
Dean tidak bisa berkonsentrasi dalam pekerjaannya dia masih saja kepikiran dengan kembalinya Gena ke kota itu.
"Bibi menyebut-nyebut tentang kehamilan Aira dengan orang itu! orang itu juga ingin bibi mencari tau tentang kebenaran anak yang di kandung Aira? apa hubungannya orang itu dengan kehamilan Aira?" ucap Dean dalam hati.
"Tapi untungnya besok kami akan pergi ke paris, walaupun dia merencanakan sesuatu dia tidak akan bisa mencelakai Dira dan Rendra. Walaupun begitu aku harus tetap memastikan keselamatan mereka sampai keberangkatan kami ke paris besok."
Kembali ke rumah Anindira.
Hari ini dia akan pergi ke rumahnya Leon untuk berpamitan kepada keluarga mereka, sebelum pergi dia menelpon Leon terlebih dahulu.
"Halo bang,"
"Iya Dira, apa kalian sudah berangkat?"
"Belum, aku dan Rendra baru saja selesai berkemas, Aku akan berangkat sebentar lagi."
"Baiklah, aku akan menjemput kalian ke sana."
"Tidak perlu bang! abang pasti sedang sibuk sekarang, kami naik bus saja."
"Tidak masalah, orang rumah yang akan mempersiapkan semuanya di sini jadi kamu gak perlu hawatir."
"Tapi bang," tut.. tut.. tut.. telponnya terputus, "Halo bang, hhahh dia langsung mematikan telponnya? padahal dia tidak perlu repot-repot seperti itu."
"Tuan Muda, apa sebaiknya Tuan Muda tetap di sini saja, tidak baik jika mempelai laki-laki bepergian sebelum hari pernikahan."
"Aku tidak perduli dengan hal-hal seperti itu, kamu saja yang tetap di sini dan membantu orang-orang di rumah! aku akan pergi sekarang."
"Baik Tuan Muda."
Leon pergi untuk menjemput Anindira dengan mengendarai mobilnya.
"Bram, Leon mau pergi kemana?" tanya mamanya Leon
"Tuan Muda pergi untuk menjemput Nona Anindira, dan Tuan Kecil Nyonya."
"Oh, pantas saja dia terburu-buru seperti itu."
"Nona sudah melarang tuan untuk tidak menjemput tapi tuan tetap ingin pergi Nyonya."
"Biarkan saja, ini hari terakhir Leon bertemu dengan mereka begitu juga aku." Kata mama Leon sambil beranjak ke dalam rumah dengan perasaan sedih.
"Kasihan Tuan Muda dan Nyonya, mereka pasti sedih akan berpisah dengan nona dan Tuan Kecil." Gumam Bram.
Setelah Leon menjemput Anindira mereka langsung berangkat lagi menuju rumahnya Leon.
"Kenapa malah abang sendiri yang menjemput? padahal abang bisa menyuruh Kak Bram kan!"
"Gapapa, ini terakhir kalinya aku bertemu dengan kalian aku tidak mau kehilangan momen yang paling penting seumur hidupku, kapan lagi aku bisa bertemu langsung dengan kalian seperti sekarang ini."
"Maaf ya bang, aku tidak bermaksud untuk menjauhkanmu dari Rendra, tapi kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali aku sudah memutuskan untuk selalu menemani Dia dalam setiap langkahnya, aku juga akan melanjutkan keinginanku yang sempat tertunda sambil mengembangkan bisnis butik yang sudah aku rintis sendiri dari enol."
"Iya, aku akan selalu mendo'akanmu karna yang terpenting adalah kebahagiaan kalian."
Setelah mereka sampai di kediaman Pradana Anindira dan Rendra langsung menemui keluarganya Leon.
Sedangkan di rumahnya Aira, dia merasa gusar
__ADS_1
karna memikirkan kembalinya jimy ke kota itu, di tambah lagi dengan Gena yang meminta uang sebanyak itu darinya.
"Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan?" gumam Aira.
mamanya Aira yang merasa heran melihat Aira mondar mandir dari tadi bertanya padanya, "Ada apa, kenapa kamu terlihat gelisah."
Aira sedikit terkejut saat mamanya menghampiri dia.
"Kenapa kamu terkejut seperti itu? kamu melihat mama seperti melihat hantu saja."
"Maaf ma, bukan begitu! aku hanya merasa gugup karna aku akan menikah besok."
"Itu wajar, karna ini pernikahan pertamamu. Apa kamu sudah mengambil baju pengantinnya?"
"Ah iya, aku akan mengambilnya sekarang, aku akan menelpon Mas Leon dulu."
"Ya sudah, cepat kamu telpon dia."
Aira pergi ke luar rumah untuk menelpon Leon, "Halo mas,"
"Iya,"
"Kamu sedang apa?"
"Aku sedang mengobrol bersama keluargaku."
"Oh, apa kamu bisa menemaniku untuk mengambil baju hari ini?"
"Tapi sekarang aku tidak.."
"Itu suara Anindira, sedang apa dia di rumahnya Mas Leon?" kata Aira dalam hati.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
"Dia selalu mendengarkan setiap perkataan wanita itu." Ucap Aira dalam hati dengan perasaan kesal.
"Aira?"
"Ah iya mas kalau begitu bisakah mas menjemputku ke rumah?"
"Baik, aku akan segera ke sana."
"Oke terimakasih mas."
"Hmmh" Kemudian Leon menutup telponnya, "Rendra papa pergi dulu sebentar ya, papa akan segera kembali."
"Apa Lendla boleh ikut pa?" kata Rendra.
"Gak boleh sayang! papa akan pergi sama Tante Aira nanti kamu merepotkan mereka. Kamu di sini aja ya main sama nenek, nenek buyut, dan kakek buyut!"
"Gapapa Dira biar Rendra ikut denganku, aku senang jika dia ikut."
"Tapi bang, apa Aira tidak akan merasa terganggu dengan Rendra?"
"Sebentar lagi dia akan menjadi ibu dari Rajendra juga, seharusnya itu tidak menjadi masalah untuknya."
"Boleh ya ma! Lendla kan tidak akan bisa pelgi baleng papa lagi nanti."
__ADS_1
"Biarkan saja Rendra pergi bersama papanya Dira, lagi pula setelah ini mereka tidak akan bisa pergi bersama lagi." Kata mama Leon.
"Baiklah, tapi kamu jangan menyusahkan papa sama Tante Aira ya!"
"Iya ma,"
"Janji!"
"Janji!"
Rendra pun ikut bersama Leon dan Aira untuk mengambil baju pernikahan mereka.
"Jadi Anindira datang ke rumah Mas untuk mengantarkan Rendra?"
"Iya,"
"Apa Rendra dan Dira akan menginap di rumah mas?"
"Tidak," jawab Leon singkat.
Aira berhenti bertanya, karna Leon selalu menjawab pertanyaannya dengan singkat dan dingin.
Sesampainya di butik, Rendra melihat mainan luvin ranger kesukaannya di toko sebelah, pandangannya tidak bisa lepas dari mainan itu dia berdiri mematung tanpa bergeming.
"Lendla ingin mainan itu, tapi Lendla udah janji sama mama Lendla gak akan nyusahin papa, kalau Lendla minta papa beliin mainan itu sekalang pasti tante itu ngambek sama papa." Oceh Rajendra dalam hati.
Leon menyadari kalau putra kesayangannya menginginkan mainan itu, "Apa Rendra menginginkan mainan itu?"
"Iya," Rendra spontan menjawab, "Gak boleh! Lendla sehalusnya gak boleh menjawab iya." Gumam Rendra.
"Kenapa gak boleh? Rendra kan anak papa kalau Rendra menginginkan sesuatu Rendra tinggal bilang sama papa."
"Papa dengal yang Lendla bicalakan balusan?"
"Dengar, sekalipun Rendra bicara dalam hati papa pasti dengar."
"Kok bisa begitu?"
"Iya, karna papa dan Rendra satu hati ayo kita beli mainan itu sekarang."
Rendra terdiam dan menatap Aira.
"Gapapa sayang, ayo pergi beli mainan itu! biar tante sendiri saja yang masuk ke dalam mengambil baju nya."
"Benelan gapapa tante?"
"Iya sayang, pergilah bersama papamu!" ucap Aira sambil melemparkan senyum terpaksa.
"Pergilah bersama Rendra mas!"
Leon hanya diam dan tidak memperdulikan ucapan Aira.
"Mas tidak perlu ikut masuk, kalau sudah selesai tunggu saja di luar."
"Iya," kata Leon sambil pergi membawa Rajendra ke toko mainan itu.
"Semenjak Mas Leon tau aku menaruh obat itu ke dalam minumannya sikapnya menjadi lebih dingin padaku, apalagi kalau sampai dia tau sebenarnya malam itu dia tidak melakukan apapun padaku karna dia langsung pingsan, mungkin dia akan langsung membuangku tanpa berpikir panjang. Kamu ini memang bodoh Aira seharusnya waktu itu kamu merencanakan semuanya dengan hati-hati."
__ADS_1