
Anindira tersadar dari pingsannya.
Dia melihat nenek dan kakeknya leon berada di sampinya menunggu anindira sadar.
"Nak, kamu sudah sadar?" ucap neneknya leon.
"Nenek.."
"Iya, ini nenek. Kakek juga ada di sini menemani kamu."
Kakek nya leon pergi untuk memanggil dokter andri, "dok, cucu mantu saya sudah sadar tolong periksa keadaannya."
"Baiklah kek, ayo."
Dokter andri kembali mengecek keadaan anindira, lalu dia memberikan suntikan obat pada infusannya.
"Tidak papa, setelah dia istirahat yang cukup dia akan segera pulih."
"Syukurlah." Ucap neneknya leon.
"Anindira, mulai sekarang kamu tidak boleh banyak pikiran, perhatikan makanmu. Makanlah dengan benar. Jangan membuat bayimu merasa gelisah."
Anindira hanya diam saja, tidak merespon perkataan dokter andri.
"Usia kandunganmu sekarang sudah menginjak 4 bulan, kamu harus lebih menjaga kesehatanmu ya."
Anindira tetap tidak merespon.
Dokter leon memberikan potongan buah apel di dalam sebuah piring kecil kepadanya, tapi anindira tidak mau memakannya.
"Baiklah, aku akan menaruhnya di atas meja sini. Nanti jika kamu sudah merasa lebih baik makanlah! buah itu baik untuk kesehatan kamu dan bayimu."
Kemudian dokter andripun pamit kembali ke ruangannya.
"Nak, apa kamu membutuhkan sesuatu?" tanya neneknya leon.
Anindira menggelengkan kepalanya.
"Apa nenek dan kakek tidak membenciku?"
"Tidak, nenek dan kakek tidak membencimu. Kalaupun bayi yang ada dalam kandunganmu itu bukan anaknya leon, tapi kamilah yang bertanggung jawab. Karna kami yang telah memaksamu terlibat di dalam keluarga kami."
"Sudahlah, kamu jangan terlalu banyak pikiran. beristirahatlah! kakek dan nenek mau melihat keadaan aluna dulu di ruangan sebelah. nanti kami akan kembali lagi ke sini, jangan kemana-mana." Sambung kakeknya leon.
Anindira terkejut mendengar aluna juga di rawat di sana.
Ketika nenek dan kakeknya leon ke luar dari ruang rawat, anindira membuka infusannya dan menyusul mereka ke ruangan sebelah.
Anindira melihat aluna dari balik kaca dia sangat sedih dan menanangis.
Anindira berniat untuk pergi selamanya dari keluarga pradana.
Dia pergi diam-diam dari rumah sakit.
Dia meminta bram memberikan kopernya padanya, "Ka bram berikan koperku!"
"Nona mau kemana? bukannya nona sedang di rawat?"
"Aku baik-baik saja, aku harus segera pergi. Cepat berikan kopernya."
"Tapi, apakah yang lainnya sudah tau kalau nona mau pergi."
"Tidak ada hubungannya dengan mereka. Cepatlah, berikan koperku!"
Bram memberikan kopernya pada anindira lalu anindira buru-buru pergi dari sana.
Dia pergi ke rumah orang tuanya.
...
Sesampainya di rumah orang tuanya.
Dia menjatuhkan kopernya di halaman rumah.
orang tuanya anindira kaget melihat anindira yang seperti itu.
"Dira?! kamu kenapa nak?" ucap ibunya.
"Ahhh.. Tidak papa bu, dira tidak sengaja menjatuhkan kopernya."
Ayahnya mengambilkan koper anindira dan mengajak anindira masuk ke dalam rumah, "ayo masuk nak."
__ADS_1
Di sana juga ada dean teman masa kecilnya anindira.
"Dira?! apakabar?" sapa dean.
"Ohh.. dean aku baik, bagaimana kabarmu?"
"Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja." Sambil tersenyum
"Baguslah."
Ayah anindira memasukan koper anindira ke kamarnya. Sedangkan ibunya mengambilkan air minum untuk anindira, "Ini, minumlah dulu. Kamu terlihat sangat lelah dan pucat."
"Apa yang terjadi? kenapa kamu pulang membawa barang-barangmu dengan keadaan seperti orang sakit? apa kamu baik-baik saja?" Tanya ayahnya hawatir.
"Aku memang agak sedikit tidak enak badan ayah, mungkin karna aku sedang mengandung."
"Apa?! kamu hamil?" ucap ayah dan ibunya serempak.
Ayah dan ibunya baru tau kalau anindira hamil karna anindira baru mengatakannya.
"Iya."
"Lalu, kenapa kamu pulang sendiri?"
"Mba aluna sedang di rawat di rumah sakit, dan leon sedang menemaninya di sana."
"Aluna sakit? kenapa harus leon yang menemaninya? leon kan suamimu, aluna bisa di temani oleh ibu dan ayahnya."
Anindira dan ibunya terdiam.
Selama ini ayahnya tidak di beritau kalau anindira menikah di atas kertas dengan lelaki yang sudah beristri.
Ayahnya mengira aluna adalah adiknya leon.
"Mungkin karna mereka dekat ayah, leon sangat menyayangi aluna, dan aluna pun sangat bergantung pada leon." Ucap ibunya anindira.
"Tapi seharusnya leon mengantarkan anindira kan! Selama mereka menikah, ayah tidak pernah bertemu dengan leon."
"Leon sangat sibuk ayah, dan aku yang meminta dia untuk menemani mba aluna. Karna mertuaku sedang tidak ada di tempat."
"Sudahlah ayah, anindira baru datang dia pasti sangat lelah. Sebaiknya kita biarkan dia untuk istirahat dulu."
"Iya bu, dean maaf ya aku tidak bisa menemanimu mengobrol."
"Tidak papa, pergi dan beristirahatlah."
Anindira pun masuk ke kamarnya dan langsung terlelap tidur.
...
Sore hari, setelah anindira terbangun dari tidurnya. anindira duduk di kursi halaman rumahnya.
Ibunya menghampirinya dan mengajak dia mengobrol, "Nak, katakan pada ibu! apa yang sebenarnya terjadi? apa kamu bertengkar dengan leon?"
"Leon mengusirku dari rumah bu, dia tidak percaya kalau anak ini adalah anaknya."
"Kenapa bisa begitu?!"
"Ada seseorang yang mengaku sebagai kekasihku, dan dia juga bilang anak yang ada dalam kandunganku adalah anaknya."
"Lalu leon percaya begitu saja?!"
"Iya." Anindira memberikan foto-foto editan itu pada ibunya.
"Ini kamu dan seorang lelaki?!"
"Ibu tau sendirikan, aku tidak pernah menjalin asmara dengan siapapun sebelum aku menikah. Dan aku juga tidak pernah menemui laki-laki lain setelah aku menikah."
"Iya, ibu percaya padamu, tapi darimana datangnya foto-foto ini? apa kamu mengenal lelaki ini"
"Entahlah, aku juga tidak mengerti bu. yang aku tau lelaki itu pernah menghampiriku dan menanyakan sebuah alamat padaku. setelah itu leon sngat marah, dia semakin membenciku."
Di tengah-tengah pembicaraan mereka, gena datang ke rumah.
"Oh, ternyata keponakanku tercinta sedang berkunjung ke rumah orang tuanya. enak ya hidup kamu."
"Setelah kamu dapat banyak uang dari keluarga pradana kamu memutuskan hubungan denganku. Padahal aku yang menampungmu di saat kalian susah dan aku juga yang sudah memperkenalkanmu pada keluarga pradana."
"Apa yang kamu inginkan?" ucap ibunya anindira.
"Aku ingin anakmu membalas budi atas kebaikanku padanya."
__ADS_1
"Balas budi apa? kami sudah memberikan uang setiap bulan padamu apa itu belum cukup?"
"Apa?! jadi ibu selama ini selalu memberikan uang pada bibi."
"Maafkan ibu nak, sebenarnya setiap kamu memberikan uang pada ibu.. uang itu ibu berikan pada bibimu."
"Untuk apa ibu dan ayah terus-terusan memberikan uang pada bibi? hutang kita sudah di lunasi oleh mba aluna beserta biaya kita selama tinggal di rumah bibi. Itu sudah lebih dari cukup."
"Ibu takut kamu kenapa-napa."
"Intinya, aku mengatakan pada ibu mu jika mereka berhenti memberikan uang padaku aku akan membuatmu menderita." Tutur gena
"Jangan-jangan kamu yang telah memfitnah dira mengandung anak dari lelaki lain?" Ucap ibunya anindira.
"Kalau iya kenapa? aku punya banyak foto yang seperti itu loh." Sambil menunjuk foto yang sedang di pegang oleh ibunya anindira.
"Kamu pembohong gena! kamu bilang jika aku memberikan uang padamu setiap bulan, kamu tidak akan mengganggu anakku lagi."
"Iya sih, tapi gimana ya? habisnya aku iri pada keponakanku yang satu ini, dia tinggal di rumah mewah dengan harta yang berlimpah tapi dia sama sekali tidak ingat memberikan sepeserpun pada bibinya. aku kan jadi gemas."
"Jadi bibi ke sini untuk uang? asal bibi tau saja, sekarang aku sudah bukan bagian dari keluarga pradana lagi, dan kami sudah tidak punya hutang apapun pada bibi. Jadi kita sudah tidak punya urusan lagi."
"Kalau begitu, aku akan menggunakan cara lain untuk memeras keluarga pradana."
Anindira menghela nafas, "hhaaahh.. keluarga pradana tidak sebodoh itu, mereka tidak akan mudah terpengaruh."
"Benarkah? lalu kenapa kamu di usir dari rumah itu? bukankah itu artinya mereka sudah masuk perangkapku. Itu akan memudahkan aku untuk memeras keluarga mereka."
"Dengan apa bibi akan memeras mereka? bukankah bibi sudah menghancurkan rencana bibi sendiri, dengan mengatakan anak ini bukan keturunan dari pradana."
"Gampang saja aku tinggal membalikan keadaan. Apa kamu sudah lupa? bahwa bibimu ini sangat pintar dan mempunyai banyak akal."
"Dengan begitu kalian tidak perlu hawatir aku akan meminta uang lagi pada kalian. Karna aku akan memintanya langsung pada keluarga pradana." Gertak gena sambil menyeringai.
Baru saja gena akan pergi, anindira menghentikannya, "tunggu.."
Anindira pergi ke kamarnya dan mengambil sejumlah uang dari kopernya. lalu memberikannya pada gena.
Uang itu dia dapat dari gaji yang aluna berikan selama dia menggantikan aluna di kantornya.
"Uang itu untuk bibi, tapi jangan coba-coba bibi mengusik keluarga pradana."
Anindira tau pasti, leon bisa membereskan gena hanya dengan satu kali jentikan jari.
Tapi karna keadaan aluna yang sedang sakit anindira hawatir leon akan tenggelam dalam kesedihannya sehingga membuat dia akan mudah terperangkap.
"Hahaha.. baguslah kalau kamu mengerti. Ternyata setelah menikah keponakanku ini semakin pintar ya." Ucap gena sambil pergi.
Anindira membereskan semua baju dan barang-barangnya.
Dia juga mengambil surat perjanjian, serta sertivikat rumah dan tanah yang sedang mereka tinggali saat ini lalu memasukkannya ke dalam koper.
"Ibu, ayah, cepat kemas barang-barang kalian kita akan segera pindah dari rumah ini."
"Apa yang kamu katakan? kenapa kita harus pindah dari rumah ini." Ibunya anindira bertanya-tanya.
"Kalau kita mau terlepas dari bibi, kita harus pergi jauh dari tempat ini."
"Memangnya kita mau pindah kemana?"
"Bagaimana dengan suamimu, dia pasti mencarimu nanti." Sambung ayahnya anindira.
"Aku akan memberitaunya jika kita sudah pergi dari sini. Aku tau sebuah tempat yang mungkin cocok untuk kita tinggali."
Setelah mereka selesai berkemas, mereka langsung pergi dari rumah itu menuju tempat yang baru.
...
Malam hari.
Setelah menempuh perjalanan berjam-jam, akhirnya mereka sampai di sebuah pedesaan yang cukup makmur.
Anindira tau tempat itu dari temannya dean, Karna dean dulu di lahirkan disana.
Untuk sementara waktu anindira membeli gadaian rumah dari seorang warga di sana.
Anindiran dan orang tuanya menetap di sana, dengan sisa tabungan anindira dan kedua orang tuanya mereka membuka usaha bersama-sama.
Ibunya membuka usaha catering dengan di bantu oleh anindira, sedangkan ayahnya bekerja di ladang.
Setelah usaha catering ibunya maju, banyak pelanggan, anindira mencoba membuka usaha baru yaitu membuka usaha toko baju kecil-kecilan.
__ADS_1