
Mereka terlihat lelah dan lesu sehingga mereka merasa tidak bertenaga lagi untuk berbicara.
"Sudahlah mas, jangan mengomeli mereka seperti itu! mereka terlihat sangat lelah nanti saja bicaranya. Kalian masuklah ke kamar bersihkan badan kalian dan setelah itu pergilah ke ruang makan untuk makan malam!"
Leon dan Aluna pun pergi untuk membersihkan diri, lalu makan malam.
Semenjak hari itu Aluna jadi lebih pendiam dari biasanya, dia hanya bicara seperlunya saja.
Orang tuanya Leon merasa hawatir melihat sikap menantunya yang semakin tertutup .
Begitupun kakek dan neneknya Leon.
Hari itu adalah akhir pekan, semua orang di keluarga Pradana sedang berada di rumah.
Neneknya leon menghampiri Aluna dan mencoba untuk mengajaknya bicara, "Aluna cucu mantuku, apa yang sedang kamu pikirkan? akhir-akhir ini kamu kelihatan banyak pikiran! kalau ada apa-apa kamu bisa cerita sama nenek."
"Gapapa nek, aku baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
"Iya nek."
"Kalau begitu temani nenek jalan-jalan sebentar ke taman yuk!"
Ajak neneknya Leon bermaksud untuk menghibur Aluna.
Dengan harapan dia bisa mengurangi rasa sedihnya.
Aluna pun menurut tanpa berkomentar.
Ketika Leon hendak keluar untuk menyusul Aluna dan neneknya, kakeknya Leon mengajak Leon untuk bicara.
Mereka pun duduk di ruang tengah bersama orang tuanya Leon.
Kakeknya bertanya pada Leon, "Leon, kakek akan langsung saja pada inti pembicaraannya, apa yang terjadi pada hari itu sehingga membuat Aluna semakin tertutup, dan sikapnya menjadi dingin?"
"Sebenarnya hari itu aku dan Aluna pergi menemui Anindira dengan maksud membawanya kembali ke rumah ini, tapi dia menolak."
"Aluna merasa sangat sedih karna itu, apalagi sekarang kandungan Anindira semakin membesar. Aluna berharap aku dan dia bisa menyaksikan langsung kelahiran anak itu."
"Jadi kamu sudah menemukan Anindira?" tanya ayahnya Leon.
"Iya aku dan Aluna mencarinya, sampai kami bertemu dengan teman masa kecil Anindira dia yang membawa kami bertemu dengannya."
"Di mana dia tinggal sekarang?" tanya mamanya Leon.
"Di sebuah pedesaan."
"Apa sampai sekarang kamu masih saja mencurigai Anindira? apa kamu masih belum yakin dengan anak yang ada dalam kandungannya?"
"Entahlah kek.."
"Apa lagi yang membuatmu ragu? bukankah kamu sudah tau kebenarannya?"
Leon terdiam, dia teringat dengan foto terakhir yang Gena berikan padanya.
Rasa curiganya terhadap lelaki yang ada di foto itu belum terjawab.
Tapi sekarang dia tidak bisa begitu saja melemparkan tuduhan pada Anindira karna dia tidak ingin kejadian seperti dulu terulang lagi.
"Ya mungkin ini juga kesalahanku, karna aku mengatakan akan melakukan tes DNA setelah dia melahirkan. Sehingga membuat dia marah, seharusnya aku membujuknya baik-baik."
"Kamu ini jangan selalu mendahulukan egomu Leon, mama kan sudah bilang kamu harus bisa mengontrol sikapmu yang buruk itu!" ucap mamanya Leon sambil mengomel.
"Pergi dan bujuk Anindira untuk kembali lagi ke sini!" perintah kakeknya Leon.
__ADS_1
"Tapi kek.."
"Jangan membantah! bukankah kamu tidak mau melihat Aluna terpuruk seperti itu?"
"Baiklah aku akan menemuinya lagi nanti."
"Bukan nanti, tapi sekarang!" ucap kakeknya Leon dengan suara agak membentak.
"Pergilah Leon! sekarang juga!" sambung papanya Leon.
"Baiklah aku akan pergi sekarang."
Leon menuruti permintaan orang tua dan kakeknya, dia pergi menemui Anindira dengan di temani Bram asisten pribadinya.
Sesampainya di tempat Anindira.
Leon menghampiri Anindira yang sedang melayani pelanggan di tokonya.
Dia menarik tangannya Anindira dan membawanya ke luar dari toko.
"Mau apa lagi kamu ke sini?"
"Pulanglah bersamaku! setidaknya demi Aluna."
"Aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tidak akan pernah menginjakan kakiku lagi di rumah itu."
"Aluna sangat mengharapkan kamu kembali ke rumah."
"Lalu bagaimana denganmu? bukankah kamu hanya ingin memastikan ini adalah anak kandungmu atau bukan? dan setelah itu kamu akan membuangku dan mengambil anakku."
"Bisa jadi setelah itu kamu juga tidak akan. mengizinkan aku untuk bertemu dengan anakku."
"Aku tidak akan melakukannya, karna aku tidak bisa mengabaikan surat perjanjian itu. Itu surat perjanjian yang di buat oleh Aluna, kamu bisa membacanya kembali sebagai jaminan." Leon memberikan surat perjanjian itu pada Anindira untuk di baca kembali olehnya.
"Lalu apa kamu juga sudah tidak perduli lagi dengan Aluna? bukankah kamu sudah menganggapnya seperti kakamu sendiri?"
"Ini tidak ada hubungannya dengan Mba Aluna, kalau Mba Aluna mau bertemu denganku dan anakku kamu bisa membawanya ke sini." Ucap Anindira sambil beranjak ke rumahnya meninggalkan Leon sendirian di luar,
dia menutup rapat-rapat pintu rumahnya.
Leon mengepalkan tangan menahan rasa kesal, "****, kenapa perempuan itu sangat keras kepala! susah sekali untuk membujuknya." Leon mengomel sambil memukul mobilnya dengan tangannya.
"Bram," panggil Leon dengan nada membentak.
"Iya tuan."
Leon membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam mobil, "ayo pergi."
"Baik tuan."
Leon pulang dengan perasaan kacau.
9 bulan kemudian, Anindira mengalami kontraksi sudah waktunya dia melahirkan.
Orang tuanya membawa dia ke rumah sakit, Dean juga langsung menyusulnya ketika dapat kabar Anindira akan melahirkan.
"Bagaimana dengan anindira bibi, paman?"
"Dia baru saja di bawa masuk ke ruang bersalin."
Mereka bertiga ikut masuk ke ruang bersalin untuk menemani Anindira melahirkan.
Dean terlihat begitu hawatir melihat keadaan Anindira yang tengah berjuang melahirkan anaknya, dia memegang tangan Anindira untuk menguatkannya.
Di saat bersamaan, Aluna jatuh sakit Dia terbaring lemah di rumah sakit Aluna meminta suaminya untuk menemui Anindira dia tau hari itu waktunya Anindira melahirkan.
__ADS_1
Aluna menyuruh Leon menemani Anindira untuk menguatkannya, "pergilah mas! di saat-saat seperti ini dia pasti membutuhkanmu untuk berada di sampingnya, dia akan melahirkan anakmu, kamu harus menguatkannya."
Leon menitipkan Aluna pada orang tua, kakek, dan neneknya. Lalu dia pergi untuk menemui Anindira.
Kebetulan Anindira di bawa ke rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari tempat Aluna dirawat.
Leon menelpon Dean untuk menanyakan keadaan Anindira.
"Dean apa kamu sedang bersama Anindira? apa Anindira sudah melahirkan?" tanya Leon dengan perasaan panik.
Dean tidak langsung menjawab, dia tidak melepaskan genggaman tangannya dari Anindira.
Anindira menjerit kesakitan, Leon semakin panik mendengar jeritan Anindira.
"Dean, apa yang terjadi? jawablah! katakan sesuatu! apa yang terjadi pada Anindira?"
"Datanglah ke rumah sakit xx, Anindira sekarang sedang berada di ruang bersalin."
Leon langsung menutup telponnya dan segera pergi ke rumah sakit tempat Anindira melahirkan.
Ketika Leon akan masuk ke ruang bersalin dia di larang masuk oleh ayahnya Anindira.
"Mau apa kamu ke sini?"
"Aku mau melihat istri dan anakku."
"Baru sekarang kamu memanggil mereka dengan sebutan istri dan anak? di dalam sudah ada Dean yang menemaninya kamu tidak boleh masuk."
Suster pun melarang Leon untuk masuk karna terlalu banyak orang di dalam, "anda tidak di perbolehkan masuk ke dalam! terlalu banyak orang, itu akan membuat ibu si bayi merasa sesak."
Dean melepaskan genggaman tangannya, dia mengalah dan menyuruh Leon untuk masuk menggantikannya, "gapapa suster dia adalah suaminya, biarkan dia masuk!"
"Oh baiklah, silahkan masuk pak."
Dean keluar dari ruang bersalin, dan Leon masuk.
Dia menggenggam tangan Anindira dan mengelap keringatnya.
Beberapa menit kemudian bayinya pun lahir dengan selamat dan sehat, dia melahirkan seorang anak laki-laki.
Tak terasa air mata Leon pun menetes.
Anindira merasa lega setelah melihat anaknya dia menangis haru.
Leon menggendong dan mengadzani bayinya sambil berlinang air mata.
Lalu dia memberikan bayinya pada Anindira.
Anindira baru sadar kalau yang ada di sampingnya adalah Leon.
"Kenapa kamu di sini?"
"Apa aku tidak boleh menyaksikan anakku lahir ke dunia ini?"
Anindira terdiam.
Sedangkan Aluna yang tengah terbaring di rumah sakit sangat merindukan mereka dia sudah tidak sabar ingin mengetahui bayinya sudah lahir atau belum.
Dia buru-buru menghubungi Leon dan menanyakan keadaan Anindira.
Setelah dia mengetahui bayinya lahir dengan selamat dan mengetahui Anindira melahirkan seorang anak laki-laki.
Aluna tidak bisa membendung kebahagiaannya tangisnya pun pecah.
Dia sudah tidak sabar ingin melihat putranya yang baru lahir, Dia menyuruh Leon untuk membawanya pulang dan bertemu dengan Aluna setelah Anindira pulih nanti.
__ADS_1