Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 86


__ADS_3

"Apa mamamu datang bersamamu?" Tanya Dean.


"Emm.. iya,"


"Dimana dia?"


"Em, mama di bawah."


"Kenapa dia tidak kesini?" Tanya Claira.


"Mungkin mama menaruh makanan dulu di ruang makan."


"Dia membawakan sarapan pagi?"


Rajendra hanya mengangguk.


Anindira menaruh makanan yang dia bawa di meja makan, saat ini hatinya sedang berkecamuk, "Ada apa denganku, seharusnya aku tidak datang, seharusnya aku titipkan saja makanannya pada Rendra, hatiku merasa tidak nyaman."


"Aku akan menemuinya." Ucap Dean


"Tidak, jangan Dean, biar aku saja yang memanggilnya kesini."


Dean kembali berbaring di tempat tidur.


"Dira,"


"Clair, kamu di sini?"


"Iya, ayo temui Dean,"


"Ah ya,"


Claira menarik tangan Anindira dan membawanya ke kamar Dean.


"Nah Dean, aku sudah bawakan Anindira untukmu."


"Hai, bagaimana keadaanmu sekarang?" Sapa Anindira.


"Aku merasa lebih baik, bagaimana kabarmu Dira?"


"Aku baik, bagaimana dengan hasil tes medismu hari ini?"


"Nanti sore Dokter Jo akan kemari untuk membawa hasil tesnya."


"Begitu ya, maaf Dean, gara-gara aku kamu harus menderita seperti ini."


"Kenapa kamu minta maaf, kamu tidak bersalah, ini bukan apa-apa, ini hanya luka kecil kamu tidak usah cemas."


"Tapi kalau kemarin kamu tidak menolongku, kamu gak akan seperti ini sekarang."


"Kalau aku tidak menolong kamu, kamu yang akan terluka dan aku tidak mau melihat kamu terluka."


"Kenapa kamu bicara seperti itu?"


"Aku mengatakan apa yang ingin aku katakan." Dean memegang tangan Anindira dengan maksud untuk menenangkannya, "Apakah kamu bisa duduk dan bicara dengan tenang, kamu terlihat gelisah."


"Ekhem, Dira, Dean aku keluar dulu ya, ayo Rendra kita tunggu di bawah."


"Iya tan, ma, paman kalian bicaralah, aku ke bawah dulu."


"Duduklah Dira,"


Anindira duduk di samping Dean.


"Aku tidak suka kamu bersikap seperti ini padaku di hadapan Claira, apa kamu tidak memikirkan perasaannya?"


"Tentu saja aku menghargai perasaannya."


"Lalu kenapa kamu.."


"Dira, barusan kamu terlihat gelisah, aku hanya bermaksud untuk membuatmu merasa lebih baik."


"Justru kamulah yang membuatku merasa buruk."


"Kemarilah," Kata Dean sambil menarik pelan tangan Anindira.


"Kamu mau apa?"


"Duduk di sini,"


Anindira mendekat,


"Lebih dekat lagi,"


"Dean, kamu mau apa sih sebenarnya, kalau Claira melihatnya dia bisa salah paham."

__ADS_1


"Justru itu, aku ingin menjelaskan kesalahpahaman di antara kita berdua."


"Maksud kamu apa?"


"Aku ingin menjelaskan semuanya, dan kali ini aku berharap kamu tidak kabur sebelum aku bicara."


"Baiklah, aku akan mendengarkan."


"Mendekatlah,"


"Kenapa harus mendekat, bicara saja."


"Aku tidak mau bicara kalau kamu tidak mendekat."


Anindira mendekat lagi.


"Segini sudah cukup?"


"Belum, lebih dekat lagi."


"Dean kamu jangan keterlaluan, aku mendengarkanmu hanya karna kamu sedang sakit, kamu mau menjelaskan apa, bicaralah sebelum aku berubah pikiran."


Dean tersenyum dan kembali memegang tangan Anindira, "Aku ingin menjelaskan dua hal padamu. Pertama, aku tidak pernah punya hubungan apa-apa dengan Clair kamu bisa tanya pada Rendra, dia tau yang sebenarnya. Kedua, aku sudah bicara padanya dan dia juga mengerti perasaanku, dia tidak ingin memaksakan kehendaknya, dia mendukung kita berdua, dia tidak keberatan kalau kita sampai menikah."


"Apa kamu berkata jujur?"


"Iya, kamu bisa tanyakan padanya."


Anindira terdiam.


"Aku tidak terburu-buru, pikirkanlah dengan baik, apapun keputusan kamu nanti aku akan menerimanya."


"Baiklah, aku memang butuh waktu untuk memikirkannya."


"Tidak masalah, aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar bisa membuka hatimu untukku."


Anindira menangis mendengar ucapan Dean.


Dean menyentuh pipi Anindira dan mengusap air matanya, "Hei, apa ini? air mata? aku selalu bilang padamu air mata tidak cocok untukmu, jangan menangis, aku bicara bukan untuk membuatmu menangis."


Anindira memegang tangan Dean, "Aku tau, kamu sudah sarapan?"


"Aku belum sempat sarapan."


"Kamu sarapanlah dulu,"


"Mana?"


"Apa?"


"Sarapan pagiku?"


"Aku meninggalkannya di bawah, bukannya Claira juga membawakan sarapan pagi untukmu?"


"Iya,"


"Kalau begitu makan saja itu."


"Oke,"


"Ini bubur, dan sup bagus untuk kesehatanmu." Kata Anindira, lalu memberikannya pada Dean, "Habiskan, setelah ini kamu harus minum obat."


"Aku sudah selesai."


"Kamu tidak menghabiskannya ya, supnya tidak di makan?"


"Bubur saja sudah cukup, aku tidak terbiasa makan banyak."


"Baiklah, tapi nanti kamu harus menghabiskan supnya juga."


"Iya, iya, aku tidak akan membuang-buang makanan."


"Ini obat, dan minum nya."


"Nanti saja, suruh Rendra mengambil sarapan yang kamu bawa untukku kesini, aku akan memakannya."


"Tadi kamu bilang kamu tidak terbiasa makan banyak."


"Biasanya memang seperti itu, tapi sekarang aku berubah pikiran, aku ingin makan makanan buatanmu, ayo suruh Rendra membawanya kesini."


"Iya," Anindira menelpon Rajendra dan menyuruhnya untuk membawa sarapan yang dia bawa ke kamar Dean.


Seraya berkata sambil tersenyum, "Ya ampun, paman benar-benar tidak ingin berpisah dengan mama walau hanya sedetik saja."


"Ini sarapannya paman,"

__ADS_1


"Terimakasih, kamu sudah sarapan?"


"Aku sudah sarapan di rumah bersama mama."


"Oh ya Rendra, dimana Clair?"


"Oh, Tante Clair tadi pamit pulang duluan katanya ada keperluan mendadak, tante menyuruhku untuk memberitahu mama dan paman."


"Oh,"


Dean mengahabiskan sarapan yang Anindira bawa.


"Kamu menghabiskannya?"


"Kenapa? tidak boleh ya?"


"Enggak, bagus sih kalau sarapannya habis."


"Aku tidak ingin melewatkan sarapan pagi buatanmu."


Rajendra tersenyum mendengar ucapan Dean.


"Kenapa senyum-senyum? bukannya kamu juga tidak pernah melewatkan makanan buatannya?"


"Iya paman, aku sangat menyukai makanan, camilan ataupun itu yang di buat oleh mama."


"Sudah, sekarang minum obatnya." Kata Anindira.


Dean meminum obat dengan patuh.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus pergi ke kantor."


"Baiklah,"


"Aku akan tetap di sini sampai siang nanti." Kata Rajendra.


"Kamu tidak pergi ke kampus hari ini?"


"Hari ini aku masuk siang."


"Kalau begitu, kamu berangkat pakai mobilku saja nanti."


Rajendra mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu aku berangkat dulu, jaga diri kalian baik-baik."


"Rendra antar sampai depan ya ma."


"Aku juga ikut."


"Tidak, boleh." Kata Anindira dan Rajendra serempak.


"Kenapa?"


"Kamu sedang sakit, istirahat saja, jangan banyak bergerak."


"Yang sakit itu punggungku bukan kakiku."


"Tapi untuk orang sakit, jalan menuruni tangga itu membutuhkan tenaga Dean, aku tidak mau kalau sakitmu tambah parah nanti."


"Enggak akan, nanti aku akan pindah kamar biar lebih mudah keluar masuk kamar."


"Aku akan membantumu paman."


"Terimakasih,"


Rajendra dan Dean mengantar Anindira sampai depan rumah.


"Mama hati-hati di jalan ya."


"Sampai jumpa Dira,"


"Hm," Anindira mengangguk.


"Paman mau pindah kamar sekarang? Biar aku bantu membawakan keperluanmu."


"Oke, ayo aku tunjukkan apa saja yang aku butuhkan."


"Kamarnya tidak perlu di bersihkan dulu kah?"


"Tidak perlu, aku sudah membersihkannya."


"Kapan?"


"Dua hari yang lalu."

__ADS_1


__ADS_2