Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 64


__ADS_3

Tring.. tring.. tring, bunyi notifikasi Whatsapp di hp milik Anindira.


Anindira membuka Watshapp, dia mengerutkan alisnya lalu menaruh kembali HPnya di meja makan.


Anindira menggeleng-gelengkan kepala sambil memijat-mijat keningnya.


Kali ini HPnya berdering ada panggilan masuk dari seseorang, tapi dia mengabaikannya.


Karna Anindira terus mengabaikannya, orang itu terus menelponnya berkali-kali, karna merasa kesal akhirnya dia terpaksa mengangkat telpon itu.


"Halo, kenapa kamu tidak mengangkat telponku?"


"Jangan bertanya, aku malas bicara denganmu."


"Dimana kamu sekarang?"


"Apa urusannya denganmu."


"Kenapa kamu keras kepala sekali."


"Maksudmu aku." Dengan nada malas.


"Siapa lagi, aku sedang berbicara denganmu."


"Kenapa kamu menelpon?"


"Menurutmu karna apa? kemarin kamu kabur begitu saja setelah menandatangani kontrak, dan sekarang kamu lari dari tanggung jawab."


"Masa bodo dengan semua itu, bukankah sekarang semuanya sudah menjadi milik yang terhormat Bapak Leon Pradana, jadi aku tidak perlu bersusah payah untuk bekerja di kantor itu lagi."


"Oh, jadi begitu, kamu lupa dengan apa yang tertulis di kontrak, atau jangan-jangan kamu sama sekali tidak membaca isi dari kontrak tersebut?"


Anindira menghela nafas, "Hahh, iya itu karna aku bodoh, kamu puas!"


"Aku tidak mau tau dengan kebodohanmu itu, sekarang juga kamu harus datang ke kantor."


"Kalau aku tidak mau bagaimana?"


"Bodoh, kamu pikir jika kamu melanggar kontrak tidak akan ada sanksinya?"


Anindira semakin merasa kesal.


"Dalam kontrak itu tertulis, setelah perusahaan ini berpindah tangan padaku, kamu harus bekerja sesuai dengan apa yang aku perintahkan, kamu akan menjadi keuntungan terbesar bagi perusahaan ini."


"Kamu sudah menggulingkanku dari perusahaanku sendiri, dan sekarang kamu mau memperbudakku supaya bisa kamu suruh-suruh seenaknya demi keuntungan perusahaan? dasar licik!"


"Simpan ocehanmu itu, datang ke kantor sendiri, atau aku akan menyuruh orangku untuk membawamu dengan paksa."


Tut, tut, tut, Leon langsung menutup telponnya.


"Cih, dasar licik!"


"Ada pa ma, kenapa mama terlihat kesal?"


"Rendra?! kenapa kamu kembali?"


"Ada yang ketinggalan,"


"Oh, apa yang ketinggalan?"


Rajendra menghampiri Anindira, dan mengecup pipinya.

__ADS_1


"Dasar, kamu ini mama kira apa."


"Mama jangan terlalu cape ya Rendra gak mau mama sampai sakit."


"Iya sayang, mama tau."


"Oke, kalau gitu Rendra berangkat ya, bye ma."


"Bye,"


Tak lama setelah Rendra berangkat kuliah, ada sebuah mobil yang masuk ke halaman rumahnya.


Tin, tin,


Anindira tidak menghiraukannya.


Tin, tin, tin.. tin..


"Berisik!"


Anindira membuka pintu rumahnya, lalu menghampiri mobil itu.


Orang itu membuka kaca mobilnya, dan ternyata itu adalah Leon, dia memberi isyarat pada Bram untuk membawa Anindira masuk ke mobil.


"Maaf Nona, demi kebaikan bersama lebih baik Nona ikut saya."


"Tidak mau!"


Bram ingat dengan perkataan Leon sebelum menjemput Anindira, bahwa dia harus menggunakan dirinya supaya Anindira menurut.


"Tolong Nona, kasihani saya, saya tidak mau sampai di pecat sama Tuan Muda, maksud saya Tuan yang sudah tidak muda lagi." Celetuk Bram sambil melirik ke arah Leon.


Bram menunduk sambil cekikikkan.


"Hh, kalau kamu di pecat ya cari pekerjaan yang lain aja! kenapa Kak Bram betah banget kerja sama orang yang pikirannya plin-plan kayak dia, egonya juga tinggi, suka marah-marah gak jelas, daripada setres setiap hari ngadepin majikan kayak gitu, mending cari pekerjaan yang lain, kalau perlu aku yang carikan."


Leon merasa kesal dengan ocehan Anindira, dia keluar dari mobil lalu menggendongnya, dan memasukannya ke dalam mobil.


"Hei, tidak sopan!"


"Daripada kamu mengoceh gak jelas lebih baik menurut, diam, dan duduk saja!"


Anindira menggerutu sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya, "Cih, dia pikir dia siapa berani berbuat seperti ini padaku."


"Bram cepat nyalakan mobilnya kalau tidak aku akan memotong gajimu."


Bram yang dari tadi bengong di luar segera masuk ke dalam mobil, dan langsung tancap gas.


"Berhenti di depan toko baju itu!"


"Baik Tuan,"


Setelah mobilnya berhenti, Leon turun, dan membukakan pintu mobil untuk Anindira.


Anindira memalingkan muka dan diam di tempat.


"Turun!"


Anindira tetap tidak bergeming, Leon kembali menggendongnya keluar dari mobil, sambil menggerutu, sedangkan Anindira terus berontak karna dia merasa Leon menekannya terus menerus.


"Apa kamu sebegitu sukanya aku gendong, sampai aku harus menggendongmu lagi untuk yang kedua kalinya."

__ADS_1


"Aku tidak memintanya, lepaskan, turunkan aku!" teriak Anindira sambil memukul-mukul Leon.


"Kalau aku lepaskan kamu pasti kabur lagi."


"Hei, jangan membuatku malu, turunkan aku sekarang."


"Bisa diam tidak!"


"Aku bilang turunkan aku!" bentak Anindira lalu mengigit pundaknya Leon.


Leon merasa kesakitan, tapi dia menahannya, dan terus berjalan masuk ke toko baju itu.


"Badanmu terbuat dari besi ya kenapa tidak merasa sakit sedikitpun." Anindira terus menggigit pundaknya berkali-kali, dan memukul-mukul dada Leon.


Setelah sampai di dalam Leon menurunkannya.


"Tolong dandani dia." Kata Leon pada salah satu karyawan di toko itu.


"Apa yang ingin kamu lakukan padaku?!"


"Menurutmu, apa aku akan membiarkanmu datang ke kantor dengan pakaian seperti itu, kamu mau membuatku malu?"


Anindira melihat dirinya yang masih mengenakan piama dengan rambut di ikat ke samping.


Leon memberi isyarat pada salah satu karyawan toko itu untuk segera membawa Anindira ke ruang ganti.


"Mari Nona ikut saya," kata karyawan itu mengulurkan tangannya.


Anindira menatap Leon dengan tajam lalu memalingkan muka, kemudian mengikuti karyawan itu.


Anindira sampai bolak-balik keluar masuk ruang ganti, tapi belum ada pakaian yang menurut Leon cocok untuknya.


"Sudah cukup! kamu mau aku datang ke kantor, dan bekerja untukmu bukan? kenapa harus serepot ini, bikin aku setres! yang pakai baju itu aku, kenapa kamu yang heboh so ngatur?!" Bentak Anindira sambil pergi, dan menggerutu, "Kurangajar buang-buang waktuku saja."


Leon tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala, karyawan toko merasa heran dengan tingkah kedua orang itu.


"Kamu, tolong bungkus baju yang ada di pojok sana." Kata Leon.


Matanya tertuju pada pakaian set kantoran lengan panjang dengan tali pinggang, dan rok selutut berwarna merah muda.


"Baik Tuan, akan saya bungkuskan."


"Ah, tasnya juga, tolong di sesuaikan dengan bajunya."


Si karyawan mengangguk.


"Dan perhiasannya juga, gelang, kalung, dan yang lainnya sesuaikan saja semuanya ya."


"Iya Tuan kami akan memberikan pelayanan terbaik kami."


"Bagus,"


Anindira lebih dulu masuk ke dalam mobil, Bram keheranan melihatnya yang marah-marah sambil membanting pintu mobil.


Setelah Leon membayar semuanya dengan cepat dia juga masuk ke dalam mobil.


"Kita berangkat sekarang Tuan?"


"Kenapa masih nanya, buruan berangkat."


"Baik Tuan,"

__ADS_1


__ADS_2