Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 93


__ADS_3

Ting tong, suara bel berbunyi, Rajendra membuka pintu.


"Paman?!"


"Hai jagoan," Sapa Dean.


"Paman sudah sembuh?"


"Persis seperti yang kamu lihat."


"Syukurlah, aku baru saja akan pergi ke rumah paman untuk menjengukmu."


"Haha, kamu gak perlu kemanapun karna aku sudah di sini."


"Hm, paman mau bertemu mama?"


"Kok tau?"


"Ketahuan lah dari gelagatnya." Ucapnya Sambil tersenyum jail.


"Hahaha, kamu bisa saja."


"Ayo masuk paman,"


Dean merangkul bahu Rendra dan masuk ke dalam rumah bersama.


"Paman sudah benar-benar sembuh kan?"


"Tentu saja, sehat gini kok." Katanya sambil memperlihatkan otot tangannya.


"Dean," Sapa Anindira yang baru saja turun dari tangga.


"Hai,"


"Emm, paman sama mama kalau mau bicara bicara saja, aku akan pergi ke kamarku." Kata Rendra bergegas naik tangga menuju kamarnya.


"Ayo duduk," Ajak Anindira.


Mereka duduk di ruang tengah.


"Ada apa, kenapa kamu ngajak ketemu?"


"Emm, aku, aku.."


"Apa?"


"Sebenarnya begini, tentang lamaran kamu waktu itu,"


"Iya?!"


"Aku, a aku bersedia menerima lamaran kamu." Katanya bicara dengan cepat sambil memejamkan mata saking gugupnya.


Anindira membuka matanya pelan-pelan, dia ingin melihat seperti apa Dean bereaksi.


"Benarkah?"


"Kok reaksi kamu gitu, kayak yang gak yakin, kamu gak percaya sama aku?"


"Enggak, bukan gitu, aku.. ini seperti mimpi, kamu beneran yakin sama keputusan kamu?"


"Iyalah, aku udah seyakin ini loh."


"Ekhem, jadi, kamu ngajak aku ketemu malam-malam karna mau mengatakan itu?"


"Iya.. eh tunggu siapa yang ngajak ketemu malam-malam?"


"Aku,"


"Jadi bukan aku ya yang mau buru-buru ketemu."


"Iya, aku yang mau buru-buru ketemu sama kamu."


Anindira tersipu malu, "Kamu sudah terlalu lama menungguku, aku tidak mau membuatmu menunggu lagi."


"Beneran?"


"Iya,"


"Apa kamu juga mencintaiku?"


"Awalnya aku gak yakin, tapi sepertinya aku memang sudah mulai mencintaimu, maaf, aku terlalu lama menyadari perasaanku, karna sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal-hal seperti itu."

__ADS_1


"Jadi aku cinta pertamamu, kok bisa? kamu kan sudah pernah menikah."


"Ih Dean, aku udah berusaha memberanikan diri untuk mengatakan ini sama kamu, kamu malah bikin aku insecure, gak jadi deh, anggap aja aku gak pernah ngomong apa-apa."


Dean tersenyum bahagia, dia memeluk Anindira dengan haru.


"Dean?! Kamu menangis?"


"Aku bersyukur akhirnya aku bisa memilikimu, aku sangat bahagia, terimakasih, aku mencintaimu."


Anindira melepaskan pelukan Dean dan menghapus air mata Dean dengan tangannya.


"Dulu Bang Leon juga pernah mengatakan ini padaku sambil menangis, waktu itu aku juga sudah mulai menyukainya, tapi itu hanya perasaan suka tidak lebih, aku juga menyayanginya tapi hanya sebagai teman." Ucapnya dalam hati.


"Aku baru ingat kalau dulu aku juga pernah menyukaimu Dean, tapi karna aku sudah menjadi istrinya Bang Leon aku berusaha melupakan perasaan itu, aku merasa aku tidak akan pernah bisa bersanding denganmu meskipun aku sudah di buang karna aku tidak pantas, tapi kamu tidak pernah menyerah dengan perasaanmu terhadapku kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan cintamu Dean, aku ingin kamu menjadi cinta pertama dan yang terakhir untukku." Masih bicara dalam hati.


Mereka saling bertatapan, wajah mereka pun semakin berdekatan, semakin dekat, Dean tenggelam dalam perasaannya yang menggebu-gebu dia pun hampir menc**m b***r Anindira, tapi Anindira menutup b***r Dean dengan tangannya, "Jangan sekarang,"


Dean pun tersadar, "Maaf, lagi-lagi aku tidak bisa mengendalikan diriku."


Anindira tertawa cekikikan.


"Kamu ngetawain aku ya?"


"Habisnya kamu tuh kenapa sih, aku sudah tidak menarik lagi, kenapa kamu sampai segitunya sama aku?"


"Hm, menurutku kamu selalu terlihat menarik."


"Benarkah?"


"Heem,"


"Jadi?"


"Jadi?"


"Jadi.."


"Jadi sekarang kita resmi menjadi calon mempelai pria, dan calon mempelai wanita." Kata Dean seraya menyematkan cincin berlian peninggalan Leon di jari manisnya Anindira, "Cantik, benar kata Leon cincin berlian ini akan terlihat cantik jika kamu yang memakainya."


"Kapan dia bilang seperti itu?"


"Waktu membeli cincin ini."


"Tentu, aku yang mengantarnya untuk membeli cincin ini, aku juga yang memilihnya, aku tidak menyangka kalau cincin ini untuk kita."


"Jadi sebenarnya dia merencanakan ini untuk kita?"


"Hm,"


Anindira terdiam sedih.


"Cincin ini di beli berpasangan, yang ini di buat khusus untuk mempelai prianya." Dean memperlihatkan cicin yang satunya lagi pada Anindira.


Anindira mengambilnya dan memasangkannya di jari manis Dean.


mereka bersandar di sofa, dan mendekatkan tangan mereka sambil menatap cincin pasangan itu.


Dean menatap Anindira lalu berkata, "Aku mencintaimu."


Anindira juga menatapnya dan berkata, "Aku sudah mendengar itu berulang kali darimu."


Dean tersenyum, "Katakan kalau kamu juga mencintaiku,"


Anindira tersenyum malu, "Aku mencintaimu,"


"Terimakasih,"


"Tidak, aku yang berterimakasih, terimakasih karna kamu sudah mencintaiku sampai seperti ini, terimakasih untuk semuanya."


Dean membelai rambut Anindira dengan lembut sambil tersenyum.


"Kamu harus pergi," Kata Anindira.


"Iya, aku harus pergi sekarang kalau tidak nanti kebablasan." Ucap Dean.


"Oke pergilah,"


"Oke, jangan mengantarku."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Nanti aku gak mau pulang."


Anindira tersenyum.


"Baiklah,"


"Sampai jumpa besok."


"Sampai jumpa besok."


Dean melangkah pergi, ketika sampai di pintu keluar dia berbalik dan kembali menemui Anindira.


"Kenapa, apa ada yang ketinggalan?"


"Iya,"


"Apa?"


"Pelukan,"


"Hah?!"


"Boleh peluk dulu sebentar sebelum aku pergi?"


"Hahaha, kamu ada-ada aja deh, kayak anak kecil yang minta di peluk sebelum berangkat sekolah."


"Gapapa dong, boleh ya."


"Iya deh boleh,"


Ketika Dean akan memeluknya, Anindira berkata, "Tapi sebentar saja ya."


"Kenapa?"


"Kenapa?! memangnya mau berapa lama?"


"Selama mungkin,"


Dean pun memeluknya.


"Sudah cukup, sekarang pergilah," Anindira mendorong Dean pelan.


"Oke,"


Dean pun pulang.


"Aku jadi malu sama Rendra, anakku sudah dewasa, tapi aku malah mau menikah lagi." Gumam nya.


"Gapapa dong ma, Rendra kan juga mau punya keluarga yang lengkap." Kata Rajendra sambil tersenyum, dia menghampiri Anindira, lalu memeluknya.


Pagi hari,


"Bangun Dean sudah pagi,"


Dean menggeliat lalu membuka matanya, "Dira?!" Dean tersenyum dia sangat bahagia bisa melihat wajahnya saat bangun di pagi hari, dia ingin menyentuh rambut Anindira yang terurai dengan indah, tapi saat dia akan menyentuh rambutnya, Anindira menghilang, ternyata itu hanyalah hayalannya saja.


Dean tersenyum konyol lalu bangun.


Setelah selesai bersiap-siap, Dean bergegas menjemput Anindira dan Rajendra, dia mengantar Rajendra ke kampus lalu mengantarkan Anindira ke kantornya.


"Aku akan menjemputmu nanti,"


Anindira mengangguk.


Setelah Dean pergi, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri Anindira, dan menamparnya.


"Ibu?! kenapa ibu tiba-tiba menampar saya?"


"Saya tidak menyangka ya, ternyata kamu berhati busuk."


"Apa maksud ibu?!"


"Sudah tertangkap basah kamu masih berpura-pura polos."


"Saya benar-benar tidak mengerti, apa salah saya sehingga ibu begitu marah pada saya?"


"Kamu itu sahabatnya Claira kan, lalu kenapa kamu merebut cintanya?"


"Merebut cintanya?!"


"Iya, kamu pasti tau kalau mereka itu pasangan dan saling mencintai? terus kenapa kamu menggoda pasangan sahabatmu sendiri."

__ADS_1


"Saya tidak.."


"Awas saja, kalau kamu berani merusak hubungan mereka, saya tidak akan pernah mau bicara lagi dengan kamu, saya akan buat perhitungan dengan kamu, lihat saja nanti, heh." Katanya dengan marah lalu pergi.


__ADS_2