
Dean kesulitan memakai baju.
"Bisakah kamu kemari sebentar,"
"Ma mau apa?"
"Berbaliklah,"
Anindira tertegun,
"Kenapa kamu malu?"
"Kamu sedang tidak memakai baju."
Dean tersenyum, "Yang tidak memakai baju itu aku, kenapa kamu yang malu?"
"Bukan begitu, pakai dulu bajumu."
"Justru itu masalahnya, aku kesulitan memakainya."
Anindira menghampiri Dean dengan wajah menengok ke samping, dia membantu Dean memakai baju.
"Kenapa kamu memalingkan muka."
"Apa aku harus menatapmu ketika membantumu memakai baju? kita adalah dua orang yang sudah dewasa, itu tidak baik."
"Kalau begitu menikahlah denganku, supaya tidak ada larangan apapun di antara kita."
Anindira terdiam,
"Maaf, padahal aku bilang tidak perlu tergesa-gesa."
"Dean, tolong beri aku waktu sedikit lagi, aku harus memastikan perasaanku dulu."
"Iya, aku tau, aku minta maaf, kamu tidak perlu memikirkan perkataanku barusan, jangan membuatnya menjadi beban."
"Iya, apa masih ada lagi?"
"Tidak,"
"Apa sekarang aku boleh pergi?"
"Kalau aku bilang gak boleh bagaimana?"
Anindira tersenyum, "Aku harus bekerja, dan aku juga punya rumah, nanti aku akan datang lagi untuk menjengukmu."
"Baiklah, terimakasih."
Anindira mengangguk dan tersenyum, "Hari ini, aku tidak pergi ke kantor, aku akan pulang ke rumah dan menyelesaikan pekerjaan kantorku di rumah, sementara Rendra seperti biasa, dia akan pergi ke kampus."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Oke, kalau ada apa-apa kamu telpon saja ya."
"Hmm,"
"Aku pergi dulu,"
"Bye,"
"Bye,"
"Dira,"
"Ada apa?"
"Aku lupa mengatakan sesuatu,"
"Apa?"
"Kamu terlihat sangat cantik memakai dress itu."
Anindira tersenyum malu, lalu berbalik dan pergi.
"Dasar, kenapa dia mengatakan itu." Ucapnya setelah keluar dari rumah Dean.
"Paman, aku pergi ke kampus dulu, nanti aku akan datang lagi."
"Oke, kamu boleh datang kapanpun kamu mau."
__ADS_1
Sesampainya di rumah,
"Baiklah, sekarang sudah sampai rumah, aku harus beres-beres, bersih-bersih rumah, habis itu pergi ke dapur buat masak, eh.. ganti baju dulu kali ya, masa iya beres-beres rumah pake drees." Ucap Anindira sambil berlalu ke kamarnya.
Anindira membersihkan setiap sudut rumahnya, dia juga masak agak banyak, untuk Dean dan Claira, setelah itu dia pergi mandi lalu bersantai menonton tv sambil ngemil.
"Huf, akhirnya bisa santai juga, ah iya hari ini hasil akhir dari pemeriksaan kesehatan Dean, semoga hasilnya baik."
Ting tong,
"Siapa?" Kata Anindira berjalan menuju pintu rumah.
"Ini aku Clair,"
Anindira membuka pintu, "Oh Clair, ayo masuk,"
"Makasih beb,"
"Ada apa kamu kesini?"
"Ei, jadi aku gak boleh ke rumahmu lagi ni, ya udah aku balik."
"Eh, janganlah, aku kan cuma nanya emangnya kamu hari ini gak ke kantor?"
"Aku udah dari kantor tadi, terus ke kantor kamu, eh kamunya gak ada di sana."
"Iya, hari ini aku mau free dulu."
"Kenapa lagi bad mood ya?"
"Gak juga sih, hari ini aku kerja di rumah."
"Emm, mau jenguk Dean?"
"Kenapa kok nanya, kamu mau Jenguk dia?"
"Iya, jenguk dia yuk,"
"Sebaiknya aku gak cerita dulu deh kalau aku habis nginep di rumahnya Dean." Gumam Anindira dalam hati.
"Kok diam? mau jenguk dia gak."
"Iya, nanti aja."
"Nanti sore, tapi kalau kamu mau kesana sekarang, duluan aja ntar aku nyusul."
"Kok gitu sih?"
"Ya aku baru aja nyantai, bentar lagi mau nyelesein pekerjaan kantor."
"Kan bisa nanti,"
"Hm, oke deh tapi bentar lagi ya, nanggung lagi PW (posisi wenak)."
"Oke deh,"
"Oh ya, aku buatin makanan buat kamu sama Dean mau di makan sekarang apa nanti?"
"Mana? aku mau makan sekarang, lapar banget soalnya."
"Kamu gak sarapan pagi ya?"
"Enggak,"
"Ya ampun, kamu tuh kebiasaan ya, pergi tanpa sarapan dulu."
"Ih, kamu tuh kaya ibu aku cerewet."
"Ya aku kan hawatir sama lambung kamu, belum cukup Dean bikin aku hawatir sekarang kamu."
"Kamu jangan do'ain aku yang bukan-bukan dong."
"Bukan gitu, kamu masih ingat kan dulu, kamu sering banget telat makan, terus lambung kamu sakit, aku sampai nangis takut kamu kenapa-kenapa." Kata Anindira mengomel.
"Iya, iya, makanya sekarang aku minta makan, ayo beri aku makan."
Anindira menghela nafas, "Hahh, ini, kamu harus habiskan."
"Baik, Ibunda Ratu."
__ADS_1
Anindira kembali duduk, dia membuka laptopnya dan mulai bekerja.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Claira.
"Udah,"
"Oh,"
Waktu menunjukan pukul 11.00,
"Dira, udah dong jangan kerja terus, kita jenguk Dean sekarang yuk,"
"Iya iya, aku ganti baju dulu ya."
"Oke,"
Sesampainya di rumah Dean,
"Dean, kamu udah gak pake penyangga?" Tanya Claira.
"Iya Clair, aku udah gapapa."
"Hari ini adalah hasil akhir pemeriksaan kesehatan Dean, dan hasilnya bagus semua, itu karna Dean di kelilingi teman-teman yang baik seperti kalian."
"Iya Jo benar, hasil pemeriksaannya oke, jadi aku gak perlu di oprasi."
Anindira cemberut, dia merasa sedikit kesal padanya, Dean mengerti itu.
"Oke Dean, kamu memang sudah sembuh, tapi kamu harus tetap menjaga kesehatanmu."
"Aku tau,"
"Kalau begitu aku pergi dulu, aku harus dinas."
"Oke, makasih Jo."
"Sama-sama."
"Dokter, biar aku antar dokter sampai depan ya." Kata Claira menawarkan diri
"Oh, oke terimakasih."
Anindira menaruh makanan yang dia bawa di meja.
"Jadi, tadi pagi itu cuma drama kamu aja?" Kata Anindira dengan kesal.
"Maaf, tapi aku gak bohong kok, tadi pagi memang masih terasa sakit.. sedikit."
"Apa yang kamu dapatkan dengan berbohong seperti itu?"
"Aku bisa lebih dekat sama kamu."
"Kamu tuh kayak anak kecil tau gak."
"Kalau aku gak berbuat sesuatu, kamu pasti akan mencari alasan untuk menjauh dariku."
"Tapi kamu.. ah, aku kesal."
"Maaf, aku gak bermaksud membuatmu kesal, aku cuma ingin terus dekat sama kamu."
"Menurut kamu, apa yang kamu lakukan itu cinta, atau hanya obsesi semata?"
"Cinta, kalau itu hanya obsesi semata, sudah sejak lama aku akan memaksamu untuk menikah denganku, aku akan menghalalkan segala macam cara untuk bisa memilikimu, bahkan bisa saja dulu aku merebutmu dari Leon."
Anindira terdiam, "Apapun itu, aku bersyukur sekarang kamu baik-baik saja."
Dean menggenggam tangan Anindira, "Aku mencintaimu."
Anindira hanya diam mendengar pernyataan perasaan Dean.
Claira melihat mereka dari samping, "Kenapa sih mereka susah banget buat jadi satu." Ucap Clair dalam hati.
Anindira mengalihkan pembicaraan, "Aku, aku bawakan makanan buat kamu, apa mau di makan sekarang?"
"Iya, aku akan makan sekarang." Dean mengambil kotak makan yang di bawa Anindira dia membukanya lalu memakannya.
"Apa tadi pagi kamu tidak sarapan?"
"Mana ada, kalau itu masakan kamu pasti aku langsung makan dan menghabiskannya."
__ADS_1
"Kalau gitu harusnya yang itu buat makan siang aja."
"Habisnya kalau lihat masakan kamu bawaannya lapar terus."