Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 17


__ADS_3

Anindira membuka tirai jendelanya, dan benar saja itu adalah Dean.


"Dean?! sedang apa kamu di sini?"


"Aku hanya mampir sebentar."


"Kenapa tidak lewat depan saja? kamu membuatku kaget."


"Maaf, aku cuma sebentar kok mau ngasih ini ke kamu."


Dean memberika camilan, es kelapa muda, dan minuman hangat wedang jahe untuk Anindira.


"Eh.. kenapa kamu repot-repot? aku kan tidak memintanya!"


"Aku tadi pergi beli wedang jahe untuk ayah sama ibu, jadi sekalian saja aku belikan untuk kamu. Katanya ibu hamil gampang lapar dan suka ngemil malam."


"Makasih banyak loh Dean, Tapi kamu gak perlu repot seperti ini! aku jadi gak enak."


"Kita adalah sahabat bukan? aku sedang menjalankan peranku sebagai sahabat yang baik untuk kamu Kenapa kamu malah melarangku?"


"Bukan begitu, kamu sudah banyak membantuku aku tidak tau harus membalas kebaikanmu dengan apa."


"Jadilah dirimu sendiri, tetaplah tersenyum, dan berbahagialah! kamu bisa melakukan itu untukku bukan?"


"Apakah itu sebuah permintaan?"


"Tentu saja,"


"Itu tidak adil."


"Apanya yang tidak adil?"


"Itu tidak setimpal dengan semua yang sudah kamu berikan padaku, Seharusnya kamu meminta sesuatu untuk dirimu sendiri."


"Kalau begitu menikahlah denganku?"


Anindira terkejut dengan ucapan Dean, "Kamu jangan bercanda Dean!"


"Hehehe... habisnya kamu masih saja merasa sungkan terhadapku, padahal kita berteman sudah sangat lama bahkan dari sejak dalam kandungan."


"Hhaah.. kamu membuatku hampir terkena serangan jantung, kamu tidak boleh bermain-main dengan ibu hamil! Itu tidak baik."


"Hehehe... iya iya, maaf."


"Kamu jangan berlama-lama di sini nanti apa kata tetangga, kalau ayah dan ibu tau mereka pasti marah Cepat pergilah!"


"Iya, aku pergi."


"Makasih untuk minuman dan camilannya ya!,"


"Sama-sama."


Dean pun pulang ke rumahnya, Anindira menutup jendela kamarnya dan menutup tirainya.


Kemudian dia memakan camilan yang di berikan Dean padanya dan meminum wedang jahenya sampai habis.


Sedangkan es kelapa mudanya dia simpan di lemari es.


Dia pun kembali ke kamar untuk tidur.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dean datang lagi ke rumah Anindira untuk berpamitan padanya.

__ADS_1


Pagi itu Anindira sedang menyapu di halaman rumah.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikum salam! Dean ada apa pagi-pagi seperti ini kamu datang ke rumah?"


"Aku mampir untuk berpamitan."


"Kamu mau kembali ke kota sekarang?"


"Iya, maaf aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi."


"Gapapa, aku senang menghabiskan waktu bersama denganmu selama kamu di sini."


Dean tersenyum, "Dimana bibi dan paman?"


"Mereka ada di rumah, sebentar aku panggilkan mereka dulu ya!"


"Tidak usah, biar aku yang menemui mereka


Kamu duduk saja di sini! tidak boleh terlalu cape."


"Dia terlalu baik, sampai hal terkecil sekalipun dia perhatikan." Gumam Anindira.


Dean pamit pada orang tuanya Anindira.


"Apa bibi dan paman juga ikut pulang hari ini?" tanya Anindira.


"Tidak, mereka akan tinggal di sini untuk beberapa lama."


"Oh begitu."


"Iya, mampirlah ke rumah untuk menemui ayah dan ibu."


Dean tersenyum, "Kalau begitu aku pamit dulu! Kalau ada apa-apa kamu hubungi aku ya!"


"Iya,"


Dean melambaikan tangan dan pergi dengan mengendarai motor.


Kembali ke rumah Pradana.


Pagi itu, Aluna terlihat gelisah karna memikirkan Anindira dan anak dalam kandungannya.


Meskipun dia belum lahir dan bukan dari rahim Aluna, Aluna begitu menyanginya dan merasakan ada ikatan yang sangat kuat di antara dia dan anak yang ada dalam kandungan Anindira.


"By, kenapa kamu belum pergi ke ruang makan?"


"Mas, aku tidak bisa tenang kalau belum ada kabar tentang Dira."


"Katanya mama sudah mendapatkan petunjuk."


"Benarkah? bagaimana hasilnya?"


"Berdasarkan foto yang aku berikan pada orang suruhan mama, dia bilang lelaki itu adalah seorang mahasiswa umurnya sekitar 22 tahun."


"Dia mengaku kalau dia adalah suruhan dari seseorang, dia menerima tawaran itu karna dia sangat membutuhkan uang untuk biaya hidup dan biaya kuliahnya."


"Lalu siapa yang menyuruhnya?"


"Dia belum mau mengatakan siapa yang menyuruhnya hari ini aku akan menemui dia untuk menanyakannya."

__ADS_1


"Sebisa mungkin jangan melakukan kekerasan mas!"


"Iya, kamu tidak usah hawatir! kalau dia tidak memberontak aku akan langsung melepaskannya."


"Baguslah."


"Ayo kita sarapan dulu!"


Mereka pun sarapan pagi bersama.


Kakeknya Leon bertanya padanya, "Bagaimana, apa kalian sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan Anindira?"


"Belum ayah," jawab mamanya Leon.


"Kami baru saja menemukan petunjuk tentang kebenaran anak yang di kandung Dira, tapi kami belum tau dia ada di mana."


"Segera temukan dia! jika benar dia sedang mengandung cucu buyutku, maka kamu harus membawanya kembali ke rumah ini!"


"Seharusnya, dari awal kalian mendengarkan perkataan Aluna! bagaimana kalau kita terlambat menyadarinya? dia sudah mengembalikan semua yang kalian berikan padanya bagaimana kalau setelah ini dia tidak memperbolehkan kita bertemu dengan anaknya?" sambung neneknya Leon.


"Tapi masih ada bukti pernikahan, mas kawin dan surat perjanjian itu, aku masih suami sahnya. Dia tidak bisa melarangku untuk bertemu dengan anakku."


"Apa kamu sudah lupa? dulu kamu bersikeras mengelak keberadaan anak itu." Ucap kakek nya Leon.


"Itu.. itu karna aku terpengaruh ucapan bajingan itu."


"Seandainya kamu bisa berpikir dengan jernih masalahnya tidak akan serumit ini, Tapi nenek juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan kamu karna nenek dan kakek juga hanya diam saja ketika anindira di tuduh mengandung anak dari lelaki lain."


"Sudahlah ayah, ibu, sekarang bukan waktunya kita menyesali apa yang sudah terjadi. Sebaiknya sekarang kita fokus untuk mencari keberadaan Anindira dan membawanya kembali ke rumah ini." Ucap ayahnya Leon


"Iya, sekarang kita lanjutkan sarapannya dulu setelah ini ayah dan ibu beristirahatlah! aku dan Leon akan menemui orang itu Semoga saja dia bisa memberikan semua informasinya pada kita."


"Kalau sampai dia berani berbohong lagi, aku akan menguburnya hidup-hidup."


"Jangan bicara seperti itu mas! kamu harus bisa menahan amarahmu! kalau kamu tidak bisa menahannya, semuanya akan berakhir dengan sia-sia Jangan sampai kita menyesal untuk yang kesekian kalinya."


"Hhaah.. baiklah aku sudah selesai sarapan."


"Apa aku boleh ikut bersama kamu dan mama?"


"Tapi by..."


"Gapapa leon, kali ini biarkan Aluna ikut."


"Iya ma,"


Mereka pun berangkat untuk menemui orang itu.


Dia di kurung di sebuah gudang dengan posisi kaki dan tangan terikat.


Sesampainya di sana Leon langsung mengintrogasinya.


"Cepat katakan! siapa yang menyuruhmu?"


Orang itu hanya diam saja.


"Kamu melakukannya demi uang bukan? memangnya berapa uang yang sudah dia berikan padamu?"


Orang itu tetap diam karna merasa lemas wajahnya penuh lebam kena hajar orang suruhan mamanya Leon.


"Baiklah, apa ini cukup untuk membuat kamu mengatakannya?"

__ADS_1


Leon melemparkan sejumlah uang ke wajahnya.


"Aku bisa memberikan lebih dari itu, jika kamu mau membuka mulutmu dan memberitau kami siapa yang menyuruhmu."


__ADS_2