
Leon bermaksud untuk mengantarkan Anindira dan Rajendra pulang, tapi Anindira menolaknya.
"Biar aku antarkan kalian pulang."
"Tidak usah bang! Dean akan menjemput kami, sebentar lagi dia sampai kami akan menunggunya di depan jalan sana."
"Kalau begitu aku akan mengantar kalian sampai depan rumah, Ayo Rendara!" kata Leon sambil menggendong Rajendra.
"Bang biarkan kami pergi berdua saja!"
Leon menurunkan Rajendra dari pangkuannya, "Baiklah, kalian hati-hati di jalan!"
"Iya bang, ayo Rendra!" mereka pun melangkah pergi.
Leon merasa tidak rela melihat mereka pergi, "Dira?"
Anindira menengok, "Iya?"
"Hati-hati di jalan! jaga diri kalian baik-baik!"
Anindira tersenyum lalu berbalik dan pergi.
"Ma, memangnya benal Paman Dean akan ke sini untuk menjemput kita?"
"Ya ampun, sebenarnya aku mengatakan itu supaya Leon tidak mengantarkan kami pulang, aku berbohong kalau Dean akan datang menjemput." Kata Anindira dalam hati, "Emmh, sebenarnya.. "
Belum sempat Anindira melanjutkan ucapannya Handphonenya berdering.
"Sebentar ya sayang, ada telpon." Anindira merogoh tasnya dan mengambil Handphonenya.
"Dean? panjang umur baru aja di omongin. Halo Dean,"
"Dira, kamu di mana?"
"Aku habis dari rumahnya Bang Leon, memangnya ada apa?"
"Gapapa, tadinya hari ini aku mau ke rumah untuk menemui kalian, apa kalian masih di rumah Leon?"
"Kami sudah mau pulang."
Rajendra mengambil Handphone Anindira dan bicara pada Dean, "Paman, cepatlah datang jangan membuat Lendla sama mama menunggu lama."
"Eh, memangnya sekarang kalian ada di mana?"
"Di jalan, Rendra sama mama sedang menunggu paman."
"Benarkah?!"
Anindira mengambil kembali Handphonenya dari Rajendra, "Maaf ya Dean aku tadi bilang sama Bang Leon kalau kamu mau jemput kami ke sini."
"Oh begitu, tunggulah sebentar aku akan segera datang untuk menjemput kalian."
"Tapi.."
"Tidak apa-apa, lagi pula aku memang berniat untuk berkunjung ke rumah kalian, kalian jangan kemana-mana tunggulah di sana!" Dean menutup telpon dan langsung menyusul mereka.
"Rendra, sambil menunggu Paman Dean kita duduk dulu di sana yuk!" Anindira menunjuk ke kursi panjang yang ada di sampingnya.
Mereka pun duduk di kursi itu.
"Ma,"
"Hmmh,"
"Tadi waktu kita pelgi dali lumah papa Lendla lihat bunga yang sudah Lendla dan papa rangkai susah payah untuk mama ada di tong sampah."
__ADS_1
"Tong sampah?! mama gak membuangnya kok, mama ingat mama menaruhnya di meja ruang tamu."
"Tapi tadi Lendla benelan lihat itu di tong sampah ma."
"Mungkin ada yang tidak sengaja membuangnya, tidak apa-apa Rendra itu kan hanya bunga, yang penting mama tau kalau Rendra sangat menyayangi mama ya kan!"
"Iya, tapi Lendla kesel kenapa halus di buang!"
"Udah dong jangan cemberut terus! Memangnya kamu gak cape seharian ini banyak cemberut hmm!" Kata Anindira mencubit pelan pipi rendra.
Beberapa menit kemudian Dean sampai di tempat Anindira dan Rajendra.
Dean menghentikan sepeda motornya dan membuka helm lalu menyapa Rajendra, "Hai jagoan!"
"Paman Dean!" Rajendra berlari menghampiri Dean."
Dean langsung menggendongnya dan menaruh Rajendra duduk di depan.
"Untung Paman Dean memakai motol yang ini."
"Memangnya kenapa?"
"Gapapa suka aja sama motol paman yang ini."
"Kenapa Rendra menyukai motor paman yang ini?"
"Kalna motolnya besal, kelen."
"Hahaha," Dean tertawa mendengar perkataan Rajendra yang begitu polos.
Anindira memperhatikan mereka sambil tersenyum.
Kemudian Dean menatap Anindira dan tersenyum.
"Hari ini kamu terlihat sangat cantik!"
"Apa sih! kenapa tiba-tiba?" ucap Anindira merasa malu.
"Paman Dean salah, setiap hari mama selalu terlihat cantik kok."
"Oh iyakah?! tapi menurut paman hari ini mamamu lebih cantik dari biasanya, apa karna dia bertemu dengan papamu Rendra?"
"Mana ada, malah mama di bikin gak nyaman di rumah papa."
"Kenapa?"
"Sttt, Rendra!" Anindira memberi isyarat supaya Rajendra tidak mengatakan apa pun pada Dean dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir.
"Ada apa?" tanya Dean.
"Gapapa kok Dean, ayo kita pulang sekarang nanti keburu malam."
"Hmm, oke ayo naik! pakai helmnya!"
"Iya,"
Dean memakaikan jaketnya pada Rajendra.
"Gak mau!
"Eh, kenapa?"
"Jaket Paman kegedean."
"Bukan kegedean, emang kamunya aja yang kekecilan."
__ADS_1
"Lendla kan emang masih kecil, kalau Lendla udah besal nanti Lendla bakal setinggi Paman Dean kok."
"Kalau begitu kamu harus cepat tumbuh, biar bisa setinggi paman! udah ah pakai jaketnya nanti kedinginan anginnya kenceng loh."
"Iya deh Lendla pakai."
"Dira kamu gapapa gak pakai jaket?''
"Gapapa, lagi pula aku kan pakai baju panjang."
"Oke, kalau begitu kita berangkat sekarang ya!"
Mereka sampai di rumah Anindira saat jam makan malam, Dean makan malam bersama keluarga Anindira.
Dean menemani Rajendra bermain sampai Rajendra tertidur, karna sudah larut dan Dean memang berniat untuk menginap di rumah pamannya, dia pamit untuk pulang ke rumah pamannya.
Pagi hari di kediaman Pradana, Leon berangkat ke kantor.
"Bram, pergi dan temuilah Dokter Andri suruh dia untuk memeriksa obat ini! bilang padanya aku akan mengambil hasil pemeriksaannya setelah pekerjaanku di kantor selesai." Kata Leon memberikan botol obat itu pada Bram.
"Baik tuan,"
"Presdir, siang ini ada klien yang ingin bertemu dengan Presdir." Kata sekertarisnya Leon.
"Baiklah, kamu atur saja jadwalnya."
"Baik Presdir."
Handphone Leon berdering dia mengangkat telpon sembari mengecek berkas-berkas, "Halo,"
"Halo mas, bagaimana apa hari ini jadi fitting baju?"
"Oh, maaf Aira hari ini aku sibuk siang nanti ada pertemuan dengan klien aku gak tau kapan selesainya."
"Oh begitu ya, lalu kapan kita pergi?'
"Begini saja, nanti aku kabari lagi kalau aku sedang luang."
"Ya mau bagaimana lagi." Keluh Aira.
"Kalau begitu aku tutup dulu telponnya." Tut.. tut.. tut..
"Sibuk terus! padahal aku pengen cepat-cepat nyelesaiin semuanya." Ucap Aira sambil cemberut.
Sore hari, setelah bertemu klien Leon menghubungi Dokter Andri untuk bertemu dan mengambil hasil pemeriksaan obat itu.
Mereka bertemu di sebuah kafe, "Bagaimana dok, apa dokter sudah melakukan pemeriksaan obat yang di bawa Bram tadi pagi?"
"Iya, ini hasil pemeriksaannya!" Dokter Andri memberikan sebuah amplop yang berisi hasil pemeriksaan obat itu.
"Leon, dari mana kamu mendapatkan obat seperti itu?" tanya Dokter Andri.
"Memangnya kenapa dok?" Leon semakin penasaran dengan obat itu setelah mendengar pertanyaan Dokter Andri.
"Kamu tau itu Obat apa?"
"Memangnya itu obat apa dokter?"
"Itu obat yang bisa saja membuatmu kehilangan kesadaran."
"Apa?!"
"Iya, jika kamu terlalu banyak meminumnya akan mengakibatkan peningkatan gairah ****, dan menjadi tenang sementara, efek lainnya adalah kehilangan kesadaran, mual, halusinasi, amnesia, hingga koma."
Leon sangat kaget mendengar penjelasan Dokter Andri, dia membuka surat hasil pemeriksaan obat itu.
__ADS_1