Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 42


__ADS_3

Bram dan Leon masuk ke ruang rapat.


Setelah selesai Leon pergi menemani Aira untuk memilih kartu undangan.


"Menurut Mas bagaimana dengan yang ini?" Aira menunjukan salah satu contoh kartu undangannya.


"Bagus." Ucapnya singkat


"Yang ini?" Aira menunjukan contoh kartu undangan yang lain.


"Bagus juga."


"Tapi yang ini lebih bagus mas."


"Terserah kamu, aku ikut aja."


"Oke, kita jadinya pesan yang ini, langsung di cetak aja mba! ini daftar tamu undangannya." Kata Aira dengan penuh semangat.


"Baik mba, kirim ke alamat mana mba?"


"Oh, Ke alamat ini!" kata Aira sambil memberikan kartu nama dan alamat rumahnya.


"Baik mba, akan segera kami proses kami akan mengantarkannya besok siang ke alamat ini."


"Terimakasih mba! Setelah ini kita akan pergi ke toko suvenir." Kata Aira pada Leon.


"Kamu mau beli suvenir juga?" tanya Leon.


"Iya, supaya tamu yang datang punya kenang-kenangan dari kita."


Leon hanya bisa menuruti keinginan Aira.


"Aira hari sudah semakin sore, setelah ini kita langsung pulang saja."


"Tapi mas, sebelum kita pulang kita makan malam dulu ya! mas juga pasti lapar seharian belum makan?"


Leon sudah mulai kesal dengan Aira, dia merasa sangat lelah.


"Aira, hari ini aku sangat lelah sebaiknya kita pulang sekarang, makan malamnya kapan-kapan aja ya!"


"Tapi mas,"


"Bram ayo kita pulang!" kata Leon sambil membawa barang-barang yang di beli Aira dan menyuruh Bram untuk memasukkan barang-barang itu ke bagasi mobil.


Aira terpaksa mengikuti keinginan Leon untuk pulang, "Sabar Aira, masih ada banyak waktu untuk membuat Leon benar-benar jatuh cinta padamu." Ucap Aira dalam hati.


Sebelum Leon pulang ke rumah, dia mengantarkan Aira pulang terlebih dahulu.


"Mas gak mampir dulu?"


"Enggak, lain kali saja! Aku pulang dulu aku ingin segera beristirahat."


"Iya mas, selamat beristirahat sampai jumpa lagi."


Leon sampai ke rumah nya malam hari, "Bram, setelah ini pergilah beristirahat! kamu juga pasti lelah kan."


"Iya tuan, apa masih ada yang bisa saya bantu?"


"Tidak! sudah cukup untuk hari ini."


Malam itu Leon melewatkan makan malamnya dia langsung pergi ke kamar, dan bersandar di ranjangnya.

__ADS_1


"Hhaahh, hari ini terasa berat sangat melelahkan." Gumam Leon.


Kembali Leon menatap foto Anindira dan Rajendra di layar Handphonenya, dia tersenyum dan berkata, "Andai saja waktu bisa di putar kembali! aku tidak akan pernah menyia-nyiakanmu Dira."


Tok.. tok.. tok.. terdengar sura ketukan dari balik pintu kamar Leon.


"Iya, siapa?"


"Ini saya tuan, Bi Sri."


"Oh, ada apa Bi Sri?"


"Nyonya sepuh sedang menunggu tuan untuk makan malam."


"Bilang saja aku sudah makan di luar."


"Tapi tuan Nyonya sepuh belum makan, beliau sengaja menunggu tuan untuk makan malam bersama."


"Nenek memang selalu seperti itu, baiklah aku akan turun setelah membersihkan diri."


Leon pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, dia pergi ke ruang makan memenuhi permintaan neneknya.


"Ini sudah lewat jam makan malam kenapa nenek belum makan?"


"Bagaimana bisa nenek makan tanpa mengetahui cucu nenek sudah makan atau belum!"


"Aku sudah makan nek."


"Bohong!" kata neneknya sambil melotot.


"Baiklah, aku memang paling tidak bisa berbohong padamu nek. Sekarang karna cucumu ini sudah ada di hadapanmu untuk makan malam bersama, maka nenek juga harus makan sekarang!"


Leon mengambil sendok dan menyuapi neneknya.


"Nenek ini bicara apa?"


"Nenek tau kamu pasti merasa lelah dengan semua ini, tapi ini adalah takdir yang harus kamu terima! nenek harap suatu saat kamu akan menemukan kebahagiaanmu yang sebenarnya."


"Do'a nenek pasti terkabul, makanya nenek harus makan yang banyak supaya nenek punya banyak tenaga untuk sering-sering mendo'akanku."


"Anak nakal!" kata neneknya sambil memukul pelan lengan Leon.


Keesokan paginya adalah akhir pekan untuk Leon, dia membuka gorden jendela kamarnya lalu menarik nafas dan buang nafas berkali-kali.


Dia membuka pintu jendela kamarnya, dan pergi ke balkon untuk menghirup udara pagi yang begitu cerah.


Dari atas balkon dia melihat Bram sedang memanaskan mesin mobil.


"Mau kemana si Bram pagi-pagi begini?"


Bram masuk ke dalam mobil dan pergi untuk menjemput Anindira dan putranya.


"Biarkan sajalah, mungkin Bram juga butuh refreshing." Kata Leon.


Satu jam kemudian, Bram sampai di rumahnya Anindira.


"Selamat pagi nona,"


"Pagi Kak Bram, ini masih terlalu pagi loh! Kak Bram udah datang aja."


"Iya nona, saya sengaja menjemput nona pagi-pagi sekali supaya Tuan bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Tuan Kecil."

__ADS_1


"Baiklah, aku akan bersiap dulu sebentar, ayo masuk Kak Bram!"


"Gak usah nona, saya di sini saja." Ucap Bram.


"Om Blam," Rajendra berlari dari dalam rumah menghampiri Bram.


"Halo Tuan Kecil,"


"Om Blam datang ke sini buat jemput Lendla sama mama ya!"


"Iya tuan,"


"Gimana kabal papa sama semua olang di lumah?"


"Mereka semua baik-baik saja Tuan Kecil, semua orang di rumah sangat merindukan Tuan Kecil."


"Kak Bram, aku sudah siap ayo berangkat!"


Mereka pun berangkat ke rumah Leon.


Sementara itu, Leon masih belum ke luar dari kamarnya dia baru mau mandi.


Ketika Leon baru saja mau beranjak ke kamar mandi, Bi Sri mengetuk pintu kamar Leon.


Tok.. tok.. tok..


"Iya,"


"Tuan, saya mau mengambil cucian."


"Masuk saja bi!"


Ketika Bi Sri mengambil pakaian Leon untuk di cuci, botol obat yang Leon simpan di saku bajunya terjatuh ke lantai.


Bi Sri mengambilnya, "Loh, kalau gak salah ini kan botol obat milik Nona Aira!"


"Bibi bilang apa tadi?"


"Ini tuan, saya kira botol obat ini sangat mirip dengan botol obat milik Non Aira tapi punya Non Aira waktu itu di botolnya ada namanya."


Bi Sri memberikan botol obat itu pada Leon.


"Apa mungkin ini milik Aira? memangnya Aira sakit apa, sampai dia harus membawa obatnya kemana-mana? jangan-jangan dia memang tidak sengaja menjatuhkannya di tong sampah." Pikir Leon.


Bi Sri keluar dari kamar Leon dan membawa pakaian kotornya untuk di cuci.


Leon menelpon Aira untuk menanyakan obat itu.


"Halo Aira, bagaimana kabarmu hari ini, apa kamu baik-baik saja?"


"Iya mas, aku baik-baik saja." Kata Aira merasa senang sekaligus heran mendengar Leon tiba-tiba menanyakan kabarnya.


"Apa akhir-akhir ini kamu sering sakit?"


"Eh, enggak kok mas!"


"Apa kamu pernah ketinggalan sesuatu waktu berkunjung ke rumahku?"


Aira teringat malam itu saat dia membawa sebuah botol obat, dan sisa obat itu tidak di temukan oleh Aira karna tidak sengaja tersenggol oleh sikutnya, "Enggak, enggak ada kok mas, emangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya syukurlah kalau kamu baik-baik saja. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya."

__ADS_1


"Mas, halo! mas! dia menutup telponnya?


kenapa tiba-tiba mas Leon bertanya seperti itu, apa dia mencurigai sesuatu?" Gumam Aira sambil menggigit jarinya.


__ADS_2