
Setelah Leon menyusul Anindira dan Rajendra ke bandara waktu itu, Leon merasa sangat sedih karna dia terlambat untuk menemui mereka.
Selama 15 tahun Leon tidak pernah mau berhubungan lagi dengan seorang wanita, dia juga tidak pernah menghubungi Anindira dan Rajendra lagi karna dia merasa tidak pantas, dia pikir Anindira dan Rajendra sudah bahagia dengan kehidupan barunya bersama Dean.
Dia berpikir jika dia menghubungi mereka, dia hanya akan mengusik kebahagiaan mereka saja.
Leon berkali-kali berusaha untuk mencoba menghubungi mereka tapi dia selalu mengurungkan niatnya.
Makanya ketika mereka bertemu dengan Leon mereka terkejut, terutama Rajendra.
"Papa?!" ucap Rajendra.
"Bang Leon?!" ucap Dira.
"Dira apa kabar?"
"Aku baik bang."
"Syukurlah, Rendra selamat ya nak! papa bangga sama kamu, papa bahagia mendengar kamu menjadi murid terbaik di sekolahmu kamu memang anak papa! kamu sudah dewasa sekarang." Ucap Leon sambil memegang kedua pundak Rajendra.
Di luar dugaan Rajendra menepis tangan Leon dan berkata, "Kenapa papa datang? aku tidak ingin bertemu dengan papa!" Kata Rajendra lalu pergi begitu saja.
"Rendra?" panggil Leon.
Leon bermaksud untuk menyusul Rajendra tapi Anindira melarangnya.
"Jangan bang! beri dia waktu untuk sendiri."
"Sebenarnya dia sangat merindukanmu Leon, hanya saja gengsinya terlalu tinggi untuk mengakui itu." Kata Dean.
"Kapan abang datang ke sini?" tanya Anindira.
"Aku sampai di sini kemarin malam untuk menjalankan proyek, kebetulan tadi Dean menghubungiku dan memberitahu kalau hari ini adalah hari kelulusan Rajendra, makanya aku datang."
"Jadi abang datang ke sini karna Dean yang menghubungi abang?"
"Iya ra, aku gak bisa liat Rendra sedih, lagian kan mumpung dia ada di sini juga." Kata Dean.
"Maafin aku Dira! selama ini aku gak bermaksud untuk melupakan kalian, aku hanya tidak mau merusak kebahagiaan kalian."
"Enggak kok bang, justru setiap saat Rajendra selalu menunggu papanya untuk mau bicara dengannya walau hanya lewat telpon atau video call."
"Iya, seharusnya aku melakukan ini sejak dulu. Menemuinya atau hanya sekedar mengobrol di telpon dengannya, mungkin kalau aku menanyakan kabarnya, dan tetap menjaga hubunganku dengannya, dia tidak akan membenciku seperti sekarang ini."
"Rendra gak pernah membenci kamu bang, dia hanya merasa kesal saja percayalah sebentar lagi juga rasa kesalnya akan hilang."
"Baiklah, kalian silahkan mengobrol saja di sini! biar aku yang bicara pada Rajendra." Ucap Dean.
"Iya, tolong ya Dean!" kata Anindira.
__ADS_1
"Serahkan saja padaku."
Dean pergi untuk bicara pada Rajendra, Dean mencari Rajendra ke sana kemari, ketika dia melihat ke atas ternyata Rajendra ada di atas pohon.
"Rendra?! sedang apa kamu di situ? kamu mau turun atau aku yang naik ke atas."
"Ada apa paman?"
"Aku ingin bicara denganmu, sebentar biar aku naik ke atas dulu."
"Jangan!"
"Kenapa?"
"Nanti rantingnya patah, biar aku saja yang turun."
"Dari tadi ke."
"Paman mau bicara apa?"
"Ikut aku dulu yuk?"
"Kemana?"
"Duduk di kursi panjang itu, dari tadi kakiku pegel duduk dulu yuk!"
"Jadi apa yang ingin paman bicarakan?"
"Ini tentang papamu!"
"Kalau begitu aku berubah pikiran, aku tidak mau mendengarkan paman." Kata Rajendra sambil berdiri dan bermaksud untuk pergi dari sana.
Tapi Dean menahannya dan memegang bahunya, "Kamu mau kemana? kamu tidak bisa mengabaikan paman seperti kamu mengabaikan papamu."
"Sebenarnya apa yang paman inginkan? apa paman mencoba untuk membujukku supaya aku mau bertemu dengan papa? kenapa? bukannya paman sangat menyukai mama, bukannya dari dulu paman mencintai mama? lalu kenapa paman membantu papa untuk bertemu dengan aku dan mama?"
"Apa hubungannya semua itu dengan perasaanku terhadap mamamu?"
"Ada, kalau paman terus-terusan seperti ini mama tidak akan pernah bisa membuka hatinya untuk paman karna papa."
"Lalu apa masalahnya? bukannya itu yang kamu mau? kalau papa dan mamamu bersama lagi kamu akan mendapatkan keluarga yang utuh."
"Apa paman menghina kami? bagaimana bisa mama kembali bersama papa yang sudah menikahi wanita lain dan melupakan kami!"
"Rendra, papamu tidak pernah menikahi Aira."
"Bohong! aku tau papa sudah menikah dengan wanita itu, bahkan mereka mempunyai anak di luar nikah."
"Apa kamu tidak merasa kasihan terhadap papamu? memang waktu itu papamu mau menikah dengan Aira tapi itu karna dia di jebak, papamu tidak pernah melakukan hubungan terlarang dengannya, itu bukanlah anak dari papamu."
__ADS_1
Rajendra terkejut mendengar apa yang Dean katakan.
"Sebenarnya waktu itu papamu tidak jadi menikah dengan Aira, dia berusaha menyusul kalian ke bandara tapi pesawat kita sudah lepas landas."
"Kalau begitu kenapa dia tidak berusaha untuk menghubungi kami atau menyusul ke sini? apa paman bisa menjawabnya?"
Dean terdiam.
"Kenapa paman diam?"
"Tenanglah Rendra! duduklah!" kata Dean sambil menarik lengan Rajendra dan menyuruhnya untuk duduk.
"Papamu tidak pernah menghubungimu itu karna dia berpikir kalau aku dan mamamu akan melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat di sini, dia tidak mau menjadi perusak di antara kebahagian kita."
"Tapi nyatanya aku berkali-kali mendapat penolakan dari mamamu, karna itu aku pikir lebih baik aku menyerah saja, karna mamamu tidak pernah mencintaiku."
"Apalagi ketika aku tau ternyata papamu tidak jadi menikah dengan Aira aku rasa tidak ada salahnya kalau aku membantu kalian untuk bersatu lagi."
"Dan asal kamu tau saja Rendra selama 15 tahun ini papamu tidak pernah melupakan kalian, tapi ya aku senang di hadapanku kamu bisa mejadi dirimu sendiri, tanpa ragu kamu mencurahkan semua kekesalanmu padaku aku benar-benar merasa seperti menjadi seorang ayah."
"Tidak perlu terburu-buru, kamu butuh waktu untuk mencerna semua kesalahpahaman ini." Kata Dean lalu pergi meninggalkan Rajendra.
"Dira, aku ingin memberikan sesuatu untukmu." Leon mengeluarkan sebuah surat dari saku jasnya lalu memberikannya pada Anindira.
"Surat?"
"Iya"
"Dari siapa?
"Buka saja! wanita tua itu yang menulisnya untukmu."
"Wanita tua?!"
"Bibimu Gena."
Anindira membuka surat itu, yang dimana isi surat itu adalah permohonan maaf dari Gena untuk Anindira dan keluarganya, dia juga menyatakan kepemilikan dari semua harta yang dia miliki atas nama Anindira.
"Bibi meninggalkan semua ini untukku?"
"Iya, seperti yang tertulis di surat itu kalau dia sangat menyesali perbuatannya, dia menyerahkan diri ke polisi, dan memberikan semua harta yang dia miliki untuk mengganti uang yang sudah dia rampas dari kalian. Sepertinya dia benar-benar berubah menjadi orang yang baik berkat kekasihnya Aira."
"Kekasih Aira?! bukannya Aira sama abang..?"
"Aku tidak jadi menikah dengannya."
"Kenapa?"
"Karna anak yang dia kandung adalah hasil dari hubungan dia dengan kekasihnya.
__ADS_1