
Anindira terlihat panik dan cemas, Ibunya memeluk dia untuk menenangkannya.
"Bibi, paman aku akan menyusul Leon dan membantunya untuk membawa Rajendra kembali." Ucap Dean
"Apa kamu yakin Dean?" tanya ibu Anindira.
"Iya, kalian jangan hawatir aku akan berusaha untuk membantu Leon menyelamatkan Rajendra."
Kedua orang tuanya Dira saling pandang, Dean pun bergegas menyusul Leon.
"Dean, berhati-hatilah." Ucap Dira.
Dean mengangguk dan tersenyum.
Leon sudah berada di tempat dimana Gena bersembunyi.
"Keluar kau wanita tua!"
"Oh, lihatlah ayahmu sudah datang rupanya." Kata gena sambil menggendong Rajendra.
"Kembalikan anakku!"
"Mana uangnya? kenapa kamu tidak membawa apapun, jangan coba-coba menipuku ya! oh, atau kamu menginginkan anakmu tiada?"
"Kurangajar, jangan coba-coba kamu menyakitinya."
"Kalau begitu, berikan uangnya padaku!"
Bram datang dengan membawa sebuah tas yang berisi uang.
"Maaf tuan saya terlambat, ini uangnya"
"Hei, apa kamu mencoba untuk menjebakku? kenapa kamu membawa bodyguard?"
"Pergilah Bram! dia hanyalah wanita tua yang tidak waras, aku bisa mengatasinya sendiri."
"Baik tuan"
Leon melemparkan tas yang berisi uang itu ke hadapan Gena, "Sesuai permintaan, sekarang kembalikan anakku."
Gena mengambil tas itu dan membukanya, mata Gena melotot melihat uang sebanyak itu di depan matanya.
Gena menyeringai, "Kalian keluarlah, habisi tuan muda itu!" ternyata Gena tidak sendirian dia menyewa preman untuk menghajar Leon.
"Sial, ternyata wanita tidak waras itu menjebakku."
Leon dan preman-preman itu berkelahi dengan sengit, sejauh ini Leon masih bisa bertahan.
Ketika salah satu dari mereka menodongkan senjata pada Leon, Dean datang menolongnya dan membantu menghajar preman-preman itu.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Dean sambil berkelahi.
"Kenapa kamu datang membantuku? apa kamu pikir aku ini lemah!"
__ADS_1
"Aku tidak berpikir seperti itu, tapi nyawamu itu lebih berharga karna kamu adalah seorang ayah."
Leon terpaku sambil mengunci tangan salah satu dari preman itu, "Apa maksudmu?"
"Kalau kamu sampai terluka, atau bahkan mati di tangan mereka bagaimana dengan nasib Rajendra? bukankah dia masih membutuhkan sosok seorang ayah!"
"Hhehh, sialan apa kamu menginginkan aku mati di tangan mereka? aku tidak akan bisa mati semudah itu, aku akan membawa anakku kembali."
Dean tersenyum mendengar perkataan Leon, ketika preman itu mau menghabisi Dean dengan menggunakan sebuah pisau dari belakang giliran Leon yang menghadangnya, "Hati-hati, mereka bersenjata."
"Terimaksih sudah menghawatirkanku." Ucap Dean sambil tersenyum.
"Jangn membuatku merinding, aku menyelamatkanmu karna rasa kemanusiaan."
Salah satu dari preman itu mengeluarkan pistol dan menembakannya ke udara.
"Tuan muda?!" Bram yang mendengar suara tembakan itu, kembali ke tempat Leon berada dengan membawa sebuah pistol, sebelum sampai ke tempat itu, Bram sempat menghubungi polisi.
Bram membantu Leon dan Dean menghajar preman-preman itu.
Gena kabur dengan membawa bayi Anindira dan uangnya.
Dean yang melihat Gena melarikan diri bergegas mengejarnya, sedangkan Leon dan Bram masih berkelahi dengan para penjahat itu.
"Bibi berhenti!" teriak Dean.
Setelah beberapa lama Dean mengejarnya, Gena tidak bisa melarikan diri lagi karna jalannya buntu terhalang oleh tembok.
Gena merasa panik, dia menengok kesana kemari lalu melihat sebuah sumur yang letaknya tak jauh dari tempat Gena berada.
Gena melemparkan Rajendra ke sumur itu, tapi Dean dengan sigap menangkap Rajendra dan berhasil menyelamatkannya.
Sementara perhatian Dean teralihkan Gena buru-buru kabur melarikan diri.
Leon dan Bram sampai di tempat itu dengan para polisi, para polisi itu mengejar Gena.
Semua preman yang bersekongkol dengan Gena ditangkap dan di amankan polisi, sedangkan Gena berhasil meloloskan diri.
Dean berbalik dan menghampiri Leon dia memberikan Rajendra ke pangkuannya Leon, "Anakmu selamat tuan muda."
"Kamu meledekku ya?" ucap Leon.
Dean tertawa.
Leon memeluk Rajendra dan mengecup keningnya, dia sangat senang karna anaknya selamat tanpa luka sedikit pun, "Ayah senang kamu selamat Nak." Ucap Leon sambil meneteskan air mata.
"Hei, tuan muda jangan lupakan ibunya juga, Anindira pasti sedang menunggu dan menghawatirkan Rajendra sekarang."
Leon menatap Rajendra, dan tiba-tiba Rajendra menangis, "Ada apa, kenapa kamu menangis?" ucap Leon pada Rajendra yang masih bayi.
Dean tertawa cekikikan.
"Apa yang kamu tertawakan?"
__ADS_1
"Kenapa kamu malah bertanya pada bayi yang belum bisa bicara!"
"Memangnya kenapa?"
"Bayi mana ngerti dengan perkataan orang dewasa."
"Terus kenapa dia tiba-tiba menangis?"
"Mungkin dia lapar dan merindukan ibunya."
"Dari mana kamu tau?"
"Orang tuaku yang bilang seperti itu, katanya kalau si bayi jauh dari ibunya dalam waktu yang lama, bayinya akan merasa gelisah, dan terus-terusan menangis begitu juga sebaliknya."
"Kalau begitu ayo kita temui ibumu." Ucap Leon pada Rajendra kecil.
Mereka pun kembali ke tempat Anindira, anindira dan kedua orang tuanya yang sejak tadi gelisah menunggu kabar dari mereka, merasa lega melihat mereka kembali membawa Rajendra dengan selamat.
Anindira langsung menghampiri Leon dan memeluk anaknya dia tak henti-hentinya mengucap syukur.
Kedua orang tuanya pun merasa bahagia.
"Terimakasih kalian sudah menyelamatkan Anakku." Ucap Anindira pada Leon dan Dean.
"Aku memang datang kesana untuk menyelamatkan anak kita, tapi sebenarnya pria ini lah yang banyak berjasa dalam menyelamatkan Rajendra, jadi dia lah yang paling berhak mendapatkan ucapan terimakasih dari kalian." Ucap Leon menunjuk pada Dean yang ada di sampingnya.
"Ah, itu bukan apa-apa kamu terlalu berlebihan tuan muda." Jawab Dean.
"Aku bukan tuanmu, panggil aku dengan namaku!"
"Oke, oke."
"Terimakasih Dean, kamu sudah banyak membantu keluargaku." Kata Anindira
"Sama-sama, aku menganggap kalian sudah seperti keluargaku sendiri, jadi jika kalian membutuhkan bantuanku aku selalu siap kapanpun."
Ayah Anindira mengambil Rajendra dari pangkuan Anindira dan menggendongnya, "Ayo ikut ayah, sekarang juga kita pulang ke rumah."
"Apa maksud ayah mertua pulang ke rumah?" tanya Leon
"Kamu lupa dengan perjanjian kita? Aluna sekarang sudah sembuh, dia juga sudah banyak menghabiskan waktu dengan Cucu kami, seharusnya itu sudah cukup! waktunya kalian menepati janji kalian."
"Tapi ayah mertua,"
"Tidak ada kata tapi Leon, aku akan membawa anak dan cucuku sekarang juga, ayo Dira!" kata ayahnya.
Leon menghentikan Anindira dan memegang tangannya, "Maafkan aku Dira, aku selalu memperlakukanmu dengan tidak adil sekarang aku sadar kalau sikapku padamu selama ini sudah sangat keterlaluan, tapi setelah aku melihat Rajendra mata dan hatiku mulai terbuka aku benar-benar menyesal, sekali lagi maafkan aku!"
"Dira, ayo cepatlah!" panggil ayahnya.
Anindira menengok pada ayahnya kemudian menatap Leon dan berkata, "Aku sudah memaafkan semuanya, tapi aku tidak bisa kembali padamu! maaf, aku juga tidak bisa memberikan Rajendra padamu."
"Dia akan ikut bersamaku, tolong sampaikan permintaan maafku pada Mba Aluna, dan katakan padanya terimakasih karna sudah mencintai dan menyayangi Rajendra seperti anak kandungnya sendiri."
__ADS_1