
Leon membuka hasil tes itu dan hasilnya adalah 100% cocok, Kini tidak ada keraguan lagi pada hati Leon tentang Anindira dan anaknya.
"Terimakasih atas bantuannya dokter!"
ucap Anindira pada dokter yang membantunya melakukan tes DNA.
Leon menatap Anindira yang sedang berbicara dengan dokter, dia menghampirinya dengan mata berkaca-kaca.
Ketika Leon mau menyentuh bahu Anindira, dia berbalik padanya, Leon mengusap air matanya.
"Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau, ayo kita pulang!" ucap Anindira.
Mereka pun pulang ke rumah, ketika mereka sampai, Aluna sudah menantinya di teras depan dengan membawa Rajendra di pangkuannya.
"Bagaimana hasilnya Mas?" tanya Aluna pada Leon.
Leon tidak menjawab pertanyaan Aluna.
"Kenapa kamu tidak menjawab mas?"
Leon memberikan hasil tesnya pada Aluna, dia mengambil dan membuka hasil tes itu.
"Aku kan sering bilang sama kamu mas, Rajendra adalah anak kandungmu, mulai sekarang kamu jangan pernah menaruh rasa curiga lagi pada Dira." Ucap Aluna sambil menangis lalu mengecup kening Rajendra.
"Iya, aku tau aku salah, aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi."
Anindira, terlihat tidak perduli dengan penyesalan Leon dia mengambil Rajendra dari pangkuan Aluna.
"Sini Mba! Rajendra pasti lapar, aku akan menyusuinya dulu." Anindira membawa Rajendra ke kamarnya dan menyusuinya.
Aluna melihat penyesalan di mata Leon dia terlihat murung dan tidak banyak bicara.
"Gapapa mas, kamu jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri, sedikit demi sedikit Dira pasti mau memaafkan kamu."
Leon tersenyum pahit, "Kamu terlihat lelah, apa kamu mau istirahat? biar aku mengantarmu ke kamar." Ucap Leon pada Aluna.
"Iya, aku merasa agak sesak di sini karna banyak orang."
"Oke, ayo kita ke kamar!"
Keesokan paginya Anindira dan Leon mengunjungi panti jompo untuk memberikan sedekah pada semua jompo yang ada di sana, Leon menyumbangkan sejumlah uang sebagai ungkapan rasa syukurnya.
Anindira juga memberikan beberapa bingkisan untuk anak-anak jalanan.
Acara tasyakuran berlangsung pada siang hari mereka mengundang fakir miskin, dan anak yatim atas permintaan Anindira.
__ADS_1
Hari itu, orang tua Anindira bermaksud untuk menjenguk anak dan cucunya.
Mereka mampir ke supermarket untuk membeli oleh-oleh, tak di duga di sana mereka bertemu dengan Gena.
"Oh, Apakah ini kakak dan kakak ipar? lama tidak berjumpa ya! sepertinya sekarang hidup kalian senang dan punya banyak uang."
"Apa maumu?!" ucap ayah Anindira dengan sinis.
"Ow, santai, aku cuma mau ngasih tau kalau Istri pertama menantu kesayangan kalian itu sudah sembuh, dan sekarang mereka sedang mengadakan acara tasyakuran untuk menantu kesayangan mereka dan cucu mereka satu-satunya."
Kedua orang tua Anindira terkejut, karna keluarga Leon tidak ada yang memberitau mereka.
"Loh, loh, kenapa kalian terkejut? jangan-jangan mereka tidak memberitau kalian ya? mereka ini sangat keterlaluan ya! padahal kan kalian itu besan mereka, dan anaknya Anindira itu juga cucu kalian, tapi sepertinya mereka hanya menginginkan anak itu menjadi milik mereka seorang."
"Dan Anindira, tidak tau nasibnya akan seperti apa nanti." Gena terus mengompori mereka.
Ayah Anindira merasa sangat marah, dia langsung pergi bersama istrinya dari supermarket menuju rumah Pradana, mereka tidak jadi membeli oleh-oleh.
Semua orang berkumpul di rumah Pradana, termasuk yang punya hajat Aluna dan Rajendra kecil.
Anindira memperhatikan sekitarnya, dia melihat ke arah pintu masuk lalu menghampiri mamanya Leon, "Ma, bagaimana dengan kedua orang tuaku apa mereka sudah datang?" tanya Anindira.
"Oh, ya ampun maaf Dira mama lupa kasih tau kamu, kemarin waktu mama menghubungi mereka, mereka bilang tidak bisa datang karna ada urusan penting."
"Gapapa sayang, nanti kamu bisa menemui mereka kapanpun kamu mau, mama akan menyuruh seseorang mengantarkan bingkisan untuk kedua orang tuamu."
Anindira tersenyum pahit lalu beranjak dari sana.
"Maafkan mama Dira, mama melakukannya karna mama tidak mau kamu dan Rajendra pergi dari rumah ini." Ucap mamanya Leon dalam hati.
Anindira duduk di kursi dengan menggendong Rajendra di pangkuannya.
Acara tasyakuran pun di mulai dengan di pimpin oleh kiai setempat.
Setelah acara 7 hari dan aqiqahannya Rajendra selesai, Rajendra kecil tertidur lelap. Lalu Anindira membawanya ke kamar dan menidurkannya di ranjang.
Ketika acara hampir selesai, mereka membagikan bingkisan dan sebuah amplop yang berisi uang kepada para tamu undangan.
"Leon, apa kamu melupakan aku dan istriku!" ayah Anindira langsung menerobos masuk ke rumah mereka dengan penuh kemarahan.
Anindira terperanjat mendengar suara ayahnya, dia keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi, dan meninggalkan Rajendra sendirian di kamar.
Semua orang menatap kedua orang tuanya Anindira.
"Ayah?" ucap Anindira dengan pelan.
__ADS_1
Keadaan di rumah itu berubah menjadi tegang.
"Ayah mertua, ibu mertua, kalian baru sampai?"
tanya Leon pada mertuanya.
Mamanya Leon terkejut, dia tidak menyangka kalau besannya itu akan datang ke rumah.
Ibu Anindira mencoba menenangkan suaminya dengan mengusap bahunya.
"Iya kami baru sampai, apa acaranya sudah selesai?" tanya ayah Anindira menahan amarahnya.
"Acaranya sudah mau selesai ayah mertua." Jawab Leon.
Anindira merasa ada yang janggal dia menatap mama mertuanya, wajah mama mertuanya merah padam karna merasa malu telah membohongi Anindira.
"Kalau begitu silahkan lanjutkan saja, kami akan menunggu sambil duduk di kursi." Kata Ayahnya Anindira.
Anindira hanya diam terpaku sampai acara selesai.
Setelah semua tamu undangan pergi, ayah Anindira berdiri dan berkata pada Leon, "Apa begini caramu menghormati orangtua?"
Leon kebingungan, dia tidak mengerti kenapa mertuanya bicara seperti itu, "Maksud ayah apa, kenapa tiba-tiba ayah bicara seperti itu?"
"Sudah berulangkali aku katakan jangan panggil aku ayah! aku tidak punya menantu yang tidak punya rasa hormat sepertimu."
"Kamu juga Dira, apa kamu sudah melupakan orang tuamu ini? kenapa kamu tidak memberitau ayah kalau kalian akan mengadakan tasyakuran untuk Aluna dan Rajendra?"
"Apa yang ayah katakan?! bukankah kemarin mamanya Leon sudah memberitau ayah lewat telpon?"
"Kalau ayah tau, ayah tidak akan terlambat datang ke sini!"
Anindira menatap mamanya Leon, tapi mamanya Leon malah memalingkan wajah.
Ketika pikiran semua orang teralihkan, Gena masuk lewat pintu belakang dia diam-diam masuk ke kamar Rajendra dan membawanya pergi dari rumah itu.
"Di mana cucuku?" tanya ayah Anindira.
"Ada di kamar, dia sedang tidur." Jawab Anindira
"Ayo ikut ayah dan bawa Rajendra pulang sekarang!" ayah Dira menarik tangannya ke kamar Rajendra untuk membawanya pergi dari rumah Pradana.
Leon, Aluna dan ibunya Anindira mengikuti mereka, tapi ketika mereka masuk, Rajendra sudah tidak ada di ranjangnya.
Semua orang terkejut, "Rajendra? di mana dia, di mana anakku? tadi dia ada di sini, kemana dia?" Anindira memanggil-manggil Anaknya dengan penuh rasa cemas.
__ADS_1