Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 95


__ADS_3

Anindira merasa lega karna Dean bersamanya, tapi di sisi lain dia juga masih hawatir.


"Jangan terlalu di pikirkan, besok aku akan menemanimu untuk bertemu Ibunya Clair."


Anindira mengangguk.


"Rendra kirim pesan, kalau dia akan pulang malam, katanya mau mampir ke rumah temannya dulu."


"Oh gitu, ya udah kalau gitu aku pulang dulu,"


"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah."


"Hm,"


"Hati-hati di jalan,"


"Oke, sampai jumpa besok," Kata Dean sambil mengusap kepala Anindira.


Anindira melambaikan tangan.


Keesokan paginya.


"Kamu sudah siap?"


"Huf, Hm," Katanya menarik nafas panjang.


"Oke, sebelum pergi, aku ingin bertemu jagoan kita sebentar.


"Kamu sebegitunya ingin bertemu dengan dia?"


"Hmm, aku mau minta penjelasan padanya kenapa dia tidak pernah menyapaku lagi, aku ini teman sekaligus calon ayahnya kan."


"Paman Dean, apa kabar,"


"Seperti biasa, kabarku baik," Katanya memeluk Rajendra, "Kenapa kamu tidak pernah mengirim pesan dan menggangguku lagi, aku rasa kamu tidak ingin aku menjadi ayahmu."


"Ya, aku tidak mau Paman menjadi ayahku, karna kalau paman jadi ayahku aku akan kehilangan teman baikku... tapi dengan Paman menjadi ayahku, aku akan mempunyai keduanya, teman, dan seorang ayah, double win."


"Hhheuhh, aku kira kamu berubah pikiran."


"Mana ada, kau yang paling ku sukai paman."


"Hahaha, baguslah, karna kalau tidak, aku akan menculik ibumu."


Rajendra dan Dean tertawa.


"Sudah, hentikan bercandanya, Rendra, cepat makan sarapanmu,"


"Iya ma," Kata Rajendra.


"Dia sudah dewasa, tapi kamu masih memperlakukannya seperti anak kecil."


"Bagiku dia masih Rendra kecilku yang dulu."


Dean tersenyum, "Kita pergi sekarang?"


"Hmm," Katanya sambil mengangguk.


Mereka berdua pergi untuk menemui Clair.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sesampainya di rumah Clair,


Anindira menoleh ke arah Dean seakan dia meminta persetujuannya, Dean pun mengangguk.


Anindira menarik nafas, lalu menekan bel.


"Kalian, ada apa? tidak biasanya kalian main ke rumahku sepagi ini di hari weekand, apa kalian mau mengajakku jalan-jalan santai, atau joging?"


"Tidak Clair, aku, a aku,"


"Ada apa Dira, apa ada masalah? Hhh, jangan-jangan kalian mau bilang kalau kalian sudah melakukan sesuatu sebelum waktunya."


"A apa," Anindira bingung.


"Iya, kami sudah melakukan nya,"

__ADS_1


"What?!"


"Iya, sesuatu yang kami inginkan,"


"Kamu sudah gila Dean, pasti kamu memaksa Dira kan?"


"Se sesuatu yang kami inginkan.. memaksa? kalian sedang membicarakan apa?"


"Ha ha ha, aku hanya bercanda, kalian berdua, tolong jangan tegang."


"Apa?! lelucon macam apa ini Dean, gak lucu tau gak." Kata Claira.


"Kalian terlihat tegang, makanya aku bilang begitu."


"Dira yang bikin aku tegang."


"Maaf Clair, aku bingung harus memulainya dari mana."


"Memangnya apa yang ingin kamu katakan?"


"Gapapa, kalau kamu tidak bisa mengatakannya, biar aku yang bicara." Kata Dean.


"Ini sebenarnya ada apa sih Dean, jangan membuatku penasaran."


"Clair, sebenarnya kemarin Dira bertemu dengan ibumu, beliau tidak sengaja melihat kami berdua saat aku mengantarkan Dira ke kantor, dan.. beliau salah paham."


"Salah paham kenapa?"


"Beliau mengira Dira orang ketiga diantara kita."


Dean menceritakan semua yang Dira ceritakan padanya pada Clair.


"Apa?! kenapa mommy bisa berpikir sepertj itu? atau jangan-jangan mommy mengira aku masih menyukaimu Dean."


"Aku tidak tahu itu, kita harus bertanya langsung pada beliau."


"Benar juga, kalau begitu ayo temui mommy sekarang."


Claira menarik tangan Dira dan Dean.


.


.


.


.


.


.


"Selamat datang Nona Claira dan teman-temannya," Kata pelayan di rumah itu.


"Halo," Sapa Dean dan Anindira.


"Silahkan masuk Nona, Tuan,"


"Terimaksih bi, Mommy sama dady dimana?"


"Selamat pagi anak kesayangan Dady." Kata ayahnya Clair.


"Selamat pagi Dady."


"Selamat pagi Dean, Dira,"


"Selamat pagi Om." Jawab Anindira dan Dean.


"Ayo masuk,"


"Tidak perlu, tidak usah di suruh masuk." Kata Ibunya Claira ketus.


"Loh, kenapa? biasanya kamu selalu senang kan kalau mereka datang kesini."


"Mereka di larang masuk, mereka tidak boleh menginjakkan kaki di rumah kita.


"Kamu ini kenapa sih? mereka kan teman dekatnya Clair."


"Teman dekat tidak mungkin menusuk dari belakang."


"Karna itu lah kami bertiga datang kesini Mommy, kami ingin meluruskan kesalahpahaman ini sama Mommy." Ucap Claira.


"Cukup Clair, kamu jangan membela mereka, satunya cinta, satunya lagi sahabat, mereka sudah menghianatimu."


"Mom, ini tidak benar, Mommy salah paham."


"Tidak Clair, Momy tidak mau mendengar apapun lagi, suruh mereka pergi dari sini."


"Mommy,"


Ibu Clair menatapnya dengan tajam, lalu pergi.

__ADS_1


"Apakah yang Mommymu katakan itu benar?"


"Tentu tidak Dady, Mommy hanya salah paham, kami bertiga baik-baik saja."


"Syukurlah, oh ya, kamu pernah bilang sudah punya pacar, bukan Dean kan?"


"Bukan Dad, Dean adalah masa depannya Dira."


"Benarkah, selamat untuk kalian,"


Anindira dan Dean tersenyum.


"Kalian tidak usah masukan ke dalam hati perkataan Mommynya Clair barusan, ayo, masuklah,"


"Tidak Om, aku tidak akan menginjakkan kakiku di rumah Om tanpa seizin Tante." Ucap Dira sedih.


"Dira," Claira merasa sedih.


"Dean, ayo kita pergi,"


"Ayo, Om, kami permisi dulu."


"Hati-hati Nak,"


"Dady, aku harus bagaimana?"


"Biarkan Mommymu tenang dulu, nanti kalau amarahnya sudah mereda kamu jelaskan padanya pelan-pelan."


Claira mengangguk.


"Oh ya, jadi, siapa pacarmu itu hmm."


"Itu, itu, masih rahasia." Katanya sambil menggaruk pipinya dengan jari telunjuk.


"Oh ya.. Dia orangnya seperti apa?"


"Manis, dan pengertian, dia adalah seorang dokter (tersipu malu)."


"Oh.. Jadi begitu, kamu mau memberikan Daddy menantu seorang dokter?"


"Ya ampun?! aku seharusnya tidak bilang dulu sama Dady."


"Kenapa, apa Daddy tidak berhak tau?"


"Daddy bukan seperti itu, So'alnya aku baru pendekatan dengannya, lagi pula aku harus meluruskan kesalahpahaman Mommy, baru aku urus masalah asmaraku."


"Baiklah, Daddy akan selalu mendukung kamu, tapi kamu harus tetap menikah tahun ini, Daddy tidak mau kamu menjadi perawan tua."


"Ah, itu lagi."


Anindira terdiam sepanjang jalan.


"Apa kamu lapar?"


"Oh, tidak, aku tidak lapar."


"E ekhermm, tapi aku lapar, aku ingin makan sesuatu."


"Ah, baiklah, kalau begitu mau makan dimana?"


"Emm, kita makan di kafe itu saja."


"Oke,"


Mereka pun turun dari mobil.


"Kamu mau pesan apa?"


"Kamu saja, aku tidak lapar."


"Hei, ada makanan favoritmu nih, Chees Cake, yakin gak mau?"


"Emmm, iya deh kalau kamu maksa."


"Hei, siapa yang memaksa? kamu memang sedang lapar kan." Goda Dean.


"Aku bisa tidak makan apapun seharian, kecuali Chees Cake..."


"Dan Beef bourguignon kan,"


Anindira tersenyum.


"Akhirnya..."


"Kenapa?"


"Akhirnya kamu tersenyum lagi."


"Dean, aku masih kepikiran, aku tidak sanggup di hadapkan dengan ibunya Clair."


"Aku mengerti, jika kamu mau, kita bisa menemuinya lagi nanti, beliau adalah seorang ibu, seorang ibu tidak akan bisa marah terlalu lama pada anaknya, kamu sudah seperti anaknya sendiri, beliau pasti mau mendengarkan penjelasan kamu."

__ADS_1


"Semoga saja."


__ADS_2