Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 41


__ADS_3

Setelah semuanya sepakat Aira dan keluarganya pamit pulang.


"Kami akan mempersiapkan segala sesuatunya dari sekarang." Kata mamanya Aira.


"Kami juga akan membantu." Ucap mamanya Leon.


"Kamu dan Aira juga akan ikut membantu dalam mempersiapkan pernikahan kalian." Tegas papanya.


"Iya pa," Jawab Leon.


Leon pergi ke kamarnya dan duduk di tepi ranjang, "Hhaahh," dia menghela nafas berkali-kali sambil memijat-mijat keningnya.


Leon mengambil Handphonenya dia menatap foto Anindira dan Rajendra yang pernah dia ambil secara diam-diam, dia juga menjadikan foto mereka sebagai wallpaper handphonenya.


Ketika Leon sedang asik menatap foto mantan istri dan anaknya itu, tiba-tiba Handphonenya berbunyi.


Ternyata Aira yang menelpon.


"Halo, ada apa Aira?"


"Mas, besok siang aku akan memilih kartu undangan bisakah mas menemaniku?"


"Baiklah,"


"Terimakasih mas!"


"Iya," jawabnya singkat.


"Apa Mas Leon sudah bersiap untuk tidur?"


"Iya, aku sudah sangat mengantuk."


"Kalau begitu aku tidak akan mengganggumu lagi, selamat malam dan selamat tidur!"


"Selamat malam." Leon menutup telpon, dan membaringkan badannya ke ranjang kemudian tertidur.


Menjelang subuh Leon terbangun, tenggorokannya terasa kering dia pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


Tak sengaja dia menyenggol tong sampah di sampingnya, dia menemukan sebuah botol kecil polos yang terjatuh dari tong sampah itu.


Leon mengambilnya dan bergumam, "Seperti botol obat! tapi obat apa ya? siapa yang meminum obat di rumah ini? masih ada isinya kenapa di buang?"


Leon bertanya pada semua pelayan yang ada di rumahnya.


"Apa obat ini punya kamu?" tanya Leon pada ana.


"Bukan tuan, saya tidak meminum obat." Kata ana.


Leon menanyai pelayannya satu per satu, tapi obat itu bukan milik salah satu dari mereka. tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki obat seperti itu.


"Ada apa Leon, kenapa pagi-pagi kamu sibuk menanyai semua pelayan di rumah kita?" kata mamanya.


"Gak ada apa-apa ma, aku cuma nanyain obat ini milik mereka atau bukan."


"Memangnya itu obat apa?"


"Entahlah, aku menemukannya di tong sampah."


"Kalau itu ada di tong sampah, berarti sudah tidak di gunakan lagi Leon."


"Tapi masih ada isinya, siapa tau pemiliknya tidak sengaja menjatuhkannya ke tong sampah."


"Ada-ada aja, kalau memang benar begitu berarti orang itu ceroboh sekali."

__ADS_1


"Ini bukan punya mama juga?"


"Bukan, kamu tau sendiri kan mama gak lagi mengkonsumsi obat-obatan."


"Kalau begitu bagaimana dengan papa, nenek, dan kakek?"


"Apalagi papa kamu, dia kan gak pernah mau minum obat meskipun dia lagi sakit, nenek sama kakek kamu juga, mama gak pernah liat mereka minum obat seperti itu! di botolnya gak ada nama obatnya, mereka kalau minum obat selalu sesuai resep dokter."


"Lalu ini punya siapa?" gumam Leon


"Mungkin itu punya Bram, kenapa kamu gak tanya dia!"


"Nanti aku tanya dia deh."


Leon menyimpan botol kecil itu di saku bajunya.


Pagi hari, setelah sarapan seperti biasa Leon berangkat ke kantor dengan di antar oleh Bram.


"Bram,"


"Iya tuan"


"Apa ini punyamu?" Leon memperlihatkan botol kecil itu pada Bram.


"Bukan tuan, memangnya itu botol apa?" kata Bram sambil menyetir mobil.


"Kayanya ini obat, tapi gak tau ini obat apa dan punya siapa."


"Memangnya tuan dapat obat itu dari mana?"


"Dari tong sampah."


"Kenapa tuan begitu penasaran dengan obat itu? padahal barusan tuan bilang obat itu sudah ada di tong sampah berarti sudah tidak di perlukan lagi."


"Biasanya kan, di kemasannya selalu ada nama obatnya tuan."


"Ini gak ada namanya, botolnya polos."


"Mungkin pemiliknya sudah mencopot kertas yang ada di kemasannya tuan."


"Kenapa juga orang itu mencopotnya!"


"Bisa jadi karna obatnya sudah kadaluarsa tuan."


"Aneh sekali!"


"Apanya yang aneh tuan?"


"Obat ini di kemasannya tidak ada namanya,


kalau obat ini sudah kadaluarsa kenapa orang itu hanya mencopot nama kemasannya aja, dan lagi aku sudah tanya semua orang di rumah mereka bilang mereka bukan pemilik dari obat ini."


"Sebenarnya ini obat apa ya?" ucap Leon dalam hati sambil memperhatikan obat itu dengan seksama.


"Apa perlu saya selidiki tuan?"


"Tidak usah, aku akan memberitaumu jika memang perlu di selidiki." Kata Leon.


Dia menyimpan kembali obat itu ke saku bajunya.


"Bram, hari ini kita langsung pergi ke restoran cabang untuk menemui investor."


"Baik tuan,"

__ADS_1


Leon pergi ke restoran cabangnya di kota "A'' untuk menemui investor di sana dengan di temani Asisten pribadi, sekertaris, dan dua orang bodyguardnya.


Ketika Leon masih membahas tentang investasi dengan investornya, Handphonenya terus-terusan berdering.


Leon mengambil Handphonenya, dan menonaktifkan Handphonya.


Setelah selesai, Leon pergi ke kantor.


"Presdir, ada seseorang yang sedang menunggu di ruang tunggu." Kata salah satu karyawannya.


"Siapa?"


"Namanya Nona Aira Presdir."


"Aira?! baiklah terimakasih."


Leon pergi ke ruang tunggu untuk menemui Aira.


"Aira, kenapa kamu ada di sini?"


"Maaf mas, aku langsung menemui mas ke kantor karna mas tidak mengangkat telpon dariku."


Leon memijat keningnya lalu duduk berhadapan dengan Aira dan berkata, "Iya, tadi aku ada urusan dengan investor, jadi aku tidak sempat mengangkat telpon."


"Maaf mas, apa aku mengganggumu?"


"Tidak, tapi aku masih ada urusan aku harus menghadiri rapat hari ini. Apa yang membawamu sampai harus datang ke kantorku?"


"Ini tentang kartu undangan, bukankah semalam mas bilang mau menemaniku."


"Ah, iya tentu saja aku akan menemanimu, tapi aku harus menghadiri rapat dulu! setelah itu kita akan pergi untuk memilih kartu undangan."


"Baiklah, kalau begitu aku akan menunggu di sini sampai mas Leon selesai rapat."


"Oke, terserah kamu! kalau kamu butuh sesuatu panggil saja sekertaris jeni dia akan melayanimu."


"Iya mas terimakasih."


"Aku pergi dulu." Kata Leon sambil pergi dengan wajah kesal.


"Akhir-akhir ini Tuan muda seperti banyak pikiran." Ucap Bram dalam hati.


Sebelum Bram ikut masuk ke ruang rapat, dia menyempatkan diri menelpon Anindira untuk memberitau keadaan Leon karna dia merasa hawatir pada tuannya itu.


"Halo, nona?"


"Iya Kak Bram, ada apa Kak Bram menelponku?"


"Nona, bisakah nanti sore nona dan Tuan Kecil main ke rumah Tuan Muda?"


"Memangnya ada apa Kak Bram?"


"Akhir-akhir ini Tuan Muda telah banyak menghadapi kesulitan saya rasa kalau tuan bertemu dengan kalian itu akan mengurangi beban pikirannya."


Anindira berpikir sejenak, "Tidak bisa Kak Bram, hari ini sedang banyak pelanggan, tapi aku akan usahakan datang besok."


"Terimakasih nona, besok saya sendiri yang akan menjemput nona dan Tuan Kecil."


"Baiklah Kak Bram."


"Sekali lagi terimakasih nona, saya tutup dulu telponnya."


"Bram, sedang apa kamu di sana? ayo cepat masuk! sebentar lagi rapat akan di mulai."

__ADS_1


"Iya tuan."


__ADS_2