
Setelah Anindira meyakinkan kedua orang tuanya akhirnya mereka mengizinkan Anindira untuk tinggal sampai Aluna sembuh.
Orang tua Anindira kembali ke rumahnya.
"Terimakasih Dira, terimakasih karna kamu sudah bersedia untuk kembali ke rumah ini lagi." Ucap mamanya Leon.
"Mama tidak usah mengucapkan terimakasih, aku bersedia kembali hanya demi Mba Aluna." Ucap Anindira sambil berlalu ke kamarnya.
Mamanya Leon menghela nafas melihat sikapnya Anindira yang begitu dingin padanya.
"Mungkin ini hukuman untukku, karna dulu aku juga ikut menyalahkanmu." Ucap mamanya Leon dalam hati.
"Nona, tuan kecil sudah tertidur dengan pulas." Ucap Ana pada Anindira.
"Baiklah, terimakasih Ana. Sekarang kamu boleh kembali!"
"Baik nona,"
Anindira menghampiri anaknya yang sedang terlelap, "Apa kamu senang berada di sini Nak? apa kamu senang tinggal bersama keluarga ayahmu? setelah Mama Aluna sembuh, kita akan kembali ke rumah kakekmu ya, sepertinya akan lebih baik jika kita tinggal bersama kakekmu."
"Nyonya Besar, Nyonya Besar," terdengar suara Bi Sri yang sedang memanggil-manggil mamanya Leon.
Anindira keluar dari kamarnya.
"Ada apa Bi Sri?" tanya mamanya Leon.
"Anu Nyonya, Non Aluna telah sadarkan diri."
"Kamu yakin?! kamu gak salah bicara kan?"
"Tidak Nyonya, saya tadi sedang membersihkan kamar Nona, saya melihat tangan Non Aluna bergerak, dan sepertinya Nona memanggil-manggil Non Dira dan Tuan Kecil."
Mamanya Leon langsung pergi ke kamarnya Aluna untuk memeriksanya, "Aluna," mamanya Leon memanggil Aluna sambil memegang tangannya.
"Di.. ra, Ra.. jendra," ucap Aluna sambil terengah-engah seperti kehabisan nafas.
Anindira langsung menghubungi Dokter Andri untuk memeriksa Aluna.
Kemudian Anindira menyusul mamanya Leon ke kamarnya Aluna.
"Pa, ibu, ayah, cepat panggil Dokter Andri ke sini!" teriak mamanya Leon.
"Aku sudah menghubungi Dokter Andri, dia akan segera datang!" ucap Anindira pada mamanya Leon.
Beberapa menit kemudian, Dokter Andri datang dan memeriksa keadaan Aluna.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" ucap mamanya Leon hawatir.
"Dia sudah melalui masa kritisnya, tapi kalian masih harus memperhatikan kesehatannya setiap saat, jangan sampai lengah! Suruh seseorang untuk menebus resep obat ini!" Dokter Andri memberikan resep obat pada mamanya Leon untuk di tebus.
"Biar aku saja yang pergi untuk menebus obatnya!" kata Anindira.
"Baiklah," mamanya Leon memberikan resep obat itu pada Anindira.
__ADS_1
Ketika Anindira baru saja akan pergi Aluna memanggil namanya, "Anindira," kata Aluna dengan mata sedikit terbuka.
Anindira berbalik dan menghampiri Aluna lalu memegang tangannya, "Iya Mba aku di sini! Mba tidak usah hawatir aku tidak akan pergi kemanapun aku hanya akan pergi sebentar untuk menebus obat."
Aluna pun kembali menutup matanya, "Aluna, dokter apa yang terjadi padanya?" tanya mamanya Leon dengan perasaan cemas.
"Tidak apa-apa, dia hanya tertidur! setelah mendapatkan obatnya, nanti berikan obat itu jika dia sudah terbangun."
"Baik dok," ucap Anindira, "Aku akan menebus obatnya dulu."
"Ana,"
"Iya Nona,"
"Aku minta tolong titip Rajendra lagi, aku akan pergi menebus obatnya Mba Aluna sebentar."
"Iya Nona, saya akan menjaga Tuan Kecil."
Anindira segera pergi untuk menebus obat dengan menaiki taxi.
Beberapa menit kemudian dia sampai di apotek, ketika Anindira mau membayar obat, Leon melihatnya dia menghentikan mobil lalu turun dari mobilnya.
Leon menghampiri Anindira dan bertanya padanya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"
Anindira hanya melirik Leon sebentar dan menjawab, "Aku sedang menebus obat." Sambil mengambil kembalian.
"Menebus obat apa, dan untuk siapa?"
"Untuk Mba Aluna, dia tadi sadarkan diri dan Dokter Andri menyuruh untuk menebus obat."
"Untuk apa aku berbohong!"
"Kalau begitu ayo kita cepat pulang!" ucap Leon sambil menarik lengan Dira.
"Pelan-pelan, aku bisa jalan sendiri." Kata Anindira sambil menepis tangan Leon.
Dia membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil mendahului Leon.
Leon hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan sikap Anindira yang seperti itu.
Setelah sampai di rumah, Dira turun dari mobil dan buru-buru masuk ke dalam, dia pergi ke kamarnya Aluna dan Leon mnegikutinya dari belakang.
Ketika Anindira dan Leon masuk ke kamar, Aluna sudah terbangun dari tidurnya dan sedang di ambil sample darahnya oleh Dokter Andri.
"Dira, Mas Leon," ucap Aluna.
Anindira dan Leon menghampiri Aluna.
"By, kamu sudah sembuh! bagaimana keadaanmu, apa masih ada yang sakit?" ucap Leon dengan perasaan haru bercampur cemas.
"Aku sudah merasa lebih baik mas."
"Mba, kata dokter andri Mba harus meminum obat ini!"
__ADS_1
Anindira memberikan obatnya kepada Leon, Leon memberikan obat itu pada Aluna dan memberikannya minum.
"Bagaimana perasaan Mba sekarang?" tanya Anindira pada Aluna.
"Lebih baik, dira, terimakasih karna kamu masih ada di sini untukku! aku bahagia" ucap Aluna sambil memegang tangan Dira.
"Bagaimana caranya aku memberitau Mba Aluna kalau aku tinggal di sini hanya sampai Mba aluna sembuh, apa dia akan baik-baik saja?" ucap Anindira dalam hati.
"Ada apa Dira, apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak ada, aku senang melihat Mba sembuh!"
Aluna tersenyum senang mendengar perkataan Anindira.
"Oh ya, sebentar ya Mba aku akan melihat Rajendra dulu."
"Bawa dia ke sini Dira! aku ingin bertemu dengannya."
"Baiklah," ucap Anindira sambil tersenyum.
"Mas, kamu harus mempertahankan Dira di rumah ini! jangan sampai dia pergi lagi!"
"Iya, aku akan berusaha untuk tidak membuat dia pergi lagi dari rumah ini. Tapi kamu juga harus berjanji kalau kamu akan terus berjuang melawan penyakitmu, aku ingin kamu sembuh lagi seperti dulu!"
"Iya, selama kalian ada di sini aku akan terus berjuang untuk tetap hidup, kalian adalah kekuatan untukku."
Leon meneteskan air mata dan memeluk Aluna dengan lembut.
"Nona, Tuan Kecil menangis mungkin dia lapar." ucap Ana.
"Ah iya, Aku sudah lama meninggalkannya dia pasti sangat lapar." Ucap Anindira sambil menggendong putranya.
"Maaf ya Nak, kamu lapar ya?"
Anindira menyusui anaknya lalu membawanya ke kamar Aluna.
"Rajendra, mama ingin sekali memelukmu." ucap Aluna dengan penuh haru.
Anindira menaruh Rajendra kecil di pangkuannya Aluna.
"Leon, mama ingin bicara denganmu!" ucap mamanya pada Leon.
Mamanya Leon keluar dari kamar dan Leon mengikutinya, "Ada apa ma?" tanya Leon.
"Sekarang Aluna sudah sembuh, Anindira dan Rajendra juga ada di sini, bagaimana kalau kita mengadaka acara tasyakuran untuk kesembuhan Aluna dan tujuh harinya Rajendra!"
"Iya, aku setuju ma, untuk acaranya mama saja yang mengaturnya!"
Keesokan harinya, mamanya Leon sibuk mempersiapkan semuanya.
Anindira yang baru saja memandikan putranya bertanya-tanya, "Kenapa semua semua orang terlihat sibuk hari ini?"
Karna Aluna tidak bisa berjalan, Leon menggendongnya dan mendudukannya di kursi roda sekarang berjalan pun dia harus bergantung pada kursi roda.
__ADS_1
"Selamat pagi sayangnya mama?" ucap Aluna pada Rajendra kecil yang sedang di gendong oleh Anindira.