
Aluna langsung memeluk Anindira,
dan mereka mengajak Anindira untuk pulang ke rumah namun Anindira menolaknya.
"Dira, ayo kita pulang ke rumah!"
"Maaf Mba, aku tidak bisa ikut dengan kalian."
"Kami tau, kami bersalah padamu kami menuduhmu tanpa bukti dan langsung mengusirmu dari rumah. Maafkan kami! aku mohon kembalilah ke rumah!"
"Tidak! aku pergi atas kemauanku sendiri kalau aku memilih tinggal di rumah itu aku tidak akan pergi, aku akan mempertahankan hak anakku meskipun kalian mengusirku."
"Ini sudah menjadi keputusan akhirku Mba, aku akan melahirkan anak ini sendiri!"
"Pulanglah! aku berjanji aku akan memperlakukanmu dengan baik, dan setelah anak itu lahir kita akan melakukan tes DNA." Ucap Leon.
"Hhehh, kenapa? apa kamu masih tidak percaya kalau ini adalah anakmu? lalu kenapa kamu menyuruhku kembali ke rumah itu?"
"Maksud Mas Leon bukan seperti itu Dira aku percaya dia adalah anaknya Mas Leon, dia anakku juga karna aku merasakan ikatan yang kuat dengannya meskipun dia bukan dari rahimku Dia adalah anak kandung Mas Leon."
"Ikut aku pulang ya!" bujuk Aluna.
"Pulang kemana? memangnya Dira punya rumah selain rumah ini?" ucap ayahnya Dira.
"Paman?!"
"Mau apa kalian ke sini? dan kamu! kenapa kamu datang?" ucap ayahnya Dira pada Leon.
"Aku adalah suaminya, aku masih punya hak atas dia."
"Hak?! hak yang seperti apa?! kamu pikir kamu itu adalah suami yang baik? jangan harap kamu bisa membawa anak dan calon cucuku pergi dari sini."
"Paman, aku mohon aku sangat menginginkan anak itu, aku sangat menyayanginya meskipun dia belum lahir." Ucap Aluna memelas.
"Nak Aluna, aku bisa mengerti perasaanmu, tapi anak itu adalah milik kami kami tidak bisa memberikannya pada kalian sampai kapan pun."
Ayahnya Dira masuk ke rumah, untuk mengambil sejumlah uang dan memberikannya pada Leon.
"Ini adalah sisa hutang kami yang kami pinjam darimu untuk biaya oprasi waktu itu! kami minta maaf karna anak kami belum bisa melunasinya."
"Tapi sekarang aku sudah membayar lunas semuanya, kami tidak berhutang lagi pada kalian."
"Oh ya, Dira anakku mana mas kawin yang waktu itu dia berikan padamu? kembalikan padanya berikut surat perjanjiannya!"
Anindira pergi ke kamarnya untuk mengambil mas kawin dan surat perjanjian itu.
Dia memberikannya pada ayahnya, "kami sudah mengembalikan semuanya jangan pernah datang lagi!"
Aluna menangis tersedu-sedu.
Anindira pun meteskan air mata, Leon hanya bisa diam membisu tanpa sebuah kata.
"Mba Aluna tidak perlu bersedih! kalau Mba mau Mba bisa datang ke sini untuk menemui anakku nanti."
__ADS_1
"Ayo kita pergi!" ajak Leon pada Aluna.
Merekapun pulang dengan perasaan sedih.
"Nak Dean? kapan kamu datang?" tanya ibunya Anindira yang baru saja pulang dari pasar.
"Baru saja bi."
"Ada apa? kenapa kamu menangis nak dan kenapa ayah terlihat sangat kesal?"
Mereka tidak menjawab.
"Apa ayah dan anak ini sedang bertengkar?"
"Enggak kok bu, gak ada apa-apa." Jawab Anindira sambil beranjak ke kamarnya.
"Ada apa ini ayah?"
Suaminya tidak menjawab, dia masih merasa sangat kesal.
Dia pergi mengambil cangkul dan cetok (tudung kepala) lalu pergi ke ladang.
"Ada apa sebenarnya?"
"Bi, apa aku boleh menemui Dira?"
"Iya boleh, masuklah nak"
Dean masuk ke dalam rumah dan mengetuk pintu kamar Anindira.
Anindira tidak meresponnya.
"Maafkan aku! seharusnya aku tidak membawa mereka ke sini! aku pikir mungkin kalau mereka datang menemuimu semuanya akan berakhir dengan baik tapi yang aku lakukan malah membuatmu bersedih."
Anindira mengusap air matanya dan membuka pintu kamarnya.
"Dira..."
"Gapapa Dean, aku baik-baik saja."
Anindira dan Dean duduk di kursi dan mengobrol.
"Maaf Dira.."
"Ini bukan salah kamu kok, mereka menemuiku hanya karna penasaran dengan anak ini."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
"Dari awal aku tidak berniat untuk kembali lagi, jika mereka ingin bertemu dengan anakku maka merekalah yang harus datang ke sini!"
"Tapi jika mereka menginginkan anakku sepertinya ayah benar, aku tidak harus memberikan anak ini, karna dia adalah milikku, anakku."
"Lagi pula bibi pasti tidak akan tinggal diam apalagi kalau dia sampai tau keberadaanku di sini dia pasti menghalalkan segala macam cara untuk menghancurkanku dan semua orang yang dekat denganku."
__ADS_1
"Kamu tidak perlu cemas, aku akan selalu bersamamu!"
"Apa yang sedang kalian bicarakan?"
"Bibi?!"
"Kenapa ibu mendengar nama mereka dan anak, mereka siapa yang kalian maksud? dan anak siapa yang kalian sebutkan?"
Anindira dan Dean saling pandang.
"Sebenarnya Leon dan Mba Aluna tadi datang ke sini dan mengajakku kembali ke rumah itu."
"Mereka datang ke sini?! pantas saja ayahmu terlihat sangat kesal. Dari mana mereka tau kita tinggal di sini?"
"Aku yang membawa mereka ke sini bi, maaf.."
"Dimana kamu bertemu dengan mereka?"
"Di dekat restoran tempat kerja Dira dulu. Aku melihat mereka seperti orang yang sedang kebingungan jadi aku menyapanya dan ternyata mereka memang kebetulan sedang mencariku."
"Mereka bilang selama ini mereka berusaha mencari Dira, dan menyelidiki orang yang mengaku-ngaku sebagai ayah dari anak yang di kandung Dira."
"Aku rasa mereka tulus dan sepertinya Leon juga terlihat menyesali perbuatannya, makanya aku bersedia membawanya ke sini."
"Tapi aku malah membuat keadaan menjadi buruk."
"Tidak apa-apa nak Dean, mungkin ini sudah takdir yang harus Dira jalani kami adalah orang tua Dira kami tidak akan membiarkan dia menghadapi masalahnya sendirian."
"Aku juga, aku juga akan selalu berada di samping Dira apapun yang terjadi."
"Terimakasih Dean kamu teman yang baik! tapi jangan melibatkan dirimu dalam masalah karna aku, aku akan sangat merasa bersalah padamu."
"Aku tidak keberatan, walaupun aku harus mempertaruhkan nyawaku sekalipun."
"Jangan katakan itu! kamu tidak boleh sembarangan bicara."
Ibu Anindira tersenyum haru mendengar perkataan Dean, karna hanya dia yang selalu menemani Anindira disaat senang maupun susah.
Bahkan di saat dia menemui masalah besar, dia selalu berada di sampingnya.
Sedangkan Leon dan Aluna pulang dengan membawa kesedihan dalam hatinya.
Aluna merasa kecewa pada dirinya sendiri karna tidak bisa mempertahankan Anindira dan anaknya.
Leon pun terlihat merasa bersalah, di satu sisi dia merasa bersalah karna sudah mengusir Anindira tanpa menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu.
Di sisi lain dia masih belum percaya sepenuhnya kalau anak yang di kandung Anindira benar-benar anaknya, karna foto terakhir yang di berikan Gena padanya membuat perasaannya goyah kembali.
Leon adalah orang yang keras kepala dan emosian sehingga dia mudah goyah atau terpengaruh oleh ucapan orang lain.
Malam hari mereka baru sampai di rumah.
Ayah Leon bertanya pada mereka yang baru kelihatan dari pagi, "dari mana saja kalian? kenapa jam segini baru pulang? sampai kalian melewatkan sarapan pagi dan makan malam."
__ADS_1
Mereka saling pandang, tapi tidak mengatakan apapun.
"Kenapa kalian diam saja? apa kalian bisu? kamu baru saja sembuh Aluna seharusnya kamu diam di rumah saja dan perhatikan kesehatanmu! kamu juga, sebagai suami kamu harusnya mengingatkan istrimu! bukan malah membawanya keluyuran dari pagi sampai larut malam seperti ini."