
"Emmh, Chees cake dan Beef bourguignon emang yang terbaik." Kata Anindira bersemangat.
"Syukurlah, dia sudah kembali bersemangat." Ucap Dean dalam hati.
"Habis ini mau kemana?"
"Kita langsung pulang saja."
"Oke, aku sudah selesai, ayo pulang,"
"Eh, cepat sekali, aku belum selesai loh Dean."
"Bungkus saja sisanya,"
"Tapi.."
"Mba, pesan makanan yang sama dua porsi di bungkus, dan tolong ini sisanya di bungkus juga."
"Untuk apa pesan sebanyak itu? bungkus yang itu saja."
"Untuk nanti di rumah kita makan bertiga."
"Kalau untuk makan bertiga, kenapa pesannya dua porsi?"
"Yang satu untuk Rendra, yang satunya lagi untuk kita makan berdua."
"Ma makan berdua? apakah kamu berencana untuk tinggal di rumahku,"
"Tentu saja, kenapa tidak, aku kan suamimu."
"Kita belum menikah Dean, ingat itu."
"Belum atau sudah sama saja."
"Kau ini..."
.
.
.
.
.
.
.
Alangkah terkejutnya Anindira ketika dia sampai di rumah.
"Rendra, apa yang sedang kamu lakukan?!"
"Ma," Rajendra panik.
"Bibi,"
"Ma, ini tidak seperti yang mama pikirkan."
"Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi Rendra."
"Ma maaf bibi, kami khilap."
"Apa yang kamu katakan Siren, memangnya apa yang telah kita lakukan?"
"Rendra, su sudahlah, kita katakan saja yang sebenarnya."
__ADS_1
"Katakan apa?!"
"Yang sudah kita lakukan Rendra."
"Ma, Paman, aku dan Siren tidak melakukan apa-apa, tadi aku terpeleset lalu menimpa Siren dan kami berdua terjatuh."
"Cukup Rendra, Mama kecewa sama kamu." Ucap Anindira lalu pergi ke kamarnya.
"Maaf Rendra, aku melakukan ini hanya untuk bisa bersamamu, rasa cintaku membuatku serakah." Gumam Siren dalam hati.
"Ma, ma, tolong dengarkan penjelasan Rendra sebentar saja ma." Rajendra mengejar Anindira dan terus berusaha menjelaskan yang sebenarnya terjadi.
Anindira mengunci pintu kamarnya.
"Paman, tolong jelaskan pada mama, aku tidak mungkin melakukan hal-hal yang aneh, aku sangat menghormati wanita, karna ibuku juga seorang wanita, karna aku sangat menyayangi dan menghormati ibuku."
"Siren, apa yang telah Rendra lakukan padamu, apa dia melecehkanmu?"
"Tidak Paman,"
"Lalu apa maksud kamu bicara seperti tadi?"
"Ka kami melakukannya atas dasar kemauan kami sendiri."
"Siren, kenapa kamu lakukan ini padaku?" Rendra merasakan rasa sesak di dadanya, darahnya mendidih, dia sangat marah dengan kelakuan Siren.
"Rendra,"
"Pergi dari sini, aku tidak mau melihatmu lagi."
"Rendra," Siren menatap Rajendra dengan sedih.
"Aku bilang pergi!" Teriak Rajendra.
Siren pergi dengan perasaan sedih karna merasa bersalah.
"Rendra, aku tidak menyangka kamu memperlakukannya seperti itu."
"Kamu yakin, kamu tidak sedang berbohong?"
"Kapan aku pernah berbohong pada paman."
"Aku tahu,"
"Kenapa respon Paman biasa-biasa saja? Paman tidak memarahiku atau membelaku."
"Makanlah dulu, setelah itu baru kita bicara lagi."
Di waktu yang bersamaan, di kamarnya Anindira.
"Kenapa putraku bisa berbuat seperti itu, apa aku salah dalam mendidiknya?" Kata Anindira bergumam sendiri.
Tok, tok, tok, "Dira, kamu baik-baik saja." Kata Dean mengetuk pintu kamar.
"Iya, aku baik-baik saja, aku akan turun nanti."
"Baiklah, aku akan tunggu di bawah."
"Mau Rendra salah atau tidak, sekarang dia dalam masalah besar, aku harus tetap berada di sampingnya, aku adalah ibunya kan," Katanya dalam hati.
Anindira keluar dari kamar.
"Ma,"
"Maafin mama, tadi mama bersikap kasar sama kamu, mama akan mendengarkan penjelasan kamu, bicaralah,"
"Sebenarnya Siren datang kesini untuk meminjam buku catatan, dia bilang dia haus, aku memberinya segelas air, tapi dia tidak sengaja.. mungkin sengaja menumpahkan airnya ke lantai, kemudian dia, mungkin sengaja mau jatuh, aku bermaksud menahannya tapi lantai nya licin aku terpeleset lalu kami berdua terjatuh, itu saja."
__ADS_1
"Baiklah itu masuk akal, tapi kamu tidak boleh bersikap kasar padanya, kalau memang kejadiannya seperti itu, cari tau apa motipnya melakukan itu."
"Sebenarnya Siren anak yang baik, hanya saja dia tumbuh di keluarga yang kurang baik."
"Ya, yang bermasalah adalah orangtuanya, kita harus segera membereskannya, jangan sampai kesalahpahaman ini sampai di telinganya Aira." Kata Dean.
"Benar,"
"Rendra tahu apa yang harus Rendra lakukan, Mama sama Paman tolong percaya padaku."
Anindira dan Dean saling pandang, merekapun mengangguk.
"Kami percaya padamu." Ucap Anindira.
Esok hari, di kampus.
"Siren,"
"Rendra?!"
"Bisa bicara sebentar?"
"Iya," Siren menarik tangan temannya untuk ikut bersamanya.
"Berdua saja," Kata Rendra.
"Oh, baiklah." Ucap temannya.
Siren dan Rajendra pergi ke belakang kampus.
"A apa yang ingin kamu bicarakan Rendra,"
"Ah, bukan apa-apa, aku hanya ingin bertanya beberapa hal padamu."
"Tentang apa?"
"Gadis ini benar-benar bikin aku muak." Kata Rendra dalam hati, "Apa sekarang kamu sedang pura-pura lupa ingatan?"
"A apa maksud kamu?"
"Ini tentang kemarin, kenapa kamu melakukan itu, padahal jika kamu suka padaku, kamu bisa mengatakannya langsung."
"Apa sekarang kamu yang lupa ingatan? aku pernah menyatakan perasaanku padamu, tapi kamu menolakku."
"Aku menolakmu, bukan karna ada gadis lain di hatiku, tapi karna aku hanya ingin fokus belajar, aku punya cita-cita dan ambisi, aku tidak punya waktu untuk berpacaran, apa kamu tidak punya ambisi sepertiku?"
"Ambisiku adalah kamu."
Rajendra geleng-geleng kepala, "Apakah kamu tidak mempunyai cita-cita yang ingin kamu raih?"
"Itu... Aku punya cita-cita, aku juga ingin menjadi seorang pembisnis yang hebat."
"Apa kamu tidak berpikir, dengan kamu melakukan hal seperti kemarin itu akan menghancurkan cita-citamu."
"Aku, aku, apa kita tidak bisa mewujudkan cita-cita kita bersama? kita akan menjadi pasangan yang sempurna, dan pembisnis yang sangat hebat nantinya."
"Itu tidak akan menutup kemungkinan, tapi dengan apa yang sudah kamu lakukan kemarin, kamu dan aku tidak akan punya harga diri lagi, masa depan kamu dan aku akan berantakan, kamu dan aku akan di anggap telah mencoreng nama baik keluarga, kita akan dikucilkan, dan jika itu tersebar keluar.. Kamu bisa bayangkan bagaimana jadinya nanti, apakah kamu ingin seperti itu?"
"Tidak,"
"Siren, bagaimana aku mengatakannya padamu, aku tidak ingin keluargaku hancur, Ibuku sangat terluka karna kejadian ini."
"Maaf, maaf Rendra, aku tidak ingin kamu menjauh dariku, aku melakukan itu karna aku tidak bisa melepaskanmu, aku sudah berusaha, tapi aku tidak mau hanya menjadi temanmu saja, aku berpikir dengan begitu, kita akan menikah, membangun bisnis bersama, punya anak dan hidup bahagia, aku tidak ingin kesepian."
"Ya ampun, gadis ini bikin aku pusing." Katanya dalam hati, "Aku rasa kamu melakukan itu karna kamu merasa kesepian, cobalah untuk banyak berinteraksi dengan yang lain, dan perbanyak teman, jangan hanya memikirkanku saja, karna aku juga punya kehidupanku sendiri."
"Rendra,"
__ADS_1
"Kamu sadar perasaanmu padaku itu bukan cinta melainkan hanya ambisi saja, itu tidak akan baik untuk kita berdua."
Siren menunduk.