Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 57


__ADS_3

Hari ini adalah hari pelulusan Rajendra, tahun ini Rajendra Lulus dari Sekolah Menengah Atasnya.


Di sekolahnya Rajendra menjadi murid yang paling berbakat dan setiap tahun peringkatnya selalu menjadi yang teratas dari semua murid di sana, bahkan dia adalah murid terbaik di sekolahnya.


Tin.. tin..


"Itu Paman Dean sudah datang."


Ketika Dean turun dari mobilnya dia terkesima melihat penampilan Anindira, "Hai, apa kalian sudah siap?"


"Iya paman kami sudah siap."


"Wow Rendra, hari ini kamu terlihat tampan dan gagah." Kata Dean sambil menepuk-nepuk pundak Rajendra.


"Tentu saja paman, aku memang sudah tampan dan gagah dari sejak lahir."


"Ya, ya, aku akui itu kamu memang sudah terlihat luar biasa dari sejak lahir."


Rajendra tersenyum puas mendengar pujian dari Dean, "Oh ya paman, bagaimana menurut paman dengan penampilan mamaku hari ini?"


Dean memperhatikan Anindira dari ujung rambut sampai ujung kaki, "Hmm, sangat cantik! aku hampir tidak bisa mengenalinya seperti bukan mamamu, semua orang yang melihatnya pasti akan terpesona siapa yang akan menyangka kalau mamamu ini sebentar lagi genap berumur 40 tahun."


"Berhenti meledekku Dean! kamu selalu saja seperti ini." Kata Anindira.


"Siapa yang meledek? aku berkata jujur kamu masih terlihat cantik seperti dulu, ini untukmu." Dean memberikan sebuah buket bunga mawar merah pada Anindira.


"Terimakasih Dean!"


"Sama-sama, Kalau begitu ayo kita berangkat!"


"Ok" kata Rajendra.


Mereka pun pergi ke sekolah Rajendra untuk menghadiri hari pelulusannya.


Di sana Anindira dan Dean menjadi wali dari Rajendra, mereka merasa bangga ketika melihat Rajendra berdiri di atas panggung dengan menyandang gelar murid terbaik, dia juga medapatkan piagam penghargaan dan sebuah buket bunga dari kepala sekolah.


Setiap tahun Rajendra menjadi peringkat pertama di kelasnya dan mendapatkan juara umum pertama di sekolahnya.


Dia juga sering mengikuti berbagai macam perlombaan mewakili sekolahnya sehingga dia mendapat banyak penghargaan berupa piala, medali, dan sebagainya.


Rajendra mengucapkan sepatah duapatah kata di atas panggung.


"Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada pihak sekolah, bapak kepala sekolah, dan para guru yang sudah membimbing dan mendidik saya selama tiga tahun ini, berkat jasa bapak dan ibu gurulah saya bisa mendapatkan peringkat murid terbaik di sekolah selama tiga tahun ini jasa bapa dan ibu guru semua akan selalu saya kenang selamanya."

__ADS_1


"Saya juga ingin mengucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada mama saya yang selalu mencintai dan menyayangi saya dengan sepenuh hati."


"Terimakasih kepada mama yang sudah mengajarkanku banyak hal, Terimakasih sudah menyerahkan seluruh waktumu untuk mengurusku, terima kasih karena tidak pernah membiarkanku kelaparan, terimakasih untuk tidak lelah dengan semua ocehanku tentang segala hal, Terima kasih untuk selalu mendorongku melakukan yang terbaik."


"Mama adalah segalanya untukku, mama adalah duniaku, semua penghargaan yang aku dapatkan selama ini hanya untukmu mama."


Demikianlah Rajendra mencurahkan semua isi hatinya di panggung, Anindira menangis karna perkataan Rajendra.


Dean menyuruhnya untuk naik panggung dan menghampiri Rajendra.


Anindira naik ke atas panggung dia mengusap lembut pipi anaknya itu, dan di sambut dengan pelukan oleh Rajendra, semua orang yang hadir di sana bertepuk tangan.


Setelah turun dari panggung Rajendra mendapatkan ucapan selamat dari teman-teman dan adik kelasnya, dia juga mendapatkan banyak hadiah dan rangkaian bunga dari mereka.


"Lihat apa yang aku dapat hari ini paman!"


"Ya, kamu memang pantas mendapatkan semua itu, apa kamu bahagia?" kata Dean.


Sekilas Rajendra terlihat sedih tapi dia menjawab pertanyaan Dean dengan tersenyum dan berusaha untuk terlihat baik-baik saja, "Tentu saja paman, pastinya aku sangat bahagia karna mama dan paman selalu menemaniku sampai saat ini."


Anindira merasa bersalah, dan sedih melihat reaksi Rajendra yang seperti itu.


"Apa kamu merindukan papamu?" tanya Dean


Rajendra terdiam.


"Tidak paman, papa sekarang sudah bahagia dengan keluarga barunya aku tidak mau mengganggu kebahagiaan mereka." Kata Rajendra sambil pergi.


"Saat ini hatinya pasti merasa sangat kacau, di hari yang sangat berharga baginya dia pasti menginginkan papanya berada di sampingnya."


"Aku tidak pernah melihat dia seemosional ini." Kata Anindira.


"Pergilah dan hibur dia!"


Anindira mengangguk lalu pergi menyusul Rajendra.


Setelah Anindira pergi, Dean menghubungi seseorang.


"Halo,"


"Iya, siapa ini?"


"Ini aku Dean"

__ADS_1


"Dean?! apa kabar?"


"Aku baik, bagaimana denganmu?"


"Aku baik-baik saja, ada apa kamu menelponku?"


"Aku menelpon untuk meminta sesuatu darimu."


"Kamu salah orang, aku bukan penyihir yang bisa mengabulkan permintaan kamu."


"Ini menyangkut Dira dan Rajendra, apa kamu masih bisa mengabaikan permintaanku."


"Apa, apa yang terjadi pada mereka? mereka baik-baik saja kan?"


Sementara itu, Anindira sedang berusaha untuk menghibur Rajendra.


"Kenapa mood mu cepat sekali berubah? tadi kamu terlihat bahagia memamerkan semua hadiah yang kamu dapat dari semua orang, dan sekarang kamu terlihat tidak bertenaga seperti itu."


"Aku juga gak tau ma, setiap kali ingat papa rasanya dadaku terasa sesak, sampai sekarang aku gak pernah bisa menerima pernikahan papa dengan Tante Aira."


"Lalu kamu mau papa menikah sama siapa?"


Rajendra kembali terdiam.


"Rendra, terimalah kenyataan ini! ini sudah takdir yang maha kuasa sekarang kamu sudah dewasa kamu sudah mengerti segalanya, kamu juga sudah tau alasan papamu tetap menikahi Tante Aira."


"Iya, aku mengerti semuanya ma, tapi aku gak pernah mengerti dengan pikiran mama sama papa kenapa kalian gak mencoba untuk bersama lagi? kalau papa menikah lagi, kenapa mama tidak menikah lagi? Paman Dean sangat mencintai mama tapi kenapa mama tidak menerima lamaran Paman Dean, kalau bukan karna mama masih mencintai papa lalu apa alasannya?"


Anindira terkejut mendengar perkataan anaknya itu, dia terdiam seperti di tampar kenyataan.


Setelah Rajendra menyadari hal itu Rajendra memegang tangan mamanya itu dan berkata, "Emm, maafin aku ma! aku gak bermaksud buat mama sedih, aku hanya ingin melihat mama bahagia."


"Sebenarnya aku merasa kesal selama ini papa gak pernah berusaha ngabarin kita ataupun menjenguk kita ke sini, aku bilang aku akan membuat mama, papa, dan Paman Dean bangga tapi bagaimana papa tau dan akan merasa bangga kalau nelpon aja dia gak pernah."


"Tapi aku senang karna aku mendapatkan ucapan selamat dan hadiah dari Paman Dean yang tidak aku dapatkan dari papa."


"Maafkan mama ya Rendra, mama gak bisa memberikan keluarga yang utuh pada kamu."


"Iya ma, asalkan mama selalu bersamaku aku bahagia kok, tapi apa sebaiknya mama memikirkannya sekali lagi untuk menerima lamaran Paman Dean?"


Anindira terlihat kebingungan dengan perkataan Rajendra anaknya.


Di tengah kebingungan Anindira ada seseorang yang memanggil nama mereka.

__ADS_1


"Dira, Rendra?!"


Anindira dan Rajendra menengok, dan terkejut melihat orang itu.


__ADS_2