
ALuna menggendong Rajendra kecil di pangkuannya.
Anindira bertanya pada salah satu pelayan di rumah itu, "Kenapa semua orang terlihat sibuk?"
"Nona, kami sedang mempersiapkan acara tasyakuran kesembuhan Nona Besar, dan 7 harinya Tuan Kecil sekaligus aqiqahannya."
Anindira menatap Leon.
"Apa yang kamu lihat?" kata Leon
"Kenapa kamu tidak memberitauku?"
"Apa aku harus memberitaumu tentang ini?" ucap Leon dengan ekspresi sombong.
"Mas Leon, Dira, sudahlah kalian tidak perlu berdebat!"
"Hei, apa yang kamu katakan! aku berhak tau karna aku adalah ibunya, kamu tidak bisa memutuskannya sendiri!" ucap Anindira sambil berkacak pinggang.
"Aku juga adalah Ayahnya, dan kepala keluarga di rumah ini, aku berhak memutuskannya! yang lain hanya perlu diam dan ikuti saja." Kata Leon sambil melipatkan kedua tangan di dadanya.
Tuk.. ayah Leon mengepalkan tangannya dan memukul pelan kepala Leon, "Siapa yang kepala keluarga di rumah ini?! kamu anggap papa ini apa? selama papa masih hidup kepala keluarga rumah ini adalah papa!"
Aluna tersenyum puas, Anindira mendorong kursi roda Aluna dan membawanya ke teras.
"Hei, kalian mau kemana?" Leon bermaksud mengikuti mereka.
"Leon, kamu tetap di sini bantu papa dan mama mengatur semuanya!" kata papanya Leon.
"Hhaahh, baiklah pa."
Gena yang waktu itu mendengar Anindira telah kembali ke rumah Pradana merasa penasaran dan datang ke rumah Pradana untuk membuktikannya sendiri, "Ternyata memang benar dia kembali ke rumah itu!" kata Gena sambil menyeringai lalu pergi
"Mba, apa aku boleh memberitau kedua orang tuaku kalau kita akan mengadakan acara tasyakuran? aku juga ingin mereka datang."
"Tentu saja, mereka juga berhak tau dan mereka harus datang." Ucap Aluna sambil tersenyum, "Ayo kita bicara pada mama."
"Iya Mba,"
Aluna dan Anindira menemui mamanya Leon.
"Ma," Aluna memanggil mertuanya.
"Iya, hai sayangnya nenek, selamat pagi!" kata mamanya Leon ketika melihat Rajendra kecil yang sedang di gendong oleh Aluna, lalu dia
menggendongnya.
"Ma, kita perlu memberitau orang tuanya Dira kalau kita akan mengadakan acara tasyakuran!"
"Orang tua Dira?!" kata mamanya Leon.
Hati kecilnya menolak untuk memberitau orang tua Dira, karna kalau mereka datang dan mengetahui Aluna sudah sembuh, mereka pasti akan membawa Rajendra bersama mereka, dia tidak rela jika cucunya di bawa pergi oleh mereka.
__ADS_1
"Tentu saja, biar mama yang memberitau mereka! bawa Rajendra ke kamarnya! di sini banyak orang, terlalu bising, mama akan menghubungi orang tuamu." Mamanya Leon memberikan Rajendra pada Anindira untuk di bawa ke kamarnya.
Anindira hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Ayo Dira, kita bawa Rajendara ke kamarnya!"
"Iya Mba,"
"Aku tidak mungkin memberitau kedua orang tuanya Dira, mereka pasti tidak akan membiarkan Dira dan Rajendra tinggal lebih lama lagi di sini! apalagi kalau mereka tau Aluna sudah sembuh." Mamanya Leon mengoceh sendiri sambil berjalan kesana kemari, "Ya, aku tidak akan memberitau mereka aku akan katakan pada Anindira mereka tidak bisa datang karna ada urusan penting."
"Ada apa ma? kenapa mama bicara sendiri?"
"Tidak apa-apa, mama hanya berpikir bagaimana kalau bagian depan rumah di hias juga?" Kata mamanya Leon mengalihkan pembicaraan.
"Tidak usah ma, itu sepertinya terlalu berlebihan!" kata Anindira yang baru saja keluar dari kamar.
"Kenapa kamu menolak? padahal ini untuk Aluna dan Rajendra!"
"Tapi menurutku itu berlebihan, cukup di dalam rumah saja yang di hias! ini adalah acara tasyakuran bukan pesta!"
"Acara tasyakuran ini harus di adakan dengan mewah!" tegas Leon.
"Aku adalah ibunya Rajendra, aku yang paling berhak menentukan bagaimana acara tasyakuran ini akan berlangsung! kalau kamu ingin mengadakan pesta untuk kesembuhan Mba Aluna, silahkan saja! tapi lakukan itu setelah acara tasyakurannya selesai."
"Tidak bisa, Rajendra adalah putra dari seorang CEO ternama di kota ini, dia harus mendapatkan yang terbaik!"
"Tuan Leon Pradana, Ceo dari Golden Gate Capital dan pemegang saham terbesar di Negara 'Y' apa kamu tidak bisa membedakan acara tasyakuran dan pesta? yang namanya tasyakuran itu kita mengucap syukur kepada sang maha pencipta, seharusnya dengan memberi sedekah fakir miskin, dan anak yatim saja sudah cukup! tidak usah mengadakan acara semewah ini di rumah."
"Sudah cukup!" mamanya mencoba untuk melerai perdebatan mereka, "Kalian cukup berdebatnya! kayak anak kecil aja! baiklah, mama setuju dengan Dira kita tidak perlu menghias seluruh rumah, begini juga sudah cukup." Ucap mamanya Leon sambil memijat keningnya lalu pergi.
Leon menatap Anindira dengan tajam.
"Kenapa? mau berdebat lagi?" ucap Anindira pada Leon.
Leon mendelikan matanya dan menunjuk keningnya Anindira lalu pergi.
"Hhaahh, kenapa aku bisa menikah dengan pria aneh seperti dia."
"Ada apa Dira, kenapa kamu terlihat kesal?"
"Gapapa Mba, dimana Rajendra?"
"Dia baru saja tertidur."
"Dia sering sekali tertidur di siang hari."
Kemudian Handphone Anindira berbunyi, dia pergi keluar untuk mengangkat telpon.
Ternyata itu adalah telpon dari rumah sakit, pihak rumah sakit memberitau bahwa hasil tes DNA dari Leon dan Rajendra sudah keluar.
"Nona Anindira, hasil tes DNA dari tuan Leon dan putra kalian Rajendra Pradana sudah keluar."
__ADS_1
"Baiklah, kami akan datang untuk mengambil hasilnya." Kata Anindira lalu menutup telpon.
"Apa itu telpon dari rumah sakit?" tanya Leon.
Anindira mengangguk.
"Apa hasilnya sudah keluar?"
Anindira kembali mengangguk.
Leon menyentuh bahu Anindira dan membalikan badannya.
"Apa kamu bisu? kenapa kamu hanya mengangguk dan tidak menjawabku!"
Anindira menepis tangan Leon, "Apa kamu bodoh? mengangguk juga adalah sebuah jawaban."
Anindira masuk ke dalam rumah dan memberitau Aluna kalau dia akan pergi ke rumah sakit.
"Mba, aku mau pergi ke rumah sakit dulu."
"Mau apa kamu ke rumah sakit?" tanya aluna
"Mau mengambil hasil tes DNA Leon dan Rajendra."
"Kamu benar-benar melakukan tes DNA itu pada mereka?"
"Iya, sebenarnya tidak masalah jika seluruh keluarga ini masih meragukan aku dan anakku, aku hanya ingin membuktikan kalau aku tidak bersalah, aku hanya melakukan pembelaan diri."
"Baiklah, aku akan mendukung apapun keputusanmu." Kata aluna.
Anindira memanggil Ana dan menyuruhnya membawa Aluna kembali ke kamar.
"Ana,"
"Iya nona,"
"Bawa Mba Aluna ke kamarnya!"
"Tidak, bawa aku ke kamar Rajendra saja! aku akan beristirahat di kamar kalian hari ini, aku akan menemani Rajendra."
"Baiklah, Ana temani Mba Aluna dan Rajendra ya!"
"Baik nona, Ana membawa Aluna ke kamar Rajendra."
Hati Leon merasa luluh melihat kedekatan Anindira dan Aluna.
"Ayo kita berangkat!" ajak Leon.
Anindira langsung pergi dan masuk ke dalam mobil tanpa bicara apapun.
"Wanita ini, benar-benar tidak bisa di tebak." Ucap Leon.
__ADS_1
Mereka pun pergi ke rumah sakit, setelah sampai dokter memberikan hasil tesnya pada Anindira, dan dia memberikannya pada Leon.