
Aluna pergi ke kamarnya dan mengurung diri di sana.
"Aku harus bagaimana? aku yakin anindira tidak bersalah!"
Leon mengetuk pintu kamar aluna, tapi aluna tidak meresponnya, dia benar-benar merasa kesal terhadap leon.
Akhirnya leon mengalah, dia tidur di kamar tamu sambil membawa foto aluna.
Leon memandangi foto aluna dan berkata, "kenapa kamu sampai segitunya membela perempuan itu dan anaknya. Padahal sudah jelas-jelas ada bukti foto kebersamaan dia dengan bajingan itu."
"Dia bukan keturunanku tapi anak dari bajingan itu. Aku tidak sudi kalau aku harus merawat anak dari pasangan berengsek seperti mereka."
Leon marah, dan melemparkan vas bunga yang ada di meja samping tempat tidurnya. Brak...
Mamanya leon terkejut mendengar suara dari kamar tamu.
Dia pergi untuk melihat apa yang terjadi, "leon, apa yang kamu lakukan? ana!"
"Iya nyonya besar."
"Bersihkan pecahan beling itu."
"Baik nyonya."
"Kamu ini kenapa sih leon?"
"Aku benci wanita itu! dia sudah membuat aluna menjauh dariku. Dia dan anakny membawa sial di keluarga kita."
"Tenangkan dirimu leon, dia sudah pergi dari rumah ini! kamu tidak perlu buang tenaga marah-marah seperti itu."
"Kenapa aluna begitu yakin kalau anak itu adalah anakku."
"Entahlah mama juga merasa heran. kenapa kamu tidak mencari tau saja."
"Mencari tau?!"
"Iya, apa ruginya leon. daripada kamu uring- uringan terus. Senyum di wajah aluna jadi hilang semenjak anindira pergi dari rumah ini. Semua orang menjadi gelisah."
"Apa aku harus melakukannya?"
"Terserah kamu, mama tidak akan memaksa. pikirkanlah baik-baik!" Ucapnya sambil beranjak dari kamar leon.
"Apa bayi dalam kandungannya itu benar-benar anakku? kenapa aluna begitu yakin seakan dia punya ikatan dengan bayi yang belum lahir itu."
"Tapi aku tidak merasakan apapun, aku malah semakin membencinya saat tau bayi itu bukan darah dagingku."
"****..."
Leon mengoceh pada dirinya sendiri.
...
__ADS_1
Kembali ke rumah anindira.
Pagi hari anindira sedang bersih-bersih di rumah, saat dia membersihkan kamarnya dia melihat koper yang waktu itu di lemparkan oleh leon.
Sehingga membuat dia teringat kembali saat leon mengusirnya dari rumah pradana.
Aluna mengambil koper itu dan membersihkannya, kemudian dia membuka saku koper itu, ternyata di dalamnya terdapat sebuah map yang berisi perjanjian antara anindira dan keluarga pradana.
Ketika anindira membuka map itu dan akan membaca kembali surat perjanjian, ayahnya memanggil dia.
Kemudian anindira menaruh surat perjanjian itu di dalam lemari bajunya.
"Anindira, cepat kemarilah."
"Ada apa ayah?"
"Apa kamu sudah memberitau leon kalau kita pindah ke sini? kenapa dia tidak datang menyusul atau menjemputmu?"
Ibunya merasa gelisah karna selama ini mereka sudah membohonginya.
"Ayah, maafkan aku! selama ini aku berbohong pada ayah."
"Tentang apa?"
"Tentang pernikahanku. Aku sudah tidak bisa berbohong lagi pada ayah, sekarang ayah sudah sembuh."
"Aku akan mengakuinya kalau sebenarnya sebelum aku menikahi leon dia sudah beristri, dan istri pertamanya itu adalah mba aluna."
"Apa?! jadi aluna itu adalah istrinya leon? lalu kenapa kamu menikahinya? apakah demi uang? atau kalian selingkuh?" Ucap ayahnya menahan marah.
"Aku menikahinya karna uang ayah, kami menikah di atas kertas."
"Aku sudah kehilangan akal sehingga aku setuju dan menandatangani surat perjanjiannya."
"Anindira melakukan semua itu demi melindungi kita dari gena, kamu tau sendiri kan bagaimana gena memperlakukan kita! dia memanfaatkan anindira untuk mendapatkan uang dari keluarga leon." Sambung ibunya anindira.
"Jadi kamu juga tau semua ini dari awal? kenapa tidak ada yang memberitauku?"
"Kami takut penyakitmu semakin parah jika kamu tau yang sebenarnya."
"Aku dan ibu tidak bermaksud untuk menyembunyikannya dari ayah, tapi selama ini kami menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya."
"Lalu kamu pulang ke rumah waktu itu.."
"Aku di usir oleh leon karna di tuduh mengandung anak dari lelaki lain, padahal ini adalah darah dagingnya yang sangat di inginkan oleh keluarga pradana."
"Tapi karna semua keluarganya tidak mempercayaiku tidak ada yang membelaku, hanya mba aluna yang percaya, tapi ketika aku pergi mba aluna terbaring koma."
"Meskipun begitu istrinya leon adalah orang yang baik dan berhati lapang." Ucap ibunya anindira.
"Gapapa, kamu tidak usah hawatir nak! ada ayah dan ibu di sini, kami akan selalu bersamamu ayah dan ibu akan menyayangi cucu kami dengan sepenuh hati."
__ADS_1
"Seperti yang kamu bilang kita akan hidup bahagia." Sambung ibunya anindira.
"Terimakasih ibu, ayah." Anindira memeluk ayah dan ibunya dengan penuh kasih.
"Wah, ada apa ini? pagi-pagi aku sudah di buat iri oleh keluarga yang hangat ini." Ucap dean yang baru saja datang untuk mengunjungi mereka.
"Dean, kapan kamu datang?"
"Barusan."
"Ayo masuk nak!" Ajak ibunya anindira
"Terimakasih bi."
"Bagaimana keadaan kamu dan bayimu?" Tanya dean pada dira.
"Aku dan bayiku sehat-sehat saja."
"Jangan lupa, kamu harus kontrol ke dokter kandungan setiap bulan, kamu juga harus makan makanan yang sehat."
"Iya.. siap pak bos."
Ayah anindira tersenyum melihat kedekatan mereka.
"Ayah kenapa senyum-senyum sendiri di sini?" tanya ibunya anindira pada suaminya yang sedang berdiri di depan pintu dapur sambil senyum-senyum melihat kedekatan anindira dan dean.
"Ayah hanya senang saja melihat mereka, dari kecil mereka selalu bersama, jika bersama dean anindira selalu terlihat ceria, tapi setelah tinggal bersama gena senyumnya hilang hubungan mereka pun jadi merenggang."
"Sekarang melihat mereka bisa dekat lagi rasanya hati ayah tenang."
"Syukurlah dean masih mau menerima dira sebagai temannya walaupun dira sudah menikah dan akan punya anak."
"Iya, terkadang ibu merasa hawatir dengan masa depan anak kita ke depannya, apakah masih ada lelaki yang mau menikahi dia setelah di buang oleh suaminya?"
"Tapi leon belum memberikan talak pada anak kita, ayah jadi hawatir! hubungannya jadi gantung seperti ini."
"Sudahlah kita pikirkan itu nanti saja, ibu mau menyuguhkan camilan dan minuman ini pada dean, ayah juga bergabunglah dengan mereka."
"Baiklah."
Ibunya menyuguhkan camilan dan minuman itu pada dean.
"Bibi tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Tidak merepotkan kok nak, kamu datang jauh-jauh dari kota ke sini untuk mengunjungi kami pasti kamu merasa lelah."
"Lumayan melelahkan juga sih bi, aku ke sini juga bersama ibu dan ayah, sekarang mereka sedang di rumah saudara kami, gak jauh dari sini."
"Benarkah, berapa hari kalian akan tinggal di sini?"
"Sekitar 3 hari, karna aku harus kembali bekerja setelah mengambil cuti."
__ADS_1
"Begitu ya, kalau orang tuamu ada waktu ajaklah mereka main ke sini."
"Iya bi, mereka juga sangat ingin bertemu dengan kalian."