Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 73


__ADS_3

Hampir setiap hari Rajendra pulang malam karna mengikuti pelajaran tambahan di kampus.


Ketika jam pulang tiba, dia baru ingat tidak membawa kendaraan.


"Ya ampun, aku lupa kalau aku gak bawa mobil." Keluhnya.


"Hai Nak, nampaknya kamu sedang gelisah,"


Rajendra menghela nafas lega, "Haah, aku panik karna baru ingat gak bawa mobil."


"Tenang, papa sudah di sini, ayo pulang."


"Oke,"


"Apa setiap hari kamu selalu pulang malam?"


"Iya, aku mengikuti pelajaran tambahan."


Dalam hati, Leon merasa dirinya tidak cukup pantas untuk menjadi seorang ayah.


"Oh, ternyata banyak hal yang tidak aku tau tentang anakku sendiri."


"Sebenarnya aku tidak menyalahkan papa untuk itu, tapi ya.. tunggu, bukankah seharusnya papa sekarang sedang makan malam bersama mama?"


"Itu.. ini sudah larut mamamu pasti menolak jika papa mengajaknya sekarang."


Rajendra melihat jam di tangannya, "Masih pukul 20.00 pa, belum larut."


"Hmm,"


"Jangan kebanyakan mikir, papa sudah janji kan."


"Iya, nanti sampai rumah papa akan mengajaknya makan di luar."


Sebelum Rajendra sampai rumah, Anindira sudah menunggunya di depan pintu.


"Mama, kenapa mama di luar?"


"Mama sedang menunggu kamu."


"Mama kan gak perlu menungguku di luar."


"Mama hawatir kamu pulang malam."


"Aku bisa jaga diri ma, lagi pula aku pulang bersama papa, meski pulang sendiri pun tidak ada yang perlu di hawatirkan aku kan anak cowok."


"Iya, iya, anak mama ini kuat, dan gak pernah takut sama apapun."


"Tentu, lagipula ini bukan pertama kalinya kan Rendra pulang malam."


"Iya, mama tau ayo masuk," Anindira mengajak Rajendra masuk rumah tanpa menghiraukan Leon.


"Ma,"


"Ada apa?"


"Katanya papa ingin bicara sesuatu sama mama."


"Dira, sejujurnya malam ini aku ingin mengajakmu keluar, tapi kalau kamu gak mau gapapa, aku gak akan maksa."


Anindira menatap putranya, "Menurut Rendra mending mama terima saja ajakan papa."

__ADS_1


"Tapi mama sudah menyiapkan makan malam, atau ajak saja papamu untuk makan malam bersama kita."


"Gapapa ma, biar Rendra makan malam sendiri saja, lagipula mama kan udah lama gak keluar malam, di kota ini suasana malam hari sangat indah, sekarang cuacanya sedang bagus cocok untuk jalan-jalan."


"Tapi,"


"Ayolah ma, segera bersiap." Rajendra merangkul bahu Anindira dan menyuruhnya berganti pakaian di kamarnya.


"Ada apa dengan anak itu? biasanya dia tidak akan langsung setuju dengan hal semacam ini." Gerutunya.


"Ma, jangan biarkan papa menunggu lama ya." Ucap Rajendra dengan senyum coolnya.


"Haahh, haruskah aku mengikuti rencana mereka." Katanya sambil mengganti pakaian dengan seadanya.


Dia hanya menggunakan pakaian dres panjang yang sederhana, lalu dia mengepang rambutnya ke samping, dan hanya membawa sebuah dompet kecil di tangannya, kemudian mengambil sepatu hak tinggi.


Anindira menghampiri Leon dan berkata, "Aku sudah siap,"


Leon berbalik, "Cantik," Ucapnya dalam hati.


"Rendra, kamu yakin mau makan malam sendiri?"


"Iya ma,"


"Atau, kamu juga ikut saja."


"Gak ma, hari ini sangat melelahkan, jadi setelah makan malam Rendra mau langsung tidur."


"Ya sudah, ayo berangkat." Ajak Leon.


Anindira menatap putranya, Rajendra mengangguk memberi tanda untuk segera menyetujui ajakan papanya.


Mereka pun berangkat.


Leon berinisiatif bicara lebih dulu, dengan maksud mengurangi kecanggungan di antara keduanya.


"Jangan salah paham, aku mengajakmu pergi karna permintaan dari putraku, aku tidak bisa menolaknya."


"Anggap saja aku tau semuanya." Jawabnya dengan singkat.


Setelah pembicaraan itu, suasana malah semakin canggung dan membuat Anindira kesal.


"Kamu mau bawa aku kemana?"


"Makan malam."


"Kalau hanya makan malam, kenapa mesti di luar?"


"Ini permintaan dari putraku."


"Apa sebenarnya yang anak itu inginkan?" Anindira semakin kesal pada Leon.


"Jangan bicara lagi, bukankah kita sama-sama belum makan malam, sekarang turunlah, ayo kita beli makan di sini."


"Cih,"


Anindira turun dari mobil.


"Tadinya aku mau membawamu ke restoran mewah, tapi karna aku sedang ingin minum kopi kita ngafe saja, kalau lapar tinggal pesan makanan juga." Kata Leon.


Anindira mengikuti Leon tanpa bersuara.

__ADS_1


"katanya kafe ini tempatnya bagus ada pemandangannya, sehingga tidak akan membuat pelanggannya bosan, jadi, mari kita lupakan sejenak perselisihan kita."


Anindira malah acuh tak acuh, ketika mereka masuk ke kafe itu Anindira seketika merasa takjub dengan pemandangan di dalam kafe tersebut, di dalamnya di buat seolah-olah seperti taman, dengan beberapa bangku dan kursi.


Di dinding-dinding kafe terdapat bunga-bunga yang di variasikan dengan lampu berwarna sehingga membuat suasana kafe itu terlihat indah dan begitu nyaman.


Karna terlalu bersemangat tanpa di sadari dia reflek bertanya pada Leon, "Apa tempat ini ada lantai atasnya?"


"Ada, di sebelah sana." Kata Leon.


Anindira sangat bersemangat dan berniat untuk melihat-lihat ke lantai atas, tapi dia baru sadar yang sedang bersamanya itu adalah orang yang selalu memulai perselisihan dengannya, dia pun mengurungkan niatnya.


"Pergilah jika kamu ingin melihat-lihat, aku akan memesan kopi dulu."


Anindira berbalik dan akan pergi ke lantai atas.


"Oh ya, kamu mau pesan apa? sekalian aku pesankan."


"Aku lapar, gara-gara kamu aku tidak jadi makan malam."


"Oke, aku akan pesankan kamu makan malam." Kata Leon sambil beranjak menghampiri barista kafe tersebut untuk pemesanan.


Anindira hanya menatapnya lalu pergi ke lantai atas.


Di lantai atas pun tidak kalah menakjubkannya, dari sana orang-orang bisa menikmati kopi atau makanan sambil melihat pemandangan langit yang penuh bintang, merasakan sejuknya angin malam, dan di sana orang-orang juga bisa melihat seluruh pemandangan kota paris dari atas.


"Haaah," Anindira menghempaskan nafasnya dengan kuat seakan sedang membuang jauh-jauh segala penat di dadanya.


Leon baru saja datang, dan duduk di kursi sambil memperhatikan Anindira yang sedang tersenyum senang.


"Aku sangat menyukai senyummu yang seperti itu, tapi aku juga yang menghapus senyum itu, maaf." Suara hati Leon.


Pesananpun datang.


"Ayo duduk, pesanannya sudah datang."


Anindira menengok, "Sejak kapan kamu di situ?"


"Barusan,"


"Hei, ayo pindahkan meja dan kursinya ke sini."


"Untuk apa?"


"Aku ingin menikmati makan malamku sambil menatap bintang dan menatap pemandang indah di bawah sana."


"Oke, aku akan memindahkannya."


Setelah selesai memindahkan meja dan kursi, mereka duduk bersama sambil menatap bintang.


"Darimana kamu tau kafe seindah ini?"


"Putra kita yang merekomendasikannya."


"Kenapa kamu setuju dengan permintaan Rendra, apa yang kalian rencanakan?"


"Tidak ada."


Anindira tersenyum sinis, "Kalau begitu lupakan."


"Aku tau apa yang paling kamu cemaskan, sebenarnya kamu tidak terlalu cemas dengan perusahaan yang sudah aku balik namakan atas namaku melainkan kamu takut aku akan membawa Rendra bersamaku, kamu tidak usah hawatir, aku tidak akan memisahkanmu dengan Rendra."

__ADS_1


Anindira sedikit terkejut dengan ucapan Leon.


"Sekalipun aku menjadi orang terjahat di dunia ini, aku tidak akan memisahkan seorang anak dari ibunya."


__ADS_2