
Dean pun ikut menenangkan Rajendra.
"Paman, aku tidak busa mendengar orang lain berbicara hal buruk lagi tentang mama, bisakah rencana pernikahan kalian di percepat?"
"Rendra, tidak bisa semudah itu."
"Kenapa?"
"Masih ada urusan yang harus mama selesaikan."
"Urusan apa?"
"Kamu tidak perlu memikirkan itu, fokuslah pada pendidikanmu, ini masalah orang dewasa."
"Tapi Rendra juga sudah dewasa, Rendra bisa membantu mama."
"Mama tahu, tapi kamu tidak perlu ikut campur, biarkan mama dan Dean yang menyelesaikannya."
"Baiklah,"
"Uh, mama sudah sangat lapar ayo kita makan,"
"Uh, makanannya sudah dingin." Kata Rendra.
"Iya benar, biar mama hangatkan dulu sebentar."
"Biar aku saja yang menghangatkan makanannya."
"Dean,"
"Gapapa, kamu tunggu saja di sini temani Rendra."
Anindira mengangguk.
Beberapa menit kemudian,
"Ayo makan,"
"Terimakasih Dean,"
"Iya,"
Pagi hari,
"Dira,"
"Iya Clair,"
"Istirahat nanti kita ke tempatnya Dokter Jo ya,"
"Kamu mau nemuin dia?"
"Iya," Jawabnya sambil tersenyum.
"Emm,"
"Ayolah,"
"Oke deh, apa kita perlu ajak Dean juga?"
"Udahlah gak usah, kita berdua saja."
"Kenapa? Dokter Jo kan temannya Dean."
"Ya takutnya Dean lagi sibuk."
"Nanti aku tanya dia dulu sibuk apa enggak, biar kita juga tahu Dokter Jo free nya kapan."
"Oke,"
Jam istirahat,
"Gimana, Dean sibuk gak?"
"Enggak, dia lagi otw kesini."
"Terus gimana sama Dokter Jo?"
"Katanya sih dia free nya nanti sore."
"Ya udah, ketemu nanti sore aja, Dean lagi otw kesini kan?"
"Iya,"
"Kita ngafe bareng yuk sambil ngobrol."
"Mau ngobrolin apaan?"
"Nanti aja, kalau Dean udah dateng."
"Kalian lagi pada ngobrolin apa?" Tanya Dean yang baru saja datang.
"Ngafe bareng yuk," Ajak Claira.
"Boleh,"
__ADS_1
Mereka bertiga pun pergi ke kafe.
"Jadi, mau apa kamu ngajak Jo ketemuan Clair?"
"Ekhem, mau minta bantuan, sekaligus PDKT."
"Yang bener kamu," Kata Anindira.
"Iya bener, aku butuh dia untuk menyelesaikan masalahku."
"Masalah apa?"
"Ada lah pokoknya, biasa, masalah percintaan, nanti kalau masalahnya udah kelar baru aku kasih tau kalian."
"Kok kamu gitu sih sama temen sendiri."
"Aku janji, aku bakal cerita nanti."
"Lalu sekarang kamu mau ngapain?" Tanya Anindira.
"Ya ketemu Dokter Jo, lalu meminta bantuan padanya."
"Tadi kamu bilang apa, masalah percintaan? itu maksudnya gimana coba, masalah percintaan yang seperti apa sampai-sampai kamu harus minta bantuan Dokter Jo, kamu punya masalah percintaan sama siapa? kok aku gak tahu sih."
"Oh my, berhenti menyerangku dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu."
"Siapa suruh main rahasia-rahasiaan."
"Kan aku udah bilang, nanti kalau udah selesai aku pasti cerita kok, kamu tahu sendirikan masalah percintaan aku seperti apa?"
"Oke, aku tidak akan bertanya lagi, kita akan menunggu sampai masalahmu itu selesai."
"Gitu dong,"
"Lagian, kamu minta bantuan masalah percintaan sama Dokter, kamu salah alamat Clair, Jo itu seorang Dokter, bukan pakar cinta."
"Ya kan sekalian mengenal dia lebih dalam, ekhem, Dean,"
"Apa?"
"Minta nomor telpon nya Dokter Jo dong,"
"Aku kirim langsung lewat WA deh."
"Makasih,"
"Hmm, Kita bisa makan sekarang? laper aku."
"Ah, benar, kita belum memesan makanan, Kalian mau apa?" Tanya Claira.
"Seperti biasa aja deh." Jawab Anindira.
Dean menghubungi Jo, dan memberitahunya kalau Claira ingin bertemu.
"Oke, bilang padanya datanglah ke rumah sakit pukul 16.00,"
"Oke,"
Kemudian Dean menelpon Claira, dan memberitahu dia waktu dan tempat untuk bertemu dengan Jo."
"Rumah sakit?! sangat tidak romantis, memangnya aku pasien apa, tapi gapapa, Demi Anindira, dan diriku sendiri, hehehe."
Pukul 15.30,
"Aku harus bergegas," Kata Claira buru- buru.
Memerlukan waktu 20 menit untuk sampai di rumah sakit tempat dinas nya Jo.
Sesampainya di rumah sakit,
"Wow, susternya cantik-cantik, aku aja kalah cantik sama mereka." Ucap Claira dalam hati, "Maaf sus, ruangannya Dokter Jo sebelah mana ya?"
"Apa ibu ini pasien?"
"Bukan,"
"Apa sebelumnya ibu sudah ada janji dengan Dokter Jo?"
"Iya, saya di suruh datang menemuinya sore ini."
"Oh, baik bu, mari ikut saya,"
Sampai di ruangan Jo, tok, tok, tok,
"Iya, masuk,"
Mereka pun masuk,
"Ada apa suster?"
"Maaf Dok, ada yang ingin bertemu dengan dokter."
"Suruh masuk saja,"
"Silahkan masuk bu,"
__ADS_1
"Terimakasih," Claira bergumam dalam hati, "Wow, ruangannya bagus banget, bersih, dan rapih, saking bersihnya setiap sudut di ruangan ini terlihat berkilau."
"Apa kabar Clair, silahkan duduk,"
"Oke, terimakasih, kabarku baik, bagaimana denganmu Dokter Jo?"
"Lumayan baik,"
"Suster di sini cantik-cantik ya Dok?"
"Kenapa memang kalau mereka cantik-cantik?"
"Gapapa sih Dok..."
"Tenang saja, aku pria baik-baik kok, malulah sama seragamku kalau aku macam-macam sama suster yang kamu bilang cantik itu."
"Ahahaha, Dokter kok tahu sih arah pembicaraan saya kemana?"
"Kelihatan kok dari gelagat kamu."
"Bisa aja Dokter,"
"Jadi apa yang membawamu kesini? apa kamu punya keluhan kesehatan?"
"Ya ampun, benar saja, dia menganggap aku sebagai pasien nya, oh iya ini kan di rumah sakit, gak sepantasnya dong aku ngomongin masalah pribadi sama dia di sini, ini kan masih jam kerja." Katanya dalam hati, "Dokter, bisakah kita bicara di luar? soalnya aku kesini bukan untuk memeriksa kesehatanku, tapi untuk bicara dwngan dokter."
"Oh, boleh, silahkan," Jo mengajak Claira ke kantin dekat rumah sakit.
"Mau minum apa?"
"Gak usah Dok,"
"Gapapa biar aku yang traktir, anggap saja sebagai jamuan makan siang."
"Tapi ini sore Dok,"
"Oh, iya benar, jadi kamu mau pesan apa, minuman atau makanan?"
"Dua-duanya deh,"
"Siap," Jo memesan dua gelas jus pepaya, dan dua porsi salad sayuran.
"Ternyata kalau sama Dokter, makan dan minumnya harus yang sehat-sehat ya dok,"
"Tentu saja, karna sehat itu penting, nomor satu."
"Kalau sehat nomor satu, terus aku nomor berapa Dok," Godanya.
"Kamu maunya nomor berapa?"
"Yah, malah di ladenin, kalau begini mah ya aku seneng-seneng aja, aku maunya jadi nomor satu di hatinya Dokter, hihihi." Katanya sambil Cekikikan.
"Bisalah, tapi untuk di kehidupanku yang berikutnya."
Mereka berdua pun tertawa bersama.
"Jadi, apa yang membawamu kesini?"
"Jadi begini Dokter Jo,"
"Panggil Jo saja,"
"Oke, Jo, sebenarnya aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu."
"Bantuan apa?"
Claira menceritakan perihal masalahnya, "Jadi gitu, bisa kan Jo?"
"Kenapa kamu memilih aku, kenapa gak sama teman kamu yang lain?"
"Soalnya, kamu temannya Dean, dan aku tahu temannya Dean itu orang baik."
"Bagaimana Dengan teman laki-lakimu yang lain?"
"Emm, gak tahu, aku maunya sama kamu aja."
"Menarik, baiklah, aku akan membantumu, kapan aku harus bertemu dengan ibumu?"
"Di waktu kamu lagi free aja."
Jo mengangguk, "Boleh,"
"Oke, nanti kabarin aku ya,"
"Siap,"
"By the way, aku gak ngehambat pekerjaan kamu kan?"
"Enggak, kebetulan hari ini pasiennya cuma sedikit."
"Oh, kalau Dokter, bilangnya sedikit itu sekitar seratus pasien per hari ya Dok,"
"Enggak juga lah, kebanyakan itu."
"Hahaha, baiklah Jo, sepertinya aku sudah banyak membuang waktu luangmu, sebelumnya terimakasih sudah mau membantuku, aku pamit pulang dulu."
__ADS_1
"Baiklah, sampai jumpa Clair,"
"Sampai jumpa," Balas Claira dengan full senyum.