
Selang beberapa menit kemudian Aluna akan di pindahkan ke kamar jenazah, tapi Leon melarangnya, dia meminta jenazah Aluna langsung di bawa ke rumahnya.
Hari itu juga, jenazah Aluna di bawa pulang.
Leon memberi tau orang tua Aluna kalau dia telah pergi untuk selamanya.
Mereka terkejut, dan langsung pergi ke rumah Leon untuk melihat anaknya yang terakhir kalinya.
Di tempat Lain Anindira merasa gelisah, dia tiba-tiba teringat pada kondisi Aluna.
Di tengah kegelisahannya, tiba-tiba Rajendra menangis. Anindira pikir Rajendra lapar lalu dia memberikannya ASI tapi Rajendra menolak, dia terus saja menangis.
"Sayang, kamu kenapa? gak biasanya kamu rewel begini."
Ibunya Anindira yang mendengar Rajendra tidak berhenti menangis menghampirinya, "Ada apa Dira? kenapa Rajendra menangis sampai seperti itu?"
"Entahlah bu,"
"Mungkin dia lapar, kamu sudah memberi dia ASI?"
"Sudah bu, tapi Rajendra gak mau."
Ibunya menggendong Rajendra dan mencoba membuatnya tenang dengan memeluk Rajendra di dadanya dan mengelus-elus punggungnya.
Tiba-tiba HP Anindira berbunyi, ternyata Leon yang menelponnya.
"Halo,"
"Halo Dira," suara Leon terdengar serak dan berat, air matanya terus menetes dia tidak bisa menahan kesedihannya.
"Ada apa? apa kamu baik-baik saja?"
"Iya, maaf aku menelpon untuk memberitau kalau Aluna.." Leon tak kuasa melanjutkan ucapannya.
"Kenapa kamu terdengar seperti orang yang sedang menangis? apa yang terjadi dengan Mba Aluna?" perasaan Anindira mulai tidak karuan.
"Aluna sudah tiada."
"Apa?! kamu gak sedang bercanda kan?"
"Tidak, aku tidak berbohong! Aluna benar-benar sudah tiada. Bukannya aku berusaha untuk mencari simpati darimu, tapi ini adalah keinginan terakhir dari Aluna semasa hidupnya, dia ingin kamu yang memandikan jenazahnya."
Anindira terpaku, air mata menetes membasahi pipinya.
HP nya terjatuh dari genggaman tangannya, dia terkejut mendengar kabar itu dari Leon.
"Ada apa Dira?" tanya ibunya.
"Mba Aluna meninggal bu, keinginan terakhirnya dia ingin aku yang memandikan jenazahnya."
__ADS_1
"Innalillahiwainnailaihi roji'un, kalau begitu kamu cepat bersiap dan pergilah ke rumah Leon sekarang! nanti ibu akan menyusul."
Ayahnya Dira yang sejak tadi mendengarkan ucapan mereka dari pintu kamar menatap mereka dengan tajam.
"Ayah?!"
"Apa kamu mau pergi ke rumah itu lagi untuk menuruti keinginan Aluna?"
Anindira menundukan kepalanya, dia tidak berani bicara bahkan menatap wajah ayahnya.
"Ayah, Aluna sekarang sudah tiada dan ini adalah keinginan terakhirnya, Rajendra juga tidak berhenti menangis dari tadi, mungkin dia juga ikut merasa sedih karna di tinggal pergi oleh Aluna untuk selamanya."
"Lagi pula Aluna itu orang yang baik, dia menganggap Anindira seperti adiknya sendiri dan juga sangat menyayangi Rajendra, biarkan Anindira pergi untuk melaksanakan keinginan terakhirnya Aluna!" ucap ibunya Dira meyakinkan suaminya.
"Baiklah, karna ini bersangkutan dengan rasa kemanusiaan sudah seharusnya kita menemui mereka dan ikut berbela sungkawa, kita akan pergi bersama ke sana. Tapi ayah tetap tidak akan setuju jika setelah ini kamu kembali ke rumah itu."
Anindira hanya bisa diam dan mendengarkan ucapan ayahnya.
"Cepatlah bersiap! biar Rajendra bersama ibu." Kata ibunya.
Anindira bersiap-siap untuk berangkat.
Ketika dia baru saja keluar rumah, Dean datang berkunjung.
"Dira, kamu mau kemana?" tanya Dean
"Aku mau pergi ke rumahnya Leon."
"Tidak! aku ke sana karna mau mengurus jenazahnya Mba Aluna." Ucap Anindira sambil menangis.
"Apa Mba Aluna sudah.."
"Iya,"
"Innalillahi wainnailaihi roji'un, aku ikut berduka cita Dira, Ayo aku antar kamu kesana?"
Sore itu juga Anindira dan Dean pergi ke rumah Leon, sedangkan orang tuanya menyusul dengan naik bus.
Sesampainya di kediaman Pradana.
Semua orang telah menunggu kedatangan Anindira untuk mengurus jenazahnya Aluna.
Anindira pun langsung memandikannya, dan mengurusnya sampai selesai.
Setelah selesai di shalatkan mereka membawanya ke pemakaman dan menguburkannya, semua keluarga turut hadir di pemakaman Aluna termasuk kedua orang tuanya Dira.
Leon terpaku sambil memegang batu nisan istri nya dia terus menatapnya tanpa berkedip.
Melihat itu, Anindira merasa iba terhadapnya dia mengusap air matanya dan menghampiri Leon.
__ADS_1
Anindira memegang pundak Leon, "Biarkan Mba Aluna pergi dengan tenang, ikhlaskan dia! kalau kamu seperti ini, dia juga akan bersedih di alam sana."
Leon berdiri dan menatap Anindira kemudian memeluknya, "Maafkan aku, selama ini aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu! aku sangat malu pada diriku sendiri, aku menyesal, tolong maafkan aku." Ucap Leon sambil meneteskan air mata.
Anindira menepuk-nepuk punggung Leon, "Tidak apa-apa, aku sudah memaafkanmu! sekarang ayo kita pulang ke rumah!"
Anindira ikut pulang ke rumah Pradana, dia dan orang tuanya menginap di sana.
Malam hari, Leon tidak bisa tidur, dia pergi ke balkon untuk menenangkan diri, tatapannya kosong.
Malam itu keluarga Leon, kedua orang tuanya Aluna, dan orang tuanya Anindira sedang bersiap untuk makan malam.
"Di mana Leon?" tanya ayah Aluna.
"Mungkin dia di kamarnya" jawab mamanya Leon.
"Biar aku panggilkan dia kemari." sahut Anindira.
"Tolong ya Dira!" kata mamanya Leon.
Anindira mengangguk, dia pergi ke kamar yang di tempati oleh Leon dan Aluna sebelumnya.
Awalnya dia ragu untuk mengetuk pintu, lalu dia memberanikan diri mengetuk pintu kamar itu tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Kemudian anindira membuka pintu kamarnya, ternyata Leon tidak ada di sana.
Anindira menutup pintu dan mencari Leon ke lantai atas, Anindira mencarinya di ruang kerja, dia juga tidak ada di sana, kemudian dia pergi ke balkon dan menemukan Leon sedang melamun seorang diri.
Anindira menghampirinya, "Sedang apa di sini?"
Leon tersadar dari lamunannya, "Aku hanya sedang merenungi nasibku, Aluna sekarang sudah tiada untuk selamanya, dan kamu juga akan pergi meninggalkanku."
Anindira terdiam karna bingung harus menjawab apa, "Maaf, oh ya di pikir-pikir selama ini aku selalu menyebutmu dengan memanggil namamu, padahal umurku lebih muda darimu enaknya aku panggil kamu apa ya? mas, abang, atau kaka?" Anindira mencoba mengalihkan pembicaraan.
Leon tersenyum mendengar perkataan Anindira, "Panggil apa saja yang membuatmu nyaman."
"Kalau begitu aku panggil abang aja gimana?"
Leon tertawa, "Hahaha, terserah kamu saja."
"Sudah waktunya makan malam semua keluarga sudah menunggu di ruang makan, ayo kita turun!" ucap Anindira sambil beranjak dari balkon.
Leon mengikutinya dari belakang, mereka duduk di ruang makan dan makan malam bersama keluarga.
Keesokan paginya Anindira dan kedua orang tuanya pamit untuk pulang.
Leon berkata padanya, "Dira, apa kamu akan tetap meninggalkanku? apa kamu tidak ada niatan untuk kembali lagi ke rumah ini?" tanya Leon
Anindira terdiam.
__ADS_1
"Apa selama ini kamu tidak punya rasa sedikitpun terhadapku?" tanya Leon lagi.
"Aku minta maaf, kalau pun aku pernah ada rasa pada abang, tapi aku tidak bisa kembali lagi, aku tidak akan mengubah keputusanku."