
Anindira tidak bisa menyingkirkan rasa gelisahnya dia tidak bisa memejamkan mata ataupun tidur, sampai tengah malam tiba, dia keluar dari kamarnya hendak pergi ke dapur untuk mengambil air minum.
Dia melihat putranya dan Dean tertidur setelah puas bermain game.
Anindira mengambil selimut, dia mengambil dan menaruh stick game di bawah rak tv lalu mematikan layar tv yang masih menyala.
Anindira menyelimuti Rajendra dan Dean.
Dean terbangun dan memegang tangan Anindira.
"Kenapa kamu berkeliaran di tengah malam seperti ini, apa kamu tidak bisa tidur?"
"Enggak kok, aku kebangun karna haus, jadi aku mau ke dapur ambil minum."
"Oh," Dean melepaskan tangannya.
Dia menggelengkan kepala lalu pergi ke dapur.
Ketika dia berbalik, dia terkejut melihat Dean sudah ada di belakangnya.
"Hah, kamu bikin aku kaget aja, kenapa, kamu mau minum juga?"
"Aku mau minjemin bahu buat kamu."
"Hah?"
Dean memeluknya.
"Dean, apa kamu baik-baik saja?"
"Diamlah,"
"Kenapa kamu bertingkah aneh seperti ini?"
Dean melepaskan pelukannya lalu memegang tangan Anindira dan membawanya ke sofa, dia menepuk-nepuk pundaknya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Aku tau beban di pundakmu itu sangat berat, jadi malam ini tidurlah dengan nyenyak, aku meminjamkan bahuku untuk tempatmu bersandar."
"Kamu ini kenapa sih, kenapa kamu membuatku ingin menangis?" Tiba-tiba air matanya menetes.
Dean menyentuh kepala Anindira dan menyandarkannya di bahunya.
"Tidak apa-apa jika kamu ingin menangis, menangislah, tapi jangan terlalu lama nanti matamu bengkak."
Anindira menangis terisak-isak sampai dia tertidur, Dean mengusap-usap rambut Anindira dan menyelimutinya dengan jaket miliknya.
Dia mengusap pipinya dan memeluknya dengan erat, "Aku akan selalu ada untukmu sampai suatu saat kamu menetapkan pilihanmu, jika saat itu tiba, sampai aku memastikannya sendiri kalian hidup aman nyaman dan bahagia, barulah aku akan melepaskanmu sepenuhnya, dengan begitu aku bisa bernafas dengan lega."
Sementara itu di kamar Anindira, Claira terlihat bingung ketika dia terbangun ia melihat sahabatnya tidak ada di sampingnya, dia mencari Anindira ke kamar mandi lalu keluar dari kamar untuk mencarinya.
Ketika dia mendapati Anindira tidur di pelukan Dean dia berbalik kembali ke kamar.
"Ternyata di hatinya sudah tidak ada tempat untukku, dia hanya mencintai Dira, meskipun begitu aku egois tetap mengejarnya, apa ini yang dinamakan cinta? cinta itu tidak harus memiliki bukan? cinta itu adalah pengorbanan seharusnya aku merelakannya, Dira adalah kebahagiaannya, apalagi Dira adalah sahabat baikku dia sedang di landa masalah, bagaimanapun dia butuh seseorang untuk melindungi dan memberikannya rasa nyaman." Suara hati Claira.
Dean merasakan tangannya kesemutan dia pun terbangun, tapi dia tidak berani bergerak karna takut membangunkan Anindira.
Dia menatap wajahnya, lalu kembali memeluknya dengan erat.
"Uh, sesak," Gumam Anindira dalam hati.
Ketika Anindira hendak terbangun dari tidurnya, Dean pura-pura tidur lelap.
Anindira terkejut melihat dirinya tidur di pelukan Dean.
Lalu dia teringat semalam dia menangis sampai tertidur di pelukannya.
"Ya ampun, ini sangat memalukan."
Anindira bangun dan buru-buru masuk ke kamar.
Dean membuka matanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Ya ampun, maafkan aku Clair."
Claira pura-pura masih tertidur di balik selimut, "Enggak Dira, kamu jangan bicara seperti itu." Gumamnya
Anindira mengambil handuk dan pergi mandi.
Sementara itu Dean menyiapkan sarapan di dapur.
"Kamu lagi masak?" Tanya Claira yang baru saja keluar dari kamar.
"Kamu sudah bangun?"
"Iya,"
"Ini ikan yang di bawa oleh Rajendra tadi malam, ambillah."
"Untukku?"
"Iya, tadi malam Rendra menyuruhku untuk memberikannya padamu."
"Makasih,"
"Kamu sedang apa?" Tanya Anindira yang masih mengenakan handuk kimono panjang.
"Menyiapkan sarapan." Jawab Dean.
"Oh, kalau begitu nanti kita sarapan bersama ya."
"Duh, maaf ya say aku gak bisa."
"Loh, kenapa sarapan dulu baru pergi ya."
"Gak bisa, ibuku menyuruhku pulang, katanya ada pertemuan keluarga." Ucap Claira sambil menatap layar HP nya.
"Oh, begitu, sayang banget."
"Ayolah, jangan sedih kan masih ada Dean, kalian masih bisa sarapan bertiga."
Anindira merasa canggung.
"Jangan ngambek ya, kan masih ada lain hari."
Anindira mengangguk.
"Aku harus segera pulang, kalau enggak ibuku pasti ngomel-ngomel, by Dira." Sambil memeluknya.
"Bye Clair."
"Bye Dean, Sampai jumpa di kantor." Ucapnya sambil terburu-buru pergi.
Dean melambaikan tangan.
"Aku akan membangunkan Rendra dulu."
"Oke,"
Wajah mereka berdua memerah seperti tomat, Dean memegang dada sebelah kirinya, lalu tersenyum.
Anindira malah pergi ke kamarnya dengan setengah berlari, dia menutup pintu sambil memegang dada sebelah kirinya lalu bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Ada apa denganku, kenapa jantungku berdebar? uh, aku merasa mual."
Tok, tok, tok, "Ma, boleh Rendra masuk?"
"I iya Nak masuklah."
Anindira membuka pintu Mereka pun duduk di tempat tidur
"Ini, untuk mama,"
"Boneka?"
"Iya, kemarin aku bermain mesin capit bersama papa, papa payah dia tidak mendapatkan satu boneka pun."
"Iya kah? tapi perasaan dulu papamu paling jago deh."
__ADS_1
"Mungkin karna faktor usia ma."
Anindira tertawa, Rajendra pun ikut tertawa.
"Oh ya ma, dari ke tiga boneka itu, mana yang paling mama sukai?"
"Emm, dulu waktu mama mengandung kamu mama sangat menyukai boneka jerapah sampai tidur pun mama pasti memeluknya, tapi setelah kamu lahir mama melihatnya biasa saja."
"Jadi, mama pilih yang mana?"
"Emm, mama pilih kedua boneka hamster ini."
"Boleh Rendra tau alasannya?"
"Karna boneka hamsternya imut, bukannya mama gak suka sama boneka jerapah, mama juga suka kok, tapi mama lebih suka yang imut-imut."
"Oke, kalau gitu yang jerapah aku ambil ya ma."
"Mau kamu apakan itu?"
"Mau aku buang."
"Ya jangan dong Rendra kan sayang, sini akan mama simpan sebagai pajangan, gak mungkin juga kan mama mainin boneka."
Tok, tok, tok, Dean mengetuk pintu kamar Anindira.
"Iya,"
"Dira, Rendra, ayo sarapan dulu."
"Iya, iya, aku keluar, ayo Rendra."
Mereka pun pergi ke ruang makan untuk sarapan.
"Wah, ikan bakar, ini paman yang buat."
"Iya,"
"Tapi,"
"Ada apa?"
"Apa ini enak?"
"Kamu ngeledek paman, coba saja dulu kalau gak enak paman buang."
"Jangan paman, mubazir."
"Ya udah, sok atuh di makan."
"Bahasa apa itu?"
"Itu namanya bahasa sunda."
"Darimana paman bisa bahasa seperti itu?"
"Dulu paman pernah tinggal di desa, mayoritas di desa itu bahasanya ya begitu sunda."
"Oh, kenapa paman tinggal di desa?"
"Ya karna paman memang lahir di desa, keluarga paman juga dari sana semua, sebagian tinggal di perumahan dan merantau ke kota, ayah paman juga bekerja di kota, makanya ketika paman berusia tiga tahun kami sekeluarga pindah ke kota, dan di sanalah paman bertemu dengan mamamu."
"Dan kalian jadi sahabat baik?"
"Iya, mamamu adalah teman pertama paman waktu itu."
"Tapi karna pamanmu ini orangnya humble dan mudah bergaul dalam waktu singkat dia mendapatkan banyak teman." Sahut Anindira menimpali.
"Jangan-jangan karna banyak teman paman jadi mengabaikan mama?"
"Mana bisa paman mengabaikan mamamu, malah mamamu yang sering mengabaikan paman."
"Ekhem, jangan bicara seperti itu di depan putraku."
__ADS_1
Dean tersenyum