
Leon sudah tidak bisa membendung rasa kesalnya lagi dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Pa, aku punya hak untuk menolak! karna Aku di jebak dia memasukan obat bius ke dalam minumanku sehingga malam itu mungkin aku melakukan hal tercela seperti itu padanya."
"Di jebak?! mungkin?! apa ini Leon? kamu jangan membuat-buat alasan untuk lari dari tanggung jawab." Kata papanya.
"Aku berkata jujur, jika papa tidak percaya lihatlah ini!"
Leon mengeluarkan laptop dan memperlihatkan bukti kebusukan Aira pada keluarganya.
"Ini tidak mungkin! bagaimana Aira yang terlihat polos melakukan hal serendah itu, dia berasal dari keluarga baik-baik bahkan Aluna menantu kita Yang adalah kakaknya Aira adalah orang yang baik dan bijaksana, bagaimana.. bagaimana ini mungkin!" ucap mamanya Leon sambil menutup mulutnya dengan tangannya.
"Itulah alasannya kenapa aku berubah pikiran, aku tidak mau menikahi wanita seperti itu."
"Meskipun seperti itu, dia sekarang sedang mengandung anak kamu kamu harus tetap bertanggung jawab! mungkin kamu bisa mengabaikan Aira Leon, tapi kamu tidak bisa mengabaikan anak yang ada dalam kandungannya. Itu adalah anakmu darah dagingmu jangan sampai kejadian seperti Rajendra dulu terulang lagi."
Leon terdiam dia tidak berdaya kalau sudah menyangkut tentang masalalunya, dia menutup laptopnya lalu pergi ke kamar.
Keesokan paginya, Aira dan keluarganya datang ke rumah Leon untuk berunding.
"Besan, seperti yang sudah kalian ketahui Aira hamil anaknya Leon maka dari itu kami meminta pada Leon untuk tidak membatalkan pernikahan ini." Kata papanya Aira.
"Kami tau mungkin dalam diri Aira banyak sekali kekurangannya tidak seperti kakaknya Aluna, jika di bandingkan dengan anak sulung kami Aluna lebih dari segalanya, tapi kami mohon terimalah Aira dengan segala kekurangannya, kami tidak mungkin bisa menanggung aib sebesar ini besan." Ucap mama Aira dengan menempelkan ke dua telapak tangannya.
Leon tidak bergeming sama sekali, dia hanya duduk dan berdiam diri saja.
"Ya, meskipun Aira bersalah dalam hal ini, tapi kami tidak bisa mengabaikan anak yang ada dalam kandungannya." Kata papanya Leon.
"Aira bersalah?! apa yang besan katakan, memangnya kesalahan apa yang Aira lakukan pada kalian?" tanya mamanya Aira kaget.
"Entah apa maksudnya, dia memasukan obat bius ke dalam minumannya Leon sehingga terjadi kejadian memalukan seperti itu."
"Apa?!" kata orang tua Aira serempak.
"Apa itu benar Aira?" tanya papanya.
Aira hanya diam saja.
"Jawab!" bentak papanya.
"I iya pa,"
"Astaga, apa yang kamu lakukan Aira? kamu sudah membuat keluargamu malu."
"Maafkan aku, aku melakukan itu karna aku menginginkan Mas Leon menjadi milikku seorang, supaya aku punya alasan yang kuat untuk menikah dengan Mas Leon, supaya Mas Leon tidak merubah pikirannya untuk menikahiku, dengan begitu Mas Leon akan bertanggung jawab penuh."
Semua orang yang ada di sana terkejut dengan pengakuan Aira.
"Papa gak habis pikir kenapa kamu jadi seperti ini! keluarga kita tidak ada yang kelakuannya seperti kamu!" papanya Aira merasa malu dengan apa yang telah Aira perbuat.
"Maafkan kami besan, kami memang tidak pantas di sebut orang tua! kami telah gagal mendidik anak kami." Ucap mamanya Aira dengan penuh penyesalan.
"Ini sudah terjadi, walau bagaimana pun itu adalah calon cucu kami, pernikahan ini akan tetap berlangsung." Kata papanya Leon
__ADS_1
Leon pun angkat bicara, "Sebelum melanjutkan rencana pernikahan, aku ingin bukti."
Semua orang tercengang kaget.
"Bukti apa mas?" tanya Aira.
"Bukti kalau kamu benar-benar sedang hamil."
"Baiklah, memang itu tujuan utamaku datang ke sini! untuk menunjukan bukti kehamilanku."
Aira memperlihatkan sebuah tespek pada Semua orang, yang hasilnya sudah di pastikan positif.
Setelah melihat itu Leon tidak mengatakan apapun.
Kedua keluarga pun melanjutkan rencana mereka untuk menikahkan Leon dan Aira.
Di akhir pekan, Leon pergi mengunjungi Rajendra.
Kebetulan hari itu dean juga sedang berkunjung ke rumahnya Anindira, ketika Rajendra sedang bermain dengan Dean dia melihat papanya datang.
"Papa," teriak Rajendra.
Leon langsung memeluk dan menggendong Rajendra, "Halo, jagoan papa? apa kabar?"
"Lendla baik pa, kenapa papa baru datang? papa sudah lama tidak mengunjungi Lendla atau pun menelpon."
"Maafin papa ya sayang, akhir-akhir ini papa sibuk jadi papa baru sempat berkunjung, apa kamu memaafkan papa?"
"Mana mungkin papa lupa dengan anak papa yang tampan ini, papa selalu merindukan Rendra."
"Lendla juga, oh ya pa hali ini Lendla memainkan pelmainan yang sangat selu sama Paman Dean."
"Oh ya?"
"Iya, hampir setiap hali Paman Dean main ke sini."
"Leon apa kabar?" sapa Dean
Leon terlihat agak murung ketika mau menjawab sapaan Dean, "Aku baik, bagaimana denganmu?"
"Tentu, kabarku baik,"
"Bagaiman dengan kabarmu Dira?" sapa Leon pada Anindira.
"Aku baik bang,"
Anindira mempersilahkan Leon masuk ke dalam, "Ayo masuk bang!"
tapi Leon lebih nyaman duduk di depan teras rumah, "Tidak usah Dira, aku di sini saja sama Rendra dan juga Dean.
"Ah baiklah, kalau begitu aku ke dalam dulu mau ambil minum dan camilan."
"Oke"
__ADS_1
Selagi Anindira mengambil minum dan camilan Leon bermain tangkap bola bersama Rajendra dan Dean.
"Sepertinya ada yang sedang berusaha menutupi kegelisahannya." Kata Dean menyindir Leon
"Apa maksudmu? kenapa kamu bicara seperti itu sambil melihat ke arahku?"
"Aku hanya sedang menebak-nebak saja, raut wajahmu itu seperti orang yang sedang banyak masalah Pak CEO."
"Jangan so tau, memangnya kamu peramal yang bisa melihat masalah seseorang dengan hanya melihat wajahnya saja." Oceh Leon.
"Hheuhh, ternyata seorang CEO terkenal itu gengsinya sangat tinggi ya."
"Siapa kamu berani mengkritikku?"
"Hei ayolah, ini bukan kali pertama kamu bicara denganku, kalau seperti ini aku tidak percaya orang seangkuh dirimu adalah ayah kandungnya Rajendra."
"Kamu adalah orang pertama yang berani mengkritik kepribadianku langsung di hadapanku, aku akui kamu memang orang yang pemberani."
"Ya, aku memang pemberani! lihatlah anakmu karna dia sering bersamaku dia juga tumbuh menjadi anak yang pemberani."
"Jangan mengajarkan anakku hal-hal yang aneh, dia masih kecil ajarkan dia tentang hal-hal yang ringan saja, ajari dia sewajarnya saja."
"Memangnya apa yang aku lakukan?"
"Jangan pura-pura tidak tau."
"Hahaha, aku hanya mengajarkannya tentang kehidupan, aku rasa dia perlu mempelajarinya sejak dini."
"Apa kamu meremehkanku? kamu pikir aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku?"
"Ya kurang lebih seperti itulah."
"Hei,"Leon mendelikkan matanya
"Hahaha, aku hanya bercanda! percayalah aku tidak pernah mempunyai pikiran jahat terhadap kalian."
"Aku tau."
"Sekarang apa bapa CEO mau membagi sedikit
bebannya kepada saya yang hanya orang kecil ini?"
Leon senyum nyengir, "Kenapa aku harus membagi masalahku denganmu."
"Sepertinya kalian sedang asyik mengobrol, kalian sedang membicarakan apa?" tanya Anindira sambil menyajikan minum dan camilan.
"Oh ini, katanya Pak Presdir mau curhat sama kita."
"Curhat tentang apa?"
"Jangan sembarangan, siapa yang mau curhat!"
"Gapapa bang, kalau abang mau cerita cerita aja! apa ini tentang pernikahan abang?"
__ADS_1