Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang

Berbagi Cinta : Aku Dipaksa Menikah Demi Uang
Bab 63


__ADS_3

Di tengah pembicaraan mereka Leon datang untuk membicarakan bisnis dengan Anindira, Dean, dan Claira.


"Permisi! maaf mengganggu, apa saya boleh masuk?"


"Oh, kau sudah datang? masuklah!" Kata Dean.


Anindira kaget melihat tamu yang datang ke kantornya.


"Dira, Dira?" Claira berkali-kali memanggil Anindira.


"Ah, iya" jawab Anindira yang baru saja tersadar dari lamunannya.


"Jadi, investornya itu Bang Leon?" Tanya Dira pada kedua sahabatnya itu.


"Iya, bukannya kamu sudah tau" Ucap Claira balik tanya.


"Bukannya hari itu kamu bilang iya ketika kita membicarakan tentang siapa investornya?" Sambung Dean.


"Oh, benarkah?"


"Apa aku datang di waktu yang tidak tepat?" Leon merasa sungkan melihat reaksi Anindira ketika melihatnya.


"Tentu saja tidak, duduklah!" Dean mempersilahkan Leon untuk duduk.


"Maaf, aku tidak memberitaumu terlebih dahulu tapi aku sudah bicara, dan bertemu langsung dengan Dean, dan Claira."


"Tidak apa-apa, baiklah sekarang kita langsung saja pada inti pembicaraannya." Kata Anindira.


"Oke, aku sudah menandatangani surat perjanjiannya tinggal giliranmu." Ucap Leon memberikan sebuah map yang berisikan surat perjanjian.


Tanpa basa basi Anindira langsung setuju menandatangani surat itu.


"Apa kamu sudah membaca surat perjanjian itu dengan baik?"


"Tidak perlu aku sudah menandatanganinya berarti aku sudah setuju."


"Benarkah, apa kamu yakin, kamu tidak akan menyesalinya?"


"Kenapa apa ada yang salah?!"


"Dira, ekhm.. maaf, Nona Anindira, aku ke sini bukan hanya untuk inves saja, tapi juga ingin membeli saham perusahaan anda." Tegas Leon sembari mengambil map yang berisi surat perjanjian itu, dan memasukannya ke dalam jas.


"Apa?! yang benar saja, abang mau membuat saya bangkrut?" ucap Dira setengah berteriak.


"Kenapa kamu marah? aku belum selesai bicara."


"Oke Dira, tenang, duduklah dan dengarkan Penjelasannya." Kata Dean.


"Apa ini Dean?! apa yang kalian rencanakan sebenarnya, apa kalian berencana untuk melawanku!" teriak Dira kesal


"Dean maupun Claira tidak ada sangkut pautnya dengan ini, ini real kemauanku sendiri."


Anindira mengepalkan kedua tangannya, "Apa sebenarnya yang kamu inginkan?"


"Aku ingin membeli saham perusahaan ini karna aku tertarik dengan semua yang ada di sini, baju-bajunya, kariawannya/stap-stapnya.. fashion designernya, dan yang terpenting perusahaan ini juga memiliki kerjasama dengan dua pengusaha hebat ini." Jelas Leon menatap ke arah Dean, dan Claira.


"Lalu bagaimana dengan orang yang sudah susah payah membangun perusahaan ini dari nol? kamu ingin langsung menggulingkannya begitu saja?" Ucap Anindira marah.

__ADS_1


"Aku tidak berniat menggantikan posisimu, kamu masih bisa memegang perusahaan ini sebagai direktur utama, bedanya perusahaan ini nantinya akan berada di bawah kekuasaanku."


"Kenapa kamu melakukan ini? kemarin kamu datang meminta aku, dan anakku kembali padamu, tapi sekarang kamu malah ingin merebut perusahaanku yang sudah aku bangun dengan susah payah! kamu brengsek." Dira menyiramkan air ke wajah Leon lalu pergi.


"Dira," teriak Dean mencoba menghentikan Anindira.


Claira terlihat bingung dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.


"Dean, jangan di kejar biarkan saja." Kata Leon


"Kamu gila ya, kenapa kamu melakukan ini? belum cukup dulu kamu menyakiti dia hah?" Bentak Dean.


"Aku senang dia bisa mengekspresikan kemarahannya padaku." Leon tersenyum kecil


"Gila, apa yang sebenarnya kamu rencanakan?"


"Tenang saja, dia tidak akan kehilangan apapun." Leon menepuk pundak Dean lalu pergi.


"Dasar aneh, gak habis pikir sama apa yang ada di otaknya itu."


"Dean, apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Claira ragu.


"Emm, kita ikuti saja dulu apa yang dia mau aku ingin tau apa yang sedang dia rencanakan."


"Kenapa kisah cinta mereka begitu rumit?" celetuk Claira penasaran.


Dean tidak menjawab, dia hanya bisa menunduk kesal.


"Ah, maaf, aku tidak bermaksud untuk ikut campur urusan mereka atau.. kalian." Claira merasa bersalah.


"Tidak masalah, aku sendiri juga tidak mengerti." Jawab Dean dengan muka masam.


Di sisi lain Anindira pulang ke rumah dengan kemarahannya.


Dia masuk kamar lalu menangis.


Rajendra yang melihat mamanya pulang lebih awal merasa penasaran, "Kenapa mama pulang lebih awal? dan gak biasanya mama langsung masuk kamar?! biasanya mama akan menyapaku dulu sehabis pulang kerja."


Rajendra langsung menyusul mamanya ke kamar, "Ma,"


Anindira buru-buru menyeka air matanya, "Iya Nak,"


"Kok mama pulang gak nyapa Rendra dulu?"


"Ah, maafin mama ya, mama gak engeh kamu lagi ada di rumah."


"Rendra kan hari ini gak kemana-mana ma, mama juga tau kan."


"Iya, iya mama tau, kenapa? kamu kesal gara-gara mama lupa nyapa kamu hm?" Ucapnya sambil menahan tangis.


"Enggak kok ma, cuma gak seperti biasanya aja, kenapa juga mama pulang lebih awal? bukannya mama bilang hari ini akan pulang terlambat."


"Iya, mama gak jadi ketemu investornya."


"Kenapa? apa terjadi masalah?"


"Ya sepertinya begitu, investornya gak jadi datang ke kantor mama."

__ADS_1


"Oh, ya sudah mama jangan terlalu memikirkannya, meskipun orang itu gak jadi inves di perusahaan kita, masih ada Paman Dean, dan Bibi Claira."


"Iya, kamu benar, kita gak perlu investor lain." Ucapnya tersenyum pahit.


"Oh ya ma, Rendra mau main ke rumah temen dulu, rumahnya deket kok dari sini gak akan lama."


"Teman baru ya?"


"Iya,"


"Cewek?"


Rendra mengangguk.


"Oke," sambil tersenyum kecil


"Rendra pamit ya ma."


"Iya, hati-hati."


Rendra pun pergi ke rumah temannya itu.


"Bagaimana caranya aku memberitau Rendra kalau perusahaan itu sekarang berada di bawah kekuasaan papanya, aku juga yang bodoh bisa-bisanya aku mempercayai dia, kelakuannya sangat buruk seperti dulu."


"Haah.. aku sangat lelah."


Anindira membaringkan badannya di tempat tidur.


Keesokan harinya, seperti biasa dia memulai rutinitasnya, dari membersihkan rumah, sampai memasak.


"Tumben mama belum berangkat kerja." Ucap Rajendra sambil duduk di kursi meja makan.


"Hari ini mama pengen istirahat di rumah."


"Mama ada masalah di kantor?"


"Kenapa kamu bilang gitu?"


"Dari kemarin mama kelihatan cape, kalau memang mama cape untuk sementara biar Rendra aja yang gantiin mama di kantor."


"Ohok.. ohok.."


Rajendra mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Anindira.


"Mama gapapa?"


"Iya, mama gapapa."


"Pelan-pelan makan nya ma," Dia menepuk-nepuk punggung mamanya, "Jadi gimana, apa Rendra boleh pergi ke kantor?"


"Jangan,"


"Kenapa? Rendra bisa kok mengerjakan semua pekerjaan mama dikantor."


"Bukannya mama tidak percaya sama kemampuan kamu, tapi kan hari ini kamu sudah mulai aktif kuliah, kamu gak usah mikirin pekerjaan, di kantor ada Paman Dean sama Tante Clair kok yang gantiin mama."


"Oke,"

__ADS_1


"Kamu fokus dulu aja sama kuliah kamu, bukannya kamu juga ingin mempunyai perusahaan sendiri hm?"


"Iya ma, Rendra akan berusaha."


__ADS_2