
Aira terus menampik orang itu, dan berusaha membuat dia pergi darinya.
Orang itu adalah kekasih Aira sewaktu di luar negri namanya jimy, mereka dulu saling mencintai.
Aira sudah lama tidak pulang dari semenjak dia melanjutkan pendidikannya di luar negri, bahkan waktu Aluna meninggal pun dia tidak menyempatkan diri untuk pulang terlebih dahulu.
Orang tua Aira memintanya pulang dan mengatakan akan menjodohkannya dengan Leon, barulah dia bersedia untuk pulang ke rumahnya.
Aira tidak menyangka kalau dirinya akan secepat itu bertemu kembali dengan jimy.
Jimy sangat terkejut ketika wanita yang sangat dia cintai, wanita yang pernah bersumpah akan selalu bersamanya kini akan menikah dengan laki-laki lain.
"Jimi, jika kamu memang benar-benar mencintaiku aku mohon biarkan aku bahagia dengan pilihanku!"
"Kenapa kamu melakukan ini padaku? kalau kamu menikahi laki-laki itu, lalu bagaimana denganku?"
"Aku harus bilang apa? aku sudah tidak bisa berpikir lagi! apa aku katakan saja kalau aku mengandung anaknya Leon?" Kata Aira dalam hati.
"Ada apa Aira? kenapa kamu diam saja, apakah yang kamu katakan kamu mencintai dia itu adalah bohong? apa itu cuma alasan saja supaya kamu bisa menghindar dariku?"
"Sebenarnya pernikahanku dengannya, itu karna di jodohkan."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak menolaknya?" kata jimy sambil memegang tangan Aira.
Aira melepaskan tangannya dan membelakangi jimy, "Aku tidak bisa menolaknya, karna aku hamil anaknya Leon."
"Apa?! kamu melakukan itu juga dengannya?"
"Ceritanya panjang, waktu itu dia mabuk, aku bermaksud untuk menolong dia dan memapahnya ke kamar tiba-tiba saja dia menarik tanganku dan melakukan itu padaku aku tidak bisa berontak karna tenaganya sangat kuat."
"Dan karna kejadian satu malam itu kamu hamil?!"
Aira mengangguk.
"Kamu yakin itu adalah anakmu dengannya?"
"Ke, kenapa kamu menanyakan itu?" tanya Aira dengan rasa gugup.
"Kamu melakukan itu dengannya hanya malam itu saja bukan? sebaliknya kamu sudah beberapa kali melakukannya denganku."
"Apa, apa yang ingin coba kamu katakan!" Ucap Aira semakin gugup.
"Siapa tau itu adalah anakku bukan anaknya Leon yang kamu sebut-sebut itu."
"Tidak jimy! ini anaknya Leon bukan anakmu."
"Apa yang membuatmu yakin kalau itu adalah anaknya Leon?"
"Ya, karna.. kita melakukannya dengan memakai pengaman kan, sedangkan dengannya.."
"Ya memang, tapi beberapa kali juga aku tidak memakainya waktu kita menginap di hotel, dan ketika kita akan berpisah. Waktu itu aku tidak memakainya dan kamu pun tidak menolaknya, kamu bilang tidak keberatan karna itu adalah hari perpisahan kita."
__ADS_1
"Ya ampun kenapa dia mengingatnya dengan begitu detail? kalau begini aku tidak bisa beralasan lagi." Ucap Aira dalam hati.
Tiba-tiba mamanya Aira menelponnya, Aira merasa tertolong.
Mama Aira menyuruh dia segera pulang untuk persiapan pernikahannya yang akan di langsungkan besok pagi.
"Jimy, maafkan aku! aku di suruh cepat-cepat pulang sama mamaku, hari ini aku sangat sibuk! lain kali saja kita bicara lagi."
"Tunggu! bolehkah aku menemuimu lagi?" Kata Jimy sambil memegang tangannya Aira.
"Emmh, aku tidak tau, kita lihat saja nanti ya kalau aku punya kesempatan untuk bertemu lagi denganmu kita pasti akan bertemu lagi."
"Kalau dia bicara seperti itu, berarti aku masih punya kesempatan untuk merebut hatinya kembali." Ucap Jimy dalam hati, "Baiklah, aku akan menunggumu."
Aira melepaskan tangannya lalu pergi dengan mengendarai mobilnya.
Kemudian Gena datang menghampiri jimy.
"Kenapa tante tidak bilang kalau Aira hamil anaknya laki-laki itu?"
"Apa yang kamu katakan?!"
"Aira bilang dia tidak akan bisa meninggalkan laki-laki yang bernama Leon itu karna saat ini dia sedang mengandung anaknya."
"Apa benar begitu? aku memang tau dia akan menikahi mantan suami keponakanku, tapi aku baru tau kabar itu darimu hari ini."
Jimy menghela nafas, "Hhahh, aku kira kamu tau semuanya. Lalu gunanya aku di sini untuk apa?"
Jimy terdiam dan berpikir, "Benar juga bagaimana kalau anak yang Aira kandung itu adalah darah dagingku? aku tidak akan membiarkan dia menikah dengan si Leon itu." Kata jimy dalam hati.
Dean yang memang setiap hari melewati jalan itu ketika pulang pergi dari kantornya, melihat Gena yang sedang mengobrol dengan jimy.
"Itu kan Bibi Gena?! setelah sekian lama dia menghilang dan sekarang dia muncul lagi di sini? mau apa dia kembali ke sini, dan siapa orang yang sedang bersamanya?"
"Jimy, apa rencanamu sekarang?" tanya Gena pada Jimy.
"Jimy?! siapa dia? aku baru pertama kali melihatnya, apalagi yang dia rencanakan dengan orang baru itu? banyak sekali pertanyaan dalam benakku, aku harus tau apa yang sedang mereka bicarakan." Gumam Dean sambil bersembunyi di balik pohon tidak jauh dari tempat Gena dan Jimy berada.
"Bisakah tante melakukan sesuatu untukku?"
"Tentu saja, waktu itu kamu sudah menolongku, sekarang waktunya aku membalas budi padamu."
"Oke, aku minta tante cari tau tentang kehamilan Aira! aku ingin tante mendapatkan kebenarannya sebelum pernikahan mereka di langsungkan."
"Oke, aku akan melakukannya."
"Kebenaran tentang kehamilan Aira?!" ucap Dean kaget.
Setelah Jimy pergi Dean menghampiri Gena dan bicara padanya.
"Bibi, apa yang bibi lakukan di sini?"
__ADS_1
"Dean?!" Gena terkejut saat melihat Dean.
"Bibi belum menjawab pertanyaanku, apa bibi datang ke sini untuk menyakiti Dira lagi! asal bibi tau saja ya aku tidak akan membiarkan itu terjadi." ucap Dean dengan nada sinis.
"Tunggu Dean, aku kembali ke kota ini bukan untuk mengganggu Dira dan anaknya."
"Lalu apa yang bibi rencanakan dengan orang yang bernama jimy itu?"
"Jadi kamu mendengarkan pembicaraan kami tadi?!"
"Iya, karna aku curiga bibi merencanakan sesuatu."
"Tenang Dean! aku hanya ada sedikit urusan dengannya, aku tidak merencakan kejahatan apapun terhadap keponakanku Anindira."
"Aku harap bibi berkata jujur, kalau tidak aku tinggal telpon polisi untuk segera menangkap bibi dan memasukkan bibi ke dalam penjara."
"Tidak, aku bersumpah aku tidak akan menyakiti keponakanku lagi."
"Baiklah, anggap saja hari ini bibi selamat! tapi jika bibi ketahuan melakukan rencana jahat terhadap Anindira dan keluarganya aku tidak akan segan-segan."
"Iya iya, aku akan mengingat semua ucapan kamu."
Dean pergi meninggalkan Gena dan bergumam, "Kenapa bibi terlihat berbeda ya?! seperti bukan bibi, biasanya cara bicaranya selalu ngegas. Semoga saja kali ini bibi benar-benar tidak punya niat jahat."
Setelah Dean sampai di kantornya, dia menelpon Anindira untuk memberitau dia kalau gena telah kembali, dan memperingatkannya supaya dia tetap waspada pada Gena.
"Halo Dira,"
"Iya Dean."
"Aku tadi bertemu dengan bibimu."
"Bibi?!"
"Iya, aku sempat berbicara padanya."
"Dia bilang apa? apa kali ini dia kembali dengan niat jahatnya lagi?"
"Mmh, sepertinya tidak! tapi kamu harus tetap waspada aku tidak ingin kalian berada dalam bahaya."
"Baiklah Dean, terimakasih karna sudah memberitauku."
"Jangan mengucapkan terimakasih, karna keselamatan kalian adalah yang paling utama."
Anindira tersenyum mendengar perkataan Dean.
"Baiklah, aku tutup dulu telponnya ya! sudah mau masuk kerja."
"Oke, bye!"
"Bye." Dean menutup telponnya.
__ADS_1