Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 43


__ADS_3

Setelah Leon menelpon Aira dia tidak jadi mandi, dia keluar dari kamar dengan hanya mengenakan handuk kimono dan berteriak memanggil-manggil Bi Sri.


"Bi Sri, Bi Sri!"


Ketika Leon turun dari tangga,


Anindira dan Rajendra sudah sampai di rumahnya dan menatap Leon yang masih mengenakan handuk.


Leon bengong menatap Anindira dan anaknya, lalu Anindira menjentikan jarinya di depan wajah Leon.


Leon tersadar lalu menatap dirinya, ketika dia sadar dia masih mengenakan handuk dan belum mandi, dia langsung kembali ke kamarnya.


Melihat itu Bram dan Rajendra tertawa cekikikan, Anindira tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.


Wajah Leon memerah dia tampak malu, "Ini memalukan sekali." Leon mengusap wajahnya,


"Anindira datang ke rumah? kenapa dia tidak mengabariku terlebih dahulu." Gumam Leon.


Kemudian dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian.


"Dira, Rendra, kapan kalian datang?" Kata mamanya Leon, dia sangat senang melihat Anindira dan Rajendra datang berkunjung.


"Baru saja ma," jawab Anindira.


"Wah, cucu nenek yang tampan nenek sangat merindukanmu! pokoknya hari ini kamu harus bermain seharian bersama nenek." Kata neneknya sambil memeluk dan menggosok-gosokkan pipinya ke pipi Rajendra dengan gemas.


"Memangnya nenek tidak akan melasa cape kalau main sehalian sama Lendla?"


"Enggak dong nenek malah senang."


"Nenek yakin! nanti pinggang nenek sakit karna mengejal-ngejal Lendla, Lendla olangnya gak bisa diam loh nek."


"Tentu saja nenek yakin, kamu gak percaya sama nenek? nenek belum setua itu nenek masih kuat loh."


"Benalkah? kalau begitu ayo kejal Lendla!" Rajendra berlarian kesana kemari.


"Oh, jadi kamu mau bermain-main dengan nenek ya! anak nakal." Mamanya Leon mengejar Rajendra dan bermain dengannya.


Anindira tersenyum melihat kedekatan Rajendra dan neneknya.


Leon keluar dari kamarnya, dan turun dari tangga.


Anindira tersenyum padanya, Leon masih merasa malu karna kejadian tadi.


"Hai," ucap Leon


"Apa kabar bang?"


"Baik, bagaimana denganmu?"


"Aku baik,"


"Ayo silahkan duduk!" Leon mempersilahkan Anindira untuk duduk.


Anindira pun duduk di sofa yang ada di ruang tamu.


Bi Sri dan Ana menyuguhkan air dan camilan untuk Anindira.


"Bi Sri, Ana, kalian apakabar?"


"Baik nona, senang bertemu dengan nona lagi." Kata Ana.


"Aku juga senang bertemu kalian lagi." Jawab Anindira sambil tersenyum.

__ADS_1


Bi Sri dan Ana kembali ke dapur.


"Dira, tunggu sebentar ya! aku akan segera kembali."


"Baiklah,"


Leon pergi ke dapur untuk menanyai Bi Sri, "Bi Sri,"


"Iya tuan"


"Tadi bibi bilang Aira mempunyai botol obat yang sama persis seperti ini, apa bibi ingat apa nama obat itu?"


"Emh, sepertinya saya tidak ingat apa nama obatnya tuan."


"Coba bibi ingat-ingat lagi?"


"Itu.. nama obatnya G.. G.." Bi Sri mencoba mengingat nama obat itu.


"G.. apa?"


"Maaf tuan, saya tetap tidak ingat mungkin karna saya sudah tua jadi saya kesulitan untuk mengingat dan membaca tulisan yang sedikit agak susah."


"Tidak apa-apa kalau bibi tidak ingat."


"Tapi jika saya melihat contoh tulisannya mungkin saja saya ingat tuan."


"Baiklah, tidak masalah terimakasih bi."


"Sama-sama tuan."


Leon kembali ke ruang tamu dan duduk di samping Anindira, Leon terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa bang?"


"Kami sudah mempersiapkan semuanya, tinggal berangkat saja, lalu bagaimana dengan persiapan pernikahan abang?"


"Aku baru memesan kartu undangan dan souvenir, selebihnya orang tuaku dan orang tuanya Aira yang mengatur.


Sementara itu Aira merasa hawatir Leon akan semakin mencurigainya, dia berniat pergi ke rumahnya Leon hari itu juga.


Sesampainya di rumah Leon, Aira melihat Leon dan Anindira sedang mengobrol dan duduk berdekatan.


Aira merasa tidak senang melihat kedekatan mereka, "Mas Leon?"


"Aira, kapan kamu datang?"


"Barusan, bisa aku bicara sebentar sama mas? berdua aja."


"Dira, aku tinggal dulu sebentar ya."


"Iya bang."


Leon dan Aira pergi ke halaman depan rumah.


"Kamu mau bicara apa?"


"Emh, aku mau membicarakan tentang fitting baju untuk hari "H" nanti."


"Memangnya harus dari sekarang? kan pelaksanaannya masih dua bulan lebih lagi."


"Ya aku tau mas, tapi kita harus mempersiapkannya dari sekarang supaya nanti tidak perlu pusing lagi mikirin fitting baju."


"Terus kamu maunya kapan?"

__ADS_1


"Kalau sekarang gimana?"


"Kok sekarang sih, kamu gak lihat di rumah ada Dira dan putraku! kita masih bisa pergi lain kali kan Aira, gak harus buru-buru seperti ini."


"Justru karna ada dia, aku gak mau perhatian kamu teralihkan aku ingin kamu hanya melihatku seorang saja." Ucap Aira dalam hati.


"Aira?"


"Iya gapapa, terserah mas aja kalau gitu!"


"Oke, kamu mau fitting baju di mana? setidaknya kita tentukan dulu tempatnya."


"Aku mau di butiknya Mba Aluna yang sekarang sedang di kelola oleh tante."


"Baiklah, kita sudah tentukan tempatnya tinggal kita bicarakan ini sama mamaku biar nanti bisa langsung di ukur untuk pembuatan bajunya."


"Iya, makasih ya mas."


"Lebih baik aku tidak menanyakan tentang obat itu sekarang, aku harus mencari tau dulu sebenarnya obat itu obat apa." Ucap Leon dalam hati.


"Papa," Rajendra berlari menghampiri Leon dan merangkul kakinya.


"Rendra?" Leon menggendong Rajendra.


"Rendra, hah.. hah.. larinya jangan kenceng-kenceng nenek kehabisan nafas karna ngejar kamu terus."


"Kan Lendla udah bilang, nenek gak akan kuat ngejal Lendla."


"Baiklah, baiklah, nenek menyerah! nenek mengaku kalah kamu yang menang."


"Hole.."


"Rendra, kamu jangan main-main sama nenek Nak, jangan membuatnya kerepotan! lihat, nenek jadi kecapean gara-gara kamu. Anak nakal!" kata Anindira sambil menggendongnya dan mencubit hidungnya.


"Gapapa Dira, mama senang bisa bermain bersama cucu mama apalagi kalau nenek bisa main setiap hari sama kamu." Kata mamanya Leon sambil mencubit pelan pipi Rajendra."


"Nenek baik-baik saja kan? maafin Lendla ya nek! Lendla gak belmaksud membuat nenek kecapean."


"Gapapa sayang, nenek baik-baik saja! nenek senang bisa bermain sama kamu." Sambil mengusap lembut kepala Rajendra.


"Nenek, boleh aku main baleng papa sama mama?"


"Emh, boleh dong."


"Makasih nek," ucap Rendra sambil mencium pipi neneknya, "Pa, ma, ayo kita main!"


Rajendra turun dari pangkuan Anindira dan menarik tangan kedua orang tuanya itu untuk mengajak mereka bermain di taman depan rumahnya.


"Ayo kejar Lendla ma, pa,"


"Rendra kamu jangan berlarian seperti itu, nanti kamu jatuh." Kata Anindira.


Rajendra main kejar-kejaran bersama Leon mereka sangat menikmati hari kebersamaan mereka.


"Ketangkap kamu ya!"


"Hahaha," mereka berdua tertawa dengan riangnya.


Rajendra melihat ke arah mamanya yang sedang duduk memperhatikan mereka lalu berbisik pada Leon, kemudian Leon dan Rajendra pergi mencari sesuatu di sekitar taman itu.


Anindira mengangkat alisnya, dia penasaran apa yang akan di lakukan anak dan ayah itu.


Mereka terlihat sedang membuat sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2