Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 68


__ADS_3

"Rendra sudah baikan sama papanya ya?" Tanya Claira.


"Ya, dia berusaha untuk menerima papanya kembali."


"Lalu bagaimana denganmu?"


Anindira terdiam, "Bagaimana apanya, kamu tau sendiri apa yang dia perbuat terhadapku."


"Aku rasa dia melakukan itu, karna kamu selalu menolaknya."


"Jelas-jelas aku sudah berbaik hati memberinya waktu."


"Mungkin itu salah satu caranya untuk mendapatkanmu kembali."


"Dengan cara menggulingkanku dari perusahaanku sendiri? kamu jangan bercanda Clair."


Claira merasa tidak enak hati, "Oke, oke, lupakan itu, ayo kita pulang dan nonton drakor bersama sambil makan camilan."


"Kamu yakin mau pulang sekarang?"


"Memangnya kamu mau kemana lagi?"


"Entahlah, mungkin tempat yang ingin kamu datangi? aku akan menemanimu kesana."


"Satu-satunya tempat yang ingin aku datangj sekarang itu.. adalah rumahnya Dean." Sambil senyum-senyum.


"Ckk, anak ini, dasar bucin."


"Ya mau gimana lagi, aku tidak bisa mengendalikan perasaanku, apalagi saat aku tau kamu dan Dean adalah sahabat sejak kecil bukan pasangan kekasih." Ucapnya sambil tertawa kecil.


Anindira tersenyum, "Demi kamu ayo kita ke tempatnya Dean."


Claira merasa sangat senang.


"Sebaiknya kamu jangan terlalu berharap banyak padanya, nanti kamu bisa patah hati." Cetusnya sambil memperlihatkan ekspresi mengejek.


"Aku tidak akan menyerah begitu saja meskipun mendapat seribu penolakan darinya."


"Ya ampun, aku tidak tau kamu sebegitu tergila-gilanya sama Dean."


"Hehehe,"


"Memangnya gak ada cowok lain selain dia yang kamu suka?"


"Kenapa? kamu cemburu?"


"Untuk apa aku cemburu, kalian berdua itu sahabatku, tidak ada yang perlu di cemburukan." Jawab Anindira sambil tersenyum, "Kalau begitu ayo segera jemput Dean." Katanya.


"Jemput?!"


"Iya, sekalian, bukannya kita akan makan malam bertiga."


"Hmm,"


"Ayo, jangan kebanyakan mikir." Anindira menarik lengan Claira.


"Kita perlu menelponnya terlebih dulu, takutnya dia tidak ada di rumah." Ucap Claira.


"Oh, oke bentar, aku telpon dulu."


Anindira mengambil Handphone di tasnya, "Halo Dean,"


"Iya Ra, ada apa?"


"Aku dan Clair akan ke rumahmu sekarang bersiap-siaplah, kami akan menjemputmu."


"Menjemputku?! untuk apa?"


Tut, tut, tut, Anindira langsung menutup telponnya.


"Hah, dasar gak jelas, maksudnya apa sih." Dean balik nelpon.


"Ya,"


"Kamu ini, jangan menutup telpon seenak jidatmu begitu."


"Hehehe,"


"Haha hehe, haha hehe, kamu gak nanya dulu aku lagi dimana?"


"Bukannya kamu ada dirumah ya?"


"Siapa yang bilang aku di rumah, so tau kamu."


"Terus kamu dimana sekarang?"


"Aku sedang di rumah teman."

__ADS_1


"Ya udah cepat pulang!"


"Lah, kok kamu malah maksa aku pulang."


"Iya lah, malam ini kamu harus makan malam di rumahku."


"Kenapa?"


"Hari ini Rendra pulang malam, jadi, aku mau kamu dan Claira menemaniku makan malam."


"Dasar,"


"Ayolah, kamu kan tau aku paling gak bisa makan sendiri."


Dean menghela nafas, "Haah, oke, nanti aku menyusul, kamu gak perlu datang ke rumah untuk menjemputku, tunggu saja di rumahmu bersama Clair."


"Oke, makasih Dean."


"Iya, iya, aku tutup telponnya ya."


"Oke bye."


"Gimana Ra?"


"Katanya tunggu saja di rumah, dia akan datang nanti."


Claira tersenyum senang.


"Ayo pulang." Ajak Anindira.


"Ayo,"


Sesampainya di rumah."


"Ayo kita nonton drakor," ajak Claira.


"Aku siapkan camilannya dulu."


"Sip,"


Anindira, mengeluarkan semua camilan di kantong belanjaannya, dan menaruhnya ke dalam toples, dan piring plastik karakter.


Claira menyalakan tv, dan mulai menonton drakor yang mereka sukai.


"Camilannya sudah siap."


"Benarkah,"


"Duduk sini,"


Mereka pun duduk di sofa dan menonton drakor kesukaan mereka sambil makan camilan.


Sementara mereka asik menonton drakor, Rajendra dan Leon bersepeda sambil memakan camilan, mereka menggantungkan tas belanjaan yang berisi camilannya di stang sepeda mereka masing-masing.


"Hei Nak,"


"Hm,"


"Apa kamu punya keinginan yang belum terpenuhi?"


"Apa?! kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Sekarang ini anggap saja aku adalah temanmu, aku akan berusaha memenuhi keinginanmu."


"Huh, tidak perlu, semua yang ku inginkan sudah aku dapatkan."


"Kalau begitu bagaimana dengan satu permintaan?"


"Kenapa hanya satu permintaan?"


"Tiga permintaan,"


"Oke, nanti aku akan memberitau papa tiga permintaan dariku."


"Ah, ya katakan kapan saja."


Setelah satu jam mereka bersepeda, Leon merasa lelah, "Hei Nak, bagaimana kalau kita sudahi bersepedanya."


"Ada apa? asam urat papa kambuh?"


"Eh, kapan papa bilang papa punya asam urat?"


"Ya kan biasanya orangtua rentan sama asam urat."


"Papa tidak punya riwayat penyakit asam urat, ayo kita ke timezone sekarang,"


"Baiklah, dari sini tidak jauh kok, ayo pergi."

__ADS_1


"Ya, kamu duluan." Ucap Leon sambil kembali mengayuh sepedanya.


Merekapun sampai, dan mulai bersenang-senang.


"Ayo kita main street Basketball." Ajak Leon.


"Papa udah tua, apa masih bisa bermain?"


"Kamu meremehkan papa? lihat saja papa akan mendapatkan skor terbanyak."


"Coba saja,"


"Yang kalah harus menggendong yang menang sampai permainan berikutnya." Ujar Leon.


"Siapa takut," Rajendra merasa tertantang.


Mereka mulai bermain, tapi ternyata Leon kewalahan dia kalah.


Rejendra tersenyum puas.


"Sesuai perjanjian, papa akan menggendongmu," Kata Leon.


"Gak usah, aku bukan anak kecil."


"Tidak apa-apa, bagi papa kamu masih pangeran kecil papa."


"Jangan bercanda, aku tidak mau."


"Bukannya tadi kamu menyetujuinya."


"Aku tidak serius,"


Rajendra menghindar, tapi Leon kekeh mengikutinya sambil terus berbicara.


"Hentikan itu, aku tidak suka." Tukas Rajendra kembali menghindar dari Leon, Leon tidak menyerah, dia berusaha membuat suasana yang menyenangkan Versi dirinya sendiri dengan mengganggu putranya itu.


"Gapapa, kamu gak perlu malu sama papa."


"Tidak, aku bukan anak kecil."


"Oh, jadi kamu sekarang adalah pria dewasa?"


"Tentu saja,"


Leon tertawa sambil mengikuti putranya itu dari belakang.


"Aku ingin main ini,"


"Whack N Win? Oke, papa duluan."


"Yes Win," Leon memenangkan skor seribu, "Bagaiman, apa kamu mengakui kehebatan papa?"


"Aku juga bisa,"


"Ayo tunjukan, kalau kamu bisa dapat skor seribu..".


"Jangan aneh-aneh, pokoknya setiap kali menang atau dapat skor tinggi, harus mengabulkan satu permintaan."


"Oke, setuju,"


Rajendra mulai memukul petunjuk hadiah dengan sekencang-kencangnya, dan ternyata dia juga mendapat skor seribu.


"Amazing," Ucap Leon sambil tepuk tangan


"total dua permintaan,"


"O oke,"


Rajendra berjalan dan melihat permainan yang sering dia mainkan waktu kecil.


"Kenapa kamu menatap mesin capit itu dengan begitu serius?"


"Aku ingin permintaan pertamaku."


"Apa?! kenapa tiba-tiba?"


"Terserah aku dong pa,"


"Baiklah, kamu mau minta apa?"


"Tolong bermainlah, papa harus mendapatkan satu boneka yang mama sukai."


"Oh, papa gak yakin masih ingat boneka apa yang mamamu sukai, papa lebih sering memberinya bunga daripada boneka."


"Benarkah?"


"Tapi papa ingat, dulu waktu mama mengandung kamu, dia sangat menyukai boneka jerapah karna lehernya yang panjang.. ah benar, itu saja."

__ADS_1


__ADS_2