
Pagi hari di kantor Anindira,
Claira terlihat sedang asyik memandangi Handphonenya.
Anindira menghampiri Claira dan melihat apa yang sedang dia lakukan dengan handphonenya, "Ekheemm,"
Claira tidak menyadari kalau Anindira berada di sampingnya dan melihat isi handphonenya.
"Ekhhemm,"
"Oh, hai Dira,"
"Hai, jadi kamu dan Dokter Jo gimana, jadi ketemu?"
"Iya, nanti habis dari kantor aku ketemu dia."
"Oh, tapi kok kamu kelihatan senang ada apa nih?"
"Hehehe, iya dong, kan sambil menyelam minum air." Katanya sambil senyam senyum.
Anindira balas senyum, "Iya deh serah kamu, jangan lupa setor penjelasan ya nanti."
"Iya, iya, pokoknya kalau aku berhasil, kamu dan Dean juga akan senang."
"Emm, jadi penasaran apaan,"
"Ya, tunggu aja nanti,"
"Selamat pagi semuanya," Sapa Dean.
"Oh, pagi Dean, Dokter Jo,"
"Oh, Jo kamu datang juga?" Kata Claira.
"Jo?" Kata Dean dan Anindira barengan.
Claira menengok, "Em,"
"Aku yang memintanya memanggilku dengan nama saja, supaya tidak terdengar terlalu formal."
"Oh," Kata Dean dan Anindira lagi.
"Jadi, apa kamu sedang sibuk sekarang?" Tanya Jo pada Claira.
Dean dan Anindira menatap mereka dengan penasaran.
"Aku dan Jo temu janji untuk membahas tentang masalahku." Kata Claira menjelaskan.
"Oh," Kata Dean.
"Hm, jadi begitu, kamu bilang kalian akan bertemu habis pulang ngantor," Kata Anindira pada Claira.
"Oh, begitukah?" Kata Jo.
"Iya, kan kamu yang bilang," Jawab Claira
"Oh iya, tadinya memang begitu, tapi karna kebetulan hari ini aku ambil cuti, terus ketemu Dean di jalan, katanya dia mau kesini jadi aku juga ikut ke sini."
"Oh," Kata Dean, Anindira, dan Claira.
"Ya udah, aku mau cek bahan pakaian dulu di gudang." Kata Anindira sambil pergi.
"Lah, dia pergi gitu aja."
"Kalau gitu, kalian lanjutin aja, aku mau nyusul Dira ke gudang." Kata Dean.
"Mau ngapain?"
"Mau bantuin dia lah Clair."
"Oh,"
Dean pergi ke gudang untuk membantu Anindira.
__ADS_1
"Apa aku mengganggu pekerjaan kalian?"
"Enggak kok, aku lagi senggang,"
"Jadi gimana?"
"Kamu maunya gimana?"
"Malah nanya balik,"
"Ya aku harus tahu dulu maunya kamu gimana,"
"Oke, masalah ketemu ibu kamu, kita temui beliau sekarang aja, mumpung aku lagi free, besok sampai seminggu ke depan aku akan sibuk, akan sangat sulit untuk mencari waktu lagi."
"Oh oke, lebih cepat lebih baik kan."
"Ayo berangkat,"
Pipi Claira memerah, "Ya ampun, udah kayak pasangan aja kita," Ucap Claira dalam hati.
Sepanjang perjalanan Claira pun banyak mengobrol dengan Jo.
20 menit kemudian,
"Kita sudah sampai Jo,"
"Ini rumahmu?"
"Lebih tepatnya rumah orangtua ku,"
"Oh iya, tadi kan kamu cerita udah punya rumah sendiri ya."
"Jo, kamu punya kebiasaan lupa sama hal-hal kecil seperti itu ya,"
"Hahaha, kayaknya iya,"
"Kamu ada-ada aja."
Ayah nya Claira keluar dari rumah untuk menyiram tanaman, "Loh Clair," Melihat jam di tangannya, "Ini baru jam delapan loh, kenapa kamu sudah balik?"
"Ada apa?"
"Ada yang mau aku omongin sama Dady and Momy, sekalian mau ngenalin seseorang."
"Oh, Mom, Mom,"
"Iya, ada apa?"
"Ini, Clair katanya mau ngobrol sama kita, sama ada seseorang yang mau dia kenalin juga."
"Siapa?"
"Ini Mom, perkenalkan dia Dokter Jo, kekasihku."
"Kekasihmu?!" Kata Dady and Momy nya Clair kaget.
"Iya,"
"Bukannya kamu sama Dean?" Tanya Momy nya.
"Karna itu aku mau jelasin ke Momy, bisakah kita masuk dulu lalu bicara?"
"Ah, iya, ayo masuk, Jo, silahkan" Kata Dady nya.
Mereka pun duduk di ruang tamu, Claira menjelaskan pada orangtua nya kalau dia menyukai Jo bukannya Dean.
"Lalu kenapa kamu menyimpan foto nya Dean? Momy lihat, kamu sering ngeliatin fotonya Dean sambil di zoom gitu."
"Itu dulu Mom, dulu aku memang suka sama Dean, tapi Dean menyukai Dira, bahkan dari semenjak mereka masih remaja, aku tidak menginginkan cinta yang bertepuk sebelah tangan, terus, aku ketemu sama Dokter Jo, lalu.. kami saling jatuh cinta."
"Oh, jadi, Momy udah salah paham dong sama Dira,"
"Iya kan aku sudah bilang, Momy gak mau dengerin aku sih."
__ADS_1
"Makanya, kalau marah tuh pakai aturan, jadinya kamu yang malu sendiri." Kata Dady.
"Maafin Momy, Momy kebawa perasaan."
"Jadi, Momy mau kan ketemu sama Dira, dan baikan lagi sama dia?"
"Momy yang salah, Momy harus minta maaf sama dia, Momy sudah memaki dia habis-habisan."
"Ya sudah, nanti kita harus luangin waktu buat ketemu sama Dira dan minta maaf." Kata Dady sambil merangkul pundak Momy.
Momy pun menyetujuinya.
Claira sangat senang, dia telah berhasil menjalankan rencanya, tapi dia tidak tahu dengan apa yang akan terjadi ke depannya.
"Kamu senang?"
"Tentu, Dira adalah teman baikku, aku tidak ingin dia bersedih karna kesalahpahaman ini."
"Aku menyukai gadis sepertimu,"
"Benarkah?"
"Iya,"
"Aku juga menyukai pria sepertimu Jo,"
"Kenapa kamu ikut-ikutan,"
"Kamu yang nyerang duluan Jo."
"Hahaha," Mereka pun tertawa bersama.
"Boleh aku bertanya?"
"Tanya saja,"
"Apakah benar kamu sudah move on dari Dean?"
"Aku tidak berani untuk tidak move on darinya, karna kalau aku masih menyimpan perasaan padanya, aku akan merasa sangat berdosa."
"Iya, kamu akan sangat berdosa sekali, cinta Dean pada Anindira itu sangat tulus dan suci, dia hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya."
"Benar, mereka sangat serasi."
"Untung saja Dira menerima cintanya, kalau tidak, dia tidak akan pernah menikah seumur hidupnya."
"Iya, kamu tahu Jo, sebenarnya Dira juga sudah menyukai Dean dari sejak lama, hanya saja dia telat menyadari perasaannya."
"Aku bisa mengerti perasaannya, dia telah mengalami banyak hal dalam hidupnya."
"Kamu tahu tentang masalalunya Dira Jo?"
"Iya, Dean yang cerita padaku."
"Dari sejak kapan kamu dan Dean berteman dekat?"
"Sejak kelas lima SD, waktu itu aku adalah murid pindahan, rumahku juga bersebelahan dengan Dean dan Dira, mereka adalah teman pertamaku, mereka menyambutku dengan hangat, aku menyukai mereka."
"Berarti kamu tahu banyak hal tentang mereka?"
"Iya, gak banyak tahu juga, karna setelah lulus SMP, aku pindah ke sini, dan melanjutkan pendidikanku di sini, aku tidak tahu kalau waktu itu mereka mengalami kesulitan, terutama Dira."
"Apa yang telah mereka alami waktu itu?"
"Aku mendengar kabar, kalau perusahaan ayah nya Dira mengalami gulung tikar, rumahnya di sita."
"Lalu, bagaimana dengan nasib Dira dan keluarganya waktu itu?"
"Mereka tinggal bersama adik dari ayahnya, Dira mendapat perlakuan buruk dari bibi nya, Dean pun sering kena marah karna dia berusaha membela Dira."
"Ya ampun,"
"Karna itu orangtua nya Dean melarang dia untuk bertemu Dira lagi, diam-diam Dean mencari pekerjaan untuk mengumpulkan uang, supaya dia bisa mengeluarkan Dira dari rumah itu.."
__ADS_1
Jo mengepalkan tangannya, dia tidak sanggup menceritakan lebih banyak lagi tentang masalalu kedua temannya itu.