
"Dira, bukankah Leon bilang itu hanya penyakit biasa, jangan terlalu cemas." Hibur ibu.
"Iya bu,"
"Ayo masuklah ke kamar kalian, istirahatlah." Kata kakek.
"Rendra, nenek sudah menyiapkan satu kamar khusus untuk kamu."
"Benarkah? nenek kan tidak tau tentang kepulanganku hari ini, kok bisa nenek menyiapkan kamar khusus untukku."
"Nenek menyiapkannya dari jauh-jauh hari, biar kamu punya tempat tidur sendiri kalau pulang ke rumah."
"Ah, nenekku sangat baik,"
"Tentu saja, nenek sayang sama cucu nenek."
Ibu menunjukkan kamar yang beliau siapkan untuk cucunya.
"Woah, ini sangat bagus nek, nenek masih ingat dengan karakter superhero yang aku sukai waktu kecil dulu?"
"Tentu nenek ingat, nenek menyuruh seseorang melukis gambar itu di tembok kamar kamu, nenek juga memasang beberapa foto kamu waktu masih kecil bersama ibumu, supaya kamu selalu mengenang masa kecilmu, kenangan masa kecil adalah kenangan yang paling berharga."
"Nenek benar, aku tidak akan pernah lupa dengan kenangan masa kecilku, kenangan yang paling berharga bersama mama."
"Istirahatlah dulu, nanti akan nenek panggil jika sudah waktunya makan malam."
"Iya nek, terimakasih."
"Sama-sama cucu nenek yang tampan." Seraya tersenyum sambil mengusap kepala Rajendra.
Beberapa saat kemudian.
Ibu memanggil Anindira dan Rajendra untuk makan malam.
Setelah makan malam, ibu bertanya pada Anindira, "Dira, apa kalian pulang bersama Dean?"
"Oh iya, aku lupa nyampein, Dean titip salam, dia gak bisa kesini untuk nemuin ibu dan ayah, karna pamannya sedang mengalami masalah."
"Oh, begitu, semoga saja masalah pamannya Dean bisa segera terselesaikan."
"Amin,"
Keesokan harinya.
Ting tong, suara bel rumah berbunyi
"Sebentar," Membuka pintu.
"Selamat pagi nyonya,"
"Selamat pagi, Nak Bram kan?"
"Iya nyonya,"
"Ada apa nak, kamu kesini sama Nak Leon?"
"Tidak nyonya, justru saya kesini atas perintah tuan untuk menjemput nona dan tuan muda."
__ADS_1
"Apa ada masalah?!"
Bram terdiam.
"Kenapa Nak Bram terlihat sedih?"
"Sebaiknya nyonya juga ikut saja, saya tidak sanggup mengatakannya."
"Ba baiklah, saya akan panggilkan Anindira, Rajendra, dan ayahnya juga."
"Iya yonya,"
"Ada apa bu, siapa yang datang?"
"Dira, ini Nak Bram.."
"Kak Bram?! ada apa?"
"Saya kesini untuk menjemput nona dan keluarga."
"Apa terjadi sesuatu?" Tanya Anindira dengan perasaan cemas.
"Sebaiknya nona dan keluarga ikut saja bersama saya."
"Baiklah,"
Merekapun berangkat ke rumah sakit.
Alangkah terkejutnya Anindira ketika dia melihat keadaan Leon yang semakin melemah.
Leon membuka ventilator dan bicara pada Anindira, "Di, Dira, maaf, hanya ini yang bisa a aku lakukan untukmu, to tolong jaga putra kita."
"Jangan bicara seperti itu, kamu akan baik-baik saja, kemarin kamu sangat percaya diri berkata kalau kamu baik-baik saja, kamu hanya sakit bukan sekarat iya kan, katakan iya."
"Di ra, a aku tidak pu nya banyak wak tu, bisakah kamu me nyuruh Dean untuk da tang?"
"Tuan, tuan Dean sedang di jalan menuju kesini." Kata Bram.
"Kata kan padanya ce pat, atau a ku akan per gi tanpa ber temu dengannya dulu."
"Aku di sini Leon, kamu akan baik-baik saja, jangan bicara omong kosong."
"Ti dak Dean, su dah waktunya a ku akan per gi, tolong jaga Di ra dan Ren dra, kamu bi sa mem buat me reka ba hagia kan."
Semuanya terdiam sedih.
"Papa, jangan katakan itu, bagaimana aku bisa hidup tanpa papa? papa akan sembuh, kita bisa pergi bersama lagi nanti, kita akan main game sepuasnya di hari libur."
"Ma af nak, pa pa ti dak bisa me nema nimu le bih lama la gi, ta pi per cayalah pa pa sang at mencin taimu put raku, kamu a da lah ke banggaan papa." Ucap Leon dengan nafas tersengal-sengal.
Rajendra memeluk Leon dengan erat sambil menangis, "Papa,"
"De an ber janjilah untuk se lalu mem buat Di ra dan put raku ba ha gia." Leon menyatukan tangan Anindira, Dean dan Rajendra.
Anindira tidak mampu menahan kesedihannya, begitupun dengan Dean.
"Iya, aku berjanji padamu, aku akan selalu menjaga mereka dan membuat mereka bahagia."
__ADS_1
Leon tersenyum lalu menghembuskan nafas terakhirnya, dokter segera memeriksa keadaan Leon, beliau menggelengkan kepala takdir tidak bisa di ubah, kalau ajal sudah menjemput dokter pun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tidak, papa.." Teriak Rajendra, dia memeluk dan mengguncang-guncang tubuh papanya.
Semuanya tenggelam dalam kesedihan, terutama kedua orang tua Leon.
"Rendra, sudah, kasihan papamu." Anindira berusaha menenangkan Rajendra di tengah isak tangisnya.
"Ma, Rendra baru saja bertemu dan bicara lagi sama papa, masih banyak yang ingin Rendra lakukan bersama papa, kami tidak banyak menghabiskan waktu bersama, pertemuan Rendra dan papa begitu singkat."
"Sabar sayang, tenang, tenang ya, tarik nafas lalu hembuskan." Hiburnya sambil memeluk putranya.
"Tidak.. kenapa takdir begitu kejam pada keluarga kita."
"Sudah cukup Rendra, ikhlaskan papamu pergi, biarkan dia pergi dengan tenang,"
Anindira menarik nafas untuk mengendalikan kesedihannya dan melanjutkan perkataannya, "Tadi kamu bilang apa, kamu tidak banyak menghabiskan waktu bersama papamu? itu tidak benar sayang, walaupun singkat, tapi kamu punya banyak kenangan masa kecil bersama papamu."
"Duduklah, tenangkan dirimu,"
Air mata seolah tidak mau berhenti menetes, semua keluarga bersedih karna kepergiannya.
Setelah jasad Leon di bawa pulang, keluarga mempersiapkan pemakamannya.
Setelah pemakaman selesai.
"Dira, Rendra, kalian boleh menangis, tapi jangan terlalu larut dalam kesedihan, Leon tidak akan suka melihat kalian terus-terusan merasa bersedih, ayo kita pulang."
Anindira menghapus air matanya, dan berusaha membujuk Rajendra, "Rendra, ayo kita pulang nak, biarkan papamu tenang di sana."
Akhirnya Rajendra setuju untuk pulang.
Keesokan harinya.
"Dira, Rendra, ayo makan dulu nak,"
"Rendra tidak lapar nek,"
"Sayang makanlah, dari kemarin kamu belum makan, jangan menyiksa dirimu sendiri seperti ini."
"Rendra menyesal ma, seharusnya Rendra bertanya kenapa papa pulang mendadak, kenapa papa bicara seperti itu padaku sebelum papa pergi."
"Papamu bicara apa?"
Rajendra termenung dan bergumam dalam hati, "Benar, papa memberikan sebuah kotak cincin padaku sebelum papa pergi, aku harus segera melakukan sesuatu dengan kotak cincin itu, itu.. adalah wasiat dari papa." Rajendra kembali meneteskan air mata.
Sesaat kemudian dia menghapus air matanya, "Aku harus segera menemui Paman Dean." Katanya dalam hati.
"Rendra, kamu mau kemana?"
"Rendra mau menemui Paman Dean ma."
"Sebelum menemuinya makanlah dulu."
"Nanti saja ma, Rendra harus segera menemui Paman Dean."
"Memangnya ada apa, kenapa harus terburu-buru? rumahnya juga tidak begitu jauh kan."
__ADS_1