimu, pikirkanlah baik-baik saranku tadi ya, aku yakin jika kalian bersama kalian pasti akan bahagia, kalian akan menjadi keluarga yang sempurna."
"Clair,"
"Kamu pikir aku akan patah hati jika kamu bersama Dean? tidak, aku justru bahagia jika melihat kalian bahagia, kalian adalah sahabat terbaikku, tidak ada sahabat yang setulus dirimu, dengan kalian menjadi sahabatku saja itu sudah cukup untukku." Kata Clair sambil menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Sungguh, aku tidak berpikir untuk merebut cintamu Clair, baru saja kamu merasakan jatuh cinta lagi, aku malah mematahkannya."
"Tidak, tidak, kamu dan Dean sudah bersama sejak kecil, kamu yang lebih berhak atas dirinya, kamu yang lebih dulu masuk dalam kehidupannya, mungkin jika kamu tidak menikahi ayah dari putramu itu, kamu akan jatuh cinta pada Dean iya kan? hihihi."
"Kamu ini, aku benar-benar minta maaf Clair,"
"Jangan meminta maaf, sekarang ambil HP mu dan katakan padanya kalau kamu setuju untuk menikah dengannya."
"Kamu?"
"Iya aku tau dia akan melamarmu, karna sebelumnya dia minta izin dulu padaku." Ucapnya sambil tersenyum
"Dia mengatakannya padamu?"
"Hmm,"
________
Sepulang dari kantor Anindira langsung pergi ke rumahnya Dean.
Ting tong,
Dean membuka pintu, "Dira, kamu sudah pulang?"
"Iya,"
"Kamu sudah pindah kamar?"
"Iya, Rajendra sangat bekerja keras hari ini, dia membantuku pindah kamar, aku harus memberi hadiah padanya nanti."
Anindira membantu memegang tangan Dean, "Hati-hati,"
Anindira dan Dean duduk di sofa.
"Rendra sudah berangkat, apa dia sudah makan siang?"
"Iya, aku tidak membiarkannya berangkat kuliah tanpa makan siang, dia memasak makan siangnya sendiri dan makan dengan lahap."
"Syukurlah, apa Dokter Jo sudah datang?"
"Belum, mungkin dia sedang dalam perjalanan."
"Oh,"
"Mau makan sesuatu?"
"Apa kamu lapar?"
"Aku bertanya padamu, kenapa malah balik nanya?"
"Ah iya, aku lapar, apa ada sesuatu yang bisa aku makan?"
"Tidak ada, makanan yang kamu bawa juga sudah aku habiskan."
"Kalau begitu, apa ada sesuatu yang bisa aku masak?"
"Mungkin masih ada di dapur."
"Baiklah, aku akan pergi ke dapur untuk memasak."
__ADS_1
"Aku akan membantumu."
"Jangan, kamu di sini saja, kamu sedang sakit jadi tunggu saja di sini oke."
Anindira pergi ke dapur,
"Coba kita lihat apa yang bisa aku masak di sini." Aninidra mencari bahan-bahan makanan.
"Hm, banyak juga, telur, sayur-sayuran, buah, daging, semuanya tersedia wah, sepertinya dia memang hobi memasak." Ucapnya sambil tersenyum kecil.
"Kamu masak apa?"
"Dean, sedang apa kamu di sini? aku kan sudah bilang duduk saja di sofa jangan kesini, nanti kalau sudah selesai aku akan menghidangkan makanan di ruang makan kita makan bersama ya."
"Aku bosan hanya duduk diam saja."
Tiba-tiba bel berbunyi, ting tong,
"Ada tamu, biar aku saja yang bukakan pintu, ayo kamu juga harus kembali ke rumah, duduklah sandarkan punggungmu supaya tidak sakit, aku buka pintu dulu."
"Halo Dira, selamat sore,"
"Selamat sore Dokter Jo, silahkan masuk."
"Terimakasih,"
"Jo, kamu sudah datang?"
"Iya, gimana kabarmu hari ini Dean?"
"Aku merasa lebih baik Jo."
"Kamu minum obatnya tepat waktu kan."
"Iya Jo, sesuai aturan dokter."
"Oke bagus, cek darah dulu ya."
"Iya, lakukan saja."
Anindira pergi ke dapur mengambil minum untuk Dokter Jo dan menaruhnya di meja.
"Bagaiman perkembangannya Dok?" Tanya Anindira.
"Lebih baik dari sebelumnya, aku yakin kamu menjaga anak ini dengan baik."
"Aku bukan anak-anak."
"Kelakuanmu kayak anak-anak."
"Jadi bagaimana hasil tes akhirnya?"
"Masih harus melakukan beberapa tes lagi, hasilnya belum keluar semua, nanti aku akan mengabari kalian. Untuk sekarang habiskan dulu obat nya, minum obatnya tepat waktu, jaga diri kamu baik-baik."
"Udah, gitu aja?" Cetus Dean.
"Iya, memangnya mau ngapain lagi?" Jawab Dokter Jo.
"Jadi ada kemungkinan kalau Dean tidak perlu di oprasi kan dok?"
"Selama dia menjaga dirinya, dia bisa bebas dari oprasi."
"Syukurlah,"
"Oh ya, apa kalian tidak mau menawarkan sesuatu untuk aku makan?"
"Kebetulan aku sedang siap-siap untuk memasak, bagaimana kalau dokter tunggu sebentar, kita makan bersama nanti."
"Boleh, kebetulan aku juga sedang tidak sibuk, aku akan tinggal untuk makan malam di sini."
"Cih,"
"Apa?"
"Kamu biasanya tidak mau makan di sini."
__ADS_1
"Itu karna masakanmu tidak enak, Sekarang ini aku sedang lapar, dan yang memasak kali ini adalah Dira, pasti masakannya sangat enak." Katanya sambil senyum-senyum menyindir Dean.