Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 82


__ADS_3

Dean jadi salah tingkah, wajahnya memerah karna malu.


"Apa paman gugup?"


"Dasar bocah, berhenti mengejekku."


"Aku tidak mengejek, hanya.. menggoda saja." Sambil tertawa cekikikan.


"Hentikan, jangan bicara lagi,"


"Hahaha, paman, hampir setiap hari kamu bertemu mamaku, kenapa sekarang kamu gugup."


"Berhenti mengoceh, kamu membuatku semakin gugup."


"Maaf, maaf, jangan gugup paman aku yakin mama pasti bisa membuka hatinya untuk paman, aku selalu mendukung paman, semoga berhasil."


"Terimakasih boy,"


"Kamu sudah datang?" Kata Anindira, yang baru saja turun dari lantai atas, dia menggunakan dres panjang warna pink pich dengan rambut di urai.


"Iya,"


"Maaf, apa kamu menunggu lama?"


"Enggak, aku baru saja datang."


"Kenapa Dean terlihat tegang?" Ucap Anindira dalam hati.


"Ayo kita berangkat," Kata Dean.


Anindira mengangguk.


Dean membawa Anindira ke restoran milik Leon.


"Ini.. kenapa kamu membawaku ke resto milik Bang Leon?"


"Karna ini juga keinginan Leon."


"Maksud kamu?"


"Ayo, duduklah,"


"Jadi, ini yang mau kamu tunjukan? apa kamu sungguh berpikir kalau aku belum pernah mengunjungi restoran ini?"


"Tidak, bukan seperti itu."


"Lalu?"


"Sebelumnya, kamu harus berjanji kalau kamu tidak akan marah."


"Apa sih? kamu membuat aku penasaran aja."


"Ya pokoknya kamu harus janji dulu."


"Oke iya, iya,"


"Janji?"


"Iya, aku janji aku gak akan marah, sekarang katakan apa yang ingin kamu tunjukan padaku."


Dean mengeluarkan kotak kecil berwarna merah berbentuk hati dari saku jasnya.


"Ini, Rajendra yang memberikannya padaku, dan ini di berikan oleh Leon, kamu ingat dengan ucapan terakhir Leon waktu di rumah sakit? ternyata dia sudah mempersiapkan ini dari jauh-jauh hari untuk kita."


"Untuk kita?! apa maksudnya?"


"Rendra bilang Leon menitipkan sepasang cincin ini untuk kita, dia mau kita hidup bersama selamanya."


"A apa yang kamu katakan?"


"Dira, sebenarnya.. selama ini aku sangat mencintaimu, dan Leon tau itu, dengan ini dia memberi kesempatan padaku untuk menyatakan perasaanku padamu, aku ingin hidup bersama denganmu untuk selamanya, maukah kamu menikah denganku?"


"Kamu bercanda kan Dean?"


"Aku serius,"


"Enggak, gak mungkin, ini.. pasti ada yang salah, kamu dan Clair? bukannya kalian sedang pendekatan?"


"Aku dan Clair tidak ada hubungan apa-apa, selama ini kami hanya berteman."

__ADS_1


"Apa?! tapi Clair sangat mencintaimu."


"Aku tau, tapi cinta sepihak itu tidak akan berhasil, yang ada Clair akan tersakiti setiap hari karna aku tidak pernah mencintainya, aku.. aku hanya mencintaimu Dira, dari dulu sampai saat ini hanya kamu."


"Tidak bisa, ini salah Dean,"


Anindira beranjak dari kursi dan hendak pergi dari resto, tapi Dean menghentikannya dengan memegang tangannya.


Anindira melepaskan genggaman tangan Dean, "Aku, aku butuh waktu untuk memahami semua ini, aku tidak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi." Katanya lalu pergi.


"Dira,"


Anindira berlari dan memanggil taxi, lalu pergi meninggalkan Dean.


"Ya ampun, harusnya kalau dia marah pukul saja aku marahi saja, bukannya malah pergi meninggalkanku begitu saja, hhah, Maaf Leon hari ini aku gagal, entah apa yang harus aku lakukan untuk membujuknya, dia begitu keras kepala."


Anindira pulang ke rumah dengan raut wajah kesal.


"Mama?! mama sudah pulang, kenapa cepat sekali?"


"Mama tidak jadi pergi dengan pamanmu," Ucapnya sambil berlalu ke kamar.


"Ma, apa terjadi sesuatu?"


"Tidak, tidak nak, mama merasa tidak enak badan makanya mama kembali."


"Mama sakit? kalau gitu Rendra akan ambilkan air dan obat untuk mama."


"Tidak usah Rendra, kamu sudah makan malam?"


"Sudah ma,"


"Hm, baguslah, kamu tidak usah hawatir mama cuma butuh istirahat saja."


"Baiklah, tapi kalau mama butuh sesuatu kasih tau Rendra ya."


"Iya," Anindira masuk kamar.


"Ini terlalu mendadak, kenapa semuanya serba tiba-tiba? Dean.. bagaimana reaksi Clair kalau dia tau, dia pasti akan membenciku." Ucap Anindira mengomel sendiri.


"Maafkan aku Clair,"


Dean mengirim pesan pada Rajendra untuk menanyakan keadaan Anindira.


Malam itu turun hujan, Dean duduk di dalam mobil di depan gerbang rumah Anindira, dia mengirim pesan pada Rajendra, "Aku di sini," Katanya.


"Dimana?" Katanya membalas pesan Dean.


"Di depan rumahmu,"


Rajendra langsung pergi keluar sambil memakai payung, dia membuka gerbang rumah dan masuk ke mobil Dean.


"Ada apa ini paman, apa terjadi sesuatu padamu dan mama?"


"Menurutmu?"


"Ayolah paman, aku tidak sedang mengajakmu bermain tebak-tebakan."


"Rendra, aku dan mamamu tidak sedang baik-baik saja."


"Kenapa, apa hasilnya tidak sesuai harapan?"


"Ya, mamamu sangat marah, sehingga dia mencampakkanku begitu saja."


"Haah, lalu apa yang akan paman lakukan?"


"Tidak tau, aku datang kemari karna hawatir pada mamamu, aku akan bicara lagi padanya saat dia sudah merasa tenang."


"Ya sebaiknya begitu, paman harus beri ruang untuk mama."


"Hm,"


"Mau menginap?"


"Tidak, bisa-bisa aku di pukuli mamamu nanti, aku pulang saja."


"Baiklah,"


"Masuklah, dan berikan ini pada mamamu." Dean memberikan sebuah paper bag yang berisi makanan, minuman, dan vitamin.

__ADS_1


"Terimakasih paman," Rajendra masuk ke dalam rumah.


Dean memutar balikan mobilnya dan pulang.


"Ma, mama sudah tidur?" Rajendra memanggil Anindira dari luar pintu kamar.


Anindira membuka pintu, "Ada apa Nak?"


"Paman Dean memberikan ini untuk mama, katanya mama belum sempat makan malam, makanlah selagi masih hangat ma,"


Anindira menarik nafas, "Baiklah, mama akan memakannya nanti." Katanya sambil mengambil makanan yang di bawa Rajendra.


"Jangan sampai gak di makan ya ma, sayang makanannya."


"Hm, kalau begitu kamu harus menemani mama makan."


"Baiklah, bukan hanya menemani, tapi Rendra juga akan menyuapi mama."


Anindira tersenyum kecil, "Ayo,"


Anindira dan Rajendra duduk di ruang makan, Rajendra menyuapi mamanya dengan penuh kasih sayang.


"Mama juga harus minum vitaminnya ya,"


"Iya,"


Esok hari,


Selesai sarapan pagi, Dean datang ke rumah Anindira untuk menjemputnya.


Ting, tong,


Rajendra membuka pintu, "Paman,"


"Bagaimana kabar mamamu hari ini?"


"Sepertinya mama sudah lebih tenang paman."


"Syukurlah,"


"Rendra, siapa yang datang sayang?"


"Aku," Kata Dean.


Anindira termangu, dia mengingat perkataan Dean yang semalam.


"Aku datang untuk mengajakmu berangkat ke kantor bersama."


"Tugas kamu sekarang di kantornya Leon, jadi kita gak searah."


"Gapapa, aku bisa mengantarmu dulu."


"Tidak usah Dean,"


"Dira tolong, bisakah kita kembali seperti biasa?"


"Maaf, aku sudah ada janji, kita tidak bisa pergi bersama, aku buru-buru, Rendra, mama berangkat dulu." Katanya sambil pergi.


"Lihat, mamamu begitu marah, hingga dia berusaha menghindariku."


"Paman harus lebih berusaha lagi, mungkin mama belum bisa menerima, karna selama ini mama kira paman dan Tante Clair menjalin hubungan."


"Iya ini salahku juga sih, aku akan memperbaikinya nanti, ayo aku akan mengantarmu ke kampus."


"Pulang nanti paman gak usah jemput, aku bareng temanku."


"Temanmu akan datang ke rumah?"


"ya,"


"laki-laki atau perempuan?"


"Bermotor,"


"Perempuan jaman sekarang memang hebat, bisa mengendarai motor atau pun mobil."


"Bukan perempuan, tapi, laki-laki."


"Laki-laki?"

__ADS_1


"Iya,"


"Aku kira perempuan," Goda Dean.


__ADS_2