
"Papa yakin mama masih menyukai itu?"
"Iya, memangnya kenapa?"
"Terserah deh,"
Leon pun mulai bermain, dan..
"Yeah,"
Ya, dia mendapatkan apa yang menurutnya di sukai oleh Anindira.
"Jangan senang dulu, belum tentu mama suka."
"Papa yakin mamamu akan suka."
"Heh, dasar orang tua keras kepala."
"Kamu bilang papa keras kepala? kamu lebih keras kepala dari papa."
"Itu karna aku adalah anakmu, coba saja kalau papaku itu Paman Dean,"
"No! no, no,no, nyatanya dia bukan papamu."
Leon menatap boneka jerapah, dan terdiam sejenak, lalu menatap anaknya.
"Kamu mau bermain?"
"Tentu saja, aku menunggu giliranku dari tadi."
Sekarang giliran Rajendra yang bermain.
"Aku akan mendapatkan sebuah boneka dan memberikannya pada mama, kalau mama lebih menyukai boneka yang aku dapatkan berarti papa kalah."
"Lalu apa yang harus papa lakukan dengan kekalahan papa?"
"Yang kalah harus menuruti setiap perkataan si pemenang."
"Oke," Tanpa pikir panjang Leon menyetujuinya.
Rajendra sudah selesai bermain dia mendapatkan dua boneka.
"Sudah selesai?"
"Sudah,"
"Kamu mendapatkan dua boneka sekaligus dalam waktu tiga detik?"
"Tentu, bahkan aku bisa mendapatkan apa yang aku mau hanya dengan satu jentikan jari saja."
"Hebat kamu Nak, tapi kamu jangan sombong, kamu serba bisa itu karna kamu anak papa."
"Tidak, itu karna aku cerdas bukan karna gen dari papa." Sambil pergi.
"Anak ini, tidak bisakah dia bicara manis sedikit saja untuk menghibur hati papanya, haah."
Leon mengikuti Rajendra, "Rendra, apa kamu lapar."
Baru saja Leon bertanya, perut Rajendra sudah berbunyi.
"Ayo kita pergi makan,"
Mereka pun pergi ke restoran terdekat.
"Ngapain kamu berdiri di situ?" Kata Leon pada Bram.
"Maaf tuan," Bram hendak ke luar dari restoran itu.
"Siapa yang menyuruhmu pergi."
__ADS_1
"Apa yang harus saya lakukan Tuan Muda?"
"Panggil Opa saja, papaku sudah kelebihan umur untuk di bilang Tuan Muda." Ucap Rajendra dengan ekspresinya yang datar.
"Lihatlah perlakuan putraku terhadap papanya ini, sepertinya kamu lebih menyayangi Paman Dean mu itu ya daripada papa? kamu memanggilku dengan sebutan untuk orang yang sudah lanjut usia, sedangkan kamu memperlakukan Dean seperti papamu sendiri, kamu selalu memujinya setiap saat, sebegitu burukkah papa di matamu." Ucap Leon sedih.
Rajendra terdiam lalu menjawab, "Kenapa malah membahas Paman Dean,"
"Bukannya barusan kamu yang membanding-bandingkan papa dengannya."
"Kapan, aku tidak ingat, berhenti mengajakku bicara aku sudah sangat lapar."
"Baiklah lupakan Dean, kita pesan makanannya dulu, Bram kamu tidak pegal dari tadi berdiri terus, duduklah! cepat pesan makananmu."
"Baik," jawab Bram.
Merekapun memesan makanan dan makan bersama.
Setelah makan Rajendra terlihat lebih bersemangat, "Ayo kita pergi ke tempat pemancingan,"
"Setelah perutnya kenyang, dia terlihat lebih bersemangat." Kata Leon dalam hati.
"Yeah, aku mendapatkan banyak ikan." Teriak Rajendra.
"Dia lebih bersemangat dari apa yang aku bayangkan, ternyata dari sekian banyak hal yang kami lakukan hari ini, hanya memancing yang bisa membuatnya kegirangan seperti itu." Katanya berbicara sendiri.
"Sepertinya bukan karna memancingnya yang membuat Tuan Kecil senang tuan."
"Mama pasti senang, aku akan memberikan ikan-ikan ini pada mama sebagai oleh-oleh dari perjalanan hari ini."
"Oh, jadi itu yang membuat semangatnya pecah."
"Papa sudah dapat?"
"Ah, sudah papa juga dapat banyak."
"Kalau gitu ayo kita pulang."
"Memangnya kenapa?"
"Apa kamu tidak ingi lebih lama lagi bersama papa?"
Leon sedih, dia merasa waktu yang dia habiskan dengan putranya begitu singkat, dia tidak ingin berpisah secepat itu dengan putranya.
Rajendra tidak tega melihat ayahnya yang terlihat sedih, dia tau ayahnya masih ingin menghabiskan waktu bersamanya, begitu juga dengannya, dari lubuk hatinya dia tidak rela berpisah secepat itu dengan ayahnya, namun Rajendra terlalu canggung untuk mengakuinya.
"Ah, iya ada satu hal lagi yang ingin aku lakukan bersama papa."
"Apa itu?"
"permainan basket,"
Leon terlihat senang mendengar permintaan putranya ia sangat bersemangat, "Ayo kita lakukan,"
Mereka pun pergi ke tempat permainan basket.
Leon terlalu bersemangat dia langsung mengambil bola dan bermain.
"Pa,"
Leon tidak menjawab saking bersemangatnya.
"Pa,"
"Iya,"
"Maksudku main basket sungguhan, malah balik lagi ke sini."
"Bukannya ini juga seperti sungguhan, sama sajakan? sama-sama melempar bola ke keranjang." Jawab Leon.
__ADS_1
"Ring pa, bukan keranjang."
"Sama saja,"
"Beda,"
"Oke, oke, mainlah dulu beberapa menit nanti baru pergi ke lapangan basket."
Rajendra pun tidak punya pilihan selain mengiyakannya, tapi dia merasa senang karna ini pertama kalinya dia bersenang-senang dengan ayahnya setelah sekian lama.
Setelah puas bermain street basketball, Leon mengajak Rajendra untuk bermain maximum tune, yaitu permainan balapan.
Rajendra teringat masa kecilnya dulu, dia sering bermain ini, bersama ayahnya.
"Papa ingat dulu kamu selalu bersemangat jika papa mengajakmu bermain ini, ayo kita bernostalgia."
Setelah beberapa saat, giliran Rajendra yang mengajak papanya bermain, dia mengajak papanya untuk bermain dance-dance revolution.
"Yang benar saja, kamu mau papa main ini?"
Rajendra mengangguk seperti anak kecil.
Bram yang melihat tingkah ayah dan anak itu menangis haru.
"Kenapa? papa takut encok?" ejek Rajendra
"Anak ini," Leon memukul pelan bahu putranya.
"Papa malu?" Kata Rajendra sambil tersenyum geli.
"Tidak, untuk apa papa malu, ayo kita bermain."
Mereka begitu bersenang-senang.
"Paman Bram habis nangis?" Tanya Rajendra pada Bram.
"Tidak tuan, saya hanya ikut senang melihat tuan dan ayah tuan bisa bersenang-senang bersama seperti ini."
Rajendra tersenyum, "Terimakasih Paman sudah menemani papaku sampai saat ini, dan terimakasih juga dulu Paman membantu menjagaku dan mama."
"Tidak tuan, nyatanya saya tidak bisa melakukan apa-apa untuk Tuan dan Nona."
"Paman jangan bicara seperti itu, Jasa paman sangatlah besar untuk keluarga kami, oh ya, apa paman sudah menikah?"
"Sudah tuan, saya punya satu anak laki-laki dan kembar perempuan, yang kembar beda empat tahun dengan tuan dan yang anak laki-laki sekarang sudah kelas satu Sekolah Dasar."
"Wah selamat ya paman, aku ikut senang mendengarnya, kalau begitu, dulu waktu aku masih di kota x paman sudah menikah?"
"Belum, waktu itu kami masih pacaran, karna dukungan dari ayah tuan akhirnya kami bisa menikah."
"Begitu, lalu dimana kedua putri paman sekarang?"
"Mereka sedang mempersiapkan diri untuk masuk sekolah menengah atas."
"Mereka pasti anak-anak yang cerdas."
"Tidak secerdas tuan,"
"Kalau ada kesempatan aku ingin sekali bertemu dengan mereka."
"Oh, tentu saja tuan, mereka pasti senang mereka sangat menyukai tuan."
"Memangnya mereka tau rupaku."
"Em, iya, saya memperlihatkan foto tuan, dan memberitau siapa tuan pada mereka, maaf atas kelancangan saya tuan." Ucap Bram sambil membungkuk.
"Kenapa meminta maaf, paman tidak boleh membungkuk di hadapan anak-anak, ekhem.. terutama pada anak remaja sepertiku, itu bisa merusak wibawa paman."
Bram tersenyum.
__ADS_1
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Leon yang baru saja kembali, dia membawa tiga kaleng minuman dingin.