
Anindira melepaskan tangan Leon dan pergi bersama orang tuanya.
Leon hanya bisa menangis menyesali semuanya, Dean menepuk-nepuk pundak Leon.
"Namamu Dean kan?" tanya Leon pada Dean.
"Iya, kenapa?"
"Terimakasih atas bantuanmu! aku ingat, ini bukan pertama kalinya, Saat Rajendra lahir kamu juga yang membantuku."
"Itu bukan apa-apa kok, aku membantumu atas rasa kemanusiaan." Goda Dean.
"Jangan mencoba menggodaku, aku tidak butuh badut penghibur."
Dean melihat kasana kemari, "Siapa badut penghibur?"
"Sudahlah, aku mau pulang, sebaiknya kau juga pulang sana!"
"Aku tau di dalam hatimu ada rasa cinta untuk Anindira." Gumam Dean lalu pergi untuk pulang.
Leon pulang ke rumah dengan muka kusut dan sedih.
"Leon? apa yang terjadi? kata Aluna Rajendra menghilang, dan kalian pergi mencarinya."
"Iya,"
"Bagaimana bisa ada penyusup masuk ke rumah kita, padahal keamanan di rumah ini sangat ketat."
"Rajendra di bawa oleh bibinya Anindira, dia menerobos masuk ke dalam rumah kita di saat kita sedang lengah."
"Apa?! dia lagi, dia lagi, lalu apa kamu berhasil menangkap Gena dan membawa Rajendra kembali?"
"Iya, Rajendra selamat, tapi Gena berhasil melarikan diri."
"Harusnya para polisi mencari wanita itu sampai ketemu, dan menghukum dia dengan hukuman yang seberat-beratnya! oh ya, mana Rajendra? bukankah barusan kamu bilang kamu berhasil membawanya kembali dengan selamat."
"Iya, tapi dia sekarang bersama Anindira ikut pulang ke rumah orang tuanya."
"Jadi, mereka benar-benar membawa Rajendra pergi."
"Iya, aku tidak berdaya aku hanya bisa membiarkan mereka pergi."
Tiba-tiba Ana berteriak dan berlari keluar dari kamar Aluna, "Nyonya besar, tuan,"
"Ada apa Ana kenapa kamu teriak-teriak seperti itu?" tanya mamanya Leon.
"Non Aluna Nya, Non Aluna."
"Ada apa dengan Aluna?" tanya Leon panik.
__ADS_1
"Itu tuan, lebih baik tuan ikut saya ke kamar Non Aluna sekarang."
Leon dan mamanya mengikuti Ana ke kamar Aluna, dan ketika mereka masuk Aluna sudah terbaring pingsan.
"Ana apa yang terjadi padanya?" tanya Leon sambil memegang wajah istrinya.
"Tadi Nona bilang Nona merasa sesak lalu Nona meminta saya untuk membawakan obat, dan alat bantu pernapasan, setelah itu Nona kehabisan nafas, saya, saya panik dan langsung pergi dari kamar untuk memanggil nyonya dan tuan.
"Panggil Dokter! panggil Dokter Andri sekarang juga!" teriak Leon.
Mamanya Leon langsung menghubungi Dokter Andri.
Beberapa menit kemudian Dokter Andri sampai di kediaman Pradana, Dokter memeriksa keadaan Aluna dan dia bilang Aluna harus segera di bawa ke rumah sakit.
Mereka pun bersiap-siap dan membawa Aluna ke rumah sakit bersama Dokter Andri.
Sesampainya di rumah sakit, Aluna langsung di masukan ke ruang ICU. Ketika Aluna sedang di tangani team medis, dia sadarkan diri dan menyebut-nyebut nama Anindira dan Ranjendra.
Dokter Andri memanggil Leon masuk ke ruang ICU.
Dia mendekati Aluna dan memegang tangan istrinya, "Sayang, ini aku, suamimu bukalah matamu."
"Mas.."
"Iya, aku di sini!"
"Mas.. aku, aku.." Aluna bicara dengan nafas tersenggal-senggal.
"Aku, ingin berte..mu dengan Anindira, dan Ra..jendara."
Leon terdiam dia tidak tega memberitau Aluna kalau Anindira dan anaknya telah pulang ke rumahnya.
"Mas.. ke..napa kamu diam? apa Rajendra sudah di te..mukan?"
"Iya, Rajendadra sudah di temukan, kamu gak perlu hawatir, dia sudah pulang ke rumah dengan selamat, dan sekarang dia sedang tertidur pulas di kamarnya."
Aluna tersenyum, dan meneteskan air mata bahagia, "Di..mana Dira?"
"Dia juga sedang beristirahat, sepertinya dia kelelahan karna mencari Rajendra, dia tertidur saat menidurkannya." Ucap Leon sambil mengusap air matanya.
"Aku se..nang mendengarnya mas, boleh aku tanya sesuatu pada..mu?"
"Iya, tentu saja, kamu mau tanya apa by?"
"Apa kamu men..cintai Di..ra?" ucap Aluna dengan nada bicaranya yang semakin melemah.
"Entahlah, yang aku tau aku mulai perduli padanya."
"Mas, jangan per..nah ke..cewakan dia lagi! kalian harus hidup baha..gia."
__ADS_1
"Tentu, kita semua akan hidup bahagia! kita akan berkumpul, dan memulainya lagi dari awal."
"Waktuku, sudah tidak banyak lagi mas, bisakah kamu ber..janji padaku un..tuk selalu menjaga Dira dan Ra..jendra? cintai dan sayangi mereka seperti kamu mencintai dan menyaya..ngiku!"
"Iya, iya, tentu saja aku bisa melakukannya, makanya kamu juga harus berjuang untuk sembuh! bukankah kamu sangat menyayangi mereka? maka kamu harus sembuh untuk mereka."
"Terimakasih, maafkan aku mas, aku ti..dak bisa menemanimu lagi. Terimakasih untuk cintamu yang begitu besar padaku, terimakasih untuk semuanya!" ucap Aluna sambil memegang wajah suaminya, tangan Aluna bergetar saat memegang wajahnya.
Leon memegang tangan Aluna dengan erat.
"Sampaikan salam sayangku pada Ra..jendra, dan sampaikan permintaan maafku pada Anindira, katakan padanya kalau aku menyayanginya seper..ti adikku sen..diri." Semakin lama suara Aluna semakin melemah.
Bibirnya bergetar, air matanya terus menetes, dan nafasnya tersenggal-senggal kemudian dia tak sadarkan diri.
"Tidak, sayang, by, buka matamu! dokter? dokter, tolong istri saya!" Teriak Leon sambil menangis histeris.
Dokter Andri pun bergegas menghampiri Aluna dan memeriksa kondisinya.
Kedua orang tuanya Leon masuk untuk menenangkan Leon dan membawanya keluar dari ruang ICU.
"Tenanglah Leon! kamu harus sabar." Kata mamanya.
"Kita tunggu hasil akhir pemeriksaan dari dokter." Sambung papanya Leon.
Setengah jam kemudian, dokter Andri keluar dari ruang ICU.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya? dia baik-baik aja kan?"
"Maaf Leon, Aluna.."
"Ada apa? kenapa dengan istri saya dok?"
"Kamu harus kuat Leon, kami sudah berusaha semampu kami."
"Apa maksud dokter? katakan dengan jelas!" Leon berteriak sambil menarik kerah baju Dokter Andri.
"Leon, tenanglah jangan seperti ini!" ucap mama Leon mencoba menenangkannya lagi.
"Apa yang terjadi dokter?" tanya ayahnya Leon.
"Aku harap kalian semua bisa menerima kenyataan ini, Aluna.. dia sudah tiada."
"Tidak, ini tidak mungkin! Aluna tidak mungkin pergi meninggalkan aku. Kamu bohong kan dokter!" teriak Leon pada Dokter Andri.
"Leon, yang menentukan umur seseorang itu bukan tenaga medis ataupun dokter, kami hanya bisa berusaha semampu kami! jika sang maha pencipta sudah berkehendak kami pun tidak bisa berbuat apa-apa." Ucap dokter Andri berusaha memberi penjelasan dan pengertian pada Leon.
"Sebelum Aluna pergi dia berpesan, kamu harus bisa mengikhlaskan kepergiannya, atau dia tidak akan bisa pergi dengan tenang."
"Kenapa, kenapa dia pergi meninggalkanku! Dira dan Rajendra sudah pergi dariku, sekarang kamu juga pergi, lalu bagaimana denganku!"
__ADS_1
"Bersabarlah Leon! aku yakin kamu pasti bisa melalui ini semua." Kata dokter Andri sambil memegang pundak Leon.
Kedua orang tuanya Leon diam terpaku, mereka tidak percaya kalau Aluna menantu kesayangan mereka pergi secepat itu meninggalkan mereka untuk selamanya.