Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 38


__ADS_3

Mamanya Leon merasa aneh dengan sikap Leon, tidak biasanya dia menolak sarapan pagi bersama kecuali dia sedang ada masalah.


"Oh baiklah, kalau begitu kamu bawakan sarapannya Rajendra ya."


"Iya nyonya, ayo tuan kecil!"


Bi Sri mengantarkan Rajendra ke kamar papanya.


"Ada apa dengan Leon, kenapa dia tidak mau sarapan bersama?" ucap mamanya dalam hati.


"Menantu, ada apa? apa kamu merasa cemburu karna cucumu hanya menghabiskan waktu bersama papanya saja!" kata nenek.


"Ya, aku merasa sedikit kecewa, tapi biarkan saja ini pertama kalinya Rendra menginap di rumah. Bagi Leon menghabiskan waktu bersama anaknya itu adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya."


"Kamu benar ma, kita sangat beruntung di pertemukan dengan Anindira. Dia orang yang baik meskipun dia sudah berpisah dari Leon dia tetap menjalin hubungan baik dengan kita." Kata papanya


"Apa yang di katakan Aluna dulu memang benar, Anindira memang berbeda kalau itu orang lain mungkin saja kita tidak akan mempunyai kesempatan untuk bisa dekat dengan cucu kita." Ucap mamanya.


Nenek dan kakeknya Leon tersenyum, Aira merasa tidak senang karena keluarga Leon terus saja membicarakan Anindira dan memujinya.


Leon pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dan berganti pakaian.


"Papa," Rajendra memanggil Leon dari luar pintu kamar.


Leon membukakan pintunya, "Selamat pagi jagoan!"


"Selamat pagi pa,"


Leon menggendong Rajendra lalu duduk di tepi ranjang.


"Letakan saja sarapannya di atas meja!" kata Leon pada Bi Sri.


Bi Sri meletakan sarapan di meja samping dekat tempat tidur Leon.


"Ayo, sarapan dulu! setelah sarapannya habis kita mandi."


Leon menyuapi Rendra sampai sarapannya benar-benar habis.


Setelah memandikan Rajendra dan menggantikan pakaiannya, Leon mengajak Rajendra pergi ke kantor.


Setelah sarapan pagi selesai Aira pamit untuk pulang.


"Aira, jangan pulang sendiri! kamu ikut saja dengan Leon sekalian dia berangkat ke kantor."


"Ma, aku berangkat dulu ya."


"Leon kamu antarkan Aira pulang ke rumahnya dulu ya!"


Leon melirik Aira dan berkata, "Iya ma, aku akan mengantarkannya sampai rumah."


"Tante, Aira pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati."


"Ayo Rendra!"


"Pa, kenapa kita halus mengantalkan tante itu dulu?"


"Karna di suruh sama nenek."


"Kenapa papa mau aja di suluh nenek mengantalkan tante itu?"


"Karna nenek adalah ibunya papa, jadi papa harus nurut sama nenek. Kayak kamu, kamu juga harus selalu menurut sama Mama Dira."

__ADS_1


"Lendla selalu nulut kok sama mama, Lendla kan sayang mama. Tapi kata Paman Dean kalau kita gak suka sama olang kita boleh nolak kok gak halus semua di tuluti."


"Calon ayah sambung macam apa dia mengajarkan anakku seperti itu! Tapi dia ada benarnya juga, gak terlalu buruk." Ucap Leon dalam hati.


Leon dan Rajendra sudah masuk duluan ke dalam mobil.


"Silahkan masuk nona!" kata Bram sambil membukakan pintu mobil untuk Aira.


"Terimakasih."


Aira duduk di samping Rajendra.


Setelah mengantarkan Aira, Leon langsung berangkat ke kantor.


Leon membawa Rajendra bersamanya.


Semua karyawan merasa gemas pada Rajendra.


"Papa, kenapa om sama tante itu lihatin Lendla telus?"


"Karna Rendra anak yang menggemaskan."


"Lendla gak suka!"


"Kenapa gak suka?"


"Kata menggemaskan itu hanya untuk anak kecil Lendla kan udah besal."


"Hahaha, iya iya, anak papa udah besar, dan pintar berbicara."


Leon menggendong Rajendra dan membawanya ke ruang kerja Leon.


"Wah luang kelja papa besal."


Rajendra turun dari pangkuan Leon dan berlarian di ruang kerjanya.


Terdengar suara Handphone Leon berdering, "Dira?!" Leon mengangkat telpon, "Halo, Dira?"


"Halo Bang, bagaimana Rendra, apa dia baik-baik saja? apa dia rewel semalam? apa dia menyusahkan kalian?"


"Wow, tenang Dira! pertanyaanmu banyak sekali, baru satu malam Rendra menginap di rumahku pertanyaanmu sudah sebanyak itu, bagaimana kalau dia menginap berhari-hari."


"Aku gak enak sama kalian, takutnya Rendra bikin kalian kerepotan."


"Dira, kami juga keluarganya Rendra! kalau pun Rendra bikin repot biarkan saja, dia kan anakku. Dia berhak melakukan apa pun yang dia mau di rumahku."


"Lagi pula orang tuaku sangat senang Rajendra menginap di rumah, apalagi kakek dan nenek."


"Syukurlah,"


"Papa, apa itu mama?"


"Iya sayang,"


"Aku mau bicara sama mama."


Leon memberikan handphonenya pada Rajendra, sementara Leon bekerja Rendra pindah tempat duduk di sofa dan berbicara dengan Anindira di telpon.


"Mama, apa mama baik-baik saja selama Lendla menginap di lumah papa? mama tidak menangis kan?"


Anindira meneteskan air mata dia tidak terbiasa jauh dari anaknya walaupun hanya sebentar, "Enggak kok, mama gak nangis! mama baik-baik aja, Mama senang kalau Rendra senang."


"Benelan mama gak nangis?"

__ADS_1


"Enggak, sekarang kamu cerita sama mama gimana rasanya menginap pertama kali di rumah papa, apa kamu senang?"


"Iya, Lendla senang, tapi Lendla gak senang sama tante itu!"


"Tante itu?! siapa?"


"Namanya Tante Aila, semalam tante itu juga menginap di lumah papa."


"Tante Aira?"


"Iya, katanya Tante Aila itu adiknya mama Aluna tapi Lendla lebih suka mama sama mama Aluna dalipada tante itu."


"Kamu gak boleh gitu sayang! gimana kalau Tante Aira dengar? dia pasti sedih, jangan membuatnya tersinggung itu gak baik."


"Tapi Paman Dean bilang, kalau kita gak suka gak usah pula-pula suka kita belhak mengeksplesikan lasa suka dan tidak suka kita."


"Eh, kenpa kamu selalu menganggap serius perkataan Paman Dean? dia itu hanya bercanda sayang dengarkan mama ya! terkadang kita harus berbuat baik demi kebaikan semua orang meskipun kita gak suka."


"Tapi kata Paman Dean itu hanya akan membuat kita melasa jengkel, Lendla gak suka."


"Ah, anak mama ini terlalu pintar bicara ya."


Anindira terdiam sejenak, "Yang di katakan Dean pada Rendra memang benar, aku tau Dean mengatakan itu supaya Rendra punya keteguhan hati tidak sepertiku." Ucap Anindira dalam hati.


"Kenapa mama diam saja?"


"Gapapa sayang, kapan kamu pulang?"


"Gak tau, Lendla sekalang lagi di tempat keljanya papa."


"Papa yang ajak kamu ke sana ya!"


"Iya ma, telus tadi papa ngantelin Tante Aila dulu ke lumahnya.


"Benarkah?"


"Iya, ma udah dulu ya! nanti Lendla telpon lagi, Lendla sayang mama."


"Mama juga sayang Rendra."


Rajendra menutup telpon dan memberikan Handphonenya pada Leon.


"Kamu sudah selesai bicara sama mama?"


"Iya pa,"


Wajah Rajendra kelihatan lesu, dia menyandarkan dagunya ke meja kerja Leon.


"Ada apa?"


"Kapan kita pulang pa?"


"Kamu merindukan mama ya?"


"Iya, Lendla mau cepat-cepat ketemu mama."


"Sebentar lagi ya, setelah papa selesai kerja kita pulang ke rumah mama."


"Kapan papa selesai keljanya?"


"Setelah papa ketemu klien."


"Klien itu apa?"

__ADS_1


"Klien itu..! teman bisnis papa, untuk membahas tentang pekerjaan setelah papa bertemu dengannya baru kita pulang ya."


"Kata mama, Lendla halus jadi anak yang baik, Lendla tidak akan menyusahkan papa." Ucap Rajendra dalam hati.


__ADS_2