
Ketika Aira sedang mengoceh sendiri, tiba-tiba Gena datang menghampirinya, dan ternyata dia memang sengaja membuntuti Aira dari tadi.
"Wow Aira ternyata kamu lebih licik dari yang aku bayangkan ya."
"Kamu?!"
"Kenapa kamu terkejut? ayolah sesama orang licik kamu tidak perlu memasang wajah terkejut seperti itu."
"Kamu mau apalagi?"
"Mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang semua kebohonganmu untuk mendapatkan uang, tadi kamu bilang apa? Leon tidak melakukan apapun padamu! kalau begitu dia tidak pernah menyentuhmu sama sekali, dan itu berarti anak yang ada dalam kandunganmu itu bukan anaknya Leon melainkan anaknya jimy." Ucap Gena tersenyum menyeringai.
"Stop! berhenti mengoceh! yang kamu inginkan adalah uang bukan? aku akan memberikan uang yang kamu minta, sekarang kirimkan nomor rekeningmu!" ucap Aira sangat marah.
"Ow, sangat terburu-buru sekali."
"Cepatlah, dan segera pergi dari sini!" bentak Aira.
"Oke, tenanglah sedikit." Gena mengambil Handphonenya dan mengirimkan nomor rekening miliknya pada Aira.
"Apa kamu sudah selesai mengambil baju nya?" tanya Leon.
"Mas, Mas Leon?!" Aira merasa gugup ketika melihat Leon sudah kembali dari toko mainan.
"Kenapa kamu berkeringat dan terlihat gugup seperti itu?"
Aira menengok ke arah dimana gena berada, tapi dia sudah tidak melihat Gena lagi di sana.
Gena pergi ketika Leon keluar dari toko, kehawatiran Aira pun sedikit berkurang.
"Apa tante baik-baik saja?" tanya Rendra.
"I iya sayang, tante baik-baik saja, sebentar ya aku mau masuk dulu untuk mengambil bajunya, kalian tunggulah di sini! aku akan segera kembali."
Beberapa menit kemudian Aira keluar dari butik.
"Apa tante sudah selesai?" tanya Rendra lagi.
"Iya sayang, ayo kita pulang!"
Rajendra mengangguk.
"Oh ya Rendra, apa kamu sudah membeli mainannya?"
"Sudah tante."
"Tante boleh lihat gak mainannya?"
"Boleh, ini mainannya!" Rajendra memperlihatkan mainan yang dia dan papanya beli tadi pada Aira.
"Wah, banyak sekali mainannya."
"Iya tante, ini sudah satu paket ini namanya luvin langel, dan ini patlangel. Papa membelikan semuanya untuk Lendla."
"Tentu saja, papa akan belikan semua yang kamu mau kalau perlu satu toko papa belikan untuk kamu."
"Telimakasih papa."
__ADS_1
Leon dan Rajendra masuk ke dalam mobil, sedangkan Aira celingak-celinguk mencari Gena.
Bram membukakan pintu mobil untuk Aira, "Nona, silahkan masuk!"
"Oh iya, terimakasih!"
"Bram, kita ke rumah Aira dulu untuk mengantarnya pulang."
"Baik Tuan Muda."
"Tidak, aku ingin ikut juga ke rumahmu untuk bertemu tante."
"Bukannya kamu juga harus melakukan persiapan untuk besok?"
"Iya sih, tapi apa aku gak boleh berkunjung sebentar saja untuk bertemu tante?"
"Kamu bisa bertemu mereka besok bukan?"
"Ya sudah, antar langsung ke rumahku saja."
Setelah mengantarkan Aira Leon langsung pulang ke rumah, Aira merasa kesal karna di abaikan oleh Leon.
"Mama, Lendla pulang."
"Sini sayang, wah kamu bawa apa ini?"
"Mainan ma, di beliin sama papa."
"Oh ya? kamu sudah ngucapin makasih belum sama papa?"
"Udah dong ma"
"Dira, bisakah kamu tidak pergi ke paris! sepertinya mama gak bisa jauh dari Rendra, mungkin kalau dari sini ke rumahmu mama masih bisa menahannya tapi kalau sampai kalian pergi ke paris mama gak sanggup." kata mamanya Leon.
"Maaf ma, tapi keputusanku sudah bulat. Mama jangan sedih mama kan masih bisa video call sama Rendra."
"Iya menantu, sekarang sudah serba canggih meskipun kita tidak bisa bertemu cucu, kita masih bisa mengobrol dan melihat wajahnya di handphone ataupun laptop. Kamu jangan menghalangi niat Dira, dia kan ke sana juga demi melanjutkan masadepannya kita harus mendukung keputusannya." Kata neneknya Leon
"Ya apa boleh buat apapun untuk kebahagian kalian." Ucap mama Leon.
"Ma, pa, nenek, kakek, Bang Leon aku dan Rendra pulang dulu! besok pagi kami harus sudah berangkat."
"Baiklah Nak, hati-hati di jalan!" kata papa Leon sambil mengusap kepala Anindira.
Sebelum mereka pulang, Leon dan keluarganya bergantian memeluk dan menciumi Rajendra.
"Aku akan mengantar kalian." Kata Leon
"Antarkan ke apartemennya Dean saja bang, aku akan pulang naik bus bersamanya."
"Iya, baiklah sesuai keinginanmu nona." Ucap Leon sambil tersenyum.
Di dalam senyumnya tersirat kesedihan yang begitu mendalam, Anindira pun tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini.
Sesampainya di apartemen Dean.
"Paman Dean" ucap Rendra ketika Dean membukakan pintu.
__ADS_1
"Kalian sudah datang? ayo masuklah dulu!" sambut Dean.
Rendra berlari masuk ke dalam apartemen Dean, ketika Anindira mau masuk dia melihat Leon masih berdiri di luar.
"Bang, ayo masuk dulu!"
"Tidak, aku harus pergi ke kantor sekarang."
"Abang masih bekerja? Padahal besok adalah hari pernikahanmu! harusnya hari ini kamu diam saja dan beristirahat di rumah."
"Aku tidak bisa mengabaikan pekerjaan, di kantor ada sedikit masalah aku harus segera menyelesaikannya secepat mungkin."
"Dean aku titip Dira dan Rendra tolong jaga mereka baik-baik."
"Tentu saja, tanpa kamu minta pun aku akan melakukannya."
"Terimakasih!" kata Leon sambil menepuk pundak Dean.
Dean dan Leon pun berpelukan.
"Rendra, papa pulang dulu ya! kamu jangan nakal nanti kalau kamu sudah di sana sering-seringlah telpon atau video call papa ya."
"Iya pa, Lendla gak akan bikin papa kesepian walaupun Lendla gak ada di dekat papa, papa jangan belsedih! Lendla selalu sayang sama papa."
Leon tidak bisa membendung rasa sedihnya tangisnya pun pecah, dia memeluk putranya dengan erat dan mencium keningnya.
"Dira jaga dirimu baik-baik!" ucap Leon lalu pergi dari apartemennya Dean.
Bram juga ikut sedih menyaksikan perpisahan mereka sampai dia juga meneteskan Air matanya.
Tak terasa Air mata Anindira menetes, Dean melihat itu dan bertanya padanya, "Dira, apa kamu yakin dengan keputusanmu untuk pergi bersamaku?"
Dira menghapus air matanya, "Iya Dean aku yakin."
"Baiklah ayo kita berangkat!"
Mereka pulang ke rumah mereka terlebih dahulu.
Anindira pulang ke rumahnya, dan Dean pulang ke rumah pamannya.
Sementara Aira di rumahnya sedang merasa kebingungan memikirkan uang 1M yang gena minta.
"Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? aku harus bisa bernegosiasi dengan wanita tua itu."
Aira mentransfer uang sebesar 500 juta ke rekening Gena dari aplikasi dompet digitalnya melalui handphone, lalu dia menelpon Gena.
"Halo,"
"Halo, ada apa?" Gena mengangkat telpon.
"Aku sudah mentransfer setengah dari uang yang kamu minta, sisanya akan aku transfer setelah pernikahanku dengan Leon selesai, dan aku minta kamu jangan membuat ulah yang akan membuat pernikahanku dengannya berantakan."
"Ya ampun, kamu itu terlalu agresif Aira Leon tidak akan suka dengan wanita seagresif kamu."
"Diam! kamu tidak berhak berkomentar, aku sudah memberi kamu uang sebaiknya jaga mulutmu itu."
"Heuh, kamu hanya memberiku setengah dari yang aku minta tapi kamu sudah so berkuasa terhadapku menjijikan!"
__ADS_1
"Kamu lebih menjijikan dariku! kamu bukan hanya berbuat jahat terhadap keponakanmu dan anaknya, tapi kamu juga mengambil keuntungan dari kehidupan pribadi seseorang demi mendapatkan uang! perilakumu itu lebih busuk daripada aku." Kata Aira lalu menutup telponnya.