
Leon mengambil surat itu, dan Gena di bawa ke kantor polisi.
Setelah pembicaraannya kemarin dengan jimy Gena menyerahkan dirinya kepada polisi, dia mengakui semua kejahatan yang dia lakukan di masalalu termasuk saat dia melarikan diri dari kejaran para polisi ketika kasus penculikan Rajendra dan selama ini dia menjadi seorang buronan.
Gena dan keluarganya pindah ke luar negri. Naasnya setelah mereka pindah, Gena mengalami kebangkrutan rumahnya kerampokan.
Kedua anaknya Gena pergi meninggalkannya, dan suaminya menikah lagi dengan wanita lain karna Gena sudah tidak punya apa-apa lagi.
Tidak ada yang tersisa waktu itu, semua harta yang Gena miliki lenyap dalam sekejap mata, Bahkan rumah yang dia tinggali pun di ambil oleh suami dan madunya untuk di jual.
Mereka membiarkan Gena terlantar di jalanan dan sampai sekarang Gena tidak pernah tau di mana keberadaan suami dan anak-anaknya.
Ketika itu Jimylah yang menolong Gena dan membawa dia ke apartemennya lalu memberikan dia pekerjaan sebagai asisten rumah tangga.
Jimy menganggap Gena seperti kerabatnya sendiri bahkan jimy juga membantunya untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, Sehingga Gena mampu membeli sebuah rumah kecil di sana dan mempunyai tabungan sendiri dari gaji yang di berikan oleh jimy dan gaji bulanan yang dia dapat dari tempat kerjanya.
Kembali ke rumah keluarga Aira.
Setelah semua kebenarannya terbongkar, Leon dan keluarganya pulang ke rumah dengan membawa kekecewaan dan rasa marah yang menggunung, semua itu membuat mereka sesak.
Leon pergi ke halaman belakang dan duduk di kursi panjang yang ada di sana, dia merenungi hidupnya yang selalu bernasib buruk.
Pertama Aluna meninggalkan dia untuk selamanya, kedua perceraiannya dengan Anindira, dan sekarang kejadian memalukan yang di lakukan oleh Aira.
"Mungkin ini adalah karma untukku! karma dari semua dosa-dosa yang pernah aku lakukan pada Anindira di masalalu." Gumam Leon.
Kemudian Leon mengambil surat yang di berikan oleh Gena untuk Anindira dan keluarganya.
"Anindira? apakah aku masih bisa menyusulnya jika aku pergi ke bandara sekarang!"
Leon melihat jam tangan yang dia pakai di tangannya, "Pukul 09.00, tadi pagi Dira memberitauku lewat pesan pesawatnya akan lepas landas Pukul 09.30, masih ada waktu aku harus segera pergi ke bandara sekarang juga."
"Tuan Muda, tuan mau kemana?" Bram bertanya pada Leon yang berjalan dengan tergesa-gesa.
Leon tidak menjawab, dia pergi mengendarai mobilnya sendirian dengan kecepatan penuh.
Bram merasa hawatir dengan tuannya itu, dia pergi menyusul Leon dengan naik taxi.
Tidak perlu memerlukan waktu lama untuk Leon sampai di bandara, dia berlari masuk ke dalam bandara dan melihat ke sana kemari berharap Anindira belum pergi dari sana, tapi dia tidak melihatnya di mana pun.
__ADS_1
Kemudian Leon bertanya pada pegawai bandara di bagian pelayanan penumpang.
"Maaf, aku mau menanyakan sesuatu."
"Silahkan pak"
"Apa jadwal penerbangan ke paris sudah lepas landas?"
"Sebentar ya pak, saya cek dulu." Pegawai itu mengecek jadwal keberangkatan pesawat menuju paris, "Jadwal penerbangan ke paris baru saja lepas landas pak, keberangkatannya lima menit lebih cepat dari jadwal yang sudah di tentukan." Jelas pegawai itu.
"Begitu ya, terimakasih!"
"Sama-sama pak."
Leon menyesal karna dia terlambat untuk menyusul Anindira ke bandara, dia duduk di kursi ruang tunggu dan menunduk sedih.
Bram sampai di sana dan melihat Leon sedang bersedih.
"Tuan Muda, apa tuan baik-baik saja?"
"Iya, aku baik-baik saja ayo pulang!" kata Leon sambil beranjak dari tempat itu.
Mereka pun pulang.
"Apa ini?" tanya Leon.
"Aku di suruh memberikan itu oleh Tante Gena pada keponakannya atau keluarganya, tapi karna aku tidak tau mereka tinggal di mana jadi aku memilih untuk menitipkannya padamu, aku rasa akan lebih baik jika kamu yang memberikan ini pada mereka."
"Apa isinya?"
"Di dalamnya ada sertivikat rumah, akte tanah, dan ATM milik Tante Gena."
"Apa tujuannya memberikan semua ini pada Anindira dan keluarganya?"
"Selama ini Tante Gena selalu menyesali perbuatannya di masa lalu, sehingga meskipun dia mendapatkan semua harta ini dia tidak merasa bahagia mungkin karna itu dia memutuskan untuk menyerahkan diri pada polisi dan memberikan semua harta yang dia miliki dari hasil kerja kerasnya pada keponakan dan keluarganya."
"Baiklah, aku akan memberikannya pada kedua orang tua Anindira."
"Terimakasih Leon."
__ADS_1
Mereka pun mengobrol lama, Jimy menceritakan tentang kejadian kemarin setelah Leon dan keluarganya pergi meninggalkan rumah Aira.
Leon merasa sedikit lega karna dia tidak jadi menikah dengan Aira, tapi di sisi lain dia sangat sedih karna orang yang dia cintai pergi meninggalkannya.
15 tahun kemudian.
Tin.. tin.. terdengar suara klakson mobil dari luar rumah.
"Iya, iya sebentar!" Anindira tergesa-gesa mengikat rambutnya, dia buru-buru keluar dari rumah dengan menenteng tas berwarna pink di tangannya, dia juga mengenakan gaun dan jas yang serba pink.
"Wah, Mamaku masih terlihat cantik di umurnya yang sudah mnginjak usia lanjut ini." Kata seorang laki-laki dengan suara agak berat dan serak keluar dari sebuah mobil sport mewah berwarna merah dan dia menyambut Anindira dengan penuh kehangatan, dia menyodorkan tangannya pada Anindira supaya dia mau menggandengnya.
"Dasar anak nakal!" kata Anindira sambil menjewer kuping lelaki itu.
Dia adalah Rajendra kecil yang bertransformasi menjadi Rajendra remaja.
"Ampun ma, ampun!" kata Rajendra sambil meringis kesakitan.
"Kebiasaan kamu ya, suka menggoda mamamu sendiri."
"Maaf ma, aku kan hanya bercanda."
"Lagian kamu ngapain sih menyuruh mama untuk memakai pakaian serba pink begini umur mama kan sudah gak muda lagi, mama gak pantas memakai pakaian yang warnanya pink merona seperti ini."
"Aduh mamaku ini kenapa banyak ngeluhnya sih, ini adalah hari yang spesial untukku, hari ini aku akan naik ke panggung dengan peringkat siswa terbaik sepanjang tahun di sekolahku, aku akan berdiri dengan gagah di panggung itu, aku akan membuat mama, papa, dan Paman Dean bangga." Kata Rajendra dengan percaya diri sambil merangkul bahu mamanya itu.
Anindira tersenyum haru mendengar perkataan Rajendra, "Sekarang Rajendra kecilku sudah beranjak dewasa, rasanya waktu cepat sekali berlalu hingga tak terasa Rajendraku sudah bertumbuh besar dan menjadi anak yang sangat cerdas." Ucap Aira dalam hati.
"Dan asal mama tau, gaun dan jas itu bukan aku loh yang membelinya."
"Hah?! bukannya kemarin kamu yang memberikan pakaian ini untuk mama?"
"Memang aku yang memberikannya pada mama, tapi itu bukan aku yang beli ma."
"Kalau bukan kamu lalu siapa?"
"Paman Dean."
"Dean?!"
__ADS_1
"Iya, dia yang membelikannya untuk mama menurut Paman Dean mama akan terlihat sangat cantik dengan memakai gaun dan jas berwarna pink merona seperti ini, dan apa yang di katakan Paman Dean itu memang benar mama terlihat sangat cantik dengan warna itu."
"Kalian berdua ini sama saja suka meledekku dengan perkataan konyol seperti itu."