
Dean mengantar Anindira ke kantor dengan berjalan kaki, karna kafe itu tidak begitu jauh dari kantornya.
Sepanjang jalan mereka terdiam.
"Apa ini, di kafe tadi kami lancar-lancar saja mengobrol, tapi kenapa sekarang terasa canggung." Ucap Anindira dalam hati.
"Dira, aku akan menemui investor, aku perlu persetujuanmu untuk ini."
"Kamu urus saja semuanya, aku percaya kok sama kamu."
"Baiklah, ada beberapa berkas yang perlu kamu tandatangani, aku akan membawa berkas-berkasnya ke kantormu nanti."
Anindira mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Oke,"
"Bye,"
"Bye,"
"Susi,"
"Iya bu,"
"Bagaimana dengan klien kita yang kemarin itu, apa berjalan dengan lancar?"
"Emmh.. anu bu, sebenarnya ada sedikit masalah."
"Masalah apa, kenapa kamu baru bilang sekarang?"
"Maaf bu, saya takut mengganggu ibu, kemarin saya lihat ibu sepertinya sedang tidak baik-baik saja."
"Ish, kamu ini, aku baik-baik saja atau tidak itu masalahku, aku tidak pernah mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan, masalahku tidak akan mempengaruhi pekerjaanku, katakan apa yang terjadi?"
"Sebenarnya klien yang kemarin itu adalah putri dari pelanggan yang dulu pernah marah-marah sama karyawan di sini bu, dan kemarin itu ibunya datang lalu mengancam akan menuntut perusahaan kita."
"Menuntut?! atas dasar apa?"
"Katanya produk kita jelek-jelek, ibu itu juga menuduh pihak perusahaan memaksa putrinya untuk memakai jasa kita, dan.. maaf katanya ibu dan putra ibu memanfaatkan putrinya untuk mendapatkan keuntungan dari mereka, ibu itu tidak terima."
Anindira menghela nafas, "Hahh, dari dulu dia selalu seperti itu."
"Apa yang harus kita lakukan bu?"
"Biarkan saja,"
"Tapi.."
"Biar aku yang mengurusnya, kamu kembali bekerja."
"Baik bu,"
Anindira menelpon Rendra untuk meminta nomor telponnya Siren, kemudian Anindira meminta bertemu dengannya.
"Halo bibi," Sapa Siren
"Selamat sore,"
"Selamat sore bibi,"
__ADS_1
"Maaf Siren, saya tidak suka basa basi maka dari itu saya akan langsung mengatakannya, mulai sekarang sebaiknya kamu jangan pernah berhubungan lagi dengan kami, mau itu urusan bisnis ataupun urusan pribadi."
"Tapi apa salahku bibi?"
"Salah kamu adalah kamu itu putrinya Aira." Kata Anindira dalam hati, dia menghela nafas, "Hahh ibumu tidak suka kamu berurusan dengan kami, dan aku juga tidak mau ada masalah dengan putraku dan perusahaanku."
"Maaf bibi, aku tidak bermaksud untuk mencari masalah dengan bibi, aku kesana memang karna aku menyukai produk-produk bibi, ini.. tidak ada hubungannya dengan Rendra."
"Tapi setidaknya kamu bisa tanya dulu pada mamamu."
"Iya aku salah, aku juga hanya bisa diam saja saat mamaku mengejek bibi dan yang lainnya."
"Bukan hanya mengejek, mamamu juga menghina dan menginjak-injak kami semua."
"Atas nama mamaku aku benar-benar minta maaf bibi, bisakah bibi memaafkan kami?" Katanya sambil membungkuk.
"Begini saja, suruh mamamu kesini, aku ingin bicara dengannya."
"Baik bi," Diana menelpon mamanya dengan alasan dia sedang terkena masalah.
Aira dengan cepat menemui putri yang sangat dia cintai itu.
"Ada apa Nak, kamu baik-baik saja kan?" Kata Aira sambil memegang kedua pipi putrinya.
"Gapapa ma, sebenarnya Siren menelpon mama kesini karna mamanya Rendra ingin bicara sama mama."
"Apa?!"
"Maaf ma, Siren terpaksa bohong, karna kalau Siren mengatakan yang sebenarnya takutnya mama gak mau datang."
"Kamu kurangajar ya, beraninya kamu memanfaatkan putriku yang polos."
"Tidak tahu malu, apa maumu?"
"Aku hanya ingin meluruskan masalah di antara kita, semuanya sudah menjadi masalalu, kamu perlu tahu aku tidak akan mengusik kehidupan kalian, kalaupun putrimu datang ke perusahaanku, itu karna dia menyukai produk-produk kami, dan kalaupun putrimu ada saling bicara dengan putraku itu karna mereka teman satu kampus, putraku tidak akan pernah menghasut ataupun memanfaatkan siapapun, karna dia mampu berdiri sendiri tanpa uluran tangan dari orang lain."
"Sombong, mentang-mentang kamu punya perusahaanmu sendiri, kamu bisa semena-mena sama kita."
"Ya ampun Aira, kapan kamu akan mengerti aku tidak pernah berharap untuk berhubungan lagi denganmu, maka dari itu lupakan semuanya, aku dan putraku tidak ada hubungan apapun lagi dengan kalian, kalau kita bertemu anggap saja kita tidak pernah saling mengenal, dan ya jika kamu mau menuntut perusahaanku silahkan saja, toh nanti, kamu juga yang akan rugi." Ucap Anindira, lalu pergi.
"Ma, mama kenapa sih, apa masalah mama? kenapa mama bawa-bawa Siren dengan masalah mama, kalau begini Siren tidak bisa bicara lagi sama Rendra, jangan bawa-bawa Siren sama masalah mama lagi, Siren cape." Kata Siren sambil pergi dengan kesal.
"Dia itu sebenarnya putriku atau bukan sih, heran deh, jangan-jangan dia kena pelet si Rendra." Ucapnya mengomel sendiri.
Pukul 19.00,
"Huf,"
"Mama baru pulang,"
"Iya, tumben kamu udah pulang."
"Iya ma, Rendra pulang lebih awal karna gak ada kelas tambahan, oh ya, Rendra udah siapin makan malam."
"Kamu nyiapin makan malam?"
"Iya, kenapa kok ekspresi mama gitu? kayak yang baru pertama kali aja denger Rendra masak."
"Ya emang pertama kalinya kamu masak sendiri kan, biasanya cuma bantu-bantu mama aja."
"Ya sama aja kan ma,"
__ADS_1
"Mama bangga sama kamu, meskipun kamu anak laki-laki tapi kamu mandiri."
"Itu karna Rendra adalah anak mama, kalau Rendra bukan anak mama Rendra gak akan jadi kebanggaan mama."
"Kamu bisa aja."
"Mama mau makan sekarang?"
"Nanti aja, mama mau mandi dulu."
"Oke, Rendra tunggu."
"Hmm,"
"Wah, masakan kamu enak, anak mama memang yang paling oke."
"Iya dong."
"Emm.. Rendra,"
"Iya ma,"
"Mama boleh minta tolong gak sama kamu?"
"Mama kalau mau minta tolong Rendra langsung bilang aja, kenapa harus nanya dulu, mama mau minta tolong apa?"
"Tolong jangan terlalu dekat dengan Siren, atau kalau perlu kamu lupakan dia, anggap saja kamu tidak pernah mengenalnya."
"Kenapa?"
"Mama tidak mau mencari masalah dengan keluarganya."
"Maksud mama Tante Aira?"
Anindira tidak menjawab.
"Baiklah, Rendra akan jaga jarak sama Siren, lagipula Rendra cuma mau fokus belajar aja."
"Maafkan mama ya, ini demi kebaikan kita, dan demi kebaikan mereka juga."
"Rendra mengerti ma."
Anindira tersenyum kecil, "Emm.. ada satu lagi yang ingin mama katakan."
"Apa?"
"Mama akan menerima lamaran Dean."
"Serius ma?"
"Hmm,"
"Akhirnya, selamat ya ma, mama sama Paman Dean harus bahagia."
"Terimakasih Nak."
"Rendra senang, akhirnya mama mau membuka hati mama untuk Paman Dean."
Sebelum tidur Anindira menelpon Dean untuk minta bertemu besok pagi, tapi Dean menolak, dia ingin bertemu malam itu juga.
"Kenapa harus bertemu sekarang, dasar Dean." Gerutunya.
__ADS_1