
Sementara itu, Claira menegur para tukang bangunan untuk lebih berhati-hati dalam bekerja supaya tidak ada yang celaka lagi karna kelalaian mereka.
"Apa dokternya sudah datang?" Tanya Anindira pada salah satu perawat.
"Sebentar lagi beliau sampai."
"Baiklah, tolong tahan sebentar lagi ya Dean,"
"Dira, bagaimana keadaan Dean?" Tanya Claira.
"Sepertinya Dean tidak baik- baik saja Clair."
"Apa sudah di periksa oleh dokter?"
"Dokternya belum datang."
"Perawat, kapan dokternya datang?"
"Dokternya baru sampai bu,"
Dokter itu adalah Dokter Jo, temannya Dean yang bekerja sama dengan perusahaan butiknya Anindira.
"Ayo cepat dok, dia terlihat sangat kesakitan, tolong cepat periksa dia." Ucap Clair
"Baik, yang lainnya tunggu di luar."
10 menit kemudian, dokter keluar dari ruang pasien.
"Dokter bagaimana keadaannya, dia baik-baik saja kan?" Tanya Anindira hawatir.
"Ada sedikit masalah dengan tulang punggungnya, aku akan melakukan CT scan padanya." Ucap dokter.
"Semoga tidak ada yang serius dengan lukanya." Gumam Anindira.
"Apa hasil pemeriksaannya akan keluar hari ini juga?" Tanya Claira.
"Entahlah, kita berdo'a saja supaya hasil pemeriksaannya cepat keluar, dan semoga dia baik-baik saja."
Claira menangis dan memeluk Anindira.
Beberapa menit kemudian dokter Jo kembali.
"Bagaimana hasilnya dok?" Tanya Anindira.
"Aku akan memberitahu kalian jika hasilnya sudah keluar."
"Baik dok,"
"Apa kami boleh menemui Dean?" Tanya Claira pada dokter.
"Iya,"
"Terimakasih dok." Claira langsung masuk ke ruang pasien.
"Dean, bagaimana perasaanmu sekarang?"
"Aku merasa sedikit lebih baik."
"Dokter, apa Dean perlu di bawa ke rumah sakit?"
"Setelah hasil CT scannya keluar baru bisa di putuskan apa dia perlu di bawa ke rumah sakit atau tidak."
Anindira menarik nafas.
"Tidak usah hawatir, berdo'alah supaya Dean baik-baik saja."
"Iya dok,"
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Tanya Claira pada Dean.
"Aku mau minum,"
Claira mengambil air minum untuk Dean.
"Terimakasih Clair,"
__ADS_1
"Hm," Mata Claira berkaca-kaca.
Anindira tidak berani masuk, dia tidak ingin mengganggu Dean dan Claira.
"Dira,"
"Iya dok,"
"Hasilnya sudah keluar, Dean mengalami cedera pada tulang belakangnya, tulang belakangnya retak."
"Apa itu masalah yang serius."
"Untuk sekarang tidak perlu di bawa ke rumah sakit dulu, aku menyarankan sebaiknya kita pakaikan penyangga atau brace dulu sambil konsumsi obat-obatan, nanti kita lihat perkembangannya bagaimana, kalau tidak ada perkembangan kita lakukan fisioterapi, jika tetap tidak ada perkembangan maka harus melakukan oprasi."
"Apa dia akan baik-baik saja?"
"Tentu, kamu jangan hawatir, kita akan selalu memantau perkembangannya nanti."
"Oke,"
Anindira dan Dokter Jo masuk ke ruangan pasien untuk memasang penyangga pada Dean.
"Hei jo, apa yang ingin kamu lakukan padaku?"
"Diamlah Dean, aku akan mengobati lukamu itu."
"Dira sudah mengobatinya."
"Aku tau, tapi lukamu itu butuh penyangga supaya kamu bisa beraktifitas, jika kamu tidak memakainya kamu akan merasa kesakitan setiap kali melakukan aktifitas, bahkan kamu tidak akan bisa menggunakan tanganmu untuk makan."
"Apa lukaku ini separah itu?"
"Parah sekali, makanya kamu diam saja, menurutlah, jangan banyak bergerak."
Dean menurutinya sambil meringis kesakitan.
"Sudah selesai, setelah ini kamu harus memperhatikan keadaanmu, jangan terlalu banyak bergerak, dan jangan terlalu banyak beraktifitas."
"Kamu ini aneh tadi kamu bilang kamu memakaikan penyangga ini supaya aku bisa beraktifitas, tapi kenapa sekarang kamu bilang aku tidak boleh banyak bergerak."
"Dean, gunakan otakmu, apa aku harus menjelaskan detailnya, kamu bukan anak kecil seharusnya kamu mengerti dengan perkataanku, aku akan memberikan resep obat untukmu."
"Iya,"
"Untuk apa?"
"Untuk membuat otakmu bekerja dengan baik Dean."
"Jo, kamu tau kan aku tidak bisa menelan obat-obatan, aku tidak suka."
"Itu masalahmu, kalau kamu mau cepat sembuh maka turuti saja."
"Jo,"
"Dean, tolong jangan banyak protes ini demi kesembuhan kamu." Kata Anindira.
Dean langsung bungkam.
"Sangat terlihat jelas, kalau kamu begitu mencintai Anindira Dean, jujur aku cemburu, aku iri, karna bukan aku yang mendapatkan cinta tulusmu itu, tapi aku tidak berdaya." Ucap Claira dalam hati, tanpa sadar dia terus meneteskan air mata.
"Clair, jangan bersedih, Dean akan baik-baik saja." Ucap Anindira.
"Iya,"
"Dean, sebaiknya kamu pulang saja, aku akan memberitau Kak Bram kalau kamu tidak akan ke kantor dulu sampai kamu benar-benar sembuh."
"Tapi aku,"
"Dean,"
"Aku tidak akan protes, aku hanya mau bertanya siapa yang akan mengantarku pulang dalam keadaan seperti ini?"
"Biar aku saja yang akan mengantarkannya pulang, sekalian aku berangkat dinas."
"Baiklah, Dean kamu hati-hati ya."
__ADS_1
"Dokter Jo titip Dean ya."
"Oke Dira dan Clair, aku akan menjaganya dengan baik, ayo Dean, pelan-pelan saja."
Anindira pulang dari kantor dengan keadaan lesu, dia tidak bersemangat.
"Selamat datang ma," sambut Rajendra.
"Hai sayang, sudah pulang?"
"Iya ma, Rendra bawa teman Rendra kesini."
"Oh ya,"
"Halo Tante," Sapa teman-temannya Rajendra.
"Halo, kalian duduklah, aku akan mengambil camilan dan minuman untuk kalian, oh ya, kalian mau minum apa?"
"Apa saja tante,"
"Oke,"
Rajendra mengerti dengan keadaan mamanya yang sedang tidak bersemangat, "Mama kelihatan cape banget hari ini, biar Rendra aja yang ngambil camilan dan minumannya."
"Gapapa sayang, kamu mengobrollah dengan teman-temanmu." Kata Anindira mengusap pipi anaknya.
Anindira pun pergi ke dapur.
"Hari ini mama kelihatan tidak bersemangat, mama terlihat sedih." Ucapnya dalam hati.
"Ren, kenapa kamu diam saja?" Kata temannya.
"Ah ya, maaf, maaf."
"Ayo kita mabar," Ajak teman yang satunya.
"Hei, kalian kesini mau kerja kelompokkan, kenapa malah ngajak mabar?"
"Sebentar aja, buat pemanasan."
"Gak bisa, mending kita kerja kelompok dulu baru mabar, soalnya kalau udah mabar pasti suka lupa waktu."
"Baiklah pangeran, kami akan melaksanakan titahmu."
"Jangan bercanda,"
Kedua teman Rajendra tertawa.
"Ren, kamu kok bisa sih setiap hari belajar, apa gak bosen? kamu gak jenuh tiap hari kamu menghabiskan waktumu untuk belajar?"
"Enggaklah,"
"Kok bisa?"
"Ya bisa lah, karna aku punya tujuan."
"Kita juga punya tujuan tapi gak serajin kamu tuh, cara belajar kita nyantai, tapi kamu terlalu berambisi sama pelajaran kaya pasangan yang tak terpisahkan."
"Itu karna tujuanku berbeda dengan kalian."
"Apa bedanya?"
"Bedanya kalian belajar, nantinya langsung bekerja di perusahaan ayah kalian, sedangkan aku.."
"Bukannya kamu juga tinggal nerusin perusahaan ayahmu ya."
"Karna itulah aku harus lebih giat lagi belajar, supaya aku bisa membuat perusahaan papaku lebih maju lagi, karna dia tidak ada untuk membimbingku, aku harus bisa terbang sendiri, aku harus bisa terbang setinggi-tingginya sampai menyentuh langit."
Kedua teman Rajendra terdiam, mereka merasa bersalah sudah berkata seperti itu pada Rajendra.
"Kenapa sekarang kalian yang diam?"
"Maaf Ren, kita gak bermaksud membuat kamu sedih ataupun tersinggung."
"Gak masalah, aku gak merasa tersinggung kok, kalau merasa sedih itu wajar karna aku baru saja kehilangan papaku."
__ADS_1
"Kamu hebat Rendra, kita bangga mempunyai teman sepertimu."
"Ya, sepertinya hanya kalian yang benar-benar menganggapku teman." Katanya sambil tersenyum kecil.