Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 15


__ADS_3

Leon terus saja menggerutu karna aluna mengabaikannya.


Mamanya hanya menggeleng-gelengkan kepala lalu pergi.


Leon berusaha untuk membujuk aluna supaya mau berbicara lagi padanya.


"Baby, sayang. Ayolah jangan seperti ini! buka pintunya aku ingin bicara."


"Aku sedang tidak ingin bicara denganmu mas pergilah!"


"Ok, maafkan aku! kalau aku sudah bicara kasar padamu, sekarang buka pintunya!"


"Tidak mau!"


"Aluna, ada apa denganmu? apa semua ini gara-gara wanita itu?"


"Inilah yang aku tidak suka dari mas! mas selalu saja menyalahkan anindira."


"Apa susahnya mas membuka pikiran mas sedikit saja tentang anindira, jangan cuma bisa menyalahkannya saja."


"Jadi kamu menyalahkanku atas semua yang terjadi? aku seperti ini karna aku hanya mencintaimu, Kalau kamu dan mama tidak memaksaku untuk menikah lagi, hubungan kita tidak akan seperti sekarang ini."


Aluna terdiam dan tidak bicara lagi.


"Baiklah, kalau kamu memang maunya seperti ini!"


Aluna membuka pintu kamarnya dan mengajak leon masuk lalu bicara baik-baik padanya.


"Mas, bisakah kamu mendengarkan ucapanku sekali saja tentang dira! dengarkan dengan kepala dingin."


"Kamu ingat waktu kalian terkunci bersama dalam satu kamar? itu aku yang melakukannya."


"Apa?! jadi kmu yang merencanakannya?" bentak leon.


"Tenang dulu mas, dengarkan aku sampai selesai bicara! apa kamu ingat apa yang kamu lakukan padanya setelah kalian terkunci di dalam kamar?"


Leon mulai mengingat kembali apa yang terjadi malam itu, dia melakukan (itu) pada anindira sampai dia merasa ketakutan padanya.


"Hhaaah.." Leon menghela nafas, dan mengurut-urut dahinya.


"Setelah beberapa hari dari kejadian malam itu anindira sakit, 1 bulan kemudian dia di periksa oleh dokter andri dan di nyatakan hamil."


"Waktu itu usia kehamilan anindira baru 2 minggu, coba kamu pikirkan baik-baik kalau dia hamil dengan lelaki lain sebelum berhubuangan denganmu, seharusnya usia kehamilannya waktu itu sudah lebih dari 2 minggu."


"Dia gak pernah keluar rumah selain bekerja dan mengunjungi orang tuanya, kalau pun dia bertemu dengan seorang lelaki, lelaki yang dia temui itu adalah teman masa kecilnya."


"Itu juga mereka ketemu di rumah orang tuanya karna memang temannya itu sudah seperti keluarga mereka sendiri."


"Dan lagi tanda-tanda kehamilannya di tunjukan setelah kamu berhubungan dengannya bukan sebelumnya, coba kamu pikirkan lagi dengan baik."


Leon mulai memikirkan kemungkinan yang terjadi pada anindira waktu itu, dia tidak terlalu memperhatikan karna dia menganggap malam itu hanya kecelakaan saja.


"Aku masih tidak percaya dengan semua ini!"


"Kalau begitu kita cari buktinya sama-sama, kalau kamu tidak bersedia biar aku sendiri yang mencari buktinya."


Leon termenung, dia mulai membuka hatinya untuk berpikiran luas.


"Aku sudah mengantuk aku tidur duluan ya mas, aku sudah menyiapkan baju ganti untukmu."


Aluna adalah wanita yang pengertian meskipun dia merasa kesal tapi dia tidak bisa membiarkan perasaan suaminya dalam keadaan kacau.


Leon pun mengganti baju kerjanya dengan piyama.

__ADS_1


Dia duduk di samping aluna dan memandanginya yang sedang tertidur lelap, dia mengusap lembut rambut aluna dan mencium keningnya.


Sebelum beranjak tidur leon pergi ke kamar yang sebelumnya di tempati anindira, sehingga membuat dia teringat kembali kejadian malam itu.


Dia duduk di ranjang dan membuka laci meja yang ada di samping tempat tidur.


Di sana terdapat sebuah foto berukuran 5r


dia mengambilnya dan menatap foto itu.


Ternyata itu adalah foto pernikahannya bersama anindira.


Di foto itu anindira terlihat sedih.


"Kenapa dia terlihat sedih di foto ini? apakah dia juga terpaksa melakukan pernikahan waktu itu? tapi kenapa? bukannya seharusnya dia senang karna dengan dia menikahiku dia mendapatkan banyak uang."


Kemudian leon mengingat kembali ucapan aluna, kalau anindira hanya menerima uang dari hasil kerjanya di kantor saja.


Dan uang yang mereka berikan di pakai untuk membayar semua hutangnya pada bibinya.


"Apa benar dia juga hanya mengambil separuh gajinya saja di kantor untuk mengembalikan uang yang sudah kami berikan untuk membayar semua hutangnya?"


"Sebenarnya kamu itu orang yang seperti apa anindira?" Ucap leon.


Kemudian leon menaruh kembali foto itu, dan kembali ke kamar aluna untuk tidur dia memeluk aluna dengan lembut lalu tertidur.


...


Keesokan paginya, di rumah anindira.


"Bu, aku pergi sebentar ya."


"Kamu mau pergi kemana nak?"


"Aku mau ke kantor pos untuk mengirimkan sertivikat rumah dan akte tanah milik mba aluna. Lagi pula sekarang kita sudah tidak punya hubungan apapun dengan mereka. Boleh kan bu?"


"Sudah bu."


"Kalau begitu pergilah!"


"Iya, aku berangkat dulu ya bu"


"Hati-hati di jalan!"


Ketika anindira baru saja mau berangkat, dean datang berkunjung.


"Dira, kamu mau kemana?"


"Aku mau ke kantor pos."


"Kalau begitu biar aku antar."


"Apa tidak merepotkan?


"Anggap saja aku ini ojek motor." Sambil tersenyum.


"Kamu ada-ada saja."


"Ayo naik."


"Baiklah."


Merekapun berangkat.

__ADS_1


...


Singkat cerita mereka telah kembali dari kantor pos.


"Kamu mau mampir dulu ke rumah dean?"


"Iya, aku mampir sebentar deh."


Ketika mereka masuk rumah ternyata orang tuanya dean ada di sana.


"Loh ibu, ayah kalian di sini juga?"


"Ah.. iya kami juga ingin sekali bertemu dengan dira! Apa kabar dira?" sambil memeluknya.


"Baik bi, bagaimana dengan bibi dan paman?"


"Bibi dan paman baik-baik saja, ayo duduk dan ngobrol sama bibi."


Ibu dean menarik tangan dira dan mengajaknya duduk di kursi.


"Hati-hati bu." Ucap dean hawatir.


"Iya dean, kamu selalu terlihat cemas kalau menyangkut dira." Ucap ibunya sambil tersenyum.


Mereka pun mengobrol cukup lama.


...


Sore harinya, di rumah pradana.


Ketika leon pulang kerja dia melihat ada seorang kurir di depan gerbang rumahnya.


"Bram coba kamu lihat sedang apa kurir itu didepan gerbang rumahku!"


"Baik tuan."


Bram bertanya pada kurir itu, "Hei kamu! sedang apa di depan gerbang rumah tuanku."


"Oh, saya hanya mau mengantarkan pesan tuan."


"Pesan apa?"


Kurir itu mengeluarkan sebuah amplop dari tas besarnya, "ini, atas nama nyonya aluna."


"Siapa nama pengirimnya?"


"Tidak di jelaskan nama pengirimnya tuan."


"Baiklah, terimakasih."


Bram kembali masuk ke dalam mobil dan memberikan amplop itu pada leon.


"Amplop apa ini?"


"Tidak tau tuan muda, tapi saya sudah memeriksanya tidak ada yang mencurigakan dengan amplop itu."


"Siapa pengirimnya?"


"Tidak di jelaskan pengirimnya siapa."


Kemudian leon membuka amplop itu sambil memberi perintah pada baram, "ayo jalan!"


"Baik tuan."

__ADS_1


Setelah leon membuka amplop itu ternyata itu adalah sertivikat rumah dan tanah.


"Sertivikat rumah dan tanah?! kepemilikannya atas nama aluna?"


__ADS_2