
Papanya Leon mendekati Rajendra, dan memeluknya.
"Kamu sudah besar nak, kamu sangat mirip dengan papamu."
"Rendra, cucuku nenek senang, akhirnya nenek bisa bertemu denganmu."
"Maaf,"
Nenek memeluk Rajendra.
"Maaf nenek, selama ini Rendra tidak pernah menjenguk nenek, ataupun menanyakan kabar nenek dan kakek." Ucap Rajendra sambil menangis.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa nak, yang penting sekarang kamu sudah di sini."
"Ayolah ma, pa, karna kalian sudah bertemu dengan cucu kalian sekarang kalian melupakan putramu."
"Anak nakal," Kata mamanya Leon sambil memukul pelan bahu Leon.
"Ma, pa, mama dan papa sudah tahu kan aku akan memberikan semua propertiku pada Anindira dan Rajendra, sekarang adalah waktu yang tepat untuk itu."
"Iya, tentu kami tidak keberatan, itu memang hak mereka." Kata mama Leon.
"Tapi ma, aku tidak mau menerima semua ini begitu saja ini perlu di bicarakan lagi, perlu persetujuan seluruh keluarga."
"Iya, kami sudah setuju dan sepakat untuk itu." Jawab papanya Leon.
"Bagaimana dengan kerabat yang lain?"
"Nak, kamu tau kan Leon tidak punya saudara, dia tidak punya kakak ataupun adik jadi tidak ada masalah."
"Iya ma Dira tau, tapi bagaimana dengan kerabat lain, paman atau bibinya?"
"Mereka tidak akan merasa keberatan karna semua yang di miliki oleh Leon sudah seharusnya menjadi milik kalian berdua."
"Tapi aku hanya mantan istrinya Bang Leon, apakah ini pantas? apakah tidak akan menjadi perdebatan keluarga nantinya? aku tidak mau kalau sampai aku di cap sebagai wanita tidak tahu malu."
"Iya, aku juga tidak mau menerimanya aku tidak ingin ada perdebatan atau semacamnya." Timpal Rajendra
"Kalian tidak usah hawatir, aku akan bicara sama mereka nanti." Ucap papa Leon.
"Tapi pa,"
"Sudahlah Dira, tidak ada gunanya kamu protes, terimalah, toh ini juga demi putra kita."
"Ini tidak benar, ini terlalu mendadak, aku merasa gak enak hati, kenapa aku merasa ada yang kalian sembunyikan dariku."
"Oh ayolah Dira, jangan berpikir berlebihan, memangnya apa yang bisa kami sembunyikan dari kalian, kami tidak menyembunyikan apapun."
"Baiklah, aku hanya akan menerima sebagian dari propertimu."
"Tapi ini sudah di putuskan,"
"Tidak, aku hanya akan menerima cabang perusahaan dan apartemenmu yang ada di paris saja."
"Apa maksudmu? tidak ada orang yang menolak begitu banyak harta Dira."
"Tidak semua orang, aku tidak haus akan harta dan kekayaan, aku juga tidak haus akan pekerjaan atau jabatan."
"Aku tau, tapi apa kamu tidak mengerti dengan apa yang aku katakan anggap itu sebagai warisan dari seorang ayah untuk putra semata wayangnya, kenapa kamu sangat keras kepala."
__ADS_1
"Warisan itu di berikan seseorang ketika membuat wasiat sebelum dia meninggal, apa kamu akan meninggal hari ini juga, sehingga kamu memaksaku untuk menerima semua kekayaanmu."
Kedua orang tua Leon menangis mendengar ucapan Anindira.
"Tidak ada yang tau tentang hidup atau mati, kita tidak bisa menentukan kapan kita akan mati, aku hanya berjaga-jaga, siapa tau besok atau lusa aku tiba-tiba kena serangan jantung lalu mati, aku harus mempersiapkan segalanya dari sekarang."
"Apa kamu sudah kehilangan akal, kamu sendiri yang bilang kamu hanya sakit bukan sekarat, itu artinya sebentar lagi kamu akan sembuh, kamu akan punya banyak waktu untuk memikirkan masalah warisan dan membuat wasiat."
"Kenapa kamu terus saja berdebat denganku, aku memikirkan kalian berdua, aku lakukan demi kebaikan kalian."
"Cukup ayah, aku sependapat dengan ibu."
"Rendra,"
"Begini saja, aku dan mama akan bertanggung jawab atas cabang perusahaan papa yang ada di paris juga apartemennya, perusahaan pusat dan cabang perusahaan yang ada di sini biar orang-orang kepercayaan kakek dan nenek yang tangani, aku akan mengambil alih ketika aku sudah pantas dan mampu."
"Baiklah, jika itu keinginanmu, ini ambilah." Leon memberikan berkas-berkas perusahaannya.
"Terimakasih pa, terimakasih nenek, kakek."
Leon dan kedua orangtuanya mengangguk.
"Aku tidak akan menerima protes darimu lagi." Ucap Leon sambil menatap Anindira.
Anindira menghela nafas, dia duduk di samping Leon dan berkata, "Jadi kenapa kamu bisa terbaring sakit seperti ini."
"Kata dokter, aku terlalu setres karna pekerjaan, makanya sekalian saja aku pensiun dari semua pekerjaanku."
"Hanya itu saja?"
"Iya,"
"Kenapa kamu banyak bertanya, apa kamu mau aku benar-benar kena serangan jantung."
"Ya enggak, aku cuma nanya, aku hawatir itu bukan hanya sakit biasa."
"Aku senang kamu menghawatirkanku, tapi percuma saja, sekarang status kita bukan suami istri lagi, jadi aku tidak akan berharap lebih."
"Siapa yang memberimu harapan,"
"Apa kamu tidak punya perasaan, aku sebaik itu padamu, tapi kamu tidak punya sedikit rasa terharupun atas perlakuan manisku padamu, kamu malah mengomeliku."
Semua yang ada di sana tersenyum mendengar percakapan mereka.
"Ish, sudahlah, hari ini aku harus pulang dulu ke rumah orangtuaku besok aku akan kesini lagi."
"Iya pergilah,"
"Kamu mengusirku,"
"Bukannya kamu bilang mau pulang, ya sudah pulang saja, kalian pasti sangat lelah, pulang dan istirahatlah."
"Oke, kami pergi dulu,"
"Hmm, hati-hati,"
"Ma, pa, aku pulang dulu."
"Iya Nak, hati-hati di jalan."
__ADS_1
Anindira mengangguk.
"Sudah lama sekali aku tidak pulang, rumah ini.. tampak masih sama seperti dulu."
"Dira,"
"Ibu, aku kangen banget sama ibu." Anindira memeluk ibunya.
"Ibu juga kangen sama kamu nak,"
"Rendra, sini nak," Ibu memeluk Rajendra dengan penuh kasih.
"Nenek,"
"Kenapa kalian tidak memberitahu kalau kalian pulang hari ini."
"Maaf bu, kami pulangnya juga mendadak, jadi gak sempet mengabari ibu."
"Iya, iya gapapa, ibu senang kalian pulang."
"Dimana ayah?"
"Ada, lagi di kebun belakang rumah, ayo masuk, kalian pasti lelah kan, ibu akan membuat es teh lemon untuk kalian."
"Maksud nenek lemon tea,"
"Iya, sama saja." Sambil tersenyum.
ibu langsung ke dapur untuk membuatkan minum, "Ini dia es teh lemonnya, maksudnya lemon tea." Ucap ibu sambil bercanda.
Anindira dan Rajendra tersenyum.
"Dira, Rendra, kapan kalian datang?' Kata ayah yang baru saja kembali dari kebun.
"Ayah," Anindira dan Rajendra memeluk ayah.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau kalian pulang hari ini?"
"Maaf ayah kami pulangnya mendadak."
"Ada apa, apa terjadi sesuatu?"
"Sebenarnya kami kesini menyusul Bang Leon."
Ayah dan ibu saling pandang, Anindira menceritakan kejadian hari itu pada kedua orangtuanya.
"Keputusan kalian sudah benar, dan kamu Rendra kakek bangga sama kamu, kamu sudah bisa berpikir dewasa, jadilah orang yang bijak." Katanya sambil tersenyum.
"Tadi kamu bilang Leon sakit, sakit apa?" Tanya ayah.
"Katanya sih cuma sakit biasa, kelelahan karna bekerja."
"Syukurlah tidak ada yang serius dengan penyakitnya, kenapa kamu terlihat cemas nak?"
"Entahlah bu, perasaanku tidak enak."
"Kamu mencemaskan Leon?" Tanya ayah lagi.
Anindira terdiam.
__ADS_1