Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 16


__ADS_3

Leon turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sambil memanggil-manggil aluna.


"By, baby."


"Ada apa mas? kenapa teriak-teriak?"


"Ada yang mengirim sertivikat ini untukmu."


"Sertivikat apa?" ucap aluna sambil mengambil sertivikat itu dari tangan leon.


"Sertivikat rumah dan tanah?! ini kan..."


Kemudian aluna menemukan sepucuk surat di dalam amplopnya lalu dia membaca surat itu.


"Teruntuk mba aluna, bagaimana kabar mba sekarang apa keadaan mba sudah membaik?sebelumnya aku minta maaf karna aku pergi tanpa pamit pada mba.


"Aku sangat berterimakasih pada mba, untuk semua yang sudah mba berikan padaku, terimakasih karna mba selalu berada di pihakku dan membelaku.


Sekarang aku ingin mengembalikan kepemilikan rumah dan tanah ini pada mba kami sudah tidak mempunyai hak lagi atas sertivikat rumah dan akte tanah ini.


Berhati-hatilah pada bibiku gena jangan biarkan dia mendekati keluarga mba. Semoga mba aluna selalu di limpahi keberkahan dan kebahagiaan.


Semoga sehat selalu." Begitulah isi dari surat anindira untuk aluna.


Aluna menangis setelah membaca surat dari anindira.


Leon mengambil surat itu dan membacanya.


"Sekarang kamu mengerti kan mas, kenapa aku selalu percaya padanya. Dia adalah orang yang jujur. Dan aku juga yakin ini adalah konspirasi dari seseorang."


"Lalu apa yang harus di lakukan sekarang?"


"Kita cari kebenarannya sama-sama, supaya kamu juga tau kalau anindira tidaklah bersalah."


"Baiklah, bagaimana cara kita mencari tau kebenarannya?"


"Di dalam surat itu dia menyebutkan bibinya gena, dan aku juga pernah melihat dia sedang bicara dengan seseorang."


"Dimana dia sekarang?"


"Aku tau rumahnya ayo kita pergi ke sana."


Baru saja aluna akan pergi, leon menghentikannya, "aku setuju kita pergi menemuinya, tapi jangan sekarang! hari sudah mulai gelap besok saja!"


"Tapi mas, lebih cepat lebih baik."


"Apanya yang lebih cepat lebih baik?" tanya mamanya leon.


"Kami akan pergi ke rumah bibinya dira ma."


"Untuk apa kamu menemui dia?"

__ADS_1


Aluna memberikan surat yang ditulis oleh anindira untuknya kepada mamanya leon.


Dia membaca surat itu, "jadi maksudnya ini apa?"


"Ma, aku kan sudah bilang anak yang ada dalam kandungan itu adalah anaknya mas leon. Dan di dalam surat itu dira juga memperingatkan kita untuk berhati-hati dengan bibinya, aku yakin ini semua ada hubungannya dengan bibinya dira."


"Kalau begitu kita harus menyelidikinya. Kamu diam saja di rumah! biar mama dan leon yang akan mengurusnya."


"Biarkan aku ikut ma."


"Aluna, kamu baru saja sembuh mama gak mau kalau sampai sakit lagi."


"Tapi sekarang aku sudah sembuh, aku kuat ko ma."


"Aluna, menurutlah! Leon bawa istrimu ke kamar!"


"Ma..."


"Ayo kita masuk ke kamar."


Mamanya leon menelpon seseorang untuk menyelidiki kebenaran tentang anindira.


Malam itu juga orang itu pergi untuk menyelidikinya.


"By, kamu tidak perlu cemas! aku janji aku juga akan ikut mencari tau kebenaran tentang.. dia"


Leon masih merasa enggan menyebutkan nama anindira.


"Baiklah." Ucap aluna.


...


Malam itu di rumahnya anindira.


Anindira sedang mondar-mandir di kamarnya dia merasa gelisah memikirkan nasib pernikahannya.


Ibunya menghampiri dia dan bertanya, "nak, kenapa kamu terlihat gelisah?"


"Bu aku harus bagaimana sekarang? hubungan pernikahanku jadi gantung, meskipun kami menikah hanya di atas kertas dan sama-sama terpaksa, tapi pernikahan kami sah di mata hukum dan agama."


"Meskipun leon membenciku tapi dia tidak menceraikanku, aku jadi bingung! Apa aku ajukan surat cerai saja?"


"Jangan dulu kamu ajukan surat cerai! lagi pula ini hanya masalah salah paham saja, siapa tau nanti leon dan aluna datang mencarimu."


"Meskipun mereka datang mencariku, itu hanya karna mereka menginginkan anakku! dan saat itu juga leon pasti menceraikanku."


"Tapi kenapa waktu itu aluna meminta kalian menikah secara hukum dan agama? kalau mereka merencanakan pernikahan sementara, kenapa mereka tidak membiarkan kalian menikah siri saja."


"Entahlah bu, aku tidak tau apa yang ada di pikirannya mba aluna."


"Lalu apa rencanamu ke depannya nak?"

__ADS_1


"Mungkin aku akan bercerai bu."


"Bagaimana dengan anakmu nanti?"


"Karna aku sudah berjanji akan memberikan anak ini untuk mereka, maka aku akan membiarkan mereka membawanya. Tapi aku tidak akan membiarkannya kekurangan kasih sayang dariku."


"Mba aluna bilang, dalam surat perjanjiannya tertulis setelah melahirkan anak ini, aku bebas menentukan pilihanku, dan mereka juga tidak akan melarangku untuk bertemu dengan anakku, aku boleh menemuinya kapanpun aku mau."


"Ibu tidak bisa bicara apa-apa lagi, semua keputusan ada di tanganmu. Meskipun rasanya ibu sangat berat kalau harus berpisah dengan cucu pertama ibu."


"Tapi kamu tidak boleh bercerai sekarang! setidaknya tunggulah sampai kamu melahirkan."


"Ayah tidak setuju!" tiba-tiba ayahnya yang dari tadi nyimak dari balik pintu protes.


"Kalau kamu ingin bercerai, cerai saja! lagi pula si leon itu tidak pernah menganggapmu sebagai istrinya. Tapi cucu ayah tidak bisa ikut dengan mereka! dia itu calon cucu ayah mereka tidak boleh membawanya."


"Tapi ayah, itu sudah perjanjiannya, lagi pula kita akan sering-sering bertemu dengannya nanti."


"Tidak bisa! lagi pula bukankah kamu sudah mengembalikan semua yang mereka berikan pada kita? sisa nya adalah hasil dari kerja kerasmu bekerja di perusahaan mereka. Itu hak kamu! kita sudah tidak berhutang lagi pada mereka."


"Ayah, sudahlah jangan menekan anindira seperti itu, lagi pula kan belum tentu mereka tau kita di sini. Kemungkinan mereka tidak akan datang mencari anindira jika mereka tidak pernah tau kebenarannya."


"Kalau begitu biarkan saja mereka tidak tau selamanya, supaya mereka tidak mengambil cucuku."


"Sttt.. ayah!" Ibunya anindira membawa suaminya keluar dari kamar anindira.


"Ayah ini bagaimana, jangan membuat anak kita berpikir keras! dia sedang hamil tidak boleh banyak pikiran!"


"Maaf bu, ayah kebawa emosi mendengar nama menantu yang durhaka itu."


"Huus.. biarpun begitu, dia masih suami sahnya dira dan dia adalah ayah kandung dari calon cucu kita."


"Hhaah.. andai saja waktu itu ayah tidak sakit-sakitan anak kita tidak akan berakhir seperti ini."


"Mungkin ini adalah takdir kita, takdir anak kita. Untungnya anak kita adalah anak yang solehah, ibu hampir tidak pernah melihat dia mengeluh."


"Iya kita beruntung mempunyai anindira."


Mata anindira berkaca-kaca mendengarkan pembicaraan ayah dan ibunya.


"Aku yang beruntung mempunyai orang tua seperti kalian! aku bisa sekuat ini berkat kalian, kalian adalah kekuatanku, kalian adalah alasan aku bertahan dalam menjalani hidup yang kejam ini."


"Tapi bukankah kehidupan kita sekarang sudah lebih baik ayah, ibu?" ucap anindira dalam hati.


Dia menangis tersedu-sedu di kamarnya.


Di tengah tangisnya, terdengar suara ketukan dari jendela kamarnya, anindira tekejut.


"Siapa?"


"Ini aku dean."

__ADS_1


__ADS_2