
Rajendra tidak merespon perkataan Anindira.
"Rendra, apa kamu masih marah pada papamu?"
"Gak kok ma, Rendra cuma mau melihat dulu keseriusan papa sama kita."
"Apa menurutmu tentang papamu, sebaiknya mama harus bagaimana?"
"Kenapa mama bertanya padaku? meskipun aku bilang aku ingin melihat keseriusan papa sama kita tapi aku akan setuju apapun keputusan mama."
"Tapi pendapat kamu sangat penting bagi mama Rendra."
Rajendra terlihat seperti masih ragu tentang papanya.
"Ma, apapun keputusan mama asal mama bahagia aku akan menyetujuinya."
"Kebahagiaanmu juga penting bagi mama, jadi katakanlah apa yang kamu inginkan!"
"Entahlah aku ragu ma, apa papa benar-benar masih menyayangi kita?"
"Tanyakan itu pada hatimu, dia sudah berusaha untuk meyakinkan kita bukan? dia juga berusaha untuk membuktikan kasih sayangnya padamu dengan datang menemuimu di hari
pentingmu dan memberimu hadiah berupa kenangan masalalu kamu dengannya itu hal yang paling berharga untukmu bukan?"
Rendra menatap Anindira mamanya lalu memeluknya dan berkata, "Beri aku waktu sedikit lagi ma."
"Iya, baiklah, sekarang sudah larut malam tidurlah! Mama juga akan pergi tidur."
Rendra mengangguk dan Anindirapun pergi ke kamarnya untuk tidur.
Esok paginya, sebelum berangkat kerja Anindira menyiapkan sarapan untuk Rajendra.
"Pagi ma," ucap Rendra sambil duduk di kursi makan.
"Pagi sayang," jawab Anindira.
Kemudian Anindira juga duduk di kursi makan dan bertanya pada Rajendra, "Nak, sebentar lagi kamu akan melanjutkan pendidikanmu ke universitas, apa kamu sudah putuskan mau masuk universitas mana?"
"Mmmh, itu.. aku sudah memutuskannya aku memilih untuk masuk Universitas of Paris 1 Pantheon Sorbonne, bagaimana menurut mama?"
"Waw Rendra, pilihan yang bagus mama setuju kamu masuk universitas itu."
"Makasih ma"
"Sama-sama sayang, sebenarnya Universitas manapun yang kamu mau mama akan tetap mendukung kamu, karna mama tau kamu gak pernah mengecewakan mama tentang masalah belajar."
Rajendra tersenyum haru mendengar perkataan mamanya, "Tentu saja, selama ini mama sudah membesarkanku dengan penuh kasih, meskipun papa selalu memberikan uang untukku tapi mama tetap bekerja banting tulang demi memberikan masa depan yang baik untukku."
"Sekarang waktunya aku yang mengurus mama, dan memberikan mama yang terbaik, kalau perlu seluruh kota paris ini akan aku berikan untuk mama." Katanya.
__ADS_1
"Hanya kota paris ini saja?"
"Iya, karna kalau aku berikan seisi dunia ini itu terlalu berat." Kata Rajendra sambil tertawa kecil.
Anindira pun tersenyum, setelah selesai makan Anindira berangkat kerja, "Nak, mama berangkat kerja dulu ya."
"Iya ma, hati-hati di jalan."
"Oke, baik-baik di rumah ya."
"Iya"
"Pagi Dira," sapa Claira setibanya Anindira di tempat kerjanya.
"Pagi Clair,"
"Hari ini kamu berangkat sendiri?" tanya Claira sambil melihat kesana kemari seperti mencari seseorang
"Iya, memangnya kenapa?"
"Ah, biasanya kamu kan selalu bareng Dean."
Anindira tersenyum dan melipat kedua tangan didadanya seolah dia tau isi hatinya Claira.
"Maksud aku kamu kan pulang pergi kerja selalu bareng dia, kemana pun kamu selalu bareng dia, sekarang kok tumben gak bareng kalian baik-baik aja kan?" kata Claira mengalihkan pembicaraan.
"Gak ada apa-apa kok Clair, kita baik-baik aja. Meskipun aku dan Dean selalu terlihat bersama bukan berarti kita gak punya kesibukan masing-masing kan." Jawab Anindira sambil mesem-mesem lalu berjalan menuju ruangan kerjanya.
Anindira menghentikan langkahnya lalu berbalik, dan tersenyum melihat Claira yang sedang mematung dan memperhatikan pintu masuk, matanya sama sekali gak berkedip seolah dia gak mau kehilangan momen.
Anindira berkata, "Clair, Dean sebentar lagi sampai kok, tadi dia menelpon katanya mobilnya mogok makanya dia bilang hari ini dia akan sedikit terlambat."
Setelah mendengar perkataan Anindira raut wajah Claira terlihat agak hawatir.
"Tenang Clair, dia baik-baik saja kok! cuma mobilnya aja yang mogok sebentar lagi dia pasti sampai." Ucap Anindira seolah dia tau apa yang Claira hawatirkan.
"Ah, bukan begitu, aku.. "
Sebelum Claira menyelesaikan ucapannya seorang karyawan menghampiri Anindira dan berkata, "Maaf bu, saya mengganggu."
"Ada apa?" tanya Anindira.
"Di sebelah sana ada custumer yang marah-marah karna tidak puas dengan pelayanan kami, padahal kami sudah mengusahakan yang terbaik." Kata karyawan itu.
"Ayo kita temui mereka!" kata Anindira.
Mereka bertiga pun menghampiri custumer itu.
Terlihat seorang wanita dengan style yang serba mewah sedang marah-marah pada beberapa karyawan di sana.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada wanita yang sedang marah-marah itu.
Anindira menghampiri wanita itu, dan mencoba untuk mencari tau apa yang membuat dia merasa tidak senang dengan pelayanan karyawannya, "Maaf Mba, apa ada yang bisa saya bantu? kenapa Mba memarahi karyawan saya?"
Wanita itu menoleh, dan seperti agak terkejut melihat Anindira, "Oh, jadi kamu pemilik butik ini? pantas saja karyawannya gak becus semua."
Anindira tidak menyangka kalau dia akan bertemu dengan Aira di kota paris itu.
"Maaf jika pelayanan kami tidak bisa memuaskan hati anda! apa yang bisa saya bantu untuk memuaskan anda berbelanja di sini?"
"Hheh, so bijak!"
"Sayang, udah ya kamu jangan marah-marah terus dong! kita kan ke sini untuk berbelanja, aku ngajak kamu ke sini supaya kamu happy."
"Tapi kenapa kamu malah ngajak aku ke butik yang gak bermutu seperti ini!"
"Sayang!" ucap jimy sambil mendelikan mata,
"Maafkan istri saya! akhir-akhir ini dia sangat sensitif."
"Kamu sedang apa sih?! aku gak mau belanja di sini, ayo pergi!" ucap Aira sambil menarik tangan jimy
"Sekali lagi aku minta maaf!" kata jimy sambil menundukan kepala.
"Cih, ayo!" bentak Aira.
"Siapa wanita itu?" tanya Claira.
"Dia wanita yang pernah hampir menikah dengan mantan suamiku."
"Hampir menikah?!"
"Iya, ceritanya panjang, sudahlah jangan di hiraukan. Ayo semuanya kembali bekerja!"
Tidak lama setelah kejadian itu Dean datang, "Ada apa? kayanya rame banget."
"Dean?!" ucap Claira.
"Gapapa, tadi ada sedikit masalah tapi sekarang udah selesai kok."
"Masalah apa? bukan masalah yang serius kan?"
"Enggak, bukan kok." Ucap Anindira sambil menggandeng tangan kedua sahabatnya itu dan membawa mereka ke ruang kerjanya.
Anindira menghela nafas dan duduk di kursi kerjanya, "Hhaahh,"
"Kenapa menghela nafas? jadi sebenarnya tadi itu ada masalah apa?"
"Sebenarnya tadi ada seorang wanita yang memarahi karyawan di sini, alasannya cuma karna dia gak puas dengan pelayanannya padahal mereka sudah melakukan yang terbaik." Kata Claira berusaha menjelaskan.
__ADS_1
"Loh kok gitu, itu custumer berasal dari mana baru kali ini ada custumer yang marah-marah karna gak puas dengan pelayanan karyawan kita." Kata Dean heran.
"Ya itu dia, padahal semua karyawan kita kerjanya selalu oke, totalitas, tapi masih ada aja kurangnya." Sahut Claira.