Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 31


__ADS_3

Mendengar Anindira tetap pada pendiriannya, Leon tidak bisa berbuat apa-apa.


"Jangan pergi dulu! tunggu sebentar di sini." Kata Leon.


Leon pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah map, dia menatap map itu dan terdiam sejenak.


Lalu dengan berat hati dia membawanya dan memberikannya pada Anindira.


"Ini apa?"


"Itu adalah surat cerai, kalau kamu tetap memilih untuk pergi dariku, lebih baik kita bercerai saja. Aku tidak ingin menggantung hubungan kita dan memberi status yang tidak jelas."


Anindira menatap map yang berisi surat cerai itu dan membukanya, dia menatap ayah dan ibunya.


"Ambillah keputusan yang menurutmu baik untuk ke dua belah pihak." Kata ibunya.


Anindira menarik nafas, lalu tanpa rasa ragu lagi dia menandatangani surat cerai itu.


Giliran Leon yang menandatangani surat cerai, setelah mereka sepakat untuk berpisah keduanya pun berjanji untuk hidup rukun.


Anindira tidak akan membatasi Leon dan anaknya.


Kapanpun Leon ingin bertemu dengan Rajendra dia tidak akan melarangnya, jika Rajendra sudah tumbuh besar dia juga mengizinkan Rajendra untuk menginap di rumah Ayahnya jika dia mau.


Setelah hari itu, Leon mengunjungi anaknya tiga kali dalam satu minggu.


2 tahun kemudian, Leon di jodohkan oleh orang tua dan mertuanya Leon pada adiknya Aluna yang bernama Aira dia baru saja kembali dari luar negri.


"Apa yang kalian lakukan? Aira adalah adik kandungnya Aluna istriku, mana bisa aku menikahinya." Ucap Leon.


"Kenapa tidak? Aluna sudah tiada, aturan juga memperbolehkan suami yang ditinggalkan menikahi iparnya, jadi tidak ada masalah. aku ingin keluarga kita tetap utuh dan ikatan kekeluargaan di antara kita tidak terputus." Kata mama mertuanya.


"Tapi aku tidak mau menghianati Aluna istriku, dan untuk menebus dosa-dosaku pada Dira aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah menikah lagi."


"Anindira sudah memaafkanmu Leon, dia pasti tidak akan keberatan, kali ini bukan karna kami menginginkan seorang cucu. Kita sudah punya Rajendra, mama cuma ingin kamu punya pendamping hidup supaya ada yang mengurusmu, kami tidak bisa menemanimu setiap saat, Kamu harus punya kehidupanmu sendiri Leon." Ucap mamanya.


"Beri aku waktu untuk berpikir." Ucap Leon sambil beranjak ke kamarnya.


Keesokan paginya, Leon menemui Anindira dan menceritakan perihal perjodohannya dengan adik kandung Aluna.

__ADS_1


"Gak ada salahnya juga sih kalau abang turun ranjang menikahi adiknya Mba Aluna, ini sudah hampir 3 tahun semenjak Mba Aluna meninggal dan setelah hari perceraian kita, harusnya tidak masalah kalau abang sekarang memulai kehidupan yang baru."


"Tapi aku sudah berjanji pada diriku sendiri, aku tidak akan pernah menikah lagi, ini aku anggap sebagai hukuman karna aku sudah berbuat jahat padamu dan anak kita."


"Jangan menghukum dirimu sendiri! itu sudah menjadi masa lalu, aku sudah memaafkanmu bahkan kalau kamu menikah lagi dan memulai kehidupan barumu aku akan sangat bahagia."


"Tetap aku tidak bisa, aku tidak bisa mengingkari janji yang sudah ku buat sendiri."


"Bagaimana kalau aku menikah lagi, apa abang juga bersedia untuk menikah lagi?"


Leon terdiam.


"Sebenarnya aku juga ingin cerita padamu kalau aku menyukai sahabatku Dean, dia sudah menyatakan cinta padaku dan mengajakku untuk pergi ke luar negri bersamanya, aku berencana untuk menerima cintanya dan bersedia ikut dengannya, mungkin saja kami juga akan menikah nanti."


"Lalu bagaimana denganku? maksudku kalau kamu pergi, Rajendra juga pasti ikut denganmu kan? bagaimana jika aku ingin bertemu dengannya?"


"Gampang saja, sekarang teknologi kan sudah canggih, kamu bisa melihat dia dan bicara dengannya kapan pun lewat vidio call."


"Tapi itu kan berbeda."


"Aku tidak akan selamanya tinggal di sana, nanti aku dan Rajendra juga akan pulang, pada saat itu kamu bisa bertemu dengannya."


"Bulan depan."


"Apa gapapa? kamu gak kasian sama Rajendra, dia masih kecil apa dia kuat untuk menempuh perjalanan jarak jauh?"


"Rajendra anak yang kuat, kemarin adalah perayaan ulangtahunnya yang ketiga tahun, seharusnya dia sudah cukup kuat di bawa bepergian jauh."


"Apa dia tidak akan mabuk udara?"


"Hei, tenanglah! dia adalah anakmu tidak mungkin dia mabuk udara hanya dengan menaiki pesawat terbang, iya kan!"


"Benar juga, dia adalah anakku! dia kuat dan tangguh." Kata Leon sambil menggendong anaknya, mereka terlihat senang ketika sedang bersama.


Anindira tersenyum melihat keakraban ayah dan anak itu.


"Rajendra, kamu main sama nenek dan kakek dulu ya! ada yang ingin mama sama papa bicarakan."


"Iya ma," jawab Rajendra dengan polosnya dan berlari menghampiri neneknya.

__ADS_1


"Karna aku akan pergi, abang harus memutuskannya dari sekarang supaya aku bisa menghadiri pernikahanmu, kalau terlalu lama aku gak jamin bisa datang."


"Jadi, apa menurutmu aku harus menerimanya."


"Emmh, aku sih gak akan menyuruh abang untuk menerima atau pun menolaknya, tapi menurutku ada baiknya abang memikirkannya sekali lagi, kalau dia mencintai abang menurutku dia pantas mendapatkan kesempatan. Tapi dengan syarat abang harus memperlakukan dia dengan baik."


"Kalau aku tidak mencintainya bagaimana?"


Anindira menghela nafas, "Hhaahh, aku tau abang masih belum bisa melupakan Mba Aluna, tapi mau sampai kapan abang seperti ini? Mba Aluna juga pasti ingin melihat abang bahagia dengan mempunyai pasangan yang sejalan sama abang."


"Sebenarnya aku sangat menginginkanmu bukan orang lain, aku ingin memulai kehidupanku lagi bersamamu Dira, tapi aku sadar aku tidak pantas walau hanya dengan membayangkannya saja."


"Selama ini aku selalu menyakitimu, aku tidak layak untukmu, kamu berhak mendapatkan seorang pendamping yang lebih baik dariku, yang benar-benar mencintaimu, yang bersedia menjaga dan melindungimu sampai akhir." Ucap Leon dalam hati.


"Bang, bang?"


"Ah, iya maaf tadi aku teringat sesuatu, baiklah sepertinya perkataanmu ada benarnya juga, aku akan memikirkannya lagi! kalau aku sudah memutuskannya kamu orang pertama yang akan aku beritau."


"Baiklah, aku akan menunggu."


"Sudah waktunya aku berangkat ke kantor, aku pergi dulu!"


Rajendra menghampiri dan memeluk anaknya, "Rajendra, papa pergi dulu ya."


"Papa pelgi buat cali uang?"


"Iya, jagoan papa udah besar ya udah ngerti kalau papa pergi kerja buat cari uang."


"Iya dong lendla kan anak papa, kalau sudah besal nanti lendla mau kaya papa cali uang juga, Papa sama mama gak usah kelja bial lendla aja yang kelja."


"Kenapa Rendra mau kerja? kerja itu kan cape."


"Papa aja gak cape kelja tiap hali, lendla juga pasti bisa."


"Anak siapa sih ini pintar banget! Rendra dengerin papa ya, Rendra harus melampaui papa dalam setiap hal, untuk itu Rendra harus tumbuh besar dulu, sekolah yang pintar."


"Rendra juga harus jadi anak yang baik berbakti sama mama, nenek, dan kakek gak boleh cengeng! Rendra juga harus janji satu hal sama papa, Rendra gak boleh bikin mama nangis Rendra jaga mama baik-baik ya!"


"Iya pa, lendla janji lendla akan jadi anak baik, lendla janji gak bikin mama nangis."

__ADS_1


__ADS_2