Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 81


__ADS_3

Setelah selesai makan siang Dean dan Claira kembali ke kantor.


"Dira, apa kamu sudah makan siang?" Tanya Dean dengan penuh perhatian.


"Sudah, aku makan siang bersama karyawan di sini."


"Syukurlah, aku bawakan camilan, dan kopi buat kamu."


"Terimakasih Dean, gimana dengan makan siang kalian?"


Dean dan Claira saling menatap.


"Iya, kami membeli banyak makanan dan mengahabiskan semuanya sampai kenyang." Ucap Clair.


"Oke," Kata Anindira, "Sebaiknya aku gak terlalu kepo dengan apa yang terjadi sama mereka berdua, aku juga tidak boleh menanyakan apa yang mereka bicarakan tadi, itu privasi mereka, kalau terjadi sesuatu di antara mereka berdua, mereka pasti cerita sama aku." Katanya dalam hati.


"Emm, oh ya, meetingnya sudah di mulai?"


"Belum, sebelum meeting di mulai, aku ingin berdiskusi dulu dengan kalian."


"Tentang apa?" Tanya Dean.


"Tentang perusahaan yang di tinggalkan oleh bang Leon."


"Perusahaan yang ditinggalkan oleh mantan suamimu?" Ucap Claira penasaran.


"Iya, sebelum Bang Leon meninggal dia menyerahkan tanggung jawab perusahaan padaku."


"Benarkah?"


"Iya, maka dari itu aku membutuhkan bantuan, apa aku bisa memintanya dari kalian?"


"Tentu, kamu tidak perlu bertanya dulu untuk meminta bantuan kami Dira."


"Iya," Claira menimpali.


"Katakan saja, apa yang bisa kami bantu?"


"Dean, kamu tau kan sekarang ini Kak Bram yang mengurus perusahaan itu, dia sedang mengalami kesulitan, aku ingin kamu membantu Kak Bram untuk mengurus perusahaan itu."


"Baiklah, apa yang harus aku lakukan?"


"Perusahaan itu membutuhkan karyawan yang jujur dan benar-benar mau bekerja, bagaimana menurut kalian kalau misalkan beberapa dari karyawan kita kita pindahkan kesana, lalu kita buka lowongan baru di sini."


"Itu ide yang bagus, di sini kamu adalah bosnya, apapun keputusan kamu itu pasti yang terbaik untuk kita semua." Ucap Claira.


"Oke, aku sudah memutuskan siapa saja yang akan di pindahkan, ada tiga orang yang memenuhi kualifikasi yang di butuhkan, bersama dengan kamu nanti mereka akan ikut ke perusahaan dan langsung bekerja di sana."


"Dan kamu Clair, aku butuh bantuan kamu membuka lowongan untuk karyawan baru, nanti kamu yang interview mereka, aku akan mengurus pembangunan gedung baru lantai tiga yang sempat tertunda enam bulan lalu."


"Siap bu bos laksanakan." Kata Clair bersemangat.


"Terimakasih atas kesediaan kalian untuk selalu mendukung, dan membantuku."


"Dalam pertemanan tidak ada kata maaf atau terimakasih, jangan katakan lagi, kami bersedia karna kami menyayangimu Dira."

__ADS_1


"Kalian yang terbaik," Memeluk Claira.


"Ekhem, sampai kapan kalian akan berpelukan, bukankah kita harus mengadakan meeting karyawan." Ucap Dean mengingatkan.


"Ah iya, aku hampir lupa, ayo, meeting harus segera di mulai."


Dean memberi pengumuman pada semua karyawan untuk segera berkumpul.


Semua karyawan di beritahu akan ada karyawan yang di pindahkan, dan sebelum ada penggantinya mereka harus ekstra bekerja keras, selain itu akan ada pergantian shift juga.


Setelah mengatur pergantian shift, meeting pun selesai, Dean membawa tiga karyawan di sana untuk di pekerjakan langsung di perusahaan yang Leon tinggalkan untuk Anindira, sedangkan Claira pulang lebih awal.


"Hhah, aku harus memeriksa gedung lantai tiga." Anindira naik ke lantai tiga menggunakan lift.


"Hmm, mungkin ini akan selesai dalam lima atau enam bulan lagi, aku harus menghubungi para tukang untuk segera menyelesaikannya."


Anindira langsung menelpon tukang, dan menyuruh mereka untuk bekerja hari itu juga.


Pukul 17.00,


Dean kembali ke kantor Anindira.


"Dira, kamu belum pulang?"


"Belum,"


"Mau pulang sekarang?"


"Iya, tunggu sebentar aku hampir selesai."


Dean duduk di kursi yang berhadapan dengan Anindira, "Kamu lagi ngerjain apa?"


"Kenapa kamu ngerjain sendiri, kamu kan bisa minta bantuanku."


"Aku gak mau nambah beban kamu, kamu juga pasti cape kan, oh ya, gimana pekerjaan di sana?"


"Tidak banyak, Bram bisa menanganinya dengan baik, dia itu bakat bisnisnya luar biasa loh, cukup beri dia saran, langsung bergerak dengan cepat."


"Dia itu kaki dan tangannya Bang Leon, mustahil kalau dia gak ngerti tentang bisnis, dia banyak belajar tentang bisnis dari Bang Leon selama ini, selain bosnya Kak Bram dia juga gurunya."


"Kamu juga pembisnis yang hebat, tapi sayangnya kamu malah memilih untuk menjadi rekanku, coba kalau kamu lepas dariku dan bisnis sendiri, mungkin sekarang kamu sudah mendirikan perusahaan dimana-mana, sayang banget."


"Kenapa kamu menyayangkan hal itu? aku tidak ingin terbang tinggi sendirian, kalau aku terbang tinggi tentu aku harus membawamu."


"Hahaha,"


"Kenapa tertawa?"


"Kamu so puitis banget,"


"Aku serius, dari kecil kita sudah bersama dan sekarang juga, aku tidak akan meninggalkanmu."


"Tapi suatu hari kamu harus menikah dan pergi dariku bukan." Ucap Anindira sambil tertawa kecil.


"Iya mungkin saja."

__ADS_1


"Kenapa mungkin? kamu memang harus menikah, memangnya kamu mau melajang seumur hidup."


"Iya, aku memang harus menikah, tapi tidak tahu kapan."


"Kamu harus segera menikah, calon mempelai wanitanya sudah ada kan." Katanya sambil membereskan berkas-berkas, "Aku sudah selesai, ayo pulang,"


"Oke,"


"Karna aku bawa kendaraan sendiri, aku tidak akan menumpang di mobilmu."


Dean tersenyum, "Bersiap-siaplah, nanti malam aku akan menjemputmu."


"Iya, iya, aku ingat."


Sesampainya di rumah,


"Rendra, Rendra, apa dia pulang malam lagi ya, aku coba kirim chat deh."


"Ma,"


"Rendra, baru saja mama mau chat kamu, mama kira kamu pulang malam sayang."


"Enggak ma, aku izin gak ikut kelas tambahan dulu."


"Kenapa kok tumben?"


"Rendra cape banget ma,"


"Em, ya udah jangan memaksakan diri, mandi dulu gih biar fresh."


"Iya ma,"


Anindira juga bergegas membersihkan diri lalu mempersiapkan makan malam untuk Rajendra, dia duduk di kursi makan dan berpikir, "Kira-kira apa yang mau Dean tunjukan kenapa tiba-tiba dia ngajak makan malam di luar."


"Kenapa ma?"


"Ini, Dean ngajak mama makan malam di luar,"


"Oh, gapapa, kalau gitu mama pergi aja."


"Tapi ada apa ya, apa yang mau dia tunjukin sama mama?"


"Mama gak usah banyak berpikir, mending mama siap-siap dulu, keburu Paman Dean datang nanti." Katanya sangat bersemangat.


"Tapi kamu.."


"Gapapa ma, biar Rendra makan malam sendiri aja."


"Ya sudah, kalau gitu mama siap-siap dulu."


"Iya," Rajendra tersenyum senang, "Semoga berhasil Calon papa," Ucapnya pelan, kemudian Rajendra duduk dan makan.


Ting tong,


"Itu pasti Paman Dean," Rajendra buru-buru membuka pintu, "Paman, ayo masuk dulu," Sambil menarik lengan Dean.

__ADS_1


"Ada apa denganmu, Kenapa kamu kelihatan sangat bersemangat?"


"Iya, paman benar, aku sangat bersemangat untuk paman dan juga mama."


__ADS_2