Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 44


__ADS_3

Mamanya Leon mengajak Aira masuk ke dalam rumah, Aira tidak bisa melepaskan pandangannya dari Leon dan Anindira


dia terus mengamati mereka.


"Maaf ya Aira, tante bukannya mau membuat Leon dekat lagi dengan Anindira tapi ini demi Rajendra, dia ingin menghabiskan waktu bersama kedua orang tuanya tante harap kamu bisa mengerti itu."


"Iya gapapa kok tan, jika nanti aku sudah menikah dengan Mas Leon, aku akan berusaha menjadi ibu yang baik dan menjadi ibu yang di senangi oleh Rendra."


"Terimakasih atas pengertian kamu Aira."


"Enggak tante, tante jangan berterimakasih! aku melakukannya dengan tulus karna aku sangat mencintai Mas Leon, aku juga menyayangi Rendra." Ucap Aira sambil memegang tangan mamanya Leon.


Mamanya Leon tersenyum mendengar ucapan Aira.


Sementara itu, Leon dan Rajendra masih sibuk membuat sesuatu.


Beberapa menit kemudian setelah mereka berhasil menyelesaikannya, mereka menghampiri Anindira yang masih duduk di kursi dan mengamati gerak-gerik mereka dari tadi.


Rajendra dan Leon menyembunyikan sesuatu di tangannya, dan menghadapkan tangan mereka ke belakang.


"Apa yang kalian sembunyikan?" tanya Anindira.


Rajendra menggelengkan kepala


Anindira mengkelitiki Rajendra supaya dia mau memperlihatkan hasil karyanya, "Hahaha, ampun ma.. ampun.."


"Sekarang tunjukan pada mama apa yang ada di tanganmu itu?"


"Tada.." Rajendra memperlihatkan rangkaian bunga yang berbentuk mahkota pada anindira, "Ini namanya mahkota bunga."


"Mahkota bunga?!"


"Iya, ini hadiah untuk mama, Lendla membuatnya sendili loh ma."


Rajendra menyuruh Anindira untuk menundukkan kepala dan memakaikan mahkota yang terbuat dari bunga itu padanya.


"Mama cantik sepelti tuan putli, makasih ya ma! mama udah lahilin Lendla, menyayangi Lendla, menjaga, dan melindungi lendla dengan sepenuh hati, Lendla sayang mama." Ucap Rendra lalu mencium kedua pipi mamanya itu.


Anindira terharu sampai meneteskan air mata mendengar perkataan putranya, dia memeluk dan menciumi Rajendra.


"Mama jangan nangis!" kata Rajendra sambil mengusap air mata Anindira.


"Enggak, mama gak nangis kok Rendra tau ini adalah tangisan bahagia karna mama bangga punya anak seperti Rendra."


Leon juga merasa terharu melihat Anindira dan putranya.


"Mama, papa juga punya hadiah untuk mama."


"Benarkah, apa itu?"


"Mama ambil aja sendili dali papa."


"Hmh," Anindira berdiri dan menyodorkan tangannya ke hadapan Leon.


"Apa?"

__ADS_1


"Hadiahku?"


"Hahaha, hadiah apa?" kata Leon sambil memalingkan wajahnya dan menggaruk pipinya dengan telunjuknya.


"Katanya kamu juga punya hadiah untukku?"


"Ah, itu bukan sesuatu yang spesial kok." Ucap Leon sambil tersenyum malu.


"Hei, bukannya kamu membuatnya untukku? Berikan!"


"Tidak,"


"Ayo berikan!" Anindira berusaha mengambil sesuatu yang Leon sembunyikan di tangannya.


"Jangan, ini bukan apa-apa."


Ketika Anindira mau menarik tangan Leon ke depan kakinya tersandung dan dia terjatuh di pelukannya Leon.


Leon melingkarkan kedua tangannya di pinggang Anindira.


Rajendra menganga lalu menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Anindira mendorong Leon, "Maaf, aku gak sengaja."


"Gapapa," ucap Leon sambil mengusap tengkuknya, "Ekhem, bukankah kamu sangat penasaran dengan apa yang aku buat untukmu?" Leon mencoba mencairkan suasana.


Dia menyodorkan kalung bunga yang di rangkai sedemikian rupa olehnya sendiri.


"Papa, itu kan hadiah yang sengaja papa buatkan sendili untuk mama, jadi papa halus memakaikannya juga pada mama."


"Ayo! papa halus memakaikannya, aku kan sudah memakaikan hadiahku pada mama sekalang gililan papa, ayo pa!" Rengek Rendra.


"Baiklah, baiklah, papa akan memakaikannya."


Leon memakaikan kalung bunga itu ke lehernya Anindira, Mereka saling menatap satu sama lain.


"Ekhem.." Suara dehaman Aira membuat keduanya terkejut.


Leon dan Anindira memalingkan tatapan mereka.


"Tante Aila ngapain ke sini?" ucap Rendra sambil menyilangkan kedua tangan di dadanya.


"Tante cuma mau bilang kata nenek makan siang udah siap, kita di suruh makan siang bersama." Sambil tersenyum.


"Tante ini ganggu aja deh." Gerutu Rendra dalam hati.


"Ya udah, ayo kita makan siang dulu!" kata Leon.


"Yah, Lendla kan masih mau main sama papa mama."


Anindira melirik Aira dan berkata pada Rajendra, "Rendra, lain kali aja kita main lagi ya! ayo kita makan siang dulu."


"Iya ma,"


Mereka pun masuk dan makan siang bersama.

__ADS_1


"Lendla mau duduk dekat papa sama mama." Ucap Rajendra.


Semua orang terdiam, "Boleh kan nek?" Lanjut Rajendra minta izin pada neneknya.


"Iya sayang, terserah kamu." Jawab neneknya sambil tersenyum.


Aira semakin gak suka pada Anindira, dia mengambil segelas air dan pura-pura gak sengaja menumpahkan air itu ke wajahnya sehingga pakaiannya pun juga basah.


"Maaf Dira! aku gak sengaja, tanganku licin."


"Gapapa," ucapnya merasa sedikit agak kesal dengan sikap Aira.


Leon memberikan saputangan pada Dira untuk mengelap wajahnya.


Anindira mengelap wajah dan lehernya yang terkena tumpahan Air.


"Kayanya tante itu sengaja deh numpahin ail ke wajah mama! apa sih maunya tante itu? nyebelin! awas aja ya Lendla balas nanti." Kata Rajendra dalam hati dengan ekspresi cemberut.


"Dira, Lebih baik kamu ganti pakaian terlebih dahulu! di kamarku masih ada beberapa baju milik Aluna kamu bisa memakainya." Kata Leon.


"Bi Sri, bisakah Bi Sri mengantarkanku ke kamar nya Bang Leon?"


Bi Sri melirik ke arah Leon, Leon mengangguk.


"Baik nona, mari saya antar!"


Anindira dan Bi Sri pergi ke kamarnya Leon untuk mengambil baju milik Aluna.


Anindira membuka lemari baju Leon dan mengambil salah satu pakaian milik Aluna, pakaian itu berupa dress berwarna ping peach dengan tangan panjang, panjang badannya di bawah lutut, dan di bagian pinggangnya terdapat ikat pinggang yang terbuat dari rantai mutiara.


Dia mengelus-elus dres itu, "Ini adalah dress kesukaannya Mba Aluna." Ucap Anindira dalam hati.


"Kenapa Nona?"


"Gak ada apa-apa bi, bibi tunggu di sini ya aku ganti pakaian dulu!"


"Iya non."


Setelah Anindira selesai berganti pakaian dia keluar dari kamar .


Anindira turun dari tangga dengan rambutnya yang terurai, semua orang di buat ternganga olehnya.


Leon terkesima melihat Anindira mengenakan dress itu, dia seperti melihat Aluna dalam diri Anindira.


"Mama tellihat semakin cantik memakai dless itu." Kata Rajendra.


Anindira tersenyum malu, "Maaf ya bang aku memakai dress Mba Aluna yang ini, kalau abang keberatan aku memakai ini, biar aku ganti dengan dress yang lain."


"Gak usah, pakai yang itu saja! kamu kelihatan cocok dengan dress itu." Kata Leon.


Anindira tersipu malu.


Setelah selesai makan siang semua orang berkumpul di ruang tengah kecuali Aira, dia pergi ke kamar mandi karna tidak tahan melihat kedekatan Anindira dan Leon.


"Ngapain sih dia datang ke sini? bikin mumet aja deh! pisah ya pisah aja gak usah dekat-dekat lagi, pokoknya aku gak bisa biarin Mas Leon dekat lagi dengan wanita itu." Ucapnya sambil menggerutu.

__ADS_1


__ADS_2