Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 47


__ADS_3

Leon semakin curiga pada Aira, dia curiga kalau malam itu Aira mencampurkan obat bius padanya sehingga membuat dia tak sadarkan diri dan membuatnya seperti tertidur dengan pulas.


Leon meremas surat hasil pemeriksaan itu, dia merasa sudah di bodohi oleh Aira.


"Ada apa Leon?" tanya Dokter Andri.


"Gapapa dok, terimakasih atas bantuannya! aku harus segera pulang ke rumah."


"Oh, baiklah." Mereka pun bersalaman.


"Biar aku yang membayar semua pesanannya."


"Terimakasih Leon."


Setelah Leon membayar tagihannya, Leon langsung bergegas pulang ke rumah.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya tuan?" tanya Bram.


"Ternyata itu adalah Obat Bius GHB."


"Apa?!"


Leon melotot mendengar Bram tidak sengaja berteriak karna kaget.


"Maaf tuan, saya kaget kalau ternyata itu obat bius."


"Kamu juga tau tentang obat ini?"


"Iya tuan, saya sering mendengar tentang obat itu kalau kita meminumnya secara berlebihan itu akan membahayakan diri kita sendiri, selain itu obat itu juga bisa merusak akal sehat kita dan bisa mendorong kita melakukan hal yang..." Bram enggan untuk melanjutkan perkataannya.


"Iya aku tau, Dokter Andri sudah memberitauku. Kamu bilang jika meminumnya secara berlebihan, bagaimana kalau hanya meminumnya sedikit, apa efeknya akan sama?"


"Dari yang sering saya dengar sih, Obat Bius itu akan bereaksi dengan cepat ketika di campur dengan alkohol tuan?"


"Bagaimana jika di campur dengan air putih?"


"Saya rasa reaksinya akan seperti obat tidur tuan."


"Maksudmu?"


"Tuan tidak tau sama sekali tentang jenis obat itu?"


"Aku ini orang baik-baik, aku tidak tau dengan obat-obatan seperti itu."


Bram menahan tawa mendengar perkataan Leon.


"Hei, kenapa senyum-senyum kamu meledekku ya?''


"Maaf tuan, tapi bukankah tuan punya banyak kenalan dokter, lalu tuan juga sering menghadiri perkumpulan dengan bermacam-macam orang, dan pergi ke tempat yang seperti itu? maaf kalau saya lancang." Ucap Bram.


"Ya mana ku tau, meskipun aku punya banyak kenalan dokter aku hanya tau tentang beberapa jenis obat, tapi tidak dengan obat yang seperti itu, dan meskipun aku sering ke tempat yang seperti itu aku tidak pernah menyentuh minum-minuman beralkohol karna Aluna tidak menyukainya."

__ADS_1


"Tapi mungkin tuan pernah mendengar dari teman tuan, karna obat itu tidak asing dan sering di salah gunakan oleh kalangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab."


"Obat itu memang terdengar tidak asing di telinga, tapi.. aku bertanya padamu bukan untuk merendahkan diriku sendiri! kamu sengaja ya mau beradu mulut denganku, dan mau merendahkanku dengan pengalamanku di luar sana? aku ini orang terpandang, julukanku adalah si dewa bisnis no.1 di asia, aku menghabiskan setiap waktuku dengan bekerja dan bekerja tidak ada waktu untuk mendengar hal-hal yang tidak berfaedah seperti gosip tentang obat bius yang sedang beredar itu." Oceh Leon.


"Ekhem, maaf tuan saya tidak bermaksud merendahkan tuan, tapi memangnya kenapa tuan sangat ingin mengetahui tentang obat itu?"


"Kamu tau kan tentang kejadian malam itu? alasan kenapa aku mau menikahi Aira?"


"I iya tuan," Bram terlihat enggan untuk menjawab.


"Dan apa kamu tau kata Bi Sri dia melihat Aira membawa obat yang sama persis seperti obat ini."


"Maksud tuan kemungkinan besar obat itu milik Nona Aira?"


"Iya,"


"Jadi maksud tuan Nona Aira menggunakan Obat Bius itu untuk menjebak tuan?"


"Itu baru kecurigaanku saja, aku belum punya bukti yang kuat."


"Kenapa tuan tidak mengecek CCTV rumah aja biar semuanya jelas tuan."


"Ah, iya ya! kenapa aku bisa lupa dengan itu, padahal di rumah di pasang beberapa CCTV bodoh! ayo percepat mobilnya aku harus segera memeriksanya."


"Baik Tuan,"


Setelah Leon sampai di rumah dia langsung mengecek CCTV dapur, dan ternyata memang benar Aira mencampurkan Obat bius ke dalam air minum Leon waktu itu.


Leon begitu marah saat mengetahui Aira melakukan itu padanya.


Bram tidak berani bicara melihat Leon seperti itu.


Pagi hari, Aira datang ke rumah Leon.


"Aira, ayo masuk kita sarapan bersama!" kata mamanya Leon.


"Iya tante, terimakasih!"


Waktu itu Leon baru keluar dari kamarnya, dan turun dari tangga. Karna dia melihat Aira dia jadi tidak bernafsu untuk sarapan pagi.


"Mas Leon sudah mau berangkat?" tanya Aira.


Leon tidak menjawab dia mengabaikannya.


"Ma, pa, nek, kek, aku berangkat dulu ya!"


"Kamu gak sarapan dulu Leon?" tanya mamanya.


"Aku sarapan di kantor aja ma." Ucap Leon sambil beranjak pergi.


Melihat itu, Aira bergegas menyusul Leon ke luar.

__ADS_1


"Tante aku mau nyusul Mas Leon dulu, ada yang ingin aku bicarakan dengannya."


"Oh, baiklah."


"Mari semuanya." Kata Aira.


"Mas Leon! tunggu Mas."


Leon tidak mendengarkan Aira dia langsung masuk ke dalam mobil, sebelum mobilnya melaju Aira bergegas masuk ke dalam mobilnya Leon.


"Ngapain kamu masuk ke mobilku?"


"Mas Leon kenapa sih, perasaan kemarin masih biasa-biasa aja kenapa sekarang mas bersikap kasar padaku?"


"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu!"


"Iya tapi kenapa mas, apa salahku?"


"Keluar kamu dari mobilku!"


"Tapi mas.."


"Keluar!" teriak Leon.


Leon membuka pintu mobilnya, dan mendorong Aira supaya dia keluar, lalu Leon menutup pintu mobil dan Bram pun menghidupkan mobilnya kemudian bergegas pergi.


"Mas, kenapa sih? apa salahku? mas!" teriak Aira sambil memukul-mukul kaca mobilnya Leon.


"Kenapa Mas Leon mengabaikanku? biasanya dia tidak pernah seperti ini padaku, gak bisa! ini gak boleh terjadi! aku akan menyusulnya ke kantor."


Aira bergegas masuk ke dalam mobilnya dia menyusul Leon ke kantor.


Ketika Leon mau masuk ke kantor, Aira buru-buru menghampirinya dan menarik tangan Leon.


"Mas, ada apa? mas gak bisa diemin aku kayak gini dong, aku butuh penjelasan."


"Kamu mau tau kenapa aku bersikap kasar sama kamu? tanya aja sama diri kamu sendiri!" bentak Leon.


"Maksud kamu apa mas?!"


Leon melemparkan botol obat dan surat hasil pemeriksaan obat itu pada Aira.


"Aku gak nyangka, kamu bisa melakukan hal serendah itu, padahal kakakmu Aluna adalah wanita yang baik aku tidak menyangka dia punya adik yang berhati busuk sepertimu!"


Leon benar-benar sudah kehilangan kesabaran pada Aira.


Aira gemetaran melihat botol obat dan surat hasil pemeriksaan itu.


"Dari mana mas mendapatkan botol obat itu?"


"Kamu itu terlalu bodoh Aira, kamu ingin menjebakku tapi gak bisa menutupi kebusukanmu itu dengan rapi."

__ADS_1


"Meskipun Mas sudah tau semuanya, tapi mas tidak bisa lari dari tanggung jawab!" Aira berteriak.


"Apa kamu bilang, tanggung jawab? aku mau tanggung jawab jika itu adalah kesalahanku tapi di sini korbannya adalah aku! kamu sudah menjebakku." Kembali Leon membentak Aira.


__ADS_2