
Anindira sangat panik, begitu juga dengan Leon dan kedua orang tuanya Dira.
Aluna yang dari tadi menahan rasa sakit merasa syok dengan semua yang terjadi,
Dia merasa mual dan pusing.
"By, kamu kenapa?"
"Gapapa mas, kamu pergilah! temani Dira untuk mencari Rajendra, temukan dia mas!" ucap Aluna sambil menangis.
"Tapi bagaimana denganmu?"
"Panggil Ana ke sini, aku akan beristirahat di kamarku."
"Ana, Ana?"
"Iya tuan"
"Bawa Nona ke kamarnya!"
"Baik tuan"
Ana membawa Aluna ke kamarnya untuk beristirahat, sedangkan Leon, Anindira dan kedua orang tuanya pergi mencari Rajendra.
"Leon, kalian mau kemana?" tanya mamanya Leon.
Leon tidak menjawab dia langsung pergi begitu saja.
"Leon?"
"Sebenarnya apa yang terjadi? apa kamu tidak memberitau kedua orang tuanya Dira kalau kita mengadakan acara syukuran hari ini?" tanya neneknya Leon.
"Iya, aku berbohong pada Anindira kalau orang tuanya tidak bisa datang karna ada urusan penting." Jawab mamanya Leon.
"Apa?! kenapa kamu melakukan itu? mereka itu besan kita loh! kalau kamu seperti ini, bagaimana mereka akan percaya pada kita? reputasi kita sudah jelek di mata keluarganya Dira, bagaimana kalian akan memperbaikinya lagi."
"Maaf bu, aku melakukan itu karna aku tidak mau Dira dan cucuku pergi dari rumah ini."
"Ibu bisa mengerti perasaanmu, tapi tidak seperti ini caranya! yang kamu lakukan itu hanya akan membuat mereka semakin waspada terhadap kita."
"Aku harus bagaimana lagi bu, sekarang sudah terlanjur." Keluh mamanya Leon.
Anindira berlarian kesana kemari mencari anaknya yang di bawa kabur oleh Gena, sehingga dia tidak sadar berlari ke tengah jalan dan hampir saja tertabrak mobil.
Untungnya Dean waktu itu melihatnya dia menjatuhkan motornya dan berlari secepat mungkin untuk menyelamatkan Anindira, dia menarik Anindira ke pinggir jalan dan merangkulnya.
"Dira, kamu gapapa? apa yang kamu lakukan berlarian di tengah jalan seperti itu, apa kamu ingin mencelakai dirimu sendiri?" Dean mengomel karna merasa cemas.
"Dean, anakku.. anakku Rajendra." Anindira memegang erat lengan Dean dan menangis tersedu-sedu.
"Ada apa dengan Rajendra?"
__ADS_1
"Dia hilang"
"Hilang?!"
"Iya, waktu itu aku menidurkannya di ranjang dan, dan aku meninggalkannya di kamar sendirian, lalu ketika aku dan ayah masuk ke kamarnya, dia, dia sudah tidak ada di tempat." Ucap Anindira di tengah isak tangisnya.
"Hei, tenanglah! kita akan mencarinya bersama-sama Rajendra pasti ketemu, kamu jangan panik ya!" kata Dean mencoba menenangkannya.
Leon yang juga sedang kebingungan mencari Rajendra melihat Anindira bersama Dean, dia merasa tidak nyaman melihat mereka sedekat itu.
Tiba-tiba HP Anindira berbunyi, ternyata itu adalah telpon dari Gena, "Halo, keponakanku tersayang!"
"Bibi?!"
"Iya sayang, ini bibimu apa kamu merindukanku?" ucap Gena sambil tersenyum menyeringai.
"Apa yang bibi inginkan?"
"Bukankah kamu sedang mencari anakmu?"
Anindira dan Dean terkejut mereka saling pandang, "Dari mana bibi tau?" tanya Anindira.
"Karna anakmu sekarang sedang bermain denganku, lihatlah dia begitu senang berada di pangkuanku! sepertinya anak ini sangat menyukaiku, aku akan sedikit bersenang-senang dengannya." Sambil tersenyum jahat.
"Tidak, jangan apa-apakan anakku! dia masih bayi, dia belum mengerti apapun!" teriak Anindira pada Gena di telpon.
"Eh, kenapa kamu panik? aku hanya akan bermain-main sebentar dengannya, dia begitu manis sehingga membuatku gemas, hehehe."
"Benarkah? kamu mau melakukan apapun?"
"Iya iya, aku akan menuruti semua keinginanmu."
"Aku tidak akan meminta hal yang memberatkanmu, aku hanya menginginkan sedikit uang."
"Baiklah, berapa uang yang bibi inginkan?"
"Tidak banyak, hanya seratus juta saja."
"Seratus juta?!"
"Kenapa? bagi kalian mengeluarkan uang seratus juta itu bukan apa-apa kan."
Leon begitu marah, mendengar percakapan mereka, dia menghampiri Anindira dan mengambil HP nya lalu memaki-maki Gena.
"Hei wanita tua, jangan coba-coba kamu menyentuh anakku! kalau kamu berani menyentuhnya sedikit saja aku akan mengulitimu!"
"Oh, aku takut sekali! tenang Leon kalau kamu menginginkan anakmu kembali, beri aku uang seratus juta!"
"Kurangajar kau wanita tua! tunggu saja aku akan menghabisimu!"
"Sebelum kamu menghabisiku anakmu duluan yang akan aku habisi."
__ADS_1
"Tidak! jangan, jangan lakukan itu aku mohon!" teriak Anindira sambil menangis.
Gena tertawa, lalu menutup telponnya.
"Apa yang kamu lakukan Leon? kamu hanya akan membuat Rajendra dalam bahaya, kenapa kamu melakukan ini? kamu tidak tau bibiku itu orangnya seperti apa." Anindira menarik kerah bajunya Leon dan memarahinya sambil menangis.
Leon memegang tangan Anindira, "Tenanglah! ayah mana yang akan membiarkan anaknya dalam bahaya."
"Kalau begitu berikan saja uangnya, tolong selamatkan anakku."
"Tanpa kamu minta pun aku akan menyelematkannya, Rajendra adalah anakku tidak ada yang bisa mencelakainya."
Leon menghubungi Gena memakai HP milik Anindira untuk menukar Rajendra dengan uang yang dia minta.
"Wanita tua, aku akan memberikan uang yang kamu minta, kamu harus mengembalikan anakku dengan utuh! jika anakku tergores sedikit saja, jangan harap nyawamu bisa selamat."
"Baiklah, tapi dengan syarat kamu harus datang sendiri tidak boleh membawa asisten atau pun bodyguard, apalagi polisi."
"Kenapa? apa kamu takut?" ucap Leon menyeringai
"Heh, aku hanya memberi pilihan untukmu. Turuti ucapanku atau anakmu tidak akan selamat! eh, tapi enggak deh aku berubah pikiran, aku enggak akan menghabisi anakmu, lebih baik aku jual saja! lumayan kan bisa dapat duit." Kata Gena sambil tertawa.
"Kurangajar! awas saja kalau kamu berani, katakan dimana kamu sekarang?"
"Aku berada di sebuah gedung terbengkalai di dekat danau, tidak jauh dari tempat kalian berada."
"Tunggu di situ dan jangan coba-coba untuk kabur!"
"Hahaha, memangnya aku akan kabur kemana! aku akan tetap di sini untuk menunggu uangku."
Dengan buru-buru leon pergi ke tempat itu, dia menghubungi Bram untuk menyiapkan uang yang Gena minta.
Orang tuanya Dira menghampiri Dira yang sedang menangis, "Bagaimana apa kamu sudah menemukan petunjuk tentang Rajendra?" tanya ayahnya.
"Iya ayah,"
"Hhahh.. syukurlah! dimana dia sekarang?" kata ibunya.
"Rajendra di bawa kabur bibi Gena."
"Apa?!" ayahnya melotot karna terkejut, "Gena, wanita itu?! berani-beraninya dia menculik cucuku."
"Kita harus telpon polisi sekarang juga ayah! jangan sampai cucu kita kenapa-kenapa." Ucap ibu Anindira.
Ayahnya Anindira mengambil HP nya untuk menghubungi polisi.
"Jangan ayah, jangan telpon polisi! kalau bibi tau kita sampai melibatkan polisi, aku takut dia akan menyakiti Rajendra."
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" keluh ibunya.
"Bibi meminta uang tebusan seratus juta, dan Leon sedang menuju kesana dengan membawa uang tebusan itu."
__ADS_1
"Kita bisa mengharapkan apa dari laki-laki seperti dia?!" ucap ayah Dira dengan penuh amarah.